
Pangeran Mota terkejut dengan pernyataan itu, ia bingung harus mengorbankan siapa lagi, Kai terpikir untuk mengorbankan dirinya untuk Alviona
“Tunggu, ada tiga jiwa dalam dirinya” ucap Alkesh tiba-tiba membuyarkan pikiran Kai dan pangeran Mota
“Tiga? Seingatku dia hanya punya dua” ujar Kai kebingungan
“Aku akan kembalikan dua jiwanya, satunya biar aku bawa sebagai pengganti. Dia masih bisa hidup dengan dua jiwa” lanjut Alkesh mengeluarkan jiwa-jiwa yang ada dalam diri Alviona
Jiwa itu ada yang berwarna merah, biru dan hitam. Karena yakin jiwa hitam itu jahat, Alkesh mengembalikan jiwa merah dan biru Alviona yang merupakan jiwa kesatria dan jiwa laki-laki
“Dia akan menjadi lebih baik” ujar Alkesh lalu pergi setelah membawa jiwa hitam
Beberapa saat kemudian, Alviona tersentak bangun setelah dihidupkan kembali oleh Alkesh
“Dimana kita?” tanya Alviona. Tiba-tiba putri Laluna memeluk Alviona
“Ad-ada apa?” tanya Alviona tak mengerti
“Kau merasa lebih baik?” tanya Kai
“Oh, ya, tunggu, bukankah tadi kita tadi masih diluar?” tanya Alviona
“Kami baru saja menyembuhkanmu” ujar putri Laluna. Alviona menyadari dada kanannya sudah dibalut dan luka lainnya juga sudah dibalut
“Sungguh? Terimakasih!” seru Alviona balik memeluk putri Laluna yang berada paling dekat dengannya
Laroy pun memeluk pangeran Mota yang merangkul Kai. Diluar, pada rakyat sudah menuggu pangeran Mota keluar
“Sepertinya ada yang menunggumu” ujar Kai
“Maka ayo kita keluar bersama” ajak pangeran Mota
“Astaga! Aku tidak bisa keluar tanpa menutup sebelah mataku” ujar Alviona menutupi matanya dengan tangan
“Pakai ini dulu” putri Laluna memberi Alviona pita yang cukup tebal untuk menutup matanya. Alviona menerimanya lalu menutupi mata kananya
“Bukankah kau selalu menutupi mata kirimu?” tanya Kai
“Memang, tapi menjadi kesatria sejati lebih menyenangkan dari pada berpura-pura menjadi orang lain” jawab Alviona percaya diri
Mereka semua berjalan keluar bersama-sama dan menyambut kemenangan mereka bersama rakyat Indana
“Kita menang!” seru pangeran Mota membuat para rakyat yang awalnya hanya diam menjadi bersorak-sorai kegirangan
“Hidup raja Mota!” seru salah satu rakyat
“Hidup!” seru semua orang bersamaan
Dan begitulah perjuangan Alviona dalam mengalahkan raja Yana. Memang impiannya untuk berkumpul lagi dengan ibunya tudak tercapai, tapi kemenangan itu terasa lebih hidup dengan lingkungan yang menerimanya apa adanya, tidak memaksanya untuk menjadi orang lain, dan mendukungnya untuk menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang ia inginkan
Kini Alviona sudah berada di tempat dimana ia diperlukan. Sebagai pemilik jiwa kesatria, tentu saja akan menjadi seorang kesatria hebat di kerajaan tanpa harus dibentuk dari nol karena memang sudah minat dan bakat
Beberapa bulan kemudian, istana dan rumah-rumah warga sudah selesai di bangun kembali setelah peperangan, kini Indana kembali hijau dan subur, begitu juga para rakyatnya. Damai dan tentram, tak ada lagi rakyat yang kelaparan karena pajak yang terlalu tinggi
Tibalah saatnya pelantikan raja, ratu, dan pengurus kerajaan lainnya. Dibantu seorang pendeta terkemuka di masyarakat, penobatan pun dilaksanakan dengan khidmat. Tak hanya keluarga kerajaan yang mendapat pangkat, Alviona juga kebagian pangkat sebagai senapati dan Kai sebagai wakilnya. Mereka juga diberi kamar untuk bisa tetap di istana dua puluh empat jam
Awalnya Alviona menolak karena menurutnya usianya terlalu muda untuk pangkat setinggi itu, namun karena tidak ada yang mau menggantikannya, ia pun menerimanya. Setelah penobatan, acara dilanjutkan dengan pernikahan raja Mota dan ratu Laluna
“Kita sudah tidak bisa memanggil mereka pangeran dan putri lagi” ujar Alviona yang berada disamping Kai
