
Hari menjalang malam. Setelah beberapa saat berjalan mengusuri jalan setapak dan hutan rimbun, mereka sampai di tepi pantai dengan batu karang besar keropos yang disampingnya ada kapal layar milik Alviona
“Itu kapalmu?” tanya pangeran memastikan
“Ya, ayo!” ajak Alviona berjalan menuju kapal
“Ke arah mana kita akan berlayar?” tanya Kai
“Selatan. Mengikuti rasi bintang yang seperti layang-layang itu” ujar Alviona menunjuk rasi bintang yang sudah tampak
Mereka pun mulai berlayar dengan Alviona sebagai pemegang kendali kapal. Bebarapa jam setelah berlayar menjauhi pulau 1000 bukit, Kai mulai bertanya-tanya tentang kerajaan Eira yang di bicarakan Alviona dan pangeran Mota tadi
“Apa yang akan kita lakukan ke kerajaan Eira?” tanya Kai
“Tunggu, bukankah kau tadi menanyakan soal perjalanan kita ke kerajaan Eira?” tanya Alviona
“Hehehe, soal itu sebenarnya aku tidak tahu, hanya untuk mengompori mu” ujar Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alviona pun menghela nafas karena sifat jahil Kai
“Kita akan meminjam hati es dari dewi Ema untuk membekukan jantung kegelapan di Dosakara” jawab pangeran Mota
“Aku tidak yakin dewi Ema mau memberikannya secara cuma-cuma” ujar Kai
“Dari yang pernah aku dengar, dewi Ema memang akan memberikan hati es itu dengan senang hati. Namun, hanya orang berhati bersihlah yang bisa menyentuh hati es itu” jelas Alviona
“Memangnya apa yang akan terjadi jika orang berhati kotor menyentuhnya?” tanya Kai
“Dia akan membeku selamanya” jawab Pangeran. Alviona mematenkan kendalinya dengan tali lalu berjalan menuju Kai dan pangeran
“Aku rasa, hanya putri Laluna yang bisa menyentuh hati es itu” ujar Alviona
“Mengapa kita tidak bisa?” tanya Kai merasa diremehkan
“Hanya putri Laluna yang memiliki hubungan darah dengan dewi Pirata dewi jiwa, hanya dia yang bisa membersihkan jiwa dan hati makhluk lain. Maka kemungkinan besar dia juga berhati bersih” jelas Alviona
“Tapi putri Laluna sudah di miliki oleh Yana. Apakah dia bisa membantu kita?” tanya pangeran pesimis
“Aku pernah dengar beberapa bulan setelah perang ia kabur dari kerajaan” ujar Kai membuat pangeran kaget
“Sungguh? Kemana dia pergi?” tanya pangeran
“Mana aku tahu” jawab Kai
“Lalu dimana kita bisa menemukannya? Ini kesempatan kita sebelum Laluna di temukan oleh Yana!” ujar pangeran bersemangat
“Di sana” jawab Alviona melihat aurora sebagai tanda kekuatan putri Laluna dari sebuah pulau kecil. Melihat itu pangeran langsung melompat berenang menuju pulau itu
“PANGERAN! Kai, turunkan layarnya!” ujar Alviona yang langsung dilakukan Kai. Alviona membelokkan arah kapal menuju pulau itu mengikuti pangeran Mota
“LALUNA! LALUNA!” teriak pangeran Mota ketika sampai di pinggir pantai
Tak lama setelah pangeran panggil, muncul seorang putri cantik dengan pakaian kerajaan mengintip dari balik pohon
“Pangeran?” tanya putri Laluna dengan suara berbisik
“Laluna!” teriak pangeran Mota menyadari keberadaan putri Laluna
“Pangeran!” putri Laluna berlari memeluk pangeran Mota pujaan hatinya
“Dari mana saja kau?” tanya pangeran
“Kau yang dari mana” jawab putri Laluna
Ketika sampai di pantai Alviona dan Kai turun dari kapal bersamaan dengan jangkar kapalnya. Melihat dua orang turun dari kapal, putri Laluna ketakutan mengira mereka adalah pasukan kerajaan yang mencarinya dan pangeran Mota
“Siapa mereka?” tanya putri Laluna pada pangeran Mota
“Mereka temanku” jawab pangeran Mota dengan santai
“Hei kalian! Kemarilah!” panggil pangeran pada dua orang yang sedang mengumpulkan buah-buah untuk perbekalan. Mereka segera menoleh dan berjalan mendekat
