My Live For Battle

My Live For Battle
Jangan menyerah!



“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Alviona setelah menerbangkan merpatinya


“Kita harus buat rencana yang paling memungkinkan dan paling sedikit resiko” usul Kai


“Aku tahu, tapi apa?” jawab pangeran Mota


“Kemungkinan yang paling besar adalah Dosakara dijaga oleh para pengikut raja Yana. Entah tempatnya hanya perairan, gua, atau bangunan” ujar Alviona


“Itu benar, jadi yang pertama pasti mengalahkan penjaganya bukan?” tanya Kai


“Ya, biar aku yang menjadi umpan” usul pangeran Mota


“Aku?” tanya putri Laluna


“Kau tetaplah dikapal bersama Kai untuk berjaga agar kita masih bisa pulang ke Indana” jawab pangeran Mota


“Setelah kau mengalihkan para penjaga, bagaimana jika aku yang membekukan Dosakara” usul Alviona


“Itu yang aku pikirkan” ujar pangeran Mota


“Masalahnya ada berapa banyak penjaganya? Jika hanya 2 sampai 3 sangatlah mudah untuk aku memancing mereka, tapi jika sampai puluhan atau ratusan aku menyerah” ujar pangeran Mota mengangkat kedua tangannya


“Apa?! Menyerah begitu saja? Apa kau tidak ingat dalam dirimu ada kekuatan besar yang bisa kau gunakan? Jika kau menyerah begitu saja dengan keadaan, itu sama saja kau menyia-nyiakan perjalanan panjangku kemari dan membahayakan nyawaku hanya untuk setengah cakramu. Pikirkan orang lain juga pangeran!” bentak Alviona tak suka mendengar kata ‘menyerah’


“Kau pikir semudah apa menghadapi puluhan hingga ratusan orang sendirian bocah? Jika kau belum merasakan bagaimana pertarungan dengan orang banyak sekaligus yang entah seberapa kuat lawannya, jangan sok tahu” ujar pangeran Mota


“Hah? Apa? Belum pernah menghadapi puluhan musuh sendirian? Kau pikir perjalananku melewati 7 gunung selama 7 bulan hanya jalan lurus yang mulus? Setiap hari ada saja orang yang menghalangi perjalananku dan aku masih bertahan hanya untukmu!” balas Alviona


“Dan kau pernah merasa ingin menyerah bukan? Itu yang akan aku rasakan nanti” jawab pangeran Mota


“Setiap hari! Selalu ada kata menyerah dalam hatiku. Tapi jika aku menyerah saat itu, kau tidak akan mendapat cakramu dan hati es ini. Jika kau bilang kau ingin menyerah, ambil sendiri cakramu dan hati es ini. Dan cari sendiri putri Laluna tanpa bantuanku maupun bantuan Kai, apa kau bisa?! Tidak kan? Aku dan Kai, kami, datang padamu untuk memberi harapan dan bantuan. Tapi jika kau menyerah, sama saja, kau tidak akan bisa menyentuh raja Yana” ancam Alviona.


Pangeran Mota sudah tidak bisa membalasnya lagi. Merasa tertampar dengan perkataan Alviona, dan menyadari sifatnya yang tidak menghargai pengorbanan orang lain untuk dirinya, pangeran merenungi perkataan Alviona barusan


“Pangeran, motivasi tanpa aksi hanyalah sebuah halusinasi” ujar Alviona dengan nada yang mulai direndahkan


“Baiklah, aku tidak akan menyerah berapapun jumlah penjaganya” ucap pangeran meskipun sedikit terpaksa namun itulah kenyataan yang harus ia hadapi


“Lagipula, jika kau memang tidak sanggup, aku bisa membantumu” ujar Kai


“Lalu siapa yang akan menjada putri Laluna?” tanya Alviona


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku bisa menghipnotis orang orang yang datang kemari dan menuruti perintahku” jawab putri Laluna


“Baiklah, kita sudah punya rencana sederhana. Pangeran Mota memancing para penjaga, jika perlu dibantu dengan Kai, aku membekukan Dosakara lalu kita semua kabur ke Indana” ujar Alviona memastikan rencana


