
Sepanjang hari, Alviona terus menerus memperhatikan kode-kode yang ada di peta dari makhluk hitam tadi. Ia memutar-mutar peta itu dan mencoba mencari apa maksud dari kode itu. Namun sampai malam pun ia masih tak mengerti apa yang disembunyikan kode itu
“Apa kau tidak bosan terus-menerus melihat kode aneh itu? Apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Kai mendatangi Alviona yang berada dibawah obor mencari penerangan
“Tidak, aku tidak menemukan apa-apa, tapi aku yakin kode ini ada hubungannya dengan Dosakara” jawab Alviona menoleh kearah Kai
“Apa hubungannya?” tanya Kai duduk disisi kapal
“Lihatlah, ini peta Indana, pulau 1000 bukit dan tanda silang ini adalah Dosakara. Itu berarti ada hubungan antara kode ini dengan Dosakara” jawab Alviona menunjuk gambar-gambar di peta dan memperlihatkannya pada Kai
“Kau benar” ujar Kai mulai mengerti
Alviona menghela nafas lalu berbaring dengan berbantal kedua telapak tangannya
“Aku takut rencana kita gagal” ujar Alviona menjadi murung
“Memangnya kenapa?” tanya Kai
“Kita tidak tahu bentuk dari Dosakara, kita juga tidak tahu bagaimana wujud dan seberapa kuat penjaganya. Belum sampai ke Dosakara saja kita sudah dihadang dengan makhluk hitam, bagaimana saat di Dosakara nanti? Aku tidak bisa membayangkannya” jawab Alviona memandangi langit yang mendung
“Aku juga, yang lebih aku takutkan, kita justru merenggut lebih banyak nyawa hanya untuk peperangan” ujar Kai
“Kau benar, memang lebih baik kita mengalahkan raja Yana tanpa menyerangnya, tapi kemungkinannya hanya 1 banding 1000” ucap Alviona terlihat lelah
“Tidak apa-apa, kita masih punya orang dalam. Kita juga punya pangeran Mota, aku yakin kita bisa”Kai memberi semangat
“Terimakasih semangatnya, tapi ini sudah malam, aku mengantuk, aku sudah tidak bisa disemangati lagi” canda Alviona
“Yasudah, mari tidur” ajak Kai
“Aku mau tidur disini saja, hawanya agak dingin” jawab Alviona
“Baiklah” Kai berjalan menuju tempat tidurnya dan berbaring sedangkan Alviona masih merasa gelisah seperti memiliki firasat buruk. Namun ia mencoba mengalihkan perhatiannya dan berusaha tidur
Keesokan harinya setelah berlatih pedang sendirian, Alviona masih terdiam merenungi perasaannya yang tak enak
“Kau masih menghawatirkan tentang itu?” tanya Kai yang baru bangun lalu duduk disamping Alviona. Alviona mengangguk pelan
“Mengapa kau masih terus-menerus memikirkannya? Bukankah dalam perjalananmu melewati 7 gunung itu kau sudah berulang-kali membuat rencana dan misi? Lalu apa yang membuatmu ragu dengan misi kali ini?” tanya Kai menyadari sifat Alviona yang terlihat tegas namun sebenarnya dia juga memikirkan kesulitannya
“Entahlah Kai, aku merasa, ada sesuatu yang menggangu dari misi ini. Apalagi jika kita gagal, kesempatan keduanya pasti lebih sulit atau bahkan mustahil. Ini menyangkut rakyat Indana dan dunia” jawab Alviona
“Rakyat dunia? Apa hubungannya Indana dengan dunia?” tanya Kai bingung
“Raja Yana adalah raja yang hebat, tapi angkuh, rakus, dan tidak peduli dengan rakyatnya. Begitu juga pengikut dan prajuritnya, mereka haus darah, kekayaan dan kekuasaan. Menaklukan Indana dan dunia sangatlah mungkin bagi mereka yang tidak punya rasa kasihan. Apalagi hanya soal pertahan, sihir kegelapan adalah sihir yang sangat-sangat kuat, saking kuatnya, dialah yang menguasai malam. Namun kebanyakan pemiliknya adalah orang jahat” jelas Alviona panjang lebar
“Tapi ini semua tidak akan terjadi jika pangeran Euko tidak mati tiba-tiba saat itu” ujar Kai
“Ya, kematian pangeran Euko hampir 12 tahun yang lalu itu memang misterius” ucap Alviona
“Kau tahu kematian pangeran Euko?” tanya Kai mengira Alviona tidak tahu tentang kematian pengeran mahkota Indana saat itu
“Anak sulung raja Rukka itu bukan? Yang meninggal mendadak dan penyebabnya tidak diketahui” tanya Alviona memastikan
“Ya, benar, tapi bagaimana kau tahu? Bukankah pangeran Mota tidak pernah menceritakan tentang itu?” tanya Kai. Alviona akan memberi tahu sesuatu tentang kematian pangeran Euko itu, namun ia kembali memikirkannya