“Ada apa?” tanya Alviona
“Ini kancil dan itu... Siapa namanya?” tanya pangeran baru teringat bahwa ia tak mengetahui nama mereka berdua
“Kai” jawab Kai
“Ya! Kai. Dan kalian perkenalkan ini putri Laluna” ujar pangeran Mota
“Kami sudah tahu” jawab Kai dan Alviona bersamaan
“Kalian akan kemana?” tanya putri Laluna
“Kami akan ke kerajaan Eira untuk meminjam hati es, kami butuh bantuanmu putri” jelas Alviona
“Aku? Memangnya untuk apa hati es itu? Jika untuk hal buruk, aku tidak mau” jawab putri Laluna
“Hati es itu akan digunakan untuk membekukan Dosakara agar jantung kegelapan tidak berfungsi dan Raja Yana akan melemah. Jadi akan lebih mudah untuk mengalahkannya” jelas Kai
“Kalian akan bertempur?” tanya putri Laluna tak percaya
“Ya, kami akan bertempur untuk merebut tahta ayah” jawab pangeran Mota
“Dimana pasukan kalian?” tanya putri Laluna mencari-cari pasukan tempur mereka
“Baiklah, jika kalian memang ingin ke kerajaan Eira sekarang, maka ayo” ujar putri Laluna berjalan ke arah kapal diikuti pangeran Mota sedangkan Alviona dan Kai masih mencari buah-buahan untuk bekal
Setelah selesai, mereka berdua segera naik ke kapal dan memulai perjalanan. Saat tengah malam, seisi kapal diterangi obor dengan api abadi dari pangeran Mota. Alviona masih mengendalikan kapal dan Kai menemaninya meskipun terkantuk-kantuk dibelakang kendali kapal sedangkan pangeran Mota dan putri Laluna sudah tidur
Alviona memang bisa mematenkan arah jalan kapal, namun ia lebih memilih mengendalikannya secara manual untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba ada badai, entah itu angin, ombak, atau petir. Dan benar saja, badai angin membuat Alviona kelelahan mempertahankan arah gerak kapal dengan mengandalkan kompasnya yang ia curi dari kerajaan. Dengan dibantu Teli dan Kai, Alviona terus-menerus memastikan arah gerak kapal.
Keesokan harinya, badai telah dilewati Alviona, Kai dan Teli tanpa membangunkan pangeran Mota ataupun putri Laluna. Setelah memastikan tidak ada badai lagi, Alviona mematenkan arah kapal lalu mengasah pedangnya dan berlatih seperti pagi biasanya sedangkan Kai sudah tertidur sejak badai reda. Kapal yang cukup luas bisa ia gunakan sebagai arena latihan pedang menunggu matahari terbit
“PAGI SEMUANYA! AYO BANGUN!” teriak Alviona setelah melihat matahari terbit. Teriakan itu membuat pangeran Mota dan putri Laluna terbangun dan keluar dari ruangannya
“Apa? Sudah pagi?” tanya Kai yang baru bangun setelah semalaman menerjang badai. Alviona mengeluarkan pisang dari perbekalan yang ia kumpulkan kemarin dan memakannya satu untuk sarapan
“Selamat pagi dunia” ucap putri Laluna menyambut pagi yang cerah
“Ayo sarapan” ajak pangeran Mota. Putri Laluna mengangguk
“Apa sarapan pagi ini?” tanya Kai
“Pisang” jawab Alviona menyantap pisang besar yang sudah matang
“Hanya pisang?” tanya pangeran Mota
“Tidak, ada nasi, ayam, ikan, sayur, dan tuak juga ada” cibir Alviona
“Dimana?” tanya pangeran dengan polosnya percaya dengan omongan Alviona
“Di kota sana! Berenanglah sendiri ke kota jika ingin sarapan lengkap” cibiran Alviona semakin menjadi. Hal itu sempat memancing amarah pangeran Mota, tapi sudah ditenangkan putri Laluna
“Belajarlah makan seadanya pangeran, masih beruntung ada” ucap putri Laluna dengan lembut memeluk tangan berotot pangeran Mota membuat hati pangeran luluh
“Setelah ini kita akan apa?” tanya Kai duduk disamping Alviona mengambil satu pisang
“Terserah, tapi jangan lengah” jawab Alviona
“Jadi aku bisa memancing?” tanya Kai
