
Sontak para penjahat lainnya mengeroyok Alviona. Namun Alviona sudah siap dengan pedangnya untuk menghabisi mereka. Satu persatu dari mereka mati ditangan Alviona. Satu tahun yang lalu, mereka sebenarnya sudah bertemu dengan Alviona, tapi Alviona memberi kesempatan kedua bagi mereka. Berhubung kesempatan kedua mereka masih melakukan itu, Alviona tidak memberi kesempatan hidup lagi
Sebelum terbunuh, sebagian dari mereka sudah kabur ke tengah hutan. Alviona sudah terlalu malas untuk mengejar mereka
“Kita berangkat” ajak Alviona pada Teli
“Ada apa tadi?” tanya Kai
“Biasalah, penjahat” jawab Alviona santai
“Kau boleh membuka penutup mata itu sekarang” ujar Alviona
“Sebenarnya mengapa kau tidak memperbolehkan mataku melihat desa tadi? Aku aku bisa mengendalikan diriku disana” tanya Kai penasaran
“Kau pikir godaan itu hanya sekedar perkataan? Sekalinya kau melihat tubuh mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki, sihir kuat langsung merasuki dirimu dan kau tidak bisa mengendalikan dirimu, kau juga tidak bisa lepas dari sihir itu. Aku tidak bisa membawamu kembali kehadapan kakakmu jika sihir itu masih ada di dirimu” jelas Alviona panjang lebar
“Tunggu, sihir? Seingatku ketika aku melewati desa itu belum ada wanita ****** ataupun sihir” ujar Kai
“Kau tidak tahu? Dampak kekuasaan raja Yana bahkan sampai ke kerajaan tetangga. Dampak itu yang akan digunakan raja Yana untuk memperluas wilayah” jawab Alviona
Kai menggeleng “Aku tidak tahu tentang itu. Setelah perang saudara aku dan kak Kiowa langsung kabur ke Zipa untuk menghindari kejaran raja Yana”
“Baiklah, jadi sekarang kita kembali ke Zipa” ajak Alviona menaiki kuda Kai
“Penutup matamu” Kai mengingatkan. Alviona mengambinya
Mereka melanjutkan perjalanan. Di daerah selanjutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Alviona benar-benar menandai setiap daerah guna bersiap jika ada sesuatu. Entah saat ia berkeliling Indana untuk mencari rumah, maupun saat perjalanan ke Timur
Selama perjalanan mereka berdua sedikit bicara. Kai serius memperhatikan jalan dan arah mata angin. Memastikan mereka tidak keluar jalur Timur, begitu juga Alviona
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang entah dari mana asalnya muncul didepan kuda Alviona yang membuatnya jatuh tertabrak karena jaraknya dengan jarak kuda terlalu dekat, dan dirinya tak sempat menghindar
Alviona yang terkejut menarik tali kekang kudanya kuat-kuat hingga membuat kuda itu mengangkat kedua kaki depannya. Tak bermaksud bergaya atau semacamnya, itu ia lakukan secara refleks untuk menghindari wanita tadi. Setelah menenangkan kudanya yang juga kaget, Alviona menghampiri wanita itu yang masih tersungkur didepan kuda Kai
“Maaf nyonya, anda baik-baik saja?” tanya Alviona menatap wanita itu dan membantunya bangun. Ketika wanita itu membalas tatapannya ia terlihat terkejut dan ketakutan
“Kutukan! Kutukan!” jerit wanita itu lalu lari ke tengah kerumunan pasar yang letaknya tak jauh dari situ
Wanita tadi menghilang diantara kerumunan. Alviona kebingungan dengan yang dikatakan wanita tadi, apakah dia melihat Alviona membawa kutukan atau semacamnya. Kai juga sepemikiran dengan Alviona. Namun Alviona memaksakan diri untuk tidak memikirkannya terlalu dalam dan melanjutkan perjalanan
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Alviona kembali menaiki kudanya lalu memacunya lebih lambat, takut hal yang baru saja terjadi terulang lagi. Selama perjalanan, Alviona masih memikirkan perkataan wanita tadi. Entah mengapa aura perkataan itu cukup sama dengan aura perkataan Alasie yang sempat menghantuinya. Menggema dikepalanya, dan memenuhi kepalanya, Alviona hanya sesekali melihat kearah kompasnya untuk memastikan mereka tidak berbelok dari tujuan. Selebihnya memikirkan perkataan wanita tadi
