
Betapa terkejutnya ketika Fang melihat wajah Alviona. Agar tidak merusak keadaan, Fang menggunakan ilmunya untuk menidurkan pangeran Fitz dan membuatnya tidak mudah bangun. Fang menyentuh tangan Alviona, masih hangat. Begitu juga dengan pipinya.
Fang mencoba membangunkan Alviona, tapi rantai mengikatnya terlalu kencang. Fang memotong rantai itu dengan kekuatan yang diajarkan gurunya. Alviona jatuh ke tanah, lalu Fang mencoba membangunkan Alviona lebih keras. Tetap saja tidak ada tanggapan dari Alviona.
“Aku yakin dia masih hidup. Tapi mengapa dia sangat sulit dibangunkan?” tanyanya
Tiba-tiba pasukan raksasa kembali datang dan menghantam mulut goa hingga hancur. Jalan terbuka lebar untuk mereka masuk mencari Fang. Fang mulai panik. Bagaimana tidak? Di punggungnya sudah menggendong pangeran kerajaannya, di depannya ada senapati kerajaan yang entah mengapa sangat sulit dibangunkan.
Alviona tersentak bangun karena hentakan kaki dari para raksasa. Ia mencoba menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Tapi Fang segera menarik tangannya pergi dari tempat itu. Alviona tak berkata apa-apa dan hanya mengikuti langkah cepat Fang. Dirinya terlihat seperti orang bodoh dengan wajah polos yang tak tahu apa-apa.
Beruntung para raksasa itu tak mengetahui kemana arah perginya Fang dan Alviona. Yang mereka tahu hanyalah rantai yang mengikat Alviona telah putus. Setelah berhasil keuar dari goa lewat jalur lain Fang berhenti berlari di dekat sebuah pohon besar lalu memastikan bahwa para raksasa tidak lagi mengejar mereka. Tiba-tiba terlintas di pikiran Alviona tentang apa yang terjadi.
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Alviona dengan wajah polos
Fang berbalik dengan wajah kaget. “Hah?! Kau tak tahu kita sedang dikejar oleh raksasa sebesar itu?”
“Raksasa apa?” tanyanya lagi
“Itu!!” jawab Fang sambil menunjuk kearah goa
Alviona mengikuti arah yang ditunjuk Fang. “Aku tidak melihat raksasa, yang aku lihat hanya ujung goa dengan jarak yang cukup jauh dari sini.”
“Tunggu, jangan-jangan kau lupa siapa dirimu?” tanya Fang mulai panik
Alviona menyentuh dadanya. “Alviona.”
Fang menghela nafas lega. “Fiuhh syukurlah kau tak lupa.”
“Maaf, sebenarnya apa yang sudah terjadi sejak... Ohh astaga! Sudah berapa lama aku menghilang?” kini giliran Alviona yang panik
“Hampir satu bulan.” jawab Fang
“Lalu bagaimana dengan bunga Ezekiel?” tanyanya lagi
“Bunga itu sudah di istana.” jawaban dari Fang menbuat Alviona lega
“Dan pangeran Fitz?” tanya Alviona dengan tenang
“Ini dia.” Fang menunjukkan bayi yang ia gendong di punggungnya
Alviona kembali terkejut. “Kau menculiknya?!”
“Bukan begituu!!” teriak Fang
Teriakan Fang didengan para raksasa yang langsung menghampiri mereka dengan cepat. Alviona bisa merasakan hentakan berat kaki raksasa yang mendekat. Namun ia tak yakin ada raksasa di dekat mereka, setahu Alviona setelah kematian pangeran Yana semua makhluk mengerikan menghilang entah kemana.
“Apa itu?” tanya Alviona
“Raksasa..” jawab Fang gemetaran
Perlahan Fang menengok ke arah lain dari pohon besar itu. Benar saja, seorang raksasa mengerikan sudah menunggu mereka keluar dari persembunyian. Raksasa itu memang tidak bisa memasukkan tangannya untuk mengambil Fang karena mereka berada di antara akar besar, tapi untuk mencabut pohon itu lebih mudah baginya.
Fang mengambil langkah pelan. Tanpa menimbulkan suara, tapi saat Alviona melangkah, ia menginjak ranting pohon yang menimbulkan suara. Fang yakin raksasa itu dapat mendengar suara ranting patah.
