My Live For Battle

My Live For Battle
Kenangan



“Hah? Oh, aku tidak apa-apa” jawab Alviona langsung menghapus air mata yang jatuh


“Sungguh?” tanyanya lagi


“Ya, seperti yang kau lihat” jawab Alviona melanjutkan makan apelnya


“Aku ke kamar dulu” ujar Alviona lalu beranjak kekamarnya


Dikamar, Alviona tak bisa menghentikan matanya yang terus-menerus berair. Padahal dirinya sudah tak mau lagi untuk menangis. Kepalanya dipenuhi masalalu dan kenangan yang bahagia tapi membuatnya sedih karena kenangan itu tak bisa dan tak mungkin terulang lagi. Dirinya telah kehilangan banyak orang tersayang


Menangis tanpa suara, itulah yang sedang ia rasakan saat ini. Matanya terus menerus mengeluarkan air mata tapi raut wajahnya datar. Berulang kali ia menggigit bibirnya agar air matanya berhenti keluar, tapi itu sia-sia. Beban emosionalnya terlalu banyak dan berat, kepalanya tak bisa lagi menampung rasa sedih


Ya, pencapaian setinggi apapun tidak akan bisa menggantikan hangat keluarga dan kebahagiaan bersama teman. Namun inilah yang Alviona kejar sejak lama, berada ditempat dimana ia dibutuhkan dan diterima. Tidak seperti di desanya, semua orang membencinya


Tiba-tiba ada mengetuk pintu kamarnya. Alviona segera menghapus bekas air matanya


“Masuk” jawab Alviona yang masih duduk di ranjangnya


“Alv?” panggil Kai


“Ada apa?” tanya Alviona. Kai duduk disamping Alviona dan menyondorkan sebuah piring yang diatasnya ada lilin menyala


“Selamat ulang tahun” ucap Kai


“Tunggu, sejak kapan kau tahu tanggal lahirku?” tanya Alviona menaikkan sebelah alisnya


“Aku memang tak tahu kapan tanggal ulang tahunmu, tapi tahun ini kau sudah berusia 12 tahun bukan?” jawab Kai


“Ya, tahun ini aku sudah 12 tahun” ujar Alviona


“Tiup dulu lilinnya” pinta Kai sambil tersenyum


“Baiklah” Alviona menghadap lilin itu, memanjatkan doa lalu meniupnya


“Dan ini” Kai memberinya sebuah kotak


“Apa ini?” tanya Alviona sambil membuka kotak itu


“Ehm, bukan apa-apa. Hanya sedikit dariku” jawab Kai memegangi belakang lehernya


“Biji nangka? Tahu saja kau kalau aku menyukainya” ujar Alviona


“Terimakasih” sambungnya mengambil satu biji dan memakannya


“Alv” panggil Kai


“Hm?” Alviona menoleh


“Sepertinya tak lama lagi aku akan kembali ke Zipa” ujar Kai


“Aku ikut!” ujar Alviona bersemangat


“Kenapa kau semangat sekali?” tanya Kai


“Apa kau tidak ingat? Hati es kerajaan Eira sudah hancur, setidaknya aku harus kembali ke kerajaan Eira untuk meminta maaf” jawab Alviona menatap mata Kai dengan serius


“Aku akan menemanimu” ujar Kai


“Baiklah, tapi sebelum itu kita harus pamit terlebih dahulu kepada pangeran... Maksudku raja Mota” ujar Alviona


“Tapi apakah raja akan mengizinkan kita? Padahal kemarin kita baru saja dilantik menjadi senapati” tanya Kai pesimis


“Aku rasa kau benar, tapi ini benar-benar tidak bisa ditunda” ujar Alviona meyakinkan


“Baiklah, kita pamit nanti malam. Besok pagi kita berangkat” usul Kai


“Setuju” ucap Alviona


Malam harinya, Alviona dan Kai meminta izin pada raja untuk melakukan perjalan ke kerajaan Eira. Raja memberi izin dan kedudukan Alviona serta Kai diganti saudara raja Mota


Keesokan harinya setelah sarapan, Alviona dan Kai bersiap untuk berangkat. Kai menunggangi kuda sedangkan Alviona menunggangi Teli


“Kalian akan kemana?” tanya Laroy melihat Alviona dan Kai di gerbang depan


“Kami pamit” ujar Kai. Memberi hormat lalu berjalan meninggalkan istana


Mereka berdua pergi ke arah timur seperti Alviona dahulu. Melewati rumah-rumah warga, sungai, rawa, dan hutan hingga kembali lagi ke pemukiman warga pada siang hari. Tiba-tiba Teli berjalan melambat