Hingga menjelang malam hari, Alviona masih memikirkan perkataan wanita tadi dan pikirannya sudah berkeliling dunia, waktu dan dimensi. Banyak kemungkinan yang ia temukan, mulai dari dirinya yang membawa petaka bagi negerinya, roh hitam yang Kai ceritakan tentang kehidupan keduanya, hingga hubungannya dengan Alasie atau Than
Namun dimalam harinya, Alviona menghindar dari pemikiran itu dan kembali ke dunianya saat ini. Menikmati malam yang cerah dan tenang bersama Kai dan Teli
“Kau memikirkan perkataan wanita tadi?” tanya Kai
“Ya, apakah kutukan itu masih ada dalam diriku?” tanya Alviona pada dirinya sendiri
“Setahuku yang membawa kutukan itu pasti mengetahuinya. Maksudku dia pasti sadar dan memang itu tujuan mereka, membawa kutukan atau petaka” Kai berhenti sejenak “Terus terang saja aku juga memikirkannya”
“Jika soal Alasie, kemungkinannya kecil. Tapi jika dengan Than, aku tak tahu sama sekali” komentar Kai membuat mereka berdua terdiam sejenak
“Jadi, menurutmu, apa yang membuat wanita tadi mengatakan ‘kutukan’?” tanya Alviona
“Aku rasa itu prasangka atau aura” Kai sebenarnya juga ragu dengan jawabannya
“Jadi dia merasakan suatu aura aneh dariku?” tanya Alviona
“Mungkin ya” jawab Kai. Alviona menghela nafas
“Sebenarnya siapa aku ini? Petaka selesai, kutukan datang. Hidupku dipenuhi anomali, antah kutukan apa lagi yang aku bawa” gerutu Alviona menatap bintang-bintang di langit yang cerah. Kai tak tahu lagi harus mengatakan apa
“Apapun yang terjadi, aku akan membantumu mencari penyelesaiannya” ujar Kai
Alviona hanya mengangguk lalu menyenderkan kepalanya di tubuh Teli “Sebaiknya kita tidur, besok kita harus bangun lebih pagi untuk mempercepat perjalanan”
“Baiklah” Kai tidur di bawah pohon berbantal tangannya, memejamkan mata dan berusaha tidur
Pagi harinya Alviona bangun lebih pagi dari Kai. Sekedar melanjutkan kebiasaannya berlatih pedang di pagi hari. Setelah itu mereka sarapan dengan buah yang ada disekitar tempat mereka tidur. Alviona juga mencarikan semut untuk Teli
Pagi itu cukup cerah, sinar matahari memberi kehangatan untuk memulai perjalanan. Mereka mulai berjalan melewati jalan setapak yang cukup licin karen embun pagi. Mereka sudah lama meninggalkan desa sesat itu. Sesekali mereka berhenti untuk menikmati pemandangan pagi yang indah
“Belum lelah?” tanya Alviona pada Teli
“Ini masih pagi” jawab Teli
“Belum” jawab Kai
“Kudamu?” tanya Alviona
“Aku tidak bisa berbicara dengannya, tapi dari gerak-geriknya dia belum lelah” jawab Kai
Alviona mengangguk “Baiklah”
7 Bulan telah berlalu, Mereka akhirnya kembali ke tempat dimana mereka pertama bertemu satu tahun yang lalu. Namun mereka berhenti tak lama di tempat itu dan langsung ke rumah Kiowa
“Kakak, aku pulang” seru Kai saat sampai di halaman rumahnya. Kiowa yang hafal dengan suara Kai langsung berlari keluar dan memeluk adik satu-satunya
“Kai!” serunya sembari memeluk erat-erat adiknya seakan tak mau kehilangan dirinya “Lama sekali kau menunggalkan rumah, satu tahun. Aku sangat merindukanmu”
“Aku juga merindukan kakak” jawab Kai
“Dan Alviona?” tanya Kiowa. Seketika itu ia melihat Alviona dengan mata merahnya yang sudah tak segelap dulu
“Dia disana” jawab Kai menunjuk Alviona yang masih menuntuk Teli. Kiowa juga memeluk Alviona sama seperti adiknya sendiri
“Aku juga merindukanmu” ujar Alviona
Bersambung....