My Live For Battle

My Live For Battle
menuju Eira



Melihat Alviona tidur karena lelah, putri Laluna duduk di samping Alviona dan membiarkan pundaknya menjadi bantal tidur oleh Alviona, tapi Alviona tidak enak


“Tidak apa-apa, jangan takut” ujar putri Laluna membuat Alviona nyaman


“Kau sudah mendapat izin dari orang tuamu untuk melakukan perjalanan ini bukan?” tanya putri Laluna


“Tidak” jawab Alviona


“Kau kabur dari rumah?” tanyanya lagi


“Tidak” jawab Alviona


“Kau di usir?” tanya putri


“Ya” jawab Alviona


“Siapa yang mengusirmu” tanya putri penasaran


“Kerajaan” jawab Alviona


“Mengapa?” tanya putri Laluna


“Pajak” jawab Alviona


“Maaf aku tidak berdaya didepan raja Yana” ujar putri merasa bersalah, tapi Alviona hanya diam


“Jika kau diusir kerajaan dimana ibumu?” tanya putri Laluna


“Dia di penjara karena tidak bisa membayar pajak” jawab Alviona


“Ayahmu juga?” tanya putri Laluna memastikan


“Dia sudah pulang saat perang” ujar Alviona


“Oh maaf” ucap putri namun Alviona tetap diam


“Kau tidak punya saudara?” tanya putri lagi


“Tidak dan tidak akan pernah” jawab Alviona


“Keluargamu?” tanya putri


“Mereka membenciku” jawab Alviona


“Mengapa?” tanya putri


“Mataku” jawab Alviona


“Matamu sakit?” tanya putri Laluna


“Bisa dibilang begitu” jawab Alviona


“Aku tahu semalam ada badai. Kau yang mempertahankan kapal bukan? Akui saja” ujar putri Laluna yang diangguki Alviona. Mengetahui Alviona sangat lelah, putri membuat Alviona semakin mengantuk dan membiarkannya tidur


“Tidurlah nak” ujar putri Laluna menghipnotis Alviona yang membuatnya tidur pulas sementara putri mencoba melihat masa lalu Alviona lewat ingatannya lalu ia mengetahui penyebab sebenarnya Alviona rela melakukan perjalanan jauh dan penyebab keluarga Alviona membenci Alviona


Ketika siang hari, mereka masih makan pisang namun Alviona masih belum bangun karena kesadarannya dikendalikan putri Laluna. Ia membiarkan Alviona istirahat setelah berjuang menerjang badai semalam suntuk


Menjelang sore hari, putri Laluna membangunkan Alviona. Lalu berbicara oada pangeran Mota


“Apa yang kau lakukan pada anak itu?” tanya pangeran Mota


“Aku melihat masa lalunya” jawab putri Laluna


“Apa yang kau lihat?” tanya pangeran Mota penasaran


“Dia adalah anak yang hampir membunuh pangeran Than saat masih di perguruan” jawab putri Laluna membuat pangeran Mota ingat saat ia masih di perguruan pangeran


Saat itu sedang diadakan latihan melempar tombak. Namun, saat giliran seorang pangeran bernama Than lemparan tombaknya meleset dan tombak itu terlempar jauh kedalam hutan. Saat akan mengambilnya, tiba-tiba tombak itu melesat kembali ke arah pangeran Than dan hampir membunuhnya. Para pangeran pun mencari orang yang melempar tombak itu dan menemukan seorang anak yang merupakan Alviona saat masih kecil, tapi Alviona kabur dengan sangat cepat hingga para pangeran tidak dapat menemukannya


“Jadi, anak itu... Alviona?” tanya pangeran memastikan


“Ya, dia Alviona yang dibuang kakeknya” jawab putri Laluna


“Apa? Dibuang kakeknya? Seandainya aku tak ikut merusak rumahnya dan membiarkannya ikut denganku mungkin dia akan bahagia” ujar pangeran menyesal


“Ini kesempatanmu pangeran, untuk menebus kesalahanmu itu jika kau benar-benar menyesal” ucap putri Laluna


“Hanya ini?” tanya pangeran


“Jika bisa sekarang, mengapa harus nanti?” tanya putri Laluna


“Kau benar, terkadang kesempatan tidak datang dua kali” ujar pangeran Mota


“Lalu kemana dia setelah kabur?” tanya pangeran


“Sendirian?” tanya pangeran


“Bersama trenggiling itu” jawab putri Laluna melirik Teli yang sedang tidur


“Dia berhasil?” tanya pangeran


“Perjalanan itu membawanya kembali ke rumah” jawab putri Laluna membuat pangeran lega


