
Hari berganti, minggu berlalu, kini hampir genap satu bulan Alviona, Kai, putri Laluna dan pangeran Mota melakukan perjalanan menuju kerajaan Eira. Semakin mendekati kerajaan itu, semakin dingin angin dan airnya. Saat ini keempat orang itu mulai merindukan daratan dan pepohonan hijau yang sudah lama tidak mereka lihat. Dan akhirnya setelah satu bulan perjalanan, mereka tiba di daerah kerajaan Eira yang berada di kutub selatan
“Kita sampai” ujar pangeran melihat daratan es yang sudah didepan mereka. Alviona dan Kai bersiap untuk berlabuh
“Kau masih ingat jalan ke kerajaan Eira?” tanya putri Laluna pada Alviona yang berusaha menurunkan jangkar
“Ya, jika tidak pangeran Mota pasti tahu” jawab Alviona sedikit menggigil. Mereka berempat turun setelah jangkar diturunkan dan berjalan mengikuti peta Alviona. Ditengah jalan, Alviona dan Kai saling berdekatan untuk berbagi hangat tubuh. Putri Laluna memberikan jubahnya untuk Alviona dan Kai
“Pakailah, aku tidak akan kedinginan” ujar putri Laluna
“Bagaimana bisa?” tanya Alviona
“Kami keturunan dewi dan dewa. Kami tidak akan kedinginan dengan ciptaan leluhur kami sendiri” jawab putri Laluna lelu melanjutkan perjalanan dengan pangeran Mota sebagai penunjuk jalan sedangkan Alviona dan Kai hanya membuntuti dari belakang
Didepan mereka ada badai es yang merupakan tembok pertahanan kerajaan Eira dari para penyusup. Setelah melewati badai es, terlihat kerajaan es yang berdiri megah yang disekelilingnya ada rumah-rumah penduduk kerajaan Eira
Setelah melewati pintu kerajaan, mereka berempat disambut hangat oleh dewi Ema yang sudah mengetahui kedatangan mereka
“Selamat datang pangeran Indana pangeran Mota. Apa tujuanmu kemari pangeran?” tanya dewi Ema
“Terimakasih dewi atas sambutannya. Tujuan kami semari adalah meminjam hati es untuk membekukan Dosakara agar lebih mudah mengalahkan Yana saudaraku dan menghentikan penyiksaan rakyat olehnya” jelas pangeran Mota
“Jadi pilihlah yang mana” ujar dewi Ema memunculkan banyak pilar-pilar yang diujungnya ada kristal es mirip hati es
“Diantara kristal-kristal itu, hanya ada satuyang merupakan hati es yang asli. Pilih dengan benar dan ambil sendiri. Jika kalian mendapat hati es yang asli, maka ambillah. Tapi jika kalian salah pilih, maka kalian harus rela salah satu dari kalian tidak akan pulang” jelas dewi Ema
“Hanya orang yang berhati bersih dan belum dimiliki ataupun memiliki hati lawan jenis yang bisa memilih dengan benar dan menyentuhnya tanpa membeku” sambung dewi Ema
Mendengar itu, pupus sudah harapan Alviona mengandalkan putri Laluna. Karena hati putri Laluna sudah dimiliki pangeran Mota dan memiliki hati pangeran Mota
“Kai, satu-satunya harapan adalah kau” ujar pangeran Mota penuh harap
“Baiklah, mungkin yang itu” jawab Kai menunjuk salah satu kristal es
“Maka ambillah sendiri”ujar dewi Ema mempersilahkan. Saat Kai akan melangkah, tiba-tiba Alviona merasakan aura yang sangat dingin dari belakang dewi Ema, seolah ada seseorang yang memberitahunya
“Tunggu Kai! Itu bukan hati es yang benar” ujar Alviona memegang tangan Kai menghentikan langkahnya. Seketika Kai menoleh terkejut bagaimana Alviona bisa tahu hal itu
“Hati es yang asli adalah yang ada dibelakangmu dewi” ujar Alviona. Dewi Ema akhirnya menunjukkan hati es itu
“Maka ambillah sendiri” ujar dewi Ema mempersilahkan
Alviona memberanikan diri untuk mengambilnya namun baru membuka sedikit jubah putri Laluna saja sudah sangat kedinginan. Dewi Ema luluh dan memberikannya kehangatan yang membuat Alviona tidak lagi kedinginan. Saat akan melangkah, Kai terlihat ragu dan melarang Alviona. Namun, Alviona meyakinkan Kai dan akhirnya ia berjalan menuju pilar dibelakang dewi Ema, memejamkan matanya dan berharap ia tidak membeku
