My Live For Battle

My Live For Battle
Alv, aku mau ikut



“Tetaplah di kamar, aku tidak mau lukamu bertambah parah” ujar Kiowa mendudukkan Alv di ranjang


“Tapi aku bosan” keluh Alv memelas


“Tahan dulu, aku tahu kau bosan. Tapi lukamu harus sembuh” jawab Kiowa meletakkan pedang Alv


“Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau bertekad membebaskan ibumu hingga kemari?” tanya Kiowa duduk di samping Alv


“Di perang saudara itu, sebelum pangeran Mota kalah, ayahku sempat mengirim surat dengan merpati putih itu. Ayahku bilang, ia tidak lama lagi akan pulang, dan aku diminta menjaga ibu. Namun pangeran Mota kalah. Kami bukan orang kaya, pajak yang terus naik merampas makan kami hingga ibuku tidak bisa membayarnya. Ibuku ditahan, dan rumah kami dihancurkan. Aku tidak tahu harus apa, lalu aku teringat pesan ayah untuk menjaga ibu. Aku memutuskan pergi mengembalikan cakra pangeran Mota untuk membebaskan ibuku meskipun perjalanannya panjang hingga saat ini” jelas Alv


“Pertama, aku sudah kehilangan masa kecilku. Kedua, aku sudah kehilangan ayahku. Ketiga, aku kehilangan teman baikku. Aku tidak mau kehilangan harta terakhirku, meskipun untuk mengambilnya kembali mempertaruhkan nyawaku, aku akan tetap berjuang membebaskan ibuku dan mematuhi perintah terakhir ayah” sambung Alv sudah meneteskan air matanya yang membasahi penutup mata kirinya


“Hei, jangan menangis. Anak laki-laki harus kuat! Aku tahu itu berat untuk usiamu yang masih kanak-kanak, tapi aku yakin kau pasti bisa kembali berkumpul dengan keluargamu bagaimanapun caranya” ujar Kiowa menyemangati Alv dan menepuk pundaknya. Alv yang tadi menunduk kini mengangkat kepalanya menatap Kiowa


“Semangat!” sambungnya menatap Alv dengan senyum manis


“Iya! Semangat!” balas Alv mengusap air matanya


...****************...


Setelah 1 bulan, Alv yang sudah benar-benar sembuh kembali berlatih pedang di pinggir danau seperti yang ia lakukan sebelum mendapat luka. Tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya ke danau namun anehnya ia ditarik kembali. Alv tergeletak di suatu tempat yang aneh, penuh batuan dan gas panas


Dari balik batu besar, datang seorang wanita berbaju kerajaan serba biru berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam. Takut itu adalah pembunuh bayaran raja Yana, Alv bersiap menggenggam pedangnya kuat-kuat


“Siapa namamu?” tanya wanita itu berhenti tak jauh di depan Alv


“Alv” jawab Alv tetap bersiap dengan pedangnya. Tiba-tiba wanita itu melempar shuriken ke arah Alv. Saat Alv menghindar dan melihat shuriken itu, tiba-tiba wanita tadi berdiri tepat di depan Alv menodongkan pisaunya di leher Alv


“Aku Alasie, kau bohong, namamu bukan Alv” ujar wanita itu menatap Alv yang melotot terkejut. Alv segera menghindar meskipun sempat bengong memikirkan bagaimana Alasie berpindah tempat dengan begitu cepat


“Aku Alv! Namaku Alv” balas Alv meyakinkan Alasie. Lagi-lagi Alasie melempar shuriken ke arah Alv. Beberapa shuriken yang mengenai Alv membuatnya terlempar cukup jauh dan melepas ikat rambut Alv


“Tidak, namamu bukan Alv. Sekali lagi siapa namamu?!” Alesie mulai geram


“Sudah aku bilang namaku Alv!” jawab Alv sambil mencoba berdiri lagi


“Aku tahu namamu bukan Alv. Beri tahu aku siapa namamu?!” Alesie melempar pisau ke arah Alv dan memukulnya saat Alv menghindari pisaunya


“Namaku Alv” Alv mencoba kembali berdiri memegang pedangnya. Alesie menyerangnya dengan sangat cepat dan kuat hingga ia tidak bisa menghindar


“Ini terakhir. Siapa namamu?!” Alesie semakin geram dengan Alv yang menyamarkan namanya


“Alv, aku Alv” jawab Alv lemah karena serangan Alesie


“Baiklah, namamu Alv. Tapi matilah dengan identitas yang salah!” Alesie melempar tombaknya dengan sangat cepat dan itu tepat mengenai Alv


Tiba-tiba Alv tersentak bangun di tempat saat ia diobati dengan pakaian basah dan di sampingnya ada Kiowa. Alv sangat kebingungan padahal ia baru saja bertarung di tempat bebatuan