“Lari?” Tanya Fang meminta persetujuan Alviona
Tapi Alviona hanya melongoh saat melihat raksasa besar muncul dari balik pohon. Tiba-tiba raksasa itu meraung keras yang membuat Alviona terkejut dan mengambil langkah seribu. Namun entah mengapa langkahnya begitu pelan, sama seperti saat mimpi dikejar hantu. Dengan mudah Fang menyusulnya karena kecepatan larinya yang rendah.
“Lebih cepat!” ucap Fang
“Tidak bisa!” keluh Alviona
Fang menarik tangan Alviona agar larinya sedikit lebih cepat. Tiba-tiba didepan mereka sudah jurang. Meskipun tak terlaku dalam, tapi cukup sakit jika terjatuh ke dalamnya.
“Kau bisa bertarung? Aku tak mampu melawannya sendirian” tanya Alviona memberikan satu belatinya untuk Fang
“Tentu saja” jawab Fang percaya diri
Ketika raksasa itu maju, Fang melompat tinggi dan melempar belati dari Alviona ke arah raksasa itu. Tepat sasaran. Fang menariknya lagi, kini giliran Alviona. Ia menghunus pedangnya ke dada raksasa itu, tapi ia tak mampu menariknya lagi. Tubuhnya terasa sangat lemah. Karena tangannya masih memegang kuat padangnya, saat raksasa itu berdiri tubuhnya ikut terangkat.
Raksasa itu pun melemparnya jauh. Untuk menyudahi pertarungan, Fang memainkan belati dan tali yang ia miliki. Ia menusukkannya berulangkali di tubuh raksasa, lalu mengikatkan talinya di leher dan menyayat leher raksasa itu. Lalu belati itu di tusukkan kedalam jantung raksasa hingga raksasa itu mati.
Alviona yang melihat itu hanya bisa berkata “Waw.”
“Dia sudah mati.” Ujar Fang
“Baiklah.” Alviona sambil berdiri kembali
“Mengapa aku merasa tubuhku sangat lemah?” tanya Alviona
“Mungkin karena kau sudah tidak makan selama empat minggu.” Jawab Fang
“Kau benar.” ucap Alviona setelah menyadari betapa kurus tubuhnya saat ini.
“Ya, tapi aku tidak punya barang yang bisa ditukar dengan makanan. Di hutan ini jarang ada tumbuhan berbuah.” jawab Alviona
Fang merogoh kantongnya “Aku juga tidak punya.”
Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Fang berbicara. “Aku tahu, didaerah sini ada pemukiman, mungkin kita bisa meminta sedikit makanan dari mereka”
Fang berjalan menuju tempat yang ia maksud. Terlihat sebuah gubuk tua di sebrang hutan, dengan lembut Fang mengetuk puntu rumah itu.
“Ya? Siapa di sana?” tanya seorang wanita muda pemilik rumah itu.
“Maaf mengganggu waktumu, kami datang kemari hanya untuk meminta sedikit makanan” kata Fang dengan sopan
“Oh tentu. Silahkan masuk, jangan malu” ujar wanita itu dengan bahagia lalu pergi memanggil seseorang dengan panggilan ‘Oter’
“Mengapa dia sangat bahagia?” tanya Alviona pada dirinya sendiri
“Mungkin dia memang suka berbagi” jawab Fang mencoba berpikir positif
Tak lama kemudian, wanita tadi datang bersama seorang pria dengan membawa banyak makanan. “Ini, makanlah. Makanlah sebanyak-banyaknya” ujar wanita itu dengan senyum manis.
“Terimakasih banyak” ucap Fang dengan sopan lalu mengambil nasi dan lauk.
Mereka semua makan bersama. Tak ada yang aneh di sini, Alviona masih berusaha menyingkirkan pikiran negatifnya. Mereka mengobrol dengan riang seperti sudah kenal akrab.
“Sudah selesai. Rasanya enak sekali. Terima kasih banyak, kami pamit.” Kata Fang
“Tapi ini sudah malam, kalian tidur di sini saja. Kami tidak keberatan” ujar wanita itu
“Dengan senang hati” ujar Fang seraya membungkukkan badan memberi hormat diikuti Alviona.
