My Live For Battle

My Live For Battle
peri Sen



Alviona menghela nafas. “Ya, aku tahu ini memalukan, seorang senapati mencuri makanan rakyat jelata, semacam korupsi. Tapi apakah mereka peduli jika aku kelaparan tengah malam?”


“Belum tentu.” timpal Fang


“Sekarang aku memang seorang senapati, tapi aku dulunya hanya rakyat biasa yang suka mencuri untuk makan sekali sehari.” Ujar Alviona


“Sungguh?” tanya Fang tak percaya


“Apalagi setelah perang saudara. Segalanya menjadi jauh lebih sulit.” Keluh Alviona


Menyadari kantung yang dibawa Alviona sudah kosong sejak ia memberikan makanan untuknya, Fang pun bertanya. “Kau tak makan?”


Alviona tersenyum dan menjawab. “Makanlah, jangan khawatirkan aku.”


“Lagi pula jika aku hilang, awalnya memang tidak baik-baik saja, tapi beberapa saat kemudian, semuanya kembali normal. Lagi pula ada Kai yang bisa memengang semuanya seperti aku. Bahkan lebih.” Sambungnya sesaat setelah terdiam


“Dari mana kau tahu?” tanya Fang dengan nada tak suka


“Kau lihat raksasa dan monster tadi bukan? Mereka adalah yang menyerang kerajaan setelah dua hari kau menghilang sampai sekarang. Kerajaan sangat berantakan tanpamu.” Sambung Fang


Alviona kembali tersenyum. “Ini baru satu bulan, kita belum melihat aksi besar yang akan dilakukan oleh Kai dan raja Mota.”


“Mengapa kau sangat percaya pada mereka?” tanya Fang


Alviona menengok ke arah langit. “Karena mereka laki-laki. Mereka lebih kuat, lebih cerdas, lebih cekatan, lebih berani, lebih baik, dan aku yakin mereka bisa memberikan kejutan yang lebih menyenangkan. Seperti dirimu.” Jawab Alviona kembali menatap Fang tanpa melepas senyum


“Tapi kau jelas-jelas lebih baik dari pada senapati Kai. Kau lebih kuat, lebih berani, lebih cekatan, kau juga suka memberi kejutan tak terduga, dan kau lebih cerdas. Bahkan yang mulia raja memanggilmu dengan panggilan ‘kancil’.” Sangkal Fang


Alviona menjelaskan. “Itu benar. Tapi aku tidak dilahirkan untuk itu. Wanita dilahirkan untuk melayani pria dengan sepenuh hati, tak ada kata kekerasan pada perilaku wanita. Apa lagi sampai membunuh. Sedangkan pria memang dilahirkan untuk menghadapi keadaan yang keras, yang tidak bisa dihadapi oleh wanita. Aku menjadi seperti ini karena keadaan memaksaku menjadi seperti pria.”


Fang mulai mengerti apa yang terjadi dan yang sudah terjadi pada Alviona. Ia diam beberapa saat sambil mengunyah makanan yang dibawa Alviona. “Senapati, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan.”


“Tanyakan saja.” Jawab Alviona


“Sudah berapa lama kau menutup mata kananmu?” tanya Fang


“Berapa lama ya? Mungkin sudah hampir satu tahun” Alviona agak ragu dengan jawabannya sendiri


Fang mulai menjelaskan. “Sebenarnya aku merasakan ada suatu kekuatan dari matamu. Menurut yang diajarkan guruku, mata yang ditutup lebih dari lima bulan tanpa terputus, maka akan memunculkan suatu kekuatan. Kekuatanku memberitahuku, matamu mendapat kekuatan menjadi liar.”


“Maksudmu? ‘Liar’?” tanya Alviona tak mengerti


“Ini bisa dibilang kutukan, tapi bisa menjadi kekuatan bagimu. Kekuatanku mengatakan, bahwa kekuatanmu akan tetap netral jika mata kananmu tertutup. Jika mata itu terbuka sedikit saja, ditambah dengan amarahmu, maka tanpa kau sadari tubuhmu menjadi sangat kuat.”