“Alv, kau sudah bangun?” tanya Kiowa dengan mata berbinar


“Ap-apa yang terjadi?” tanya Alv kebingungan


“Kau tadi tenggelam di danau. Aku yang membawamu kemari. Harusnya aku yang tanya. Bagaimana kau bisa tenggelam?” tanya Kai ikut duduk di samping Kiowa dan menatap Alv penuh tanya


“Tenggelam? Aku tadi tidak berenang. Aku.... apa yang terjadi?” Alv memegang kepalanya


“Tunggu, jika kau tidak berenang, bagaimana bisa kau tenggelam” tanya Kiowa ikut bingung


“Aku sedang berlatih pedang. Lalu seseorang memukul punggungku lalu dia menarik bajuku. Tiba-tiba aku tergeletak di tempat bebatuan, aku tidak tahu bagaimana aku berpindah tempat secepat itu? Dan ada seorang wanita mendatangiku, namanya Alesie. Dia menyerangku dan aku bertarung dengannya. Aku tertusuk tombaknya dan.... Aku bangun disini! Aku bahkan tidak menyentuh air” jelas Alv menceritakan apa yang ia lihat


“Alesie? Dia datang? Apa yang ia tanyakan padamu?” tanya Kai yang tertarik mendengar nama Alesie


“Nama” jawab Alv singkat karena masih kebingungan apa yang terjadi


“Namamu Alv bukan?” tanya Kiowa mulai curiga dengan Alv. Alv kini menjadi dilema harus mengatakan nama aslinya namun berisiko tertangkap prajurit Indana atau tetap menyamarkan namanya namun perkataan Alesie akan terjadi. Di tengah dilemanya, suara Alesie menyumpahi kematiannya menggema di kepala Alv yang membuat kepalanya sakit


“Ya! Namaku Alviona! Aku bukan Alv! Dan aku perempuan. Ya aku perempuan!” ujar Alv membeberkan nama aslinya dan melepas ikat rambutnya. Seketika suara Alesie menghilang begitu saja dari kepala Alviona yang membuatnya lega


“Alviona?! Mengapa kau sembunyikan nama aslimu?” tanya Kai


“Karena aku buronan kerajaan Indana, aku mencuri separuh cakra pangeran Mota agar bisa melawan raja Yana” jawab Alviona jujur dengan keadaannya sekarang


“Lalu jika kau perempuan, maka sebelah matamu berwarna cokelat?” tanya Kiowa mencoba menebak


“Tidak, mataku berwarna biru dan merah tua. Ya, aku pembawa petaka! Aku muak!” ucap Alviona melepas penutup matanya dan melampiaskan emosinya


“Memangnya mengapa kau muak? Ada masalah?” tanya Kai kebingungan


“Bukankah jiwa yang tidak cocok dengan tubuhnya itu pembawa petaka?” tanya Alviona bersiap menerima makian seperti di desanya


“Tidak, di Zipa orang berjiwa tidak cocok dengan tubuhnya tidak dianggap berbeda atau pembawa petaka, tapi dia orang yang langka dan istimewa. Justru seorang perempuan yang memiliki jiwa laki-laki dan kesatria akan menjadi wanita tangguh dan pemberani. Meskipun jiwa kesatria hitam, jika dididik dengan baik maka tidak akan tumbuh menjadi penjahat. Kau bukan pembawa petaka” jelas Kiowa menatap Alviona dengan lembut


“Tapi, mengapa di Juani orang berjiwa tidak cocok dengan tubuhnya dianggap pembawa petaka? Aku hanya takut di hina, dijauhi, dan dimaki-maki seperti di desaku” keluh Alviona menceritakan kisah hidupnya di Juani


“Beda daerah beda peraturan, kami sangat menghargai orang berjiwa langka” sambung Kai meyakinkan Alviona


“Jadi, kalian tidak akan mengusirku?” tanya Alviona ketakutan


“Tentu tidak, kau ini orang yang sangat istimewa” balas Kiowa tersenyum kepada Alviona


“Sungguh?” tanya Alviona tidak yakin


“Ohya, kita belum sarapan bukan? Lauknya pasti sudah matang, ayo makan. Alv, eh, Alviona kau ganti baju dulu ya” ajak Kiowa beranjak ke ruang makan diikuti Kai lalu Alviona menyusul setelah mengganti bajunya


“Di mana Teli?” tanya Alviona di tengah makannya


“Teli? Siapa Teli?” tanya Kai belum mengenal Teli


“Trenggilingku, namanya Teli” jawab Alviona


“Oh, trenggiling? Dia ada di kandang” balas Kai santai menghabiskan sarapannya


Setelah selesai makan, Alviona pergi ke kandang mengeluarkan Teli lalu memandikannya di sungai tak jauh dari rumah Kai


“Kemana saja kau sebulan ini?” tanya Teli menikmati sisiknya di gosok Alviona


“Aku dipaksa menyembuhkan lukaku dahulu” jawab Alviona menggosok kepala Teli


“Menyembuhkan luka? Akhirnya kau mau menyembuhkan lukamu. Mereka pasti tidak tahu berapa banyak luka yang tidak kau sembuhkan dengan serius” ujar Teli


