
“Tentu saja dirumah” jawab Biena yang sudah turun dari pohon
“Daripada jauh-jauh ke rumah, ikut aku” Alviona menyusul Biena turun lalu berjalan di depan Biena
“Kemana?” tanya Biena keheranan
“Ke sebuah tempat” jawab Alviona sambil memakai capingnya
Biena hanya mengikuti Alviona dengan pasrah tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Setelah menyusuri sawah, mereka berhenti di tepi sungai dan berdiri di atas sebuah batu besar
“Apa yang kita lakukan disini?” tanya Biena yang kebingungan
“Kita cari ikan” jawab Alviona santai sambil melepas capingnya untuk wadah ikan lalu masuk ke dalam sungai
“Ayo!” seru Biena langsung masuk ke dalam air ikut mencari ikan
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar. Mereka segera memotong ikan itu lalu membakarnya
“Sudah kubilang ini lebih enak bukan?” ujar Alviona mengusap mulutnya yang belepotan
“Ya, aku belum pernah makan ikan bakar tanpa bumbu sama sekali. Ternyata enak!” seru Biena menghabiskan bagian ikannya
“Setelah ini aku akan langsung kembali bekerja, kau masih mau bekerja?” tanya Alviona sambil menjilati jarinya
“Tidak, aku akan pulang ibuku meminta aku pulang saat siang” jawab Biena membersihkan daun pisangnya
“Baiklah. Dah” Alviona beranjak kembali bekerja sedangkan Biena berjalan pulang
Setiap hari Alviona jalani bersama Biena dan ibunya. Berbulan-bulan Alviona menunggu kepulangan ayahnya tanpa kabar ataupun surat. Namun hari ini Alviona mendapat surat dari ayahnya dikirim oleh seekor burung merpati.
“Ibu! Ayah mengirim surat!” teriaknya membawa burung merpati di pundaknya sambil menunjukkan surat yang ia terima
“Sungguh?” Mala mendekati Alviona dengan mata berbinar
“Perang telah terjadi selama beberapa hari ini, aku diperbolehkan mengirim surat ini untukmu. Tunggu aku pulang, aku yakin tidak akan lebih dari 1 tahun. Untuk Alviona, jaga ibumu ya nak. Untuk Mala, jaga Alviona, Aku mencintaimu. Burung merpati itu biarkan dia dirumah sebagai jaminan aku pulang” tulis Jara pada surat itu
“Ayah memperbolehkan aku memelihara burung merpati ini ibu!” serunya sambil mengelus merpati putih dari ayahnya
“Dia akan segera pulang, tidak sampai satu tahun” ucap Mala senang menunggu suaminya pulang
...****************...
Beberapa bulan setelah Jara mengirim surat, di medan perang pasukan pangeran Mota telah terpojok dan dikalahkan pangeran Yana.
“Menyerahlah Mota” ujar pangeran Yana dengan senyum liciknya menahan tangan pangeran Mota
“Argh... Aku tidak akan menyerah sampai perang ini benar-benar selesai” pangeran Mota mencoba melepaskan pegangan pangeran Yana
“Hei, perang ini sudah selesai” balas pangeran Yana dengan suara lembut dan senyum puas
“Dan aku pemenangnya” sambungnya sambil mengikat pangeran Mota dengan rantai air dan menjebaknya di pusaran air yang ia buat
“Sial, teknik ini...” pangeran Mota tidak bisa lepas dari pusaran air itu yang membuat kekuatannya melemah
“Bersiaplah untuk mati Mota!” pangeran Yana telah menyiapkan pedang air dan mengangkatnya tinggi-tinggi
“TUNGGU!!” jerit putri Laluna
“Laluna?” pangeran Mota melihat putri Laluna berjalan mendekat
“Aku mohon jangan penggal kepalanya. Aku sebagai gantinya, aku bersedia menjadi istrimu” sambung putri Laluna terduduk menangis
“Oh, begitu? Baiklah aku terima tawaranmu” jawab pangeran Yana tersenyum senang lalu melepas pangeran Mota yang sudah lemas tak berdaya
“Oh iya, tidak semudah itu. Aku masih ingin kesenangan yang lain” sambung pangeran Yana memeluk tubuh cantik putri Laluna lalu mengambil cakra pangeran Mota dan ia gunakan untuk membakar semua prajurit pangeran Mota hidup-hidup termasuk Jara
“Kalian semua! Buang anak ini kemanapun kalian mau” ujar pangeran Yana pada murid-muridnya lalu meninggalkan medan perang yang sudah penuh dengan jasad manusia
“Siap!” para murid pangeran Yana segera mengirim pangeran Mota ke bukit Naga pulau 1000 bukit dengan portal lalu mengikuti pangeran Yana untuk penobatan
Di istana, pangeran Yana telah siap menobatkan dirinya menjadi raja yang disaksikan semua pengikut, prajurit, dan muridnya.