“Dan perang besar akan terjadi” ucap pangeran Mota penuh semangat


“Bagaimana jika kita susun juga rencana pertempuran kita?” tanya Kai


“Ide bagus” puji pangeran Mota


“Pertempuran akan lebih menyenangkan jika dimulai dengan susup-menyusup. Kuncinya ada di orang dalam. Kamu masih punya orang dalam yang dapat dipercaya pangeran?” tanya Alviona


“Laroy keponakanmu itu? Tanya putri Laluna


“Ya, aku yakin dia tidak akan terpengaruh dengan otak kejam Yana. Kita bisa mengandalkannya”jawab pangeran Mota


“Baik, aku punya rencana. Jadi nanti setelah kita kembali ke Indana, aku dan pangeran Mota akan menyusup ke kerajaan. Kai dan putri Laluna akan memimpin pasukan. Biar pangeran Mota yang bertemu dengan Laroy dan menanyakan titik lemah dari raja Yana. Setelah mendapatkannya, biarkan Laroy berlindung di persembunyian Kai dan pasukan bersama dengan putri Laluna. Setelah itu pangeran akan memancing raja Yana lalu aku akan menyerangnya dari belakang. Karena disaat itu pasti diketahui oleh prajurit raja Yana, maka aku akan memberikan kode pada Kai untuk melepas pasukan. Bagaimana?” jelas Alviona


“Ya, aku setuju” ujar Kai setuju


“Aku juga” pangeran Mota ikut


“Baiklah, 3 setuju, aku juga setuju” tambah putri Laluna. Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan, semua langsung diam dan melirik Kai


“Hehehe, aku lapar” kekeh Kai memegang perutya yang mulai kosong. Alviona sudah tak tahan lagi ingin tertawa, begitu juga dengan pangeran Mota


“Baiklah, sebaiknya kita makan sebelum perut kita semua keroncongan” saran putri Laluna. Mereka semua pun makan siang bersama-sama


Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan yang biasa mereka lakukan, bermain pedang. Dan seperti biasa juga putri Laluna hanya berperan sebagai penonton.


Malam harinya adalah giliran Alviona dan Kai. Namun, tidak seperti biasanya Alviona memegang kendali kapal secara manual, malam ini Alviona mematenkan kendali kapalnya dan duduk diujung depan kapal


“Apa yang kau lakukan?” tanya Kai ikut duduk disamping Alviona


“Tidak ada” jawab Alviona


“Kau berani sekali pada pangeran” ujar Kai menanggapi kejadian tadi


“Aku bukan berani, tapi tegas” jawab Alviona


“Memangnya apa bedanya?” tanya Kai


“Berani, berani melakukan semua hal. Tegas, berani memperingatkan hal yang tidak baik” jawab Alviona


“Apa yang membuatmu setegas itu pada pangeran Mota? Kau tahu kan dia tadi hanya bercanda?” tanya Kai


“Candaan jika sudah kelewatan juga tetap harus diingatkan. Terlebih ini menyangkut kehidupan banyak orang di Indana” jawab Alviona tanpa menoleh kearah Kai


“Tidak seperti biasanya kau mematenkan kendali kapal” ujar Kai


“Malam ini malam yang cerah, air dan anginnya tenang, bulan bersinar terang ditemani bintang-bintang, aku yakin malam ini tidak akan ada badai” jawab Alviona terlihat menikmati suasana yang jarang mereka temui di laut lepas


“Lalu mengapa kita terjaga?” tanya Kai


“Kita masih harus waspada jika ada sesuatu, lagipula yang kita jaga bukan hanya diri dan kapal melainkan juga pangeran dan putri calon raja dan ratu Indana” jawab Alviona dengan senyum hangat


Ditengah-tengah obrolan mereka, terlihat lumba-lumba berenang bersama kawanannya, pemandangan mslam itu sangat indah dilengkapi dengan bintang jatuh di atas langit


Keesokan harinya, Ketika Kai terbangun karena ketiduran, tiba-tiba Kai melihat sosok makhluk mengerikan membeku dengan satu tangannya menyentuh tas Alviona. Karena terkejut, ia sampai melompat dan tercebur ke laut. Sontak Alviona terbangun kaget namun tidak sampai jatuh ke laut


“Makhluk apa ini?” tanya Alviona terkejut


Bersambung....