“Kau juga lebih cepat, lebih sadis, dan bisa dibilang liar seperti singa kelaparan yang marah. Kekuatan itu akan kembali netral jika: pertama mata kananmu kembali ditutup, kedua amarahmu sudah mereda.” Fang menjelaskan panjang lebar pada Alviona


“Aku rasa ini kutukan. Bagaimana jika tanpa sengaja penutup mataku terbuka di depan banyak orang yang tak bersalah? Bisa-bisa aku menghabisi mereka semua.” Kata Alviona dengan khawatir


“Itulah sebabnya kau membutuhkan teman untuk menjagamu tetap tenang.” ujar Fang


“Maksudmu Kai?” tanya Alviona


“Ya! Tentu saja. Senapati Kai adalah teman yang baik untukmu” jawab Fang dengan senang


Mendengar itu Alviona kembali tersenyum bahagia. Ia mulai teringat kejadian saat ia merobek penutup mata kirinya sendiri sesaat setelah ibunya meninggal tertimpa reruntuhan perang, Alviona ingat dirinya memiliki dorongan besar untuk membalas dendam. Bahkan yang biasanya ia harus susah payah menghabisi satu prajurit, saat kedua matanya terbuka satu tebasan pedangnya saja bisa melayangkan nyawa mereka dengan mudah.


“Berarti, aku sudah memiliki kekuatan ini sejak aku melakukan perjalanan ke pulau seribu bukit?” tanya Alviona pada dirinya sendiri


“Bisa saja. Kau juga menutup mata kirimu bukan saat itu? Itu berarti kau sudah memiliki kekuatan itu sejak lama” jawab Fang


Setelah makanan Fang habis, mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Istana. Melewati hutan lebat, sungai, dan bukit kecil. Namun tanpa mereka sadari, sejak mereka mulai berjalan, ada banyak monster yang mengintai mereka dari kejauhan.


Setelah sampai di puncak bukit, Alviona menuliskan secarik surat singkat di atas daun, rencananya surat itu akan di terbangkan oleh angin Fang agar lebih cepat sampai ke Istana. Setelah selesai ditulis, Alviona mengambil ancang-ancang untuk melempar surat itu jauh-jauh dan dilanjutkan oleh angin milik Fang.


Bugh!


Tiba-tiba sesuatu menghantam mereka berdua hingga terlempar cukup jauh. Ternyata itu adalah Oter dengan tangan raksasanya.


“Akhirnya ketemu lagi.” Ucap Oter sambil mengecilkan kembali tangannya.


Mereka kembali bertarung melawan para monster dan raksasa yang datang. Ditengah pertarungan, kabut hitam kembali menyelimuti tempat itu. Fang dihajar habis-habisan, dengan mudahnya Fitz berhasil diculik para monster. Mengetahui kabut ini akan membuat mereka kalah, Alviona mengikat surat daun tadi dengan sebuah batu lalu melemparnya jauh-jauh kearah istana.


Setelah kabutnya sedikit memudar, ia dapat melihat Fang yang babak-belur dihajar oleh para monster. Alviona pun segera membawanya kabur dari kepungan kabut itu.


“Tunggu! Pangeran Fitz di culik!” teriak Fang pada Alviona sambil memukul-mukul tangan yang mengapitnya


“Kau... Baik-baik... Saja?” tanya Alviona dengan nafas terengah-engah


“Aku memang baik-baik saja, tapi pangeran Fitz... Mengapa kau diam saja saat pangeranmu diculik?!” tanya Fang dengan marah


Alviona menghela nafas. “Aku bukan diam saja, tapi aku tahu bahwa kita tidak akan bisa melawannya. Jadi akan lebih baik jika kita menyelamatkan diri.”


“Dan melupakan kewajibanmu sebagai seorang senapati? Kau sekarang ini seorang senapati! Yang berkewajiban menjaga keluarga kerajaan bagaimanapun caranya.” Ucap Fang


“Kalau kau merasa mampu, maka lakukan itu sendiri. Baru kau akan tahu bagaimana beratnya.” ucap Alviona


“Baiklah.” Setelah menjawab, Fang pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakangnya lagi.


Sesaat Alviona membiarkannya pergi, setengah berharap Fang kembali dengan tangis cengengnya. Selama menunggu itu, pikiran Alviona benar-benar kosong. Seakan waktu berhenti di otaknya. Tiba-tiba ia tersadar sudah agak lama ia terdiam. “Hei! Berhenti! Jangan lakukan itu! Kau tidak akan berhasil, kau akan mati!” teriaknya


Namun, Fang tak peduli lagi. “Lalu mengapa memerintahku tadi? Kau sudah berkhianat. Kau pengkhianat. Kau bukan pahlawanku lagi. Aku akan memulihkan kerajaan dengan keringatku sendiri!” kata Fang dalam hatinya lalu berlari lebih cepat


Merasa putus asa, pikiran Alviona yang tadinya kosong dengan cepat terisi dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi nantinya. Tak terasa air matanya jatuh. Kata ‘mengkhianati’ terus saja terngiang di kepalanya.


