My Live For Battle

My Live For Battle
Memancing



Ketika sampai ke permukaan, pangeran Mota yang melihat kapal kerajaan sudah menjauhi Dosakara langsung naik ke kapal Alviona untuk memeriksa keberadaan putri Laluna


“LALUNA!?” panggil pangeran Mota. Ternyata putri Laluna masih bersembunyi di balik kendali kapal untuk menghindari tangkapan raja Yana


“Pangeran! Aku pikir kau tidak akan selamat” ujar putri Laluna memeluk pangeran kesayangannya


“Tunggu, dimana Kai dan... Hah! Apa yang terjadi?” belum sempat putri Laluna menyelesaikan perkataannya ia terkejut melihat Alviona yang digendong Kai


“Dia dicekik saat masih dibawah tadi, aku rasa dia kehabisan nafas” jawab Kai meletakkan Alviona di atas kapal. Putri Laluna langsung memeriksa nafas dan detak jantungnya berharap masih bisa didengar


“Detak jantungnya masih terdengar!” seru putri Laluna membuat Kai lega. Dengan sihirnya putri Laluna melihat sesosok makhluk yang masih mencekik Alviona. Dengan cepat putri Laluna mengusir makhluk itu yang membuat Alviona tersentak sadar


“Hati esnya!” teriak Alviona setelah sadar ia telah berada di kapal


“Guanya hancur, kita tidak mungkin mengambilnya” jawab Kai


“Astaga! Bagaimana nasib kerajaan Eira?” Alviona merasa bersalah


“Ada kerajaan yang harus lebih dahulu kita selamatkan” ujar pangeran langsung menurunkan layar dan mengarahkan kapal mengikuti kapal kerajaan meskipun sudah sangat jauh


Alviona segera mengasah pedangnya dan Kai juga menyiapkan cadangan anak panahnya. Alviona membelah batu hitam menjadi tiga untuk berjaga-jaga jika saat di Indana nanti ada penghipnotis yang sama seperti putri Laluna. Pangeran Mota sementara menggunakan pedang Kai dan tombaknya untuk senjata perang. Sedangkan putri Laluna menggunakan perisai milik Alviona untuk melindungi diri. Tak sampai setengah hari, mereka sudah sampai di daratan


“Kita masih perlu waktu tujuh bulan untuk perjalanan ke Indana” ujar Alviona


“Kita bisa pakai portal” putri Laluna mencoba membuka portalnya


“Tapi tahun ini kau belum menggunakan portalmu bukan?” tanya pangeran Mota memastikan


“Memangnya ada apa jika putri Laluna sudah menggunakan portalnya di tahun ini?” tanya Kai


“Dia tidak bisa menggunakannya lagi. Portal itu hanya bisa digunakan sebanyak sekali dalam satu tahun” jelas pangeran Mota


“Kita masuk” ajak putri Laluna setelah berhasil membuka portal menuju Indana


“Tapi dimana pasukanmu?” tanya putri Laluna


“Entahlah, mungkin mereka terlambat atau bahkan sudah di Indana” jawab Alviona berusaha menenangkan keadaan


Dan benar saja, para bajak laut sudah bersiap di pemukiman warga untuk menunggu Alviona.


“Tuko” sapa Alviona saat melihat Tuko sedang duduk-duduk bersama anak buahnya


“Akhirnya kau sampai juga. Ini panglima kita?” tanya Tuko menunjuk pangeran Mota


“Bukan, panglimamu nanti adalah Kai” jawab Alviona


“Mengapa begitu?” tanya Tuko


“Aku dan pangeran berrugas susup menyusup di istana. Nantia akan aku kirim kode dengan pemancar dan Kai akan memimpinmu beserta yang lainnya untuk maju menyerang pasukan Indana” jelas Alviona


“Baiklah aku mengerti” jawab Tuko menyiapkan pasukannya


“Hanya ini yang aku punya, apakah kurang?” tanya Tuko memperlihatkan pasukannya


“Lebih dari cukup. Ayo” ajak Alviona menuju benteng mereka


“Kau siap untuk memancing?” aba-aba pangeran Mota langsung diangguki Alviona. Rencana dilakukan seperti yang sudah dibuat


Alviona hanya mengikuti pangeran Mota menuju tempat biasanya keponakan pangeran berada. Laroy, dialah yang sedang mereka cari. Sepanjang jalan menuju ruangan Laroy setiap kali mereka bertemu dengan pelayan dan budak seolah mereka melihat hujan gerimis yang datang ditengah kemarau panjang


Saat memasuki ruangan Laroy, tidak seperti yang dibayangkan, ruangan itu sepi dan hanya ada Laroy seorang yang terikat rantai terkulai lemas di lantai. Badan kurus dan tak berdaya, sudah jelas menggambarkan sekejam apa pamannya memperlakukannya layaknya tahanan


“Laroy!” panggil pangeran


“Ceritanya panjang, butuh satu hari satu malam untuk menceritakannya. Sekarang lebih baik kau jawab pertanyaanku, dimana titik lemah dari paman Yana?” tanya pangeran Mota sambil membuak rantai yang mengikat tangan dan tubuh Laroy


