My Live For Battle

My Live For Battle
Dosakara



“Mungkin karena batu ini” jawab Alviona menunjukkan batu hitam yang dia ambil dari bungkusan makhluk hitam


“Sungguh?” tanya putri Laluna tak percaya


“Buktinya kau mencoba 2 kali menghipnotis pangeran dan aku. Dan tidak ada yang terpengaruh” jawab Alviona kembali mengikuti pangeran Mota


“Mana petanya?” tanya pangeran Mota


“Ini” Alviona memberikan peta yang ia ambil dari makhluk hitam. Pangeran Mota membukanya dan dengan muda mengerti maksud dari peta itu


“Sialan, tahu begitu aku berikan saja peta itu padanya saat dikapal, biar dia yang memahami peta itu” ujar Alviona dalam hatinya


Mereka bertiga mengikuti arah peta yang dibawa pangeran Mota menuju goa yang membawa mereka menuju bawah laut


“Ini dia pintunya” ujar pangeran Mota akan berjalan duluan. Tapi tiba-tiba


Brak!


Sebuah batu besar menabrak pangeran Mota dan menutup mulut goa itu


“Batu macam apa yang bisa tahu kedatangan tamu?” tanya pangeran Mota keheranan


“Aku rasa tempat ini memang untuk para makhluk hitam yang bernyawa 9” ujar Alviona


“Bukankah yang bernyawa sembilan itu kucing?” tanya Kai, tapi Alviona hanya mengangkat bahunya


“Tapi komplotan makhluk kegelapan bukan hanya makhluk hitam” ucap pangeran Mota


“Banar juga, ada makhluk lain yang tidak bernyawa sembilan” jawab Kai


“Apakah ada petunjuk dari kode ini?” tanya pangeran kembali membuka petanya


“Aku rasa itu adalah sandinya” jawab Alviona yang melihat sebuah batu yang bertuliskan kode-kode serupa dengan yang ada dipeta


“Aku rasa kau benar” pangeran Mota mendekati batu-batu itu dan menggantinya menjadi kode yang ada di peta


Dan benar saja, pintu terbuka dengan mudah dan mereka bisa masuk kedalam. Tiba-tiba mereka mendengar suara puluhan kaki berlari kearah mereka, dan ternyata itu adalah monster-monster yang hendak memberi ucapan selamat pada teman mereka yaitu makhluk hitam, tapi mereka tidak tahu kalau yang datang adalah musuh mereka bukan teman yang mereka tunggu selama sebulan lamanya.


“Selamat Mort! Kau berhasil membunuh pangeran itu” ujar salah satu monster yang memeluk pangeran Mota


“Ya! Kau berhasil melaksanakan tugas raja!” teriak yang lain memeluk Kai dan tak henti-hentinya memberi selamat


Para monster itu mengira bahwa mereka bertiga adalah makhluk hitam yang sedang menyamar. Pada awalnya Alviona memanfaatkan momen ini untuk memudahkan mereka menuju tempat yang mereka inginkan, tapi salah satu dari monster itu mencium darah dari jantung Mort di tombak pangeran Mota


“Tunggu kalian semua!” teriak monster yang mencium bau jarah Mort


“Ini darah jantung Mort” sambungnya membuat semua monster terdiam. Begitu juga Alviona yang langsung keringat dingin


“Jadi, Mort sudah...” ujar monster lainnya


“Mati?” potong salah satu monster


“Jadi.... Siapa kau?” tanya monster yang memeluk pangeran Mota dengan erat


“Aku pangeran Mota dari Indana” jawab pangeran Mota dengan santai dan polosnya


“Bodoh!” teriak Alviona langsung menyadarkan pangeran Mota atas kepolosannya


“Bunuh mereka!” perintah salah satu monster yang membuat para monster lainnya langsung mengeluarkan senjata mereka


“Kabur!” Teriak Kai yang langsung lari dari kejaran para monster. Merka bertiga lari tunggang-langgang mencari tempat sembunyi, tapi karena sangat mendesak, pangeran merubah wujudnya dan terbang membawa Kai dan Alviona. Namun karena cakranya hanya separuh dan sudah pernah merubah wujudnya, perubahan itu tidak lama yang akhirnya mereka bertiga jatuh kebawah pohon yang cukup besar


“Bodohnya kau! Mengapa kau mengatakan identitasmu semudah itu ha?” tanya Alviona sedikit berbisik sambil berulang kali menjitak kepala pangeran polos yang baru saja jatuh itu


