My Live For Battle

My Live For Battle
Kemunculan pertama



Sen pun segera terbang mengikuti burung kertas yang terus mengarah ke barat. Sedangkan di bawah, Alviona berlari secepat mungkin mengikuti kecepatan terbang Sen.


Setelah beberapa saat kemudian, terlihat siluet bayangan seorang anak laki-laki yang sedang berjalan terhuyung.


"Itu dia!" kata Sen senang.


Alviona memperhatikan bayangan itu sambil terus berlari. Tiba-tiba ia melihat sebilah batu runcing yang tergantung tepat di atas Fang berjalan.


Ia segera sadar bahwa batu itu adalah jebakan para monster. Alviona mempercepat larinya untuk menyelamatkan Fang.


Fang berjalan lemah karena mengantuk dan kelelahan dengan perjalanannya selama ini. Tanpa sadar, kakinya menginjak tali jebakan yang membuat batu runcing meluncur bebas dari atas.


Di waktu bersamaan, Alviona datang menyergap tubuh Fang dan menyelamatkannya dari kematian. Fang pun segera terbangun karena Alviona yang datang tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Fang tidak suka.


"Menurutmu apa?" Alviona menanyai balik, sedangkan Sen hanya diam mengambang di udara.


"Pergilah sana! Jangan kembali lagi, penghianat!" bentak Fang melepaskan diri dari Alviona.


Alviona kaget bukan main saat Fang mengatainya penghianat secara langsung. Ia terdiam saat Fang mulai meninggalkannya dari belakang.


Alviona melirik tajam kebelakang, lalu berkata dengan nada rendah. "Coba ulangi katamu tadi?"


Fang menghentikan langkahnya segera. menggenggam erat jemarinya dan menjawab, "Aku bilang, pergi dan jangan kembali lagi, penghianat!"


"Dasar BOCAH!!" Alviona melempar satu belatinya dan melewati tepat di samping leher Fang.


Fang pun menyadari perkataannya membuat Alviona marah besar, dari balik penutup matanya terlihat jelas cahaya biru yang menyala-nyala. Aura mengerikan yang dikeluarkan Alviona membuatnya bergidik ngeri.


Tiba-tiba sebuah tangan raksasa meremat rubuhnya. Tidak hanya besar, tapi juga panas. Tangan itu mengangkatnya dari tanah mendekati Alviona.


Belati yang tadi Alviona lempar ke arahnya datang kembali dan kini berada di belakang tengkuk Fang. Tangan kiri Alviona terkepal kuat tenaganya sudah terkumpul sempurna untuk meluncurkan pukulan dasyat.


"MATILAH SAJA!!" teriak Alviona. Tinjunya pun meluncur ke arah sasaran.


Bruk!!


Benturan keras menghantam Alviona, membuat tinjunya meleset cukup jauh.


Ternyata itu adalah Sen yang sengaja menabrakkan dirinya pada Alviona agar Fang selamat. Alviona pun terpental cukup jauh karena benturan dari Sen.


Tapi setelah itu, Alviona dan Fang sama-sama tak sadarkan diri. Keduanya tergeletak lemas di tanah, Sen tak berani membangunkan satupun diantara mereka.


Saat fajar datang, Alviona yang pertama bangun. Ia heran mengapa ia terkapar di tanah. Sen segera menyambutnya dengan segelas teh hangat buatannya. "Hai, kau sudah bangun? Ayo minum teh denganku."


Sen pun memberikan secangkir teh hangat pada Alviona dari nampannya, dan dengan tenang menghirup cangkir tehnya perlahan.


"Dimana Fang?" tanya Alviona setelah mengamati sekitar.


"Itu dia." tunjuk Sen dengan dagunya.


"Dia pasti lelah." kata Alviona.


"Ya, lelah dan kehabisan tenaga. Kau pasti tahu rasanya bukan?" tanya Sen.


Alviona menghirup tehnya, "Tahu sekali, agak aneh jika dia sengaja tidur dengan posisi seperti itu. Apakah dia sangat aktif saat tidur?"


"Sama sekali tidak, dia tidur pulas dan sedikit bergerak." jawab Sen sembari memandangi matahari terbit.


"Miteri." kata Alviona.


"Kau lapar?" tanya Sen.


Alviona meletakkan cangkir kosongnya di atas tanah, "Sudah sejak satu bulan yang lalu."