“Punggung belakang dada” jawab Laroy


“Ohya, dimana dia sekarang?” tanya pangeran yang baru mengingat hal itu


“Dia ada di menara tertinggi untuk melakukan peningkatan kekuatan” jawab Laroy


“Baiklah, terimakasih informasinya. Sekarang larilah pada putri Laluna di sebelah sana, kau akan aman disana” perintah pangeran Mota menunjuk kearah pasukan bajak laut dan putri Laluna bersembunyi


Alviona melihat keluar balkon dan melihat menara tertinggi yang dikelilingi ratusan pasukan


“Menara itu sangat tinggi, bagaimana kita bisa mencapai puncaknya?” tanya Alviona


“Sepertinya kita harus menyekap salah satu pekerja menara itu” ujar pangeran Mota


“Tidak usah, aku tahu jalannya” jawab Laroy


“Baiklah, tapi setelah itu kau harus langsung ke putri Laluna ya?” pangeran Mota memperingatkan. Laroy mengangguk lalu menunjukkan jalannya


Disaat perjalanan menuju ruang bawah tanah untuk menyelinap masuk ke menara, Alviona melihat sebuah lorong sepi yang kumuh dan gelap. Ternyata itu adalah tempat tahanan wanita tidur, ruangan yang Alviona cari-cari


“Hei kancil, apa yang kau tunggu?” tanya pangeran melihat Alviona berhenti didepan lorong tahanan


“Kau duluan saja, aku akan menyusul. Buat raja lelah, baru aku serang dari belakang” jawab Alviona mencari alasan untuk bisa masuk ke lorong itu


“Baiklah” pangeran pun pergi


“Simpan ini, kau akan membutuhkannya” Laroy memberi Alviona segulung denah jalan menuju bagian bawah menara yang akan dilewati pangeran untuk menyelinap kedalam menara


“Terimakasih” jawab Alviona lalu Laroy pergi bersama pangeran Mota


Disisi lain, Kai dan Tuko sudah khawatir melihat para prajurit mulai membubarkan diri dari barisannya untuk menggagalkan rencana Alviona. Rasanya ingin langsung menyerang, namun Alviona belum juga memberi kode


Ternyata saat Alviona sedang mengawasi keadaan sekitar sebelum masuk ke lorong, tiba-tiba dari belakang ada yang menyerangnya. Ternyata itu adalah prajurit raja Yana yang sudah mengetahui bahwa ada penyusup. Alviona pura-pura pingsan agar bisa menyerang dari bawah


“Dia pingsan?” tanya salah satu prajurit melihat Alviona tiba-tiba pingsan saat ia menyentuhkan pedangnya


“Dia terlalu lemah” ledek prajurit lainnya. Namun salah satu prajurit mencurigai Alviona dan mencoba mendekatinya untuk memastikan apakah dia benar-benar pingsan atau hanya sandiwara dan tiba-tiba


“Kejutan” bisik Alviona saat prajurit itu mencari detak jantungnya. Alviona menusukkan pedangnya tepat di jantung prajurit itu dan langsung membuatnya mati


Prajurit lainnya ikut menyerang dan terjadilah perkelahian. Ternyata diantara prajurit itu, ada seorang copet yang berusaha mengambil pemancar Alviona. Beruntung Alviona mengetahuinya dan kembali merebut pemancar itu. Sayangnya pemancar itu justru terlempar cukup jauh, segera Alviona melempar belatinya yang menancap tepat disamping pemancar itu sebagai tanda agar pemancarnya tidak ada yang mengambil


Setelah menghabisi semua prajurit yang menyerangnya, Alviona segera mengambil pemancarnya lalu menyalakannya sebagai kode pada Kai. Pemancar itu sempat menjadi rebutan dengan si vopet tadi dan rusak tidak bisa memancarkan cahaya, Alviona membantingnya lagi lalu cahaya baru memancar dari pemancar itu. Kai yang melihat cahaya dari pemancar Alviona langsung mengerahkan pasukan untuk menyerang pasukan Indana


Alviona memasuki lorong tahanan untuk mencari ibunya. Sepanjang lorong terlihat banyak tahanan sangat tersiksa didalam penjara yang tak layak huni sama sekali. Tanpa ranjang ataupun ventilasi dan sangat minim cahaya matahari, obor atau sekecil lilin puntak ada. Semua tahanan terlihat sangat kurus dan tak bertenaga. Sangat jelas bagaimana teganya raja Yana menahan mereka semua disini. Semua mata tahanan tertuju lada Alviona seolah meminta tolong tapi hanya dengan tatapan mata


Tiba-tiba sebuah ruang penjara sangat menarik perhatian Alviona. Dimana disitu tidak ada satupun orang yang memperhatikan Alviona, tidak seperti tahanan lainnya. Semua orang yang ada didalam ruangan itu sibuk memperebutkan makanan yang hanya sepiring nasi putih tanpa lauk. Diantara orang-orang yang berebut makanan itu, terlihat salah satunya adalah Mala ibu Alviona


“Ibu” panggil Alviona pelan namun terdengar jelas oleh Mala


“Alviona?” Mala memastikan itu adalah anaknya


“Ibu!” Alviona mendobrak pintu besi dan memeluk tubuh kurus ibunya


Disaat yang bersamaan, pangeran Mota dan raja Yana sedang bertarung hebat diatas menara. Saking sengitnya, mereka sampai merubah wujud mereka untuk menunjukkan kekuatan terhebat mereka. Pertarunga semakin memanas, mereka bertarung di udara dan merusak banyak bangunan istana


Bersambung....