“Mulai saat ini, akulah raja kalian! Raja Indana! Tidak ada yang membantah perintahku. Jika ada yang membantah perintahku atau melanggar, maka akan dipenjara atau diperbudak” ujar pangeran Yana dengan senyum lebar menyambut dirinya menjadi raja. Sedangkan ayah dan ibunya sendiri dipenjara
“Berita-berita! Berita besar! Perang saudara kerajaan Indana telah usai!” teriak seorang pembawa berita di pasar yang mengundang perhatian banyak orang termasuk Alviona yang sedang membawa kendi kosong untuk menjual susu kambing
“AYAH!” jerit Alviona yang langsung lemas hingga menjatuhkan kendi yang ia bawa sehingga kendi itu pecah. Dengan cepat air matanya jatuh dan ia segera berlari pulang menemui ibunya
“Ibu! Ibu! Hiks, Ibu!” jerit Alviona sambil berlari ke rumahnya
“Ada apa Alviona? Ha? Ada apa?” tanya Mala yang khawatir dan penasaran apa yang terjadi mengelus wajah anaknya agar tenang
“Ayah.....”
“Ada apa dengan ayah?” Mala semakin khawatir
“Semua pasukan pangeran Mota dibunuh hingga tak tersisa...... hiks hiks, ayah.....” tangis Alviona semakin menjadi saat memberi tahu kabar itu
Mendengar itu, Mala langsung lemas hingga jatuh pingsan tak tahan dengan sedihnya. Alviona yang masih menangis segera membawa Mala ke kamar lalu menunggu ibunya bangun.
...****************...
Keesokan harinya, seperti biasa Alviona pergi bekerja. Namun tidak seperti biasanya ia memanggil Biena terlebih dahulu
“Alviona, mengapa kau tidak memanggilku tadi? Aku sudah menunggumu tahu” Gerutu Biena yang sedari tadi menunggu Alviona memanggilnya ke sawah
“Maaf” jawab Alviona singkat dengan wajah datar
“Kau kenapa?” tanya Biena semakin bingung dengan sikap Alviona yang benar-benar tidak bisa ditebak
“Tidak apa-apa” Alviona berjalan menjauhi Biena menghampiri burung pipit untuk mengusirnya
Siang telah tiba, siang hari yang menyenangkan dan penuh canda tawa Alviona kini sunyi dan kaku. Alviona benar-benar diam dan tidak banyak bicara sejak tadi.
