My Live For Battle

My Live For Battle
Separuh jiwa



Akhirnya ia berhasil membuat sihir air sedikit lebih tinggi dari tingkat dasar. Namun aneh, sihir itu tak mau masuk kedalam dirinya dan hilang lagi. Alviona tak putus asa, ia mencoba lagi, lagi dan lagi. Tapi tetap saja, sihir itu terbentuk lalu menghilang


“Sia-sia aku membentuknya, akhirnya juga hilang” gerutu Alviona berhenti mencoba


“Ini tidak mungkin, jika sihir itu sudah dibangun, pasti akan masuk ke tubuh membagunnya. Tapi bagaimana bisa sihir itu tak mau masuk ke tubuhmu?” tanya merasa aneh dengan sihir air itu


“Entahlah, tanya saja pada sihirnya. Aku rasa memang kau orang yang cocok untuk membangun sihir air di dalam dirimu” jawab Alviona lalu ikut duduk disamping Kai


“Atau kemungkinan terburuknya adalah tidak ada satupun diantara kita yang bisa membangun sihir itu” perkataan Kiowa membuat Kai terkejut


“Mimpi buruk” komentar Kai


Giliran Kiowa yang mencoba untuk membentuk sihir itu. Sama dengan Kai, dirinya juga sulit untuk berkonsentrasi sehingga tidak bisa membentuk sihir itu sama sekali. Meskipun sudah dicoba berulang-ulang, tetap saja sihir air itu tidak terbentuk juga


“Mimpi burukmu terwujud, Kai” ujar Kiowa


“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Kai


“Bagaimana jika aku bentuk sihirnya, tapi kalian berdua berada di sampingku sehingga sihir itu bisa masuk diantara kalian berdua” usul Alviona


“Kita coba” Kai bangun lalu berdiri didekat Kiowa


Alviona yang berada ditengah Kai dan Kiowa mulai memfokuskan seluruh pikirannya pada air itu. Membaca mantra dan sihir itu terbentuk, sama seperti saat Alviona membentuknya sihir itu memiliki tingkat sedikit lebih tinggi dari sihir air tingkat dasar. Setelah itu, sihir air itu perlahan mulai keluar dari mangkuk air lalu mendekati Kiowa. Tapi tiba-tiba


Pyaar!


Sihir itu hancur seperti bola kaca yang dipukul dengan keras hingga hancur. Mereka bertiga yakin sihir itu dihancurkan orang lain karena Alviona benar-benar tidak akan teralihkan oleh apapun saat sudah sangat fokus terhadap suatu objek. Sedangkan untuk membentuk sihir itu memerlukan tingkat fokus yang sangat tinggi


Alviona melihat sekelebat bayangan seorang pria yang mengenakan topeng mencoba lari di bebatuan “Siapa disana?!” Alviona mengambil pedangnya lalu berlari mengejar orang itu


Kebetulan jalan yang dilewati pria bertopeng adalah jalan buntu yang ditutupi bebatuan terjal. Kesempatan itu digunakan Alviona untuk menangkapnya, mereka sempat terlibat pertarungan dan adu pedang hingga Akhirnya Alviona berhasil memojokkan pria bertopeng lalu membuka topengnya. Alviona terkejut saat melihat warna mata pria bertopeng itu sama persis dengan warna matanya, hanya kebalikan letak


“Siapa kau sebenarnya?” pertanyaan Alviona tidak dijawab oleh pria itu


“Aku tidak akan menyakitimu, beritahu saja. Warna mata kita sama, siapa kau sebenarnya?” Alviona mengulang pertanyaannya


“Aku Tyson, aku mata-mata di kerajaan ini” jawab pria bertopeng itu sambil menunduk ketakutan


“Lalu mengapa kau menggangguku?” tanya Alviona


“Karena aku penjaga keamanan kerajaan ini, walaupun tidak resmi. Tapi ini pekerjaanku, aku menghalangi orang-orang yang ingin membangun sihir air tanpa alasan yang jelas. Terutama pendatang” jelas Tyson


“Tujuanku jelas, aku ingin membangu sihir air untuk memperbaiki hati es. Lalu mengapa kau menggagalkan itu?” tanya Alviona mempertanyakan alasan Tyson