“Pengkhianat? Itukah aku? Apakah berarti semua pengorbananku selama ini akan hangus karena aku ‘pengkhianat yang mengkhianati'? Benarkah perilakuku ini? Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti. Namun ini benar adanya.”


“Namaku akan hancur, tak ada lagi yang mengenangku sebagai orang baik. Aku pengkhianat? Tidak! Aku sudah benar. Aku memang harus mundur beberapa langkah sebelum berlari kencang. Tapi apakah langkahku terlalu jauh kebelakang?” pertengkaran antara positif dan negatif terjadi di dalam kepalanya sekarang ini.


Tiba-tiba sebuah suara dari belakangnya membuat air mata Alviona berhenti mengalir. “Halo, maaf aku terlambat. Apakah aku sudah sangat terlambat?”


“Aku rasa tidak terlalu terlambat.” Jawab Alviona sambil mengusap sisa air matanya.


“Ooh... Syukurlah. Tapi dimana Fang?” tanya suara itu.


“Dia sudah pergi.” Jawab Alviona tanpa menoleh ke arah suara itu berasal.


“Oh astaga! Berarti aku sudah sangat terlambat?” tanya suara itu dengan panik.


“Maksudku, dia pergi meninggalkan tempat ini. Bukan mati.” Jawab Alviona sedikit menoleh ke arah suara itu.


“Ahh, kau membuatku kaget.” Ucap suara itu dengan senyum lega.


“Ada urusan apa kau dengan Fang?” tanya Alviona


Dia mengambil nafas dalam-dalam. “Begini, aku seorang peri. Namaku Sen. Tadi malam... tepatnya hampir tengah malam, Fang memanggilku tanpa menjelaskan ada apa. Lalu aku kemari secepatnya, tapi di tengah jalan aku dihadang para monster yang entah dari mana asalnya. Jadi aku datang terlambat.”


“Lalu?” tanya Alviona belum sepenuhnya percaya pada Sen


“Aku harus bertemu dengan Fang untuk mengetahui mengapa ia memanggilku.” Jawab Sen.


“Aku melihatnya pergi, tapi aku tidak tahu kemana perginya.” Ujar Alviona.


“Jadi, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Sen mengintip Alviona dari balik rambut yang menutupi wajah Alviona.


“Entahlah, aku tidak punya kekuatan apa-apa untuk mencarinya. Aku rasa kau lebih baik kembali ke tempat asalmu, pertarungannya telah usai.” Jawab Alviona lemah.


“Tapi aku bisa melacaknya.” Sen mencoba membujuk Alviona.


Seketika Alviona yang awalnya putus asa jadi memiliki harapan untuk menyelamatkan Fang dan pangeran Fitz. “Sungguh? Dimana dia sekarang?” tanyanya seraya menoleh kearah Sen.


“Tunggu sebentar... .” Sen mengeluarkan sebuah gulungan kecil dari kantongnya, lalu menaburinya dengan bubuk emas.


Gulungan itu pun melayang dan terbuka dengan sendirinya. Lalu membentuk lipatan seperti burung yang mengarah ke Barat.


“Tidak salah lagi, dia menuju Vroegaand.” Kata Sen.


“Vroegaand? Dimana itu?” Tanya Alviona.


Sen menjawabnya. “Itu adalah titik dimana matahari tenggelam, awal malam, awal kegelapan. Di mana kekuatan kegelapan bangkit untuk pertama kalinya di muka bumi. Disanalah kerajaan monster dan raksasa, kerajaan jin, setan dan Iblis, yang dipimpin oleh kerajaan kegelapan. Semua kekuatan negatif berasal dari sana.”


“Dia pasti ingin menemui raja kerajaan monster dan raksasa untuk mengambil kembali pangeran Fitz.” kata Alviona ketakutan


“Raja Azazel?” tanya Sen memastikan. Alviona mengangguk lemah.


“Astaga! Dia raja yang mengerikan, dia lebih sering menghabiskan waktu untuk menambah kekuatannya, sangat sulit untuk mengalahkannya sendirian.” Ujar Sen cemas.


Bersambung....