“Ada apa?” tanya Alviona


“Aku lelah” jawab Teli


“Baiklah, ayo kita istirahat dahulu” ajak Alviona


Kai turun dari kudanya lalu duduk dibawah pohon sambil meminum cadangan airnya


“Pakai ini saat kita mulai jalan nanti” ujar Alviona memberikan satu penutup matanya


“Mengapa?” tanya Kai


“Ada pemandangan yang tidak baik untuk matamu” jawab Alviona


“Lalu bagaimana aku jalan nanti?” tanya Kai


“Kau menunggangi Teli saja, biar aku yang menunggangi kudamu. Teli akan selalu mengikutiku” jawab Alviona kembali membuka petanya


“Baiklah, tapi pemandangan apa itu? Mengapa tidak baik hanya untuk mataku? Bukankah kau juga punya mata?” tanya Kai penasara. Alviona menepuk jidatnya karena otak polos Kai


“Penasaran ya? Kau tak perlu tahu. Sudah aku bilang itu tidak baik untukmu” ujar Alviona yang awalnya tersenyum tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi datar. Kai hanya menurut dari pada harus beradu mulut dengan Alviona


Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan. Kai menuruti perintah Alviona untuk menutup matanya


“Jangan pernah buka penutup mata itu sebelum aku minta dan jangan banyak bicara. Jangan tanggapi pertanyaan jika suara wanita” pesan Alviona diangguki Kai


Mereka memulai perjalanan. Ternyata kini mereka akan melewati sebuah desa terburuk yang pernah Alviona lewati. Penduduknya gila hubungan seksual dan juga pendatangnya. Banyak ****** menjual tubuhnya untuk dinikmati para pria. Ada juga preman yang sengaja menculik wanita yang tak mau dihubungi


Benar saja, baru masuk sedikit saja, banyak gadis telanjang dan menggoda-goda para pria yang lewat. Bahkan Alviona sendiri merasa risih melihat mereka Kai tak luput dari godaan mereka


“Tuan, apakah tuan sudah menikah?” tanya salah satu gadis


“Kai” ujar Alviona memperingatkan Kai


“Tuan terlihat sangat lelah, mari istirahat dahulu” ujar gadis lainnya


“Ayolah tuan muda, sebentar saja” ajak wanita yang sedari tadi mengikuti Kai


Berulang kali oara gadis itu menggoda Kai, tapi berulang kali juga Alviona memperingatkan Kai untuk tidak menjawab godaan mereka. Alviona berjalan lebih cepat melewati tempat itu


Tiba-tiba salah satu gadis sengaja membuka penutup mata Kai. Dengan sigap Alviona melompat ke punggung Teli dan menutupi mata Kai sebelum melihat tubuh para gadis itu


“Hei siapa kau? Beraninya menghalangi pandangan tuan muda” ujar salah satu gadis


“Itu bukan urusan kalian, urusi dulu tubuh kalian” jawab Alviona kembali merebut penutup mata yang ia berikan pada Kai lalu mengikatkannya lebih kuat


Setelah melewati para gadis ******, mereka belum sepenuhnya meninggalkan tempat itu. Hutan lebat bukan berarti bebas dari kejahatan, justru dibalik hutan itu bersembunyi para penjahat yang mengintai para wanita bertubuh montok


“Kau diam saja disini” ujar Alviona setelah turun dari kuda. Kai hanya menganggukkan kepalanya


Alviona berjalan sendiri melewati hutan untuk memancing para penjahat itu. Dan sesuai dugaan Alviona, para penjahat itu keluar untuk menangkapnya


“Hei cantik, lebih baik kau ikut kami jika ingin selamat” ajak salah satu penjahat


“Coba saja bawa aku jika bisa” jawab Alviona


“Hehe, tubuh kecil seperti itu, akan sangat mudah untuk membawanya” satu dari mereka berjalan menghampiri Alviona


“Haha, ternyata kalian masih belum kapok” ucap Alviona saat penjahat itu dekat dengannya. Ia langsung membanting penjahat itu yang membuat penjahat itu terkejut


“Siapa kau?!” tanya penjahat lainnya ikut terkejut. Biasanya jika dapat mangsa, korbannya langsung diberi ultimatum dan dengan mudah mereka bawa


“Kalian tidak ingat?” Alviona balik bertanya sambil merempar belati ke salah satu penjahat hingga membuatnya mati


Bersambung....