“Kau lapar?” tanya Biena mencoba mencairkan suasana
“Tidak” jawab Alviona yang masih memasang wajah datar
“Aku tahu itu berat, aku juga tahu rasanya kehilangan. Tapi apa kau akan terus begini?” tanya Biena yang tidak mendapat tanggapan apapun dari Alviona
“Ayahku dulu meninggal karena perjalanan memburu harimau bersama kakekmu. Aku juga merasa sedih dan sering bertanya mengapa? Sedih, rindu, dan takut bercampur menjadi satu dan itu juga membuatku mogok makan. Rasanya tidak lapar dan tidak sakit. Yang terasa hanya rasa sedih dan kehilangan, sampai akhirnya aku demam. Lalu setelah itu aku tahu, yang sudah terjadi biar menjadi masa lalu. Takdir yang belum terjadi dan masa depanlah yang harus dikejar agar tidak buruk”
“Aku juga merasakan itu. Kita ini sama, jangan seperti itu, makanlah” sambungnya mendekati Alviona sambil memberikan sebungkus singkong rebus yang ia bawa. Alviona yang tadi hanya diam dan berwajah datar kini menoleh dan tersenyum walau sedikit
“Terima kasih” ucapnya dengan senyum kecil. Mereka berdua memakan singkong yang dibawa Biena lalu kembali bekerja
Besoknya, Alviona telah sedikit membaik dibandingkan kemarin dan semakin membaik setiap harinya. Canda tawanya kembali, ide jahilnya semakin menjadi dan senyum hangatnya selalu dirasakan Biena.
Suatu hari, Mala didatangi beberapa prajurit kerajaan menagih pajak. Padahal untuk makan saja pas-pasan, sedangkan untuk pajak yang terus naik tidak bisa dikejar dengan pemasukan yang sedikit.
“Nyonya Mala harus membayar pajak atau dipenjara” ujar si prajurit menodongkan tombaknya
“Tapi untuk makan saja kami terkadang kurang. Bagaimana dengan pajak yang terus naik dan tidak memperhatikan keadaan rakyatnya? Itu menyiksa” jawab Mala ketakutan
“Jika tidak membayar saat ini juga, maka nyonya harus ditahan” ancam si prajurit
“Aku mohon, aku punya satu anak perempuan, dia masih kecil. Jika aku ditahan, siapa yang menjaganya?” tanya Mala meminta belas kasihan
“Itu bukan urusan kami. Yang kami minta saat ini adalah pajak. Jika tidak ada, maka akan dikenai sanksi” jelas si prajurit tanpa menanggapi keluh kesah Mala
“Aku janji, minggu depan akan ada. Namun izinkan aku mengumpulkan beras dahulu”
“Tidak ada tawaran. Sekali tidak ada, maka sanksi akan dijatuhkan” para prajurit itu menangkap Mala lalu membawanya menuju kerajaan
Alviona baru pulang dari sawah terkejut ibunya di rantai dan diarak meninggalkan rumah. Ia mencoba melawan para prajurit, Alviona menendang salah satu prajurit lalu memukul perutnya kuat-kuat sehingga membuat prajurit itu tersungkur
“LEPASKAN IBUKU!” teriaknya sambil memasang kuda-kuda dan menatap tajam para prajurit. 5 prajurit maju untuk memberi pelajaran untuk Alviona. Mereka mengeroyok Alviona hingga ia terpojok dan tidak bisa melawan
“Alviona!” jerit Mala melihat anaknya kesakitan tersungkur di tanah. Namun ia tidak sempat menolongnya karena ia sudah ditarik kembali menuju kerajaan
“Ibu...” panggil Alviona pelan menahan sakit karena serangan dari para prajurit tadi. Apa daya, para prajurit sudah membawa Mala pergi dan kini Alviona benar-benar sendirian lagi
“Alviona!” Biena datang membantu Alviona pulang ke rumah, namun Alviona masih ingin melawan balik para prajurit agar tidak membawa ibunya pergi. Ia memberontak lalu mengejar para prajurit, namun tubuhnya kini masih sakit yang membuatnya jatuh lagi
“Sudah, ibumu akan baik-baik saja. Kau juga tidak mungkin melawan prajurit itu. Ayo pulang” ucap Biena menenangkan Alviona yang marah lalu menyangganya agar bisa berjalan pulang
Bersambung ......