“Tapi tak lama setelah itu, perang antara kau dan Yana merenggut ayahnya” sambung putri Laluna meneteskan air matanya


“Dia memang kejam” ujar pangeran menjadi geram denga kelakuan saudara kembarnya


“Sudah, jangan menangis. Mulai sekarang, janjiku pada anak itu bukan paksaan lagi. Ini murni” ujar pangeran Mota mengusap air mata putri Laluna dan menatapnya lembut


“Aku rasa kau ayah yang baik baginya” goda putri Laluna


“Laluna, jangan pikirkan itu dulu. Kita bahkan belum menikah” ucap pangeran Mota dengan wajah memerah


“Tapi aku janji akan membuatnya bahagia. Bagaimanapun caranya” sambungnya


Hari semakin malam, Alviona dan Kai sudah tidur. Kini, pangeran Mota dan putri Laluna yang menjaga kapal hingga pagi. Keesokan harinya giliran pangeran Mota dan putri Laluna yang tidur setelah sarapan sedangkan Alviona dan Kai bermain pedang


“Kau belum lelah?” tanya Kai di tengah permainan pedangnya


“Aku tidak pernah lelah jika masih didepan musuh “ ujar Alviona yang masih bersemangat


“Baiklah, mari istirahat dulu” ujar Kai mengakhiri permainan pedang mereka


“Ayolah Kai, perbaiki cara bermainmu. Lebih gesit!” ujar Alviona mengingatkan


“Iya iya, aku sedang berusaha” jawab Kai


“Kau bawa pengasah pedang?” tanya Kai


“Aku selalu membawanya” Alviona mengeluarkan pengasah pedangnya dari tas


“Kemarin aku dengar kau pernah bertemu dengan pangeran Mota saat masih kecil. Apakah itu benar?” tanya Kai penasaran dengan pembicaraan pangeran dan putri Laluna kemarin


“Ya, aku dulu pernah diam-diam mengikuti perguruan pangeran untuk bertahan hidup dan belajar beladiri dari situ” jawab Alviona


“Jadi kau bertemu pangeran Mota setiap hari?” tanya Kai


“Ya, tapi aku tak tahu dia pangeran Mota. Aku tak peduli siap saja yang ada di perguruan itu, yang aku butuhkan hanya ilmu beladiri dan bertahan hidup. Bukan popularitas” ujar Alviona


“Tapi ada satu orang yang paling aku ingat dari perguruan itu” sambung Alviona


“Siapa?” tanya Kai penasaran


“Than, aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi aku tak tahu dimana dan kapan. Rasanya dia tidak asing bagiku” jawab Alviona


“Memangnya siapa dia?” tanya Kai


“Seorang pangeran, sama seperti pangeran Mota. Seingatku dia berasal dari kerajaan yang sangat jauh. Tapi aku tidak punya keluarga atau kenalan bangsawan” jawab Alviona


“Memangnya apa yang membuatmu merasa pernah bertemu dengan Than dan tidak asing dengannya?” tanya Kai


“Wajah dan auranya. Aku merasa dia tidak jauh dariku” jawab Alviona


“Mungkin itu hanya halusinasimu” ujar Kai menenangkan Alviona


“Ya, sebuah kemungkinan” jawab Alviona


Mereka melanjutkan permainan pedang mereka hingga siang. Setelah itu makan siang dan hanya duduk-duduk setelah itu


“Kiowa pasti merindukanmu” ujar Alviona


“Belum pasti, aku hanya membuat keributan saat dirumah” jawab Kai


“Sungguh? Kau hanya membuat keributan? Kau tidak pernah membuat kakakmu itu bangga?” tanya Alviona


“Mungkin ya, tapi aku tidak yakin dia sebahagia yang aku harapkan” ujar Kai


“Kau tahu? Sebobrok-bobroknya orang jika dirumah, pasti akan dirindukan oleh saudaranya jika ia pergi” ujar Alviona


“Benarkah? Tapi aku hanya sering berbuat nakal pada kakakku” ucap Kai


“Mereka akan merasa kehilangan jika seseorang yang sering membuatnya tertawa tiba-tiba hilang” jawab Alviona


“Aku rasa kau benar” ujar Kai dengan tersenyum


Bersambung....