“Sebaiknya aku katakan atau tidak ya?” tanya Alviona dalam hatinya
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Kai melihat Alviona diam yang langsung membuyarkan pikiran Alviona
“Oh, tidak, emm aku tahu itu dari tetanggaku” jawab Alviona memutuskan untuk tidak memberi tahu Kai
“Bukankah kau dijauhi tetanggamu?” tanya Kai merasa ada yang janggal dengan jawaban Alviona
“Kau tahu pekerjaan anak kecil jika ada orang-orang yang berbincang dengan sangat seru?” tanya Alviona mendapat ide
“Apa?” Kai balik bertanya
“Jadi kau mendapat informasi dengan menguping?” tanya Kai menahan tawanya dengan tingkah konyol Alviona saat masih kecil
“Selalu” tawa Alviona semakin menjadi-jadi
“Pintar” tambah Kai yang sudah tidak bisa menahan tawanya membuat Alviona semakin tidak bisa berhenti tertawa
“Kau tahu? Aku dulu juga pernah melakukannya” ujar Kai membuat mereka berdua tertawa semakin keras
“Sudah, sudah, perutku sakit” pinta Alviona namun Kai justru tertawa lebih keras dan semakin tidak bisa berhenti
“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Pangeran Mota yang sejak tadi hanya menguping pembicaraan mereka berdua. Setelah melihat kearah pangeran Mota, Alviona dan Kai hanya bisa kembali tertawa
“Dia juga menguping!” ujar Kai menertawakan pangeran Mota yang kebingungan dengan tingkah mereka berdua. Namu pangeran Mota hanya bisa menggeleng dengan kelakuan mereka yang terlihat kekanak-kanakan. Yang satu memang masih anak-anak, tapi yang satu lagi benar-benar kekanak-kanakan
“Dasar bocah, usianya tidak jauh dariku, tapi sifatnya masih sangat kekanak-kanakan” ucap pangeran Mota membicarakan Kai pada putri Laluna
“Hihihi, biarkan mereka bahagia sebelum pertempuran pangeran, mereka itu sangat kondisional. Disaat serius mereka sangat serius, tapi disaat seperti ini mereka jadi sangat lawak” ujar putri Laluna
“Kau benar” jawab pangeran Mota
“Tapi bisakah kita seperti mereka?” tanya pangeran Mota. Putri Laluna langsung tertawa mendengar itu
“Jika kau mau, kau bisa melakukannya” jawab putri Laluna. Pangeran pun ikut tertawa
Setelah satu bulan lamanya pelayaran dan perencanaan, akhirnya mereka sampai di Dosakara. Dan ternyata Dosakara adalah sebuah pulau kecil dengan gua ditengahnya yang menuju kebawah laut namun tidak tergenang air
“Jadi ini Dosakara?” tanya Alviona
“Ya, kita sudah mengikuti petanya. Dan aku yakin ini Dosakara” jawab pangeran Mota
“Jadi, rencana kita tetap?” tanya Kai memastikan
“Ya, tidak usah berubah” jawab putri Laluna
“Kalau begitu ayo” Alviona turun dari kapal diikuti pangeran Mota putri Laluna dan Kai
“Kau ikut?” tanya pangeran Mota pada putri Laluna
“Jika bisa membantu” jawab putri Laluna
“Baiklah” ujar pangeran Mota. Karena pulaunya hanya bebatuan yang terendam air, putri Laluna tidak mau pakaiannya basah, jadi ia mencoba menghipnotis pangeran Mota untuk menggendongnya dan sedikit beradegan romantis
“Pangeran, gendong aku” pinta putri Laluna dengan wajah yang dimelaskan. Pangeran pun terkena hipnotis putri Laluna dan menggendongnya dengan senang hati
“Kau baik sekali” puji putri Laluna
“Hanya untuk ratuku” jawab pangeran Mota. Tapi tiba-tiba pangeran Mota tersadar dari hipnotis putri Laluna
“Kau menghipnotisku?” tanya pangeran menyadari keusialan putri Laluna
“Apa?!” putri Laluna terkejut tiba-tiba pangeran tersadar dari hipnotisnya
“Ini bukan saatnya untuk beradegan romantis Laluna!” ujar pangeran Mota terlihat marah lalu melepaskan gendongannya yang membuat putri Laluna jatuh ke air
“Bagaimana bisa?” tanya putri Lakuna keheranan
“Hei nak! Antar aku kembali ke kapal” perintah putri Laluna ganti menghipnotis Alviona
“Kau punya kaku yang sehat dan mata yang masih bisa melihat dengan jelas, jadi jalanlah sendiri” jawab Alviona yang tidak terpengaruh dengan hipnotis putri Laluna
“Apa?! Bagaimana bisa?” tanya putri Laluna yang kembali gagal menghipnotis manusia
Bersambung....