“Setelah ini kita lanjutkan perjalanan kita” ucap Alviona


“Baiklah” jawab Teli pasrah meskipun masih ingin bersantai


“Kau sudah beristirahat selama 1 bulan. Tidak ada istirahat lagi selama 1 bulan ke depan” ujar Alviona membuat Teli tercengang tidak ada istirahat selama 1 bulan


“Yang benar saja” tanya Teli terlihat tidak percaya


“Ya, tidak ada istilah berhenti kecuali malam untuk tidur” sambung Alviona yang sudah selesai memandikan Teli


“Baiklah” jawab Teli pasrah. Setelah Alviona selesai mandi, mereka kembali ke rumah Kai. Alviona segera kembali menyiapkan tas, tempat minum, pedang-pedangnya, pisau, peta dan kompasnya. Alviona juga kembali mengikat rambutnya dan menutup mata kirinya


“Alviona, kau mau kemana?” tanya Kiowa memergoki Alviona memasangkan pelana Teli


“Aku akan melanjutkan perjalanan ke pulau 1000 bukit” jawab Alviona dengan senyum hangat


“Baiklah, hati-hati ya? Jangan abaikan lukamu” ujar Kiowa memeluk Alviona dengan wajah khawatir


“Pasti, aku tidak akan lagi mengabaikan lukaku” jawab Alviona meyakinkan Kiowa


“MAAF AKU LAMA” teriak Kai dari kejauhan menuntun seekor kuda


“Kau sudah mau berangkat ya? Aku boleh ikut?” tanya Kai memperlihatkan perlengkapannya yang mirip dengan Alviona


“Kai?” Kiowa terlihat kebingungan dengan penampilan Kai


“Kau benar-benar akan ikut?” tanya Alviona tidak percaya


“Ya, sebenarnya aku dahulu adalah salah satu prajurit pangeran Mota, tapi sebelum semuanya dibakar aku sempat kabur dan kami pindah kemari agar tidak terkena dampak kekalahan pangeran Mota. Aku kini tahu, tidak hanya kau yang menginginkan kemenangan pangeran Mota kembali” jelas Kai


“Baiklah” jawab Alviona mulai yakin dengan keinginan Kai


“Kak, aku berangkat ya” Kai mendekati Kiowa dan memeluknya


“Hati-hati, jaga Alviona seperti adikmu. Jangan berbuat macam-macam dengannya. Kau tahu kan? Harimau saja kalah dengannya, apalagi kau” ujar Kiowa memperingatkan Kai


“Iya, tidak akan. Mungkin saja jika aku ingin main-main dengannya, dia juga akan mempermainkanku” jawab Kai memberi isyarat mati pada Kiowa


“Sudah, jika kau memang ingin pergi bersamaku ayo cepat!” ajak Alviona yang sudah menaiki Teli menunggu Kai


“Ohya, ayo” jawab Kai ikut menunggangi kudanya lalu mulai berjalan bersama Alviona


“Semoga kalian pulang dengan selamat” ujar Kiowa pasrah melihat Alviona dan Kai pergi


Alviona berjalan ke Tenggara mengikuti merpatinya hingga mereka sampai di sebuah pantai. Alviona turun dari punggung Teli lalu mengelilingi pantai itu


“Kai, apa kau bisa melaut?” tanya Alviona melirik Kai yang masih berdiri di samping kudanya


“Tentu, aku bisa melaut” jawab Kai menyombongkan kelihaiannya melaut. Tiba-tiba Alviona datang menggeret sebuah perahu yang cukup besar


“Kita pakai perahu ini, antar aku ke arah Timur” ujar Alviona memperlihatkan petanya


“Ta-tapi, tidak jauh dari sini a-ada bajak laut” jawab Kai ketakutan


“Sudah, jangan pikirkan bajak lautnya. Mereka sudah pensiun. Lagi pula, aku sudah biasa bertemu penjahat” ujar Alviona meyakinkan Kai yang ketakutan


“Baiklah” jawab Kai pasrah dengan Alviona. Kai segera menaiki kapal diikuti Alviona dan Teli lalu melayarkannya hingga menjauhi bibir lantai


“Ngomong-ngomong ini kapal siapa?” tanya Kai yang baru memikirkan hal itu. Alviona hanya memberi isyarat ke arah pantai dan terlihat jejeran kapal yang sama dengan kapal mereka


“Aku tidak tahu ini kapal siapa, tapi aku sudah beri penggantinya” jawab Alviona dengan percaya dirinya


“Pencuri” cibir Kai tersenyum ke arah Alviona sambil mengendalikan kapal yang melaju. Setelah mereka berada di tengah laut dan bibir pantai sudah tidak terlihat, terlihat ada sebuah kapal besar mendekati kapal kecil mereka


“Kapal apa ini?” tanya Alviona polos


“Bajak laut” jawab Kai menganga lemas melihat kapal bajak laut yang mendekat. Terlihat ada 3 orang anak-anak berdiri di ujung kapal


Bersambung.....