“Maaf, aku tidak tahu” ujar pangeran Mota merasa bersalah


“Kita bisa bersembunyi disini dulu” ucap Kai setelah mengintip dari akar besar pohon itu untuk memastikan keberadaan para monster


“Kita tidak bisa berlama-lama disini. Kita harus buat permainan” usul Alviona


“Permainan apa?” tanya pangeran keheranan hal apa lagi yang dipikirkan oleh bocah berotak kancil ini


“Mereka pasti mengejar kita, jadi kita bisa memanfaatkan pepohonan disekitar sini. Kita cukup berlari dan memancing salah satu dari mereka untuk mendekati kita lalu kita bunuh satu persatu dari mereka hingga habis. Cara itu cukup efektif, tapi kita harus berpencar untuk mempercepat proses penghabisannya” ucap Alviona dengan cepat dan tak lama kemudian


“Itu mereka!” teriak salah satu monster yang mencium bau mereka


Para monster pun berpencar untuk mencari keberadaan mereka bertiga. Setiap kali ada monster yang mendekati persembunyian mereka, mereka tinggal membunuhnya dan lari ke pohon lainnya untuk memancing para monster untuk mendekat lalu membunuhnya lagi. Begitu seterusnya hingga tersisa satu monster


“Dimana mereka?” tanya monster yang tinggal sendirian itu


“Mereka sudah pergi kealam lain, kau mau menysul mereka?” tanya pangeran Mota yang muncul dari balik pohon


“Biar aku bantu” ujar Alviona yang ikut keluar dari persembunyiannya


“Dengan panah, kau akan lebih cepat bertemu mereka” Kai melengkapi ultimatum pangeran Mota dan Alviona


“Baiklah, baiklah, tidak usah dibantu, aku bisa sendiri” monster yang kesepian itu akhirnya bunuh diri


“Sangat mandiri” puji Alviona dengan senyum psikopatnya


“Sekarang ayo kita ke gua!” ujar pangeran langsung menuju gua diikuti Kai dan Alviona


Ketika masuk kedalam gua, rencana mereka pun dilancarkan. Pangeran Mota menangani para penjaga yang masih tersisa, sedangkan Alviona masuk lebih dalam ditemani Kai untuk membantunya melawan penjaga yang lebih kuat


Ketika masuk, mereka disambut oleh penjaga yang sudah bersiap sejak para penjaga pertama meneriakkan aba-aba membunuh penyusup. Dengan bantuan pangeran Mota, Alviona dengan mudahnya menyelip diantara penjaga-penjaga itu dan kabur ke lorong gua yang semakin mendekati jantung kegelapan dengan ditemani Kai. Sedangkan pangeran Mota masih sibuk meladeni penjaga yang masih mempertahankan tempat sakral mereka


Didalam gua, bukan berarti sudah tidak ada penjaga lagi, masih ada banyak, tapi dengan batuan Kai, Alviona jadi lebih mudah untuk menghabisi penjaga-penjaga disana. Semakin memasuki gua, hawa dingin dan mencekam semakin terasa. Gelap dan sunyi, apalagi setelah mereka berdua membunuh penjaga yang menghalangi mereka


Setelah selesai membantai penjaga-penjaga di mulut gua tadi, pangeran Mota segera menyusul Alviona dan Kai sampai ke ujung gua. Ternyata, disana sedang ada penjaga paling mematikan, yaitu raja Yana yang sedang melakukan peningkatan kekuatan dibantu seorang penyihir sakti dan beberapa pengawal dari Indana


“Pantas saja penjaganya banyak sekali” ujar Alviona dengan berbisik


“Jadi, rencana kita tetap?” tanya Kai sekali lagi memastikan


“Ya, tidak usah berubah” jawab Alviona mengulang jawaban putri Laluna


“Kau yakin?” tanya pangeran Mota menelan ludahnya melihat musuh bebuyutannya yang sedang menaikkan level kekuatannya yang sudah pasti sangat jauh dibandingkan dirinya


“Ya, aku yakin. Kita menyamar saja” Alviona kembali menghampiri mayat monster yang baru saja ia bunuh tak jauh dari ujung gua lalu mengulitinya


“Kita bisa pakai ini” ujar Alviona menunjukkan kostum monsternya yang sangat mirip dengan moster yang baru saja dibunuhnya. Kai dan pangeran Mota pun mengikuti Alviona menguliti mayat moster yang ada disekitar mereka dan memakainya