Akhirnya setelah larut malam, Alviona dan Fang bermalam di rumah wanita itu. Tak ada yang janggal ataupun mencurigakan, sampai Fang bangun ingin buang air. Diam-diam Alviona juga ikut bangun dan mendengarkan bunyi-bunyian di sekitarnya dengan seksama, perasaanya sudah tidak enak saat masuk kedalam rumah itu.
Benar saja, saat Fang akan keluar, ia melihat wanita tadi dan pria bernama Oter sedang berbincang.
“Selanjutnya bagaimana?” tanya wanita itu
“Tentu saja membunuh mereka.” jawab Oter
“Tapi aku tidak yakin, senapati adalah orang yang sangat was-was. Aku takut dia sudah mengetahui rencana kita.” Kata si wanita
“Bukankah kau sudah menaruh racun pada makanan tadi? Pasti mereka tertidur lelap dan tak akan pernah bangun lagi. Tugas kita hanya membuat hal itu semakin tidak mungkin. Kita cincang mereka dan berikan pada tuan, pasti dia sangat senang.” Ujar Oter dengan senyum licik
Si wanita juga ikut tersenyum. “Kita lakukan sekarang?”
Oter mengambil sebilah pisau besar di rak. “Nanti tengah malam saja, tunggu racunnya bereaksi. Kita asah pisau ini dulu.” Katanya lalu mereka berdua tertawa senang
Fang yang mendengar itu menjadi gemetaran. Ia perlahan mundur akan kabur, tapi tiba-tiba ia menyenggol sebuah meja dan menjatuhkan gelas di atasnya. Saat itu juga Oter datang membawa pisau tadi dan menatap Fang dengan marah. Saat Oter akan mengayunkan pisaunya ke arah Fang, Alviona datang dengan pedangnya.
Oter terkejut dengan kedatangan Alviona yang ia kira sudah melemah “A-apa?!”
“Kau pikir aku tidak tahu rencanamu?” tanya Alviona dilanjut pertarungan antara ia dan Oter.
Fang segera berlari mengambil pangeran Fitz. Namun ketika ia baru keluar kamar, rumah itu sudah sangat berantakan dan Alviona tak ada di sana. Fang buru-buru berlari keluar dan melihat keadaan di luar. Terlihat Alviona dan Oter yang berubah menjadi monster mengerikan bertarung, dari sisi lain datang sekelompok monster datang setelah bersembunyi di hutan. Ternyata wanita tadi yang juga berubah menjadi monster memimpin mereka.
Fang berlari ke arah pasukan monster itu dan melawan mereka satu persatu dengan kekuatan angin miliknya. Setelah mendapat celah, Alviona dan Fang lari menyelamatkan diri. Mereka lari ke pemukiman warga. Ditengah padatnya rumah-rumah, Alviona dan Fang bisa bersembunyi diantaranya.
Alviona segera memasukkan jarinya kedalam kerongkongan yang membuatnya mutah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fang, sehingga mereka selamat dari makanan beracun. Beberapa saat kemudian, baru terdengar suara hentak kaki para monster berlari ke arah yang salah.
Alviona mulai tenang. “Fiuhh.. Hampir saja”
Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut Fang. “Uugh, aku lapar.” Keluhnya
Alviona merasa kasihan, lalu terlintas sebuah ide di kepalanya. “Tunggu sebentar, jangan pergi dan jangan ikut”
Alviona melompat tinggi melewati pagar, lalu berlari menjauh hingga tak terdengar lagi suara langkah kakinya. Fang hanya duduk bersandar di pagar itu, sambil melepas gendongannya. Ia menatap mata pangeran Fitz yang masih tertidur.
“Maaf pangeran, aku terpaksa.” Katanya sambil menimang bayi hampir satu tahun itu
Tak lama kemudian, Alviona kembali melompati pagar sambil membawa sebuah kantung yang cukup besar.
“Ahh ini dia.” Alviona memberi makanan yang ia bawa dari kantung itu pada Fang
“Dari mana kau dapat ini?” tanya Fang
“Kau seharusnya tahu.” jawab Alviona dengan wajah sedikit sedih
Fang tak percaya saat mengetahui maksud Alviona. “Apa? Kau..”
Bersambung....