“Ya, apakah mereka akan merindukan panggilan itu?” tanya Kai
“Lima puluh lima puluh” jawab Alviona. Tiba-tiba raja dan ratu melakukan adegan berciuman
“Ouch, adegan ini tak ramah untukku” ujar Alviona menutup rapat-rapat matanya
“Ngomong-ngomong, dimana kamar kita?” tanya Kai yang beru memikirkannya
“Ohya, aku juga baru terpikir tentang itu. Mungkin yang di lantai dua” jawab Alviona
“Ini kamar kalian” ujar Laroy menunjuk kamar didepannya
“Ehm, aku tidur dengannya?” tanya Kai
“Oh, tentu saja tidak. Kamarmu yang sebelah sana” jawab Laroy menunjuk kamar disebelahnya
“Baiklah, kalian boleh tidur. Besok pagi jika ingin sarapan, datanglah ke dapur, para pelayan sudah menyiapkannya” pesan Laroy diangguki Alviona. Laroy berlalu meninggalkan mereka berdua
“Aku tidur dulu” ujar Alviona membuka kamarnya
“Aku juga” Kai ikut membuka kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Alviona
“Selamat malam” ujar mereka bersamaan. Seketika mereka saling lirik lalu masuk kamar dan membantung pintu di saat yang bersamaan pula
“Apa yang terjadi?!” bahkan pertanyaan itu mereka tanyakan bersamaan
Malam berlalu, fajar telah tiba. Seperti biasa Alviona terbangun untuk berlatih pedang. Beruntung saat pembangunan ulang itu, pedangnya berhasil ia temukan. Tapi.. Jenazah ibunya sama sekali tidak ada yang menemukannya. Alviona mencoba untuk tidak terus-menerus memikirkannya
Alviona memilih untuk melompat dari lantai dua untuk sampai ke halaman latihan dari pada harus melewati tangga dan jalur yang lebih jauh. Tiba-tiba Laroy terbangun karena suara decitan pedang Alviona. Ia mengintip dari kamarnya dan melihat Alviona yang sedang dengan semangatnya berlatih pedang sendirian di pagi buta
Setelah matahari terbit, barulah Kai dan para prajurit lainnya bangun untuk latihan. Sedangkan Alviona baru saja istirahat
“Kau bangun pagi lagi?” tanya Kai
“Aku tidak bisa lepas dari kebiasaan ini meskipun sudah tidak di alam liar” jawab Alviona
“Mau latihan lagi?” tanya Kai mengambil pedangnya
“Tidak, aku lapar aku sarapan dulu. Kau berlatihlah dengan prajurit lainnya” jawab Alviona lalu pergi ke dapur
Didapur, sudah tersedia berbagai masakan. Namun tidak semua Alviona mengetahuinya karena ia jarang makan makanan kerajaan
“Tuan mau makan?” tanya salah satu pelayan
“Maaf, tapi aku perempuan dan aku masih 12 tahun” jawab Alviona
“Sudah tradisi bahwa yang berpangkat tinggi harus dihormati dengan panggilan tuan” jawab pelayan itu
“Oh, baiklah, tapi aku merasa tidak enak jika dipanggil tuan. Apalagi aku perempuan” ujar Alviona
“Tuan akan terbiasa dengan panggilan itu” pelayan tadi memberi Alviona piring dan mempersilahkan Alviona mengambil makanan
Alviona hanya mengambil nasi dan sayuran yang ia kenal serta dua buah apel
“Ini cukup untukku. Terimakasih” ujar Alviona
Alviona ke kamarnya untuk sarapan lalu kembali ke halaman untuk melanjutkan latihan bersama Kai dan para prajurit lainnya
Setelah beberapa saat, mereka istirahat di halaman itu juga sekedar melepas lelah dan mengobrol ringan
“Kau tadi audah sarapan bukan?” tanya Alviona memastikan
“Sudah” jawab Kai
“Kau mau apel?” tanya Alviona memberikan satu apel pada Kai
“Tentu saja” Kai mengambilnya lalu menggigit apel merah ranum itu
Melihat Kai makan, Alviona teringat saat ia masih bersama Biena di tengah sawah berteduh di bawah pohon sambil makan apel atau jika beruntung mereka makan ikan bakar. Namun itu semua kini hanya kenangan yang tidak bisa diulang lagi
Saat permainan Alviona diketahui, Biena tak bisa lari dan tertangkap. Karena tidak bisa menjawab simana keberadaan dan tujuan Alviona, Biena di eksekusi saat itu juga. Tanpa Alviona sadari air matanya jatuh saat memperhatikan apel yang telah ia gigit
“Kau baik-baik saja?” tanya Kai
Bersambung....