“Beraksi!” ucap Alviona lalu mereka berjalan menuju ruang ujung gua


“Kau sudah habisi penyusup itu?” tanya salah satu pengawal dari kerajaan pada pangeran Mota yang menyamar


“Mereka sudah mati” jawab pangeran Mota


“Bagus! Sekarang aku akan lebih tenang meningkatkan kekuatanku setelah kematianmu Mota!” seru raja Yana yang sempat menyulut amarah langeran Mota. Namun Alviona sudah lebih dahulu menahannya


Alviona mengambil posisi yang paling dekat dengan jantung kegelapan dan memberi kode pada Kai untuk mengambil posisi lainnya namun juga dekat dengan jantung kegelapan dengan gerakan mata. Namun sialnya tempat Alviona adalah disebelah monster kepercayaan raja Yana


Disaat upacara peningkatan kekuatan dimuali, tiba-tiba monster itu mencium bau manusia dari diri Alviona meskipun dirinya berlumuran darah monster. Sebelum monster itu memberitahu monster lainnya, Alviona terpaksa membunuh monster itu. Ketika monster itu roboh, semua mata tertuju pada Alviona. Seketika Kai panik namun Alviona memberi kode pada Kai bahwa ia akan melempar hati es dan yang perlu Kai lakukan adalah menangkis hati es itu menuju jantung kegelapan


“Bukan! Bukan aku” Alviona mencoba menghindar


“Siapa kau sebenarnya?” tanya raja Yana memojokkan Alviona ke sisi gua. Lalu dengan kekuatannya, ia membuka penyamaran Alviona


“Kejutan” ujar Alviona langsung menyelip diantara kaki raja Yana dan menghindari tebasan pedangnya. Keadaan yang awalnya tenang dan sakral berubah menjadi tegang dengan pertarungan antara para pengikut ditambah kedatangan orang kepercayaan raja Yana dan pangeran Mota yang ditantang satu lawan satu dengan raja Yana


Pada awalnya Alviona sudah mengingatkan untuk menolaknya melainkan hanya untuk memancingnya, tapi pangeran Mota sudah terpancing emosinya dan menerima tantangan satu lawan satu dari raja Yana dan masuk kedalam jebakannya. Ditangah pertarungan sengit antara dua pangeran Indana itu, pangeran Mota terperangkap masuk kedalam jebakan penjara raja Yana yang sudah ia siapkan sejak membangun Dosakara


“Sudah aku bilang” ujar Alviona yang kesal dengan sifat pangeran Mota yang terlalu polos


“Jadi, kau masih yakin kau lebih unggul dariku?” tanya raja Yana pada pangeran Mota yang terperangkap dalam jebakannya. Setelah melumpuhkan orang kepercayaan raja Yana, Alviona mengeluarkan hati es


“Sikapnya masih jauh lebih unggul darimu raja Yana!” teriak Alviona mengangkat tinggi-tinggi hati es itu didekat jantung kegelapan


Namun dengan kekuatan kegelapannya dengan cepat raja Yana menyabet tangan Alviona hingga menjatuhkan hati es itu lalu mencekiknya di dinding gua


“Beraninya kau mengatakan dia lebih unggul dariku. Ohya, sepertinya kita pernah bertemu” ujar raja Yana sambil menikmati raut wajah Alviona yang terlihat tersiksa


Padahal ditengah ocehannya Alviona memberi kode paga Kai untuk menggunakan tangan monster agar bisa memegang hati es dan menyentuhkannya pada jantung kegelapan. Namun raja Yana sudah mengetahuinya terlebih dahulu yang membuat pembekuan itu gagal dan hati es hancur dirematnya


“Jadi begini cara kalian? Dengan kode gerak mata? Itu kode yang sudah sangat usang. Dan yah, selamat membebaskan diri” ujar raja Yana melepaskan Alviona yang sudah kehilangan kesadarannya karena kekurangan oksigen lalu pergi membawa jantung kegelapan untuk melakukan peningkatan di istana sambil menghancurkan Dosakara


Setelah raja Yana meninggalkan ruang ujung gua itu, dinding gua yang menahan air mulai retak, Kai segera mengambil kunci yang disimpan Alviona dan ia gunakan untuk membuka jebakan raja Yana. Tepat setelah pintu terbuka, tempat itu hancur dan air masuk dari segala sisi memenuhi ruangan ujung gua


Bersambung....