My Live For Battle

My Live For Battle
Alviona



Alviona, dialah anak perempuan dengan 2 warna mata yang dikenal masyarakat karena dianggap pembawa petaka dari keluarganya sendiri, kecuali ayah dan ibunya yang menepis pernyataan itu.


Dirinya dibuang kakeknya di usia 4 tahun. Dia mengikuti perguruan pangeran di tengah hutan untuk bertahan hidup selama 4 tahun. Dia dihina para pangeran karena sudah dicap sebagai pembawa petaka, rumahnya yang ia bangun sendiri dihancurkan, dan dia diusir karena dianggap mengganggu.


Alviona bertemu seekor trenggiling saat pergi dari perguruan yang ia beri nama Teli, teman dan tunggangannya untuk mencari rumah baru.


Setelah berbulan-bulan mengembara bersama Teli, Alviona berhenti di sebuah lembah yang terkenal subur dan sangat damai yang merupakan tujuan yang kesekian banyak mereka


“Ini dia tempat yang kita tuju, Lebah paling subur di Indana!” seru Alviona dengan senyum lebar


“Subur katamu? Lembah ini bahkan lebih kering dari rambutmu” tepis Teli yang terlihat kesal karena sudah haus. Alviona yang tadinya bahagia kini hanya diam melongo melihat lembah yang sepi dan kering


“Tapi kita tidak salah arah bukan?” Alviona kembali membuka petanya sambil turun dari tubuh Teli


“Kita memang tidak salah arah, tapi karena ini musim kemarau lembah ini jadi kering dan ditinggal penghuninya” jelas Teli panjang lebar. Alviona yang kesal karena kembali tidak mendapat tempat tinggal hanya menghela nafas sambil membuka cadangan airnya


“Baiklah, selanjutnya kemana kita?” tanya Alviona sambil meneguk air


“Sebelum kita berangkat LAGI, beri aku airnya jika kau masih mau mencari rumah” ujar Teli memperjelas kata ‘lagi’. Alviona menatap Teli yang sudah menjulurkan lidahnya bersiap menerima air dengan tatapan malas


“Ini, ambil sisanya” Alviona menuangkan sisa airnya ke lidah Teli


“Sudah ini saja sisanya, kita pergi ke sungai ambil air dulu” sambungnya yang melingkari gambar sungai yang ada di petanya lalu menaiki Teli


“Dasar pelit. Kau tidak berubah sejak pertama bertemu” gerutu Teli


“PELIT KATAMU?! AKU HANYA MINUM SEDIKIT DASAR RAKUS!” bentak Alviona yang kesal dengan kelakuan Teli, namun Teli hanya mendengarkannya karena sudah mulai berguling untuk mencari air.


................


Iklan lewat


Buat yang belum tahu Teli itu ngomongnya telepati ya soalnya dia ngga bisa ngomong kayak manusia dan udah dimiliki Alviona karena darahnya Alviona pernah menetes di kepalanya Teli


Dan, Teli itu jalannya berguling kayak trenggiling biasanya


Lanjut!


................


Alviona dan Teli bergegas menuju sungai terdekat untuk minum dan sedikit membasahi tubuh mereka yang kering


“Di sana!” tunjuk Alviona pada sebuah sungai dangkal.


“Akhirnya aku bisa mandi” ujar Teli dengan santai.


Mereka akhirnya tiba di pinggiran sungai yang dangkal dan airnya tenang. Siang hari yang terik membuat kulit Alviona mengering seperti tanah yang kehabisan air. Alviona melepas sandal, caping dan sarung tangannya lalu membasuh kaki, tangan dan wajahnya


“Woah, rasanya segar sekali!” ujarnya merasakan kesegaran air sungai


“Mari mandi!” teriak Teli tiba-tiba menceburkan diri ke sungai hingga membasahi baju Alviona


“HEI! HATI-HATI BISA?!” teriak Alviona dengan kesal sambil melepas pelana Teli


“Tiiidaaak bisaaaa” ejek Teli menjulurkan lidahnya kearah Alviona. Alviona menatap horor Teli lalu tiba-tiba menendangnya hingga terbalik


“Rasain tuh!” ujar Alviona sambil mengusap telapak tangannya dengan puas.


“Hei! Balikkan aku!” pinta Teli mencoba membalikkan dirinya


“Coba saja sendiri” ejek Alviona yang mengisi wadah airnya


“Hei cepat!” Teli semakin meronta


“Iya iya, sabar, jangan banyak gerak nanti kulitmu terkelupas” Alviona berjalan mendekati Teli


“Aku rasa kau harus minta tolong seseorang” Teli meremehkan kekuatan Alviona


“Tidak perlu” ucap Alviona santai bersiap membalikkan Teli


“Kau yakin?” tanya Teli meyakinkan


“Diam cerewet! Ugh, mengangkatmu dengan tangan ternyata lebih berat dari pada menendangmu” Alviona berusaha sekuat tenaga membalikkan trenggiling raksasanya


“Apa sebaiknya aku tendang kau lagi?” sambungnya berhenti mendorong Teli lalu menatapnya penuh tanya


“Kau pikir ditendang tidak sakit? Jika kau menendang aku lagi, aku tidak bisa mengantarmu lagi” ujar Teli sambil mengangkat kedua kaki depannya keatas


“Huh, baiklah!” Alviona kembali bersiap membalikkan Teli. Dia meletakkan tangannya di sisik Teli yang besar sebagai pegangan lalu mengangkatnya sekuat tenaga.


Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Teli dapat dibalik Alviona dengan tangan kosong.


“Berat tahu!” gerutu Alviona dengan nafas terengah-engah menatap Teli dengan kesal


“Siapa suruh menendang aku?” cibir Teli


“Udah ditolong malah nyindir” Alviona semakin kesal


“Iya iya, kau memang hebat” bujuk Teli agar Alviona tidak marah


“Sudah, ayo kita ke desa Juani” Alviona membuka petanya


“Bukankah ini desa Juani?” Teli menunjuk sebuah papan bertuliskan “Juani”


“Oh, iya ya. Aku tidak melihatnya” Alviona menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“Apa kau tidak lelah setiap hari mencari rumah tanpa istirahat?” tanya Teli yang merupakan kode istirahat


“Aku akan lebih lelah jika tidak secepatnya menemukan rumah” jelas Alviona


“Jika kau ingin istirahat katakan saja” sambung Alviona dengan suara lembut sambil mengelus punggung Teli


“Aku lapar” rengek Teli menunjukkan wajah melasnya


“Yasudah, kau duduk dulu di sana, aku akan mencari makan” ujarnya menunjuk arah pohon rindang di sekat sungai sambil kembali memakai sandal, sarung tangan, dan capingnya


“Terima kasih” Teli segera duduk di dekat pohon yang rindang itu dan menutup matanya yang lelah


“Hmm, tahu saja aku sedang lapar juga” ucap Alviona dalam hati dengan tersenyum hangat sambil menyiapkan kantung semut


Alviona mencari sarang semut untuk Teli dan mengambil beberapa buah dari hutan di dekat sungai yang merupakan batas wilayah Juani dengan desa Sabra. Setelah beberapa saat, Alviona kembali dengan membawa sekantung semut dan beberapa buah. Teli yang mencium bau semut langsung bangun dari tidur siangnya dan menghampiri Alviona


“Nih ambil semua” Alviona memberikan sekantung semut


“Kau?” Teli menanyakan makan Alviona


“Aku sudah ada” jawab Alviona dengan senyum lebar. Teli segera menghabiskan semut-semut yang dibawa Alviona untuknya. Begitu juga Alviona yang menghabiskan buahnya


Ketika masih sibuk dengan buahnya, Alviona melihat seorang ibu-ibu yang membawa panen di punggungnya yang terlihat sangat keberatan


“Tunggu disini” Alviona beranjak untuk membantu ibu itu


“Mau kemana kau? Pakai capingmu!” teriak Teli yang masih sibuk dengan semut merahnya


“Oh ya” Alviona berbalik mengambil capingnya lalu kembali mendekati ibu itu. Teli bergegas mengikuti Alviona


“Permisi bibi, boleh aku membantumu?” tanya Alviona tanpa memperlihatkan matanya


“Wah, terima kasih nak” jawab ibu itu dengan mata berbinar dan nafas terengah-engah. Alviona segera membantu membawa hasil panen dengan dibantu Teli


“Dimana rumah bibi?” Alviona melihat sekeliling yang tidak ada rumah sama sekali


“Di seberang hutan” jawab ibu itu dengan senyum kecil


“Bibi dari mana membawa hasil panen sebanyak ini sendirian?” Alviona terlihat heran dengan pekerjaan ibu itu


“Bibi dari ladang, suami bibi masih bekerja di sana, Kami hanya bekerja berdua” ibu itu terlihat sangat lelah


................


Alviona, Teli dan ibu itu akhirnya tiba di rumah ibu itu


“Sepertinya, rumah ini tidak asing bagiku” batin Alviona yang mengingat desain rumah yang tidak asing baginya


“Wah, terima kasih sekali ya nak. Bibi jadi sangat terbantu” ucap ibu itu dengan senyum lebar


“Sama-sama bibi” Alviona membalas dengan senyum lebar tanpa memperhatikan matanya


“Ngomong-ngomong, dimana rumahmu? Dan siapa namamu?” tanya ibu itu tiba-tiba membuat Alviona terkejut harus mengatakan apa


“Aku seorang pengembara bibi. Namaku Alv” jawab Alviona dengan gugup


“Dimana orang tuamu?” ibu itu terlihat sedikit mengenali Alviona


“Aku dibuang kakekku saat aku masih 4 tahun bibi” jawab Alviona menunduk mengingat kejadian itu


“Oh, nasibmu sama seperti anak bibi” keluh ibu itu


“Sungguh? Siapa namanya? Bisa aku bantu cari” Alviona jadi semangat


Bersambung....