
Alviona terkejut “Berarti mereka sudah lebih dulu mendatangi rumah nenek Damari?” Alviona ikut menyadari hal itu
Tanpa pikir panjang, Kai dan Alviona berlari ke rumah nenek Damari diikuti Teli. Setelah sampai disana, benar saja pintu rumah itu telah rusak didobrak. Alviona masuk untuk memastikan keadaan nenek Damari
“NENEK!” panggil Alviona
Namun mereka berdua tidak menemukan orang yang mereka cari, rumahnya berantakan dan kotor. Pasti ulah para prajurit yang mengobrak-abrik rumahnya, Alviona teringat dengan buku tua yang disimpan nenek Damari tentang sejarah kerajaan-kerajaan terkenal. Ternyata buku itu masih tersimpan rapi di rak, Alviona mengambilnya lalu membuka halaman tentang kerajaan Zipa
“Apa yang kau cari?” tanya Kai
“Kelemahan kerajaan Zipa, nah ini dia” Alviona sejenak membaca tentang kerajaan Zipa secepat mungkin “Kita akan menyelamatkan kak Kiowa saat malam hari” Alviona menutup buku itu
“Mengapa tidak sekarang?” tanya Kai penasaran
“Penjagaan kerajaan Eira kuat karena adanya cahaya. Jika malam hari maka lebih mudah untuk memasukinya, apalagi pencahayaan hanya bergantung pada cahaya bulan” jelas Alviona
Kai mengangguk mengerti. “Lalu apa rencana kita?”
“Cukup panjang” Alviona menjelaskan semua rencana yang kembali mengalir lancar dikepalanya. Dimulai dari bagaimana mereka masuk ke kerajaan, mengecoh para penjaga yang berpatroli, menyelamatkan Kiowa, hingga keluar kerajaan dengan mulus. Alviona sangat yakin rencananya akan berjalan mulus
...
Malam pun tiba. Mereka berangkat ke kerajaan sambil membawa peralatan yang diperlukan untuk rencana mereka dengan menunggangi Teli agar lebih cepat. Jarak dari rumah Kai menuju kerajaan tidak terlalu jauh sehingga tidak membutuhkan waktu terlalu lama
Rencana dimulai dengan membelokkan cermin pemantul cahaya bulan yang membuat seisi kerajaan gelap gulita dan mengundang para penjaga ke tempat cermin itu berada untuk mengembalikan posisinya agar bisa memantulkan cahaya dengan benar ke dalam istana. Setelah itu Kai mempermainkan mereka dengan lampu minyak yang dia bawa sambil lari kesana-kemari. Para penjaga menjadi fokus mengejar cahaya lampu minyak dari Kai, hal itu digunakan Alviona untuk membebaskan Kiowa dengan besi yang sudah dia bengkokkan sebelum datang ke istana
Saat Alviona sampai di ruang tahanan dirirnya melihat Kiowa yang ditahan di salah satu sel tahanan, “Alv? Bagaimana kau bisa sampai kesini?” ranya Kiowa dengan mata berkaca-kaca
“Jangan tanyakan itu sekarang, waktu terlalu singkat untuk aku menceritakan penyusupan ini” jelas Alviona tanpa melepas fokus untuk membuka pintu sel
Hingga akhirnya pintu sel itu terbuka, Alviona langsung memberikan kode pada Kai dengan pantulan cahaya bulan yang dia belok-belokkan seperti lampu senter. Melihat kode dari Alviona, Kai segera memberikan lampu minyaknya pada seorang anak yang kebetulan berada di sekitar tempatnya bersembunyi, sehingga yang ditemukan para penjaga hanyalah anak kecil, bukan Kai
Mereka kabur dengan melompat dari lantai atas lalu melompati pagar pembatas, ketika bertemu dengan Kai setelah melompat dari lantai atas, Alviona dan Kai sempat tos atas keberhasilan rencana mereka dengan mulus. Setelah itu mereka semua kembali kerumah Kai
“Kalian melakukan itu dengan mulus?” tanya Kiowa kagum
“Tentu saja” jawab Alviona tersenyum licik puas dengan keberhasilan rencananya tanpa diketahui prajurit yang berjaga
“Dia memang licik” bisik Kai ditelinga Kiowa. Kiowa tersenyum geli “Bukankah itu bakatnya?”