“Karena kau pendatang, kebanyakan pendatang melakukan itu hanya untuk membangun sihir air lalu menggunakan untuk hal yang tidak baik” jawab Tyson


Tiba-tiba dengan kecepatan tinggi Tyson menebaskan pedangnya ke penutup mata tepat mengenai mata Alviona yang membuatnya terluka cukup dalam di alis dan bawah mata


“Jika mata kita sama, berarti sebelah matamu itu biru?” tanya Tyson


Alviona mengangguk, Tyson menatap dalam. Tiba-tiba muncul sebuah ingatan ketika Alviona berdiri didepan api unggun dan orang-orang asing mengelilinginya, tapi Alviona sama sekali tidak pernah berada di situasi seperti itu


“Argh! Siapa mereka?” tanya Alviona


“Kau menerima ingatan dariku?” tanya Tyson memastikan


“Ya, siapa mereka dan apa yang kau lakukan didekat api unggun?” tanya Alviona


“Kau pasti memiliki kaitan dengan kutukan cucu dewi Ema bukan?” tanya Tyson


Alviona terkejut bukan main saat Tyson bisa mengetahui situasinya saat ini “Ya, tapi bagaimana kau...” “Dugaanmu tentang seorang dalang di balik masalahmu ini benar!” Tyson memotong pertanyaan Alviona lalu dengan cepat menyekapnya dan membawanya kesuatu tempat sepi lewat rerimbunan hutan lebat


Setelah Tyson berhenti di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon bambu, Alviona langsung bertanya tentang Tyson sebenarnya “Sebenarnya siapa kau?! Mengapa kau tahu masalah dan pikiranku?”


“Maaf jika kau tidak nyaman, tapi ini bukan soal percintaan. Kau adalah separuh dari jiwaku” jawab Tyson, setelah itu menjelaskan hal yang terjadi


12 tahun yang lalu...


“Tyson, kau sudah siap?” tanya ibu Tyson


“Aku siap” Tyson berjalan keluar kamarnya menuju halaman depan yang sudah dikelilingi keluarga dan sesepuhnya


“Saat aku berusia 8 tahun, aku demam... Ibuku bilang aku sering mengigau dan bertingkah aneh saat sedang tidur. Lalu, seorang sesepuh yang masih satu keluarga denganku mengatakan bahwa ada seseorang yang mencoba mengirimkan roh hitam kepadaku karena aku memiliki jiwa kesatria. Jadi hari itu... Kami sekeluarga dan sesepuh melakukan semacam ritual untuk mengalihkan roh hitam itu” jelas Tyson yang sekarang pada Alviona


“Kita mulai ritualnya” perintah sesepuh Tyson


Dia menyiramkan air pada Tyson lalu menyiramkan sisanya di sekelilingnya. Setelah menyalakan api melingkar mengelilingi Tyson sesepuh kembali ke barisan lingkarannya dan membacakan doa-doa bersamaan dengan anggota keluarga lainnya, saat itu juga tubuh bagian kiri Tyson terasa sakit dan seolah ada sesuatu yang dicabut dari tubuhnya itu


Sakit itu semakin menjadi saat doa yang dibacakan semakin keras bersamaan dengan api unggun yang semakin membesar dan menutupi tubuh Tyson hingga tidak terlihat dari luar api unggun. Setelah lama menahan sakit luar biasa, api unggun itu tiba-tiba padam bersamaan dengan doa yang selesai di ucapkan. Seketika tubuh Tyson melemah hingga tidak kuat berdiri, ia pingsan. Keesokan harinya Tyson mulai membaik


“Empat tahun kemudian, aku sering merasakan emosi yang tiba-tiba berubah tanpa alasan, melihat sekilas tempat yang terlihat seperti hutan saat aku berkedip, dan tubuhku yang tiba-tiba terasa sakit tanpa ada luka” jelas Tyson berhenti sejenak menarik nafas


“Aku mulai merasa janggal tentang ritual yang dilakukan sesepuh dengan keluargaku. Pasalnya mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana ritual itu bekerja, efek yang akan ditimbulkan, dan lain sebagainya. Aku pun bertanya pada ibuku”


