
Duarr!!
Suara guntur itu membuat Kai bangun dan memiliki firasat buruk. Keringatnya bercucuran, tubuhnya bergetar, ketika ia melihat kearah tempat Alviona tidur, Alviona sudah tudak ada. Kai sempat panik dan mengira ini hanya mimpi, Kai menampar dirinya sendiri beberapa kali untuk ‘membangunkannya’ namun dia sudah benar-benar bangun dan Alviona benar-benar tidak ada dirumahnya
“Alv? Alv?! ALV?!!” berulang kali Kai memanggilnya namun tak ada jawaban. Pintu kamarnya juga masih tertutup rapat, kedua pedang Alviona juga masih berada di bawah ranjangnya bersama dengan tasnya
Kiowa yang ikut terbangun karena suara guntur itu mendengar suara Kai mencari Alviona. Kiowa juga berpikir itu hanya telinganya, tapi saat ia mendengarkannya lagi, terdengar Kai membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar, beberapa saat setelah itu suara Kai semakin keras memanggil Alviona
“Kai? Ada apa?” tanya Kiowa keluar dari kamarnya dan menghampiri Kai yang panik mencari Alviona
“Alviona tidak ada di rumah”jawab Kai panik
“Hei tenang tenang. Mungkin saja dia keluar” Kiowa mencoba menenangkan Kai
“Tapi kemana? Ini hujan kak” tanya Kai
Kiowa sejenak memikirkannya “Coba kau periksa pintu belakang, biar aku periksa pintu depan”
Kai mengangguk lalu bergegas menuju pintu belakang dan memeriksa kuncinya berbekal sebuah lampu minyak, pintu itu masih terkunci rapat. Begitu juga pintu depan yang masih terkunci dengan baik dan tidak ada kerusakan sama sekali. Mereka mencoba memeriksa jendela dan atap, semua tidak ada kerusakan ataupun celah untuk keluar
“Kau temukan celah?” tanya Kiowa pada Kai saat mereka bertemu di ruang makan
Kai menggelengkan kepalanya. Kiowa semakin kebingungan “Apakah Alviona kabur? Tapi mengapa? Atau dia diculik? Tapi lewat mana?” tanya Kiowa dalam hatinya
“Dimana kau Alv?” Kai membuka pintu depan dan berjalan keluar
“ALV? ALVIONA?” Kai meneriakkan nama Alviona, barang kali Alviona berada tak jauh dari rumah. Namun tidak mendapat jawaban
“Kai, kita cari besok pagi. Sekarang masuk dulu” saran Kiowa
“Tapi kak...” belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya Kiowa memotongnya
“Dia pasti pulang” Kiowa menarik tangan Kai menuju rumah
Pagi harinya, Alviona yang sudah bangun hanya duduk terdiam didepan rumah Damari sambil sesekali melempar belatinya ke arah pohon didepannya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian semalam, aneh tapi dirinya sendiri yang mengalaminya. Tak lama kemudian, Damari datang membawa dua nasi bungkus daun pisang
“Makanlah dulu nak” Damari memberikan satu nasi bungkus itu pada Alviona
“Terimakasih” Alviona membuka nasi bungkus itu lalu memakannya
“Aku tahu kau pasti masih memikirkan tentang kejadian semalam bukan?” Damari benar-benar menebak pikiran Alviona. Seolah dirinya bisa membaca pikiran orang lain
Alviona mengangguk lemah
“Sudah, jangan dipikirkan. Itu hanya kemungkinan, ada banyak kemungkinan lainnya kau bisa bangun di tengah hutan malam-malam” Damari menenangkan Alviona
Sekali lagi Alviona mengangguk lemah, sangat pasrah apa yang terjadi. Setelah selesai sarapan, Damari mengantar Alviona kerumah Kai, tentu saja setelah Alviona mencabut belati-belatinya dari pohon. Ternyata jarak rumah Damari ke rumah Kai cukup jauh
Setelah berjala melewati hutan, terlihat padang rumput yang biasa digunakan Kai untuk mengembala kambing-kambingnya. Dirumah Kai yang terletak tidak jauh dari padang rumput itu, terlihat Kiowa yang sedang duduk didepan rumah dengan khawatir akan keberadaan Alviona. Ketika Kiowa melihat Alviona yang digandeng Damari berjalan mendekat, dirinya segera memanggil Kai yang mencari Alviona di sekitar rumahnya
“KAI! ITU ALVIONA!” seru Kiowa sambil berlari kearah Alviona lalu memeluknya
Dengan cepat Kai menoleh dan berlari kearah Alviona