“Heh! Mana ada orang memancing di samudra seluas ini ha? Yang ada kau nanti dipancing hiu. Lagi pula apa yang akan kau gunakan untuk memancing?” ujar Alviona
“Hehehe, aku baru tahu” kekeh Kai
“Kita istirahat saja, sejak kemarin kalian terus menerus berjalan bukan? Lebih baik istirahat” usul putri Laluna
“Ho-ha-hem, yah, aku rasa aku setuju dengan putri” ucap Alviona mulai mengantuk
Selesai makan, pangeran Mota dan Kai memutuskan untuk latihan pedang. Sedangkan putri laluna dan Alviona hanya menonton. Ditangah latihan, Alviona mulai terkantuk-kantuk hingga tertidur di pundak putri Laluna. Putri yang mengira Alviona laki-laki segera memindah kepala Alviona ke arah lain karena takut pangeran Mota cemburu. Namun sepertinya Alviona sudah nyaman dengan posisinya hingga tak mau pindah. Hal itu membuat putri Laluna semakin panik hingga pangeran Mota melihat kearah mereka berdua
“Pangeran, jangan salah sangka...” ujar putri
“Salah sangaka? Laluna, dia ini jauh lebih muda darimu” jelas pangeran Mota membuat putri Laluna kaget
“APA?! Jauh lebih muda dariku? Berarti dia masih dibawah umur” teriakan putri Laluna sontak membuat Alviona terbangun
“Tunggu, salah sangka? Maksudmu cemburu? Pangeran, dia perempuan” ujar Kai membuat putri Laluna semakin terkejut hingga berdiri
“Pangeran jelaskan padaku sekarang juga apa yang kau lakukan pada anak dibawah umur ini?! Apa kau memaksanya?” tanya putri Laluna marah mengira pangeran Mota memperbudak Alviona
“O, bukan bukan aku tidak memperbudaknya” jawab pengeran Mota ketakutan melihat putri Laluna marah
“Lalu mengapa anak itu ikut denganmu?!” tanya putri Laluna membuat pangeran diam dan Kai tertawa mengingat saat Alviona mengalahkan pangeran dan memaksa pangeran berjanji padanya
“Baik! Baik! Baiklah! Dia mengalahkanku. Ya, itu benar” jawab pangeran dengan sisa keberaniannya
“Apa? Maksudmu?” putri Laluna kembali melirik bocah dengan penutup mata kirinya yang sedang mengumpulkan nyawanya meskipun gagal
“Jadi begini, kancil itu, bocah itu, dia kemarin datang ke pulau dimana aku dibuang oleh saudara sialan itu dan aku bertarung dengannya. Dan ya, aku kalah. Dia memintaku untuk berjanji memenangkan pertempuran yang sudah dia rencanakan dan membebaskan ibunya setelah aku menjadi raja. Tapi setelah itu, dia memberikan separuh cakraku” jelas pangeran Mota menunjukkan separuh cakranya dari Alviona
“Tunggu, apa? Bocah itu?” tanya putri Laluna mulai tak percaya
“Ya, dia mengalahkanku” jawab pangeran Mota
“Bagaimana bisa?” tanya putri Laluna semakin tak percaya
“Dia sangat gesit! Gerakannya tidak bisa aku baca! Entah dari mana ilmu itu dia dapatkan” jawab pangeran Mota
“Baik, baik, baik. Jadi anak itu mengalahkanmu dan kau tidak memperbudaknya?” tanya putri Laluna menyadari pangeran mulai kesal
“Ya, ya, dan ya” jawab pangeran Mota
“Baiklah, itu sudah cukup untukku” ujar putri Laluna
“Tapi, seberapa gasit dia?” tanya putri Laluna penasaran
“Seberapa gesit?” Kai mengeluarkan pedangnya dihadapan Alviona yang masih tertidur pulas. Ketika pedang itu diayunkan mendekati Alviona tiba-tiba saja Alviona terbangun lalu mengambil pedangnya untuk menangkis serangan Kai dan membalikkan keadaan dengan menjatuhkan pedang Kai serta menodongnya dalam waktu beberapa detik saja
“Oh, kau? Kau mau membunuhku? Biarkan aku tidur dengan nyenyak” ujar Alviona kembali menyimpan pedangnya setelah mengetahui yang dihadapannya adalah Kai lalu beranjak menuju sudut kapal dan kembali tidur
“Kau lihat?” tanya Kai yang hanya diangguki pangeran Mota dan putri Laluna
Bersambung....