Saat menyentuhnya Alviona sangat ketakutan, tapi semakin disentuh, tangannya tidak lagi merasakan dinginnya hati es itu. Dan saat membuka matanya, ia berhasil memilih hati es yang tepat dan tidak membeku
“Selamat untukmu anak muda” ujar dewi Ema. Kai menganga tak percaya sekaligus gembira Alviona mendapatkan hati es yang tepat dan tidak membeku
“Terimakasih dewi” ujar Alviona memberi hormat pada dewi Ema
“Baiklah, hati-hati di jalan, doaku pada dewi keselamatan untuk kalian semua” jawab dewi Ema. Setelah memberi hormat, mereka ber empat berjalan keluar istana. Namun dewi Ema menghampiri Alviona yang berjalan di belakang
“Nak, jaga hati es itu baik-baik. Jika hati es itu hancur, maka ⅓ kerajaan juga akan hancur” pesan dewi Ema pada Alviona
“Baik dewi” jawab Alviona lalu menyusul Kai yang sudah melewati gerbang
“Hebat sekali kau” puji pangeran Mota
“Terimakasih” jawab Alviona
“Sekarang kau sudah tidak kedinginann lagi?” tanya Kai
“Tentu tidak, aku rasa sihir dewi Ema akan bertahan sampai aku keluar dari wilayah ini” jawab Alviona
“Selanjutnya kemana kita?” tanya putri Laluna mulai kelelahan berjalan jauh
“Dosakara, kita akan langsung menyerang Yana dari dalam” ujar pangeran ambisius
“Kita bisa rencanakan itu matang-matang selama satu bulan perjalanan ke Dosakara” ujar Alviona
“Ide bagus” tambah Kai. Setelah melewati batas kerajaan Eira, dan bersiap naik kapal, Kai merasa penasaran dengan kekuatan hati es dari dewi Ema yang dipegang Alviona
“Alv, aku ingin tahu seberapa hebatnya hati es itu” ujar Kai
“Kau mau tahu?” Alviona mengeluarkan hati es dari tasnya lalu menyentuhkan ujungnya ke air. Seketika air laut membeku sangat dalam dan luas, tapi setelah itu Alviona menyentuhkannya lagi pada lautan yang membeku itu dan air bekuan tadi kembali meleleh seperti semula
“Wah, luar biasa” Kai menganga tak percaya dengan kekuatan hebat dari hati es itu. Kini dirinya lebih yakin bahwa hati es itu dapat membekukan Dosakara
“Ayo jalan” ajak pangeran Mota yang sudah berada di atas kapal dan siap menurunkan layar. Alviona dan Kai segera naik ke kapal dan meninggalkan kerajaan Eira
Sepanjang perjalanan mereka sibuk membicarakan rencana mereka untuk membekukan Dosakara dan jantung kegelapan yang ada didalamnya. Karena tidak ada yang tahu seperti apa Dosakara itu, membuat rencana mereka bisa gagal kapan saja. Namun, bagaimanapun juga mereka tetap harus membuat rencana sematang mungkin untuk membekukan Dosakara dan menyerang Indana
“Bagaimana jika nanti setelah kita sampai langsung lemparkan saja hati es itu? Pasti akan langsung beku” usul Kai
“Apakah kau pernah kesana dan tahu seberapa teratur tempat itu? Bagaimana jika saat kita lempar hati es ini pecah dan ⅓ kerajaan Eira akan hancur? Kau mau? Atau kemungkinan terburuknya hati es itu justru jatuh ke tangan raja Yana” ujar Alviona
“Sebaiknya kita harus tahu dahulu bagaimana penampakan Dosakara. Barulah kita rencanakan bagaimana membekukannya” usul putri Laluna
“Tapi aku tidak yakin waktu kita cukup untuk merencanakan hal itu” jawab pangeran Mota. Alviona berhenti berpikir dan menulis surat di kain kecil lalu mengikatkan surat itu pada merpatinya
“Apa yang kau lakukan?” tanya Kai
“Aku akan mempersiapkan para bajak laut untuk pertempuran” jawab Alviona tanpa menoleh
“Pergilah ke barat laut, berikan ini pada para bajak laut” bisik Alviona pada merpati putihnya. Merpati itu terbang ke arah barat laut, tegak lurus dengan arah kapal mereka
Bersambung....