Tapi nasi bungkus itu tidak lebih besar dari dua jari orang dewasa. Mungkin bagi Sen hal itu sangat biasa karena memang menyesuaikan ukuran tubuh Sen, yang lebih kecil dari manusia.


Alviona memakan dua bungkus nasi hanya dalam satu hap. Ternyata dalamnya ada sedikit daging ikan bakar dengan bumbu asin dan sedikit pedas.


Tak lama setelah matahari terbit, Fang pun bangun dari tidurnya. Badannya agak sakit karena kejadian semalam, tapi ia tak terlalu menghiraukannya.


"Ah, kau sudah bangun ternyata. Kemarilah, kita sarapan dahulu." ajak Alviona.


Fang agak kaget dengan sikap Alviona yang kembali ramah setelah mengamuk tadi malam. Seolah tidak pernah terjadi pertengkaran diantara mereka yang merubah sikapnya.


Fang pun perlahan mendekat dan duduk di samping Sen. Alviona pun mengulurkan sebuah pisang padanya, dengan ragu-ragu, Fang menerimanya.


Setelah ia kupas, Fang memperhatikan pisang itu terlebih dahulu. Ia masih menaruh curiga bahwa Alviona ingin membunuhnya dengan cara yang lebih mulus.


Namun Sen mengetahui gerak-gerik Fang yang masih khawatir, ia pun memberi isyarat dengan wajahnya yang terlihat sangat tenang. Masih belum percaya dengan isyarat dari Sen, Fang tetap merasa ragu untuk memakan pisang pemberian Alviona.


Sen pun mengambil pisang itu dari tangan Fang dan menggigitnya sedikit. Barulah Fang mau memakannya walau masih agak ragu.


Mereka masih saling diam dan menikmati matahari terbit serta sejuknya angin pagi. Tak ada yang mengucapkan satu katapun di antara mereka.


Fang yang masih trauma dengan kejadian tadi malam, Alviona yang menyukai ketenangan pagi, menghalangi adanya percakapan seru diantara mereka bertiga. Sen juga membiarkan ketenangan melingkupi mereka.


Hingga pertanyaaan Alviona memecah keheningan, "Jadi, apa yang kau rencanakan, Fang?"


"Tujuanku hanya satu, mengambil kembali pangeran Fitz." jawab Fang.


"Baiklah. Itu sulit, tapi aku cukup mahir dalam hal itu." kata Alviona.


Alviona beranjak berdiri menghadap barat, "Kau memiliki sihir angin bukan?" tanyanya.


"Ya, tentu saja." Jawab Fang memperhatikan Alviona yang mulai serius.


"Baik." kata Alviona. Lalu ia mengeluarkan sebuah peta, dan arang tajam.


Alviona menitik tempat mereka berada, lalu menarik garis lurus menuju barat. Tepatnya di sisi barat gunung Dee. Jaraknya cukup jauh dari titik mereka sekarang.


"Perjalananya sekitar dua hari jika kita hanya jalan kaki" kata Alviona.


"Mengapa tidak pakai cara cepat saja?" tanya Sen memperhatikan peta yang Alviona buka di tanah.


"Kau punya portal?" tanya Alviona kaget.


"Ya.. semacamnya." jawab Sen memberi senyuman.


"Kalau begitu buka sekarang saja." kata Alviona semangat.


"Baiklah!" Sen segera merogoh kantongnya, keluar sebuah bola berwarna pelangi yang indah.


Fang memperhatikan bola itu dengan rasa curiga, "Bola itu kan..." Fang menyadari bola itu akan meledak dan membawanya ke portal pelangi. "Tunggu, JANGAN!" teriaknya.


Buff!!


Sen membanting bola itu ketanah hingga membuatnya meledak. Seketika mereka bertiga terlempar tinggi di udara dan masuk ke dalam portal pelangi.


"AAAAAAAA!!!" teriak Fang yang kaget.


Portal itu seperti seluncuran air, hanya mereka melayang di dalamnya. Hanya Sen yang sangat menikmati portal itu, sedangkan Fang dan Alviona terpental ke sana kemari.


Dalam hitungan detik, mereka keluar dari portal pelangi itu cukup jauh dari tanah. Mereka bertiga terbanting ke tanah seperti bola pelangi yang baru saja Sen banting. Mereka telah tiba di suatu tempat.


Bersambung...