“Ternyata, ritual itu dilakukan untuk memindahkan separuh jiwaku yang menjadi target dari roh jahat masuk. Jiwaku ditujukan pada orang yang akan meninggal, agar tidak bisa di jangkau lagi. Tapi sayangnya, hal itu justru menghidupkan kembali orang yang sekarat itu, dia adalah kau. Menurut yang ibuku bilang, kau sebenarnya akan meninggal saat akan dilahirkan, jadi kau adalah sasaran kemana perginya separuh jiwaku. Tapi, ritual itu justru menggantikan jiwamu yang dicabut, sehingga kau masih bertahan hidup dan memiliki dua jiwa , yaitu jiwa laki-laki dan jiwa kesatria dengan jiwa tambahan dari roh hitam itu”


“Aku yang baru mengetahui hal itu sangat menyesalinya, mengapa aku mau melakukan ritual yang entah apa tujuan dan cara kerjanya?” Tyson memuluk kepalanya


“Semenjak saat itu, aku tidak pernah pulang lagi. Apu pergi ke seluruh penjuru dunia mencarimu, setidaknya memberitahumu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Lalu apa yang kau mau akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Hingga suatu ketika aku memiliki seorang teman yang bisa meramal, dia mengatakan bahwa hanya ada dua orang didunia ini yang memiliki sepasang mata merah dan biru untuk zaman ini. Jadi akan sangat mudah untuk menemukanmu, dia juga mengatakan, sebuah kutukan tentang kerajaan Eira akan membawaku menemukanmu” jelas Tyson panjang lebar


“Jadi, sekarang aku hidup dengan jiwamu?” tanya Alviona terkejut baru menyadari hal itu


“Ya. Tapi tidak masalah, aku tidak akan mengambilnya lagi. Aku ingin bertemu denganmu hanya ingin meminta maaf”


“Kemana perginya roh hitam itu?” tanya Tyson mengamati mata merah Alviona yang tidak berwarna gelap


“Suatu hal membuatku terbunuh, lalu dewa membantuku untuk hidup kembali dengan membawa roh hitamku sebagai gantinya” jawab Alviona


“Aku sungguh minta maaf soal itu, aku tidak tahu apa-apa, aku sungguh menyesal. Kau harusnya sudah tenang dialam sana, tapi jiwaku datang membawakan kehidupan yang buruk untukmu. Aku benar-benar akan melakukan apa saja hanya untuk menebus kesalahanku yang terlalu polos dan mementingkan diriku sendiri” Tyson membenamkan wajah di lipatan tangannya yang bertumpu pada kaki sambil berulang kali memukuli kepalanya


Alviona sejenak terdiam, rasanya ingin marah... Sangat marah, tapi mengingat orang yang melakukannya sudah sangat menyesal, Alviona tidak mungkin akan membuatnya menyesal seumur hidup. Ia mendinginkan kepalanya, berusaha mencari kata-kata yang baik untuk diucapkan sehingga dapat menyembuhkan penyesalan Tyson


“Jika kau tidak melakukan ritual itu apa yang akan terjadi?” tanya Alviona


“Setidaknya apa yang sudah ditakdirkan terjadi padaku, biarlah terjadi. Dan tidak membebani orang lain, aku... Aku... Sangat menyesal” ujar Tyson


“Dampaknya padaku?” Alviona berhenti sejenak


"Kau pasti baik-baik saja di alam sana, tenang dan damai. Kau hanya tinggal menunggu kiamat, di timbang dan masuk kedalam surga" jawab Tyson


Alviona tertawa pelan, "Hmhm, semudah itu pikiranmu?" Alviona menoleh kearah Tyson


"Lalu apa lagi yang harus aku pikirkan? Bukankah itu saja yang akan terjadi pada orang mati?" Tyson penasaran dengan apa yang dipikirkan Alviona


"Bukan begitu, maksudku jika aku tidak hidup, banyak hal yang aku lewatkan" Alviona menatap Tyson yang menatapnya penuh tanda tanya


"Lalu? Apa lagi?" tanya Tyson


Bersambung....