Kai mengangguk setuju. Setelah sampai dirumah, Alviona yang sudah mengantuk merebahkan dirinya dirumput hijau yang cukup empuk. Sedangkan Kai dan Kiowa duduk disampingnya
“Aku rasa mohon maaf saja tak cukup untuk kesalahan sebesar itu, apalagi aku dituduh membunuh pangeran Forst” ujar Alviona membuka matanya dan menatap bintang-bintang
“Maksudmu?” tanya Kiowa
“Aku rasa aku harus memperbaiki hati es untuk menebus kesalahanku” Alviona bangkit dan duduk disamping Kai
“Namun bagaimana caranya? Untuk mengambilnya saja sudah tidak mungkin, bagaimana untuk memperbaikinya?” tanya Kai pesimis. Mereka bertiga sempat terdiam sesaat, setelah berpikir mencari jalannya, Kiowa teringat bahwa ia masih menyimpan buku yang diberikan ibunya tentang kekuatan-kekuatan dewa-dewi
“Ah! Aku ingat!” Kiowa berlari masuk kedalam rumah dan mencari buku itu diantara puing-puing rumahnya yang dirobohkan para prajurit tadi. Setelah menemukannya Kiowa langsung membawanya ke depan untuk di tunjukkan pada Kai dan Alviona
“Aku masih ingat ibu pernah membacakan tentang kekuatan raja Rukka serta pangeran Yana dan pangeran Mota padaku dan Kai. Hal itu yang membuat Kai berhasil lolos dari serangan pangeran Yana saat perang itu” jelas Kiowa membuka satu persatu halaman yang sudah berdebu
“Kerajaan Eira dan kerajaan Kyandra adalah kerabat dekat karena mereka sering saling membantu satu sama lain. Hal itu juga yang membuat kerajaan Eira percaya pada kerajaan Kyandra dan menaruh sebagian kekuatannya pada kerajaan terapung itu” Kiowa membacakan salah satu paragraf yang ada di buku itu dengan penerangan lampu minyak yang masih Alviona bawa
“Jadi, kita harus memanfaatkan itu?” tanya Alviona mencoba menebak pikiran Kiowa
“Bukan begitu, maksud dari saling membantu disini bukan hanya dari segi sandang dan pangan. Melainkan saling membantu dari segi kekuatan” jelas Kiowa
Alviona menggeleng tak mengerti. Kiowa mencoba menjelaskannya lagi “Kekuatan kedua kerajaan itu saling terhubung, sebuah pembuktian kecil dimana air bisa tercipta dari es dan es bisa tercipta dari air. Itu semua hanya bergantung pada tingkat panas matahari yang diterima, jadi kita tidak perlu mencuri atau menggunakan cakra air untuk mengembalikan hati es”
“Lalu dengan apa?” tanya Kai
“Dengan sihir. Aku tidak terlalu yakin, tapi jika belum dicoba mengapa tidak?” jawab Kiowa bersemangat
“Jadi apa yang pertama-tama kita lakukan?” tanya Kai
“Kita pergi ke kerajaan Kyandra untuk mempermudah dalam pembentukan sihir, lalu setelah mendapatkan sihirnya, barulah kita bisa pergi kembali ke Dosakara untuk mengambil dan memperbaiki hati es” jelas Kiowa
Alviona dan Kai mengangguk mengerti “Kita berangkat besok” ujar Alviona lalu kembali tidur di rumput. Begitu juga dengan Kai dan Kiowa
Paginya, ayam berkokok membangunkan mereka bertiga. Beruntung semalam tak hujan, pagi ini mereka hanya sarapan dengan buah yang ada di hutan. Setelah itu mulai perjalanan ke pantai
“Cukup aneh jika tidak ada yang memakai kapal ini. Jelas-jelas sudah kita tinggalkan 7 bulan lebih” ujar Alviona
“Yah, tapi mungkin karena orang-orang pesisir yang memang menjaga barang milik orang lain dan pantang bagi mereka menggunakan barang milik orang tanpa izin” komentar Kai
“Masih beruntung tidak ada yang mencurinya, bagaimana jika dicuri? Dengan apa kita berjalan ke kerajaan Kyandra?” tanya Kiowa
“Benar juga” sahut Alviona
“Sepertinya lama perjalanan kita ke kerajaan Kyandra sama dengan lama perjalanan kita ke kerajaan Eira” jelas Kiowa