“Dia aku temukan berteriak minta tolong dihutan tengah malam. Sepertinya di culik dan seseorang telah menyelamatkannya” jelas Damari
“Terimakasih nek, sudah menyelamatkan Alviona” ujar Kiowa mencium tangan Damari
“Tidak masalah, aku pulang dulu ya” Damari berbalik lalu pergi meninggalkan mereka
Kiowa dan Kai mengangguk. Lalu menuntun Alviona untuk masuk kerumah
“Jadi siapa yang menculikmu?” tanya Kai duduk didepan Alviona dan menatapnya serius
“Mana aku tahu? Aku tersadar karena suara guntur. Bagaiman aku dibawa keluar rumah hingga dihutan aku tak tahu” jawab Alviona
“Tapi semalam pintu dan jendela tertutup rapat dan masih terkunci, dinding dan atap juga baik-baik saja. Bagaimana kau bisa dibawa keluar tanpa membuka pintu atau membobol atap?” Kiowa mencoba mencari titik terang
“Aku tidak tahu. Aku tidak melihat saat-saat itu” Alviona ikut kebingungan
“Jadi kau tidak tahu bagaimana kau diculik, tapi kau bisa menyimpulkan bahwa kau diculik?” Kai menatap sinis pada Alviona
“Itu hanya sebuah kemungkinan. Saat aku bangun ditengah hutan karena suara guntur aku sama sekali tak mengerti bagaimana aku bisa sampai disitu. Bajuku berlumuran darah, satu belatiku hilang dan kepalaku sakit, lalu aku ditolong oleh nenek Damari, dia menceritakan padaku sebuah mitos soal generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira dan mengatakan kalau aku adalah orang yang mewujudkan mitos itu. Namun bagaimana bisa? Tentu saja aku tidak mempercayainya. Kemungkinan terbesarnya adalah aku diculik lalu seseorang telah menyelamatkanku, dan darah itu adalah darah penculikku” jelas Alviona membalas tatapan Kai
“Mitos apa itu?” tanya Kiowa penasaran
Alviona menghela nafas, “Mitos tentang generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira yang dikutuk oleh dewa Blas karena es dari kerajaan dewi Eira bersama dewa Yas menjalar keseluruh dunia hingga menghabiskan wilayah dewa Blas dan membuat putra satu-satunya meninggal” Alviona menjelaskan itu dengan cepat
“Apa kutukan yang diberikan pada generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira?” tanya Kiowa
“Dia akan disiksa dari hari mulai gelap hingga tengah malam. Namun dewa Blas tidak memberi tahu kapan dan tanda-tanda hal itu akan terjadi, dewa Blas juga tidak memberikan ciri-ciri orang yang menyiksa dan membunuh generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira” jawab Alviona
Kai terdiam mencoba mencari maksud Alviona “Nenek Damari mengatakan bahwa kau adalah orang yang mewujudkan kutukan itu, berarti kau yang membunuh cucu dewi Ema?”
“Bagaimana aku pergi ke kutub dengan sangat cepat? Sedangkan untuk pergi dan pulang membutuhkan waktu 2 bulan lamanya menaiki perahu. Dan aku pergi lalu pulang dalam waktu tidak sampai semalam tanpa kekuatan atau cakra, apakah itu mungkin?” tanya Alviona menikkan sebelah alisnya
“Apakah ini ada sangkut pautnya dengan wanita itu?” tanya Kai
“Wanita apa?!” Kiowa melototi Kai mengira Kai telah bermain dengan wanita
“Bukan! Bukan begitu” Kai menggeleng kuat dan mencoba meyakinkan Kiowa
“Saat perjalanan kemari, tidak jauh dari perbatasan Indana, aku tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul didepan kuda yang aku tunggangi. Saat aku menolongnya, dia melihat kearahku dan berteriak ketakutan dan mengatakan ‘Kutukan!’ seperti melihat sesuatu yang mengerikan dalam diriku. Setelah itu, perkataannya terus menerus terngiang dikepalaku seperti perkataan Alasie saat aku bertemu dengannya” jelas Alviona menenangkan Kiowa yang marah pada Kai
Kiowa menghela nafas lega “Oooh, aku kira kau...” “Tidak!” Kai memotong perkataan Kiowa
“Kita jadi melanjutkan perjalanan kita bukan?” tanya Alviona pada Kai
“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya hari ini” jawab Kai
“Mengapa?” Alviona penasaran
Bersambung....