Setelah mereka bertiga naik, Alviona dan Kai menaikkan jangkar lalu menurunkan layar dan mulai berlayar
Kai yang mengingat saat-saat mereka pertama melakukan pelayaran teringat dengan para bajak laut yang menghadang mereka “Menurutmu apakah Tuko dan kawan-kawannya masih mangkal di sekitar sini?” tanya Kai
“Entahlah, tapi yang pasti kita tidak perlu melawannya lagi seperti dulu” jawab Alviona
“Tuko kapten bajak laut itu?” tanya Kiowa
“Iya, seperti yang kami ceritakan” jawab Alviona
Beberapa saat kemudian, bibir pantai sudah tidak terlihat dan mereka memasuki laut lepas,
Mereka berpapasan dengan kapal Tuko. Disaat itu, Alviona memiliki ide jahil untuk mengejutkan Tuko dan anak buahnya
“Kai naikkan layarnya” pinta Alviona
“Mengapa?” tanya Kai
“Lakukan saja, aku punya ide” jawab Alviona menaik-turunkan alisnya
“Baiklah” “Biasanya jika seperti ini kau akan melakukan hal jahil, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Kai dalam hatinya
Kai menaikkan layar tanpa tahu tujuannya, tidak lama setelah itu, terlihat dari kejauhan datang kapal besar milik Tuko dan anak buahnya. Kai tidak menyangka Alviona bisa sejahil ini pada orang yang sudah akrab dengannya
“Kai kau pegang kendalinya sebentar” ujar Alviona
“Aku sudah menyangkanya, BAIKLAH!” Kai berjalan ke kendali dan menggantikan Alviona
Alviona berjalan ke bagian depan kapal, mengikat rambutnya, menggunakan penutup wajah dan bersiap dengan seutas tali dengan jangkar kecil diujungnya
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kiowa
“Membalikkan keadaan” jawab Alviona lalu melempar tali itu dan tersangkut tepat di salah satu tiang layar kapal Tuko. Alviona segera lompat masuk ke kapal itu
“JANGAN BERGERAK! INI PERAMPOKAN” teriak Alviona saat berhasil lompat kedalam kapal
“APA? KESATRIA HITAM?” Tuko yang melihat mata Alviona sekilas nampak mirip dengan matanya dulu
Beberapa dari anak buah Tuko mencoba menyerang balik Alviona, tapi Alviona sudah siap dan sudah memperkirakan hal itu akan terjadi. Alviona tidak menggunakan pedangnya agar tidak membunuh satu saja orang disitu, meskipun tangan kosong, Alviona masih bisa memukul mundur anak buah Tuko dan berhadapan langsung dengan Tuko. Saat jtu juga Alviona mengancam Tuko dengan salah satu belatinya
“Apa yang kau mau?” tanya Tuko
“Kau hanya perlu mengantarku ke pulau 1000 bukit di Timur” jawab Alviona mengulang perkataannya saat pertama kali bertemu dengan Tuko
Seketika Tuko mengingat kata-kata itu dan mengira Alviona telah menjadi kesatria hitam sejati. Tuko pun pasrah akan bernasib sama dengan ayahnya dulu
“Aku mengerti, aku tahu ini hari terakhirku” ujar Tuko pasrah
“Hei, jangan khawatir” Alviona membuka penutup wajahnya “Aku tidak sejahat yang kau kira” sambungnya lalu menyimpan belatinya lagi “Aku hanya merasa hari ini terlalu tenang, jadi aku ingin sedikit keributan” ujar Alviona melepaskan Tuko
Mendengar itu Tuko tertawa terbahak-bahak sambil menepuk jidatnya “Bwahahahaha! Aku kira kau pencari ketenangan, tenyata kau penikmat keributan” celetuknya. Seketika anak buah lainnya ikut tertawa-tawa, beberapa dari mereka turun ke kapal Alviona untuk menggantikan Kai dan mempersilahkan Kai bersama Kiowa naik ke kapal Tuko
Ketika Kai sampai di atas Kapal Tuko, dirinya langsung menemui Alviona yang sedang bersantai dengan anak buah Tuko “ Apa yang kau lakukan tadi?” tanya Kai
“Seperti yang aku katakan tadi, aku hanya membalikkan keadaan”jawab Alviona santai
“Membalikkan keadaan?” tanya Kai kebingungan
Bersambung....