
“Bagaimana peperangannya?” tanya Kiowa
“Tentu saja berhasil” jawab Alviona dengan senyum manisnya
“Wah hebat!” puji Kiowa membelai pipi Alviona
“Kami sebenarnya kemari hanya mampir kak, besok kami akan melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Eira” jelas
“Untuk apa?” tanya Kiowa penasaran
“Ceritanya panjang” jawab Alviona
“Oh, kalau begitu, kita bercerita didalam saja ya. Hari juga menjelang malam” ajak Kiowa mempersilahkan Alviona dan Kai masuk
Didalam rumah, Alviona dan Kai di disuguhi singkong rebus yang baru saja Kiowa masak
“Ini, makanlah” Kiowa ikut duduk melingkari lilin penerangan
Kai dan Alviona mengambil sepotong singkong lalu mengunyahnya
“Bagaimana? Apa yang akan kalian ceritakan tadi?” tanya Kiowa
Alviona dan Kai pun bergantian menceritakan perjalanan mereka mulai dari pertemuan mereka dengan Tuko, pertemuan dengan pangeran Mota, penemuan putri Laluna, perjalanan ke kerajaan Eira, melawan makhluk hitam bernama Mort, hingga penyerangan Dosakara. Untuk mempercepat waktu, Alviona dan Kai tidak menceritakan soal penyerangan mereka di Indana
Alviona dan Kai juga menceritakan rencana mereka untuk kembali ke kerajaan Eira . Kiowa menyimak dengan seksama sambil sesekali mengangguk mengerti dengan cerita mereka berdua. Mereka bercerita sangat panjang hingga larut malam. Lilin didepan mereka juga sudah padam saat guntur menggelegar diikuti hujan yang cukup deras
“Sebaiknya kalian tidur. Besok kalian harus melanjutkan perjalanan kalian” saran Kiowa
Kai dan Alviona mengangguk menurut lalu berjalan ke kamar. Alviona tetap tidur di kamar Kai karena kamarnya lebih luas dari pada kamar Kiowa
Malam itu juga, Alviona susah tidur. Lagi-lagi perkatan wanita yang ia tabrak waktu itu terngiang di kepalanya. Ia memaksakan diri untuk tidur sampai akhirnya tertidur pulas
...
Malam semakin larut
...
Larut
...
Dan tengah malam
...
Duarr!
Suara guntur yang cukup keras membuat Alviona tersentak bangun. Bajunya basah, dirinya diguyur hujan, dibawahnya bukanlah ranjang atau lantai melainkan rumput hijau, disekelilingnya ditumbuhi pohon yang cukup lebat seperti ditengah hutan, dan satu belatinya hilang. Ia mencoba meraba sekitarnya untuk mencari satu belatinya, tapi tidak ada, tinggal sarungnya
Bajunya berlumuran darah, tapi tak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Hanya saja kepalanya sedikit sakit. Alviona yakin itu darah orang lain, ia sempat terpikir bahwa dirinya diculik dan seseorang telah menyelamatkannya, entah hewan atau manusia, tapi tak ada bukti. Ia bangkit dan mencuci bajunya disungai. Alviona selalu menggunakan dua lapis baju untuk melindungi dirinya dari benda tajam
Setelah mencuci bajunya dari darah, aroma darah itu belum juga hilang, tapi setidaknya bajunya tidak lengket. Karena sulit membuat api untuk penerangan, Alviona mencoba mencari bantuan “SIAPAPUN DISANA! KAU DENGAR SUARAKU?”
Meskipun rasanya mustahil ada orang yang bisa mendengarnya ditengah hutan malam-malam, ia tetap berteriak mencari bantuan, barangkali ia tak jauh dari rumah Kai. Ternyata teriakannya didengar seorang nenek tua yang kebetulan tinggal ditengah hutan “SIAPA DISANA?” tanya nenek itu mendatangi Alviona
“KAU DENGAR SUARAKU?” tanya Alviona tak percaya mendapat tanggapan. Nenek itu berjalan menghampiri Alviona
“Astaga, seorang anak. Apa yang kau lakukan malam-malam begini ditengah hutan nak?” tanya nenek itu. Namun Alviona tak bisa menjawab apa-apa karena dia sendiri tak tahu bagaimana dirinya bisa berada disini
“Sudah, ikut aku dulu. Besok pagi aku antar kau kerumahmu” ujar nenek itu menuntunnya menuju rumahnya. Alviona hanya mengangguk lalu ikut dengan nenek itu
Dirumah nenek itu, Alviona diberi sebuah kain untuk mengeringkan dirinya. Nenek yang bernama Damari itu juga memberinya baju kering untuk dia pakai agar tidak kedinginan
“Apakah kau seorang pemburu?” tanya Damari
“Lalu, mengapa bajumu berbau darah?” tanya
Damari yang sedari tadi mencium bau darah
“Saya tidak tahu, saya rasa saya diculik” jawab Alviona sangat ragu dengan pernyataannya
“Kau melihat penjahat yang menculikmu?” tanya Damari mengunci pintu rumahnya rapat-rapat
“Tidak, saya terbangun karena guntur, bukan karena orang lain” jawab Alviona
“Siapa kau sebenarnya? Sepertinya kau pendatang” tanya Damari
“Ya, saya pendatang. Saya datang bersama teman saya yang tinggal disini” Alviona mencoba tidak memberi identitasnya
“Aku rasa kau tidak diculik” Damari mencium baju Alviona dan mendapati bau darah manusia “Ramalan itu benar-benar terjadi” sambungnya setelah beberapa saat terdiam
“Ramalan?” tanya Alviona, pikirannya langsung tertuju pada wanita paruh baya yang pernah ia tabrak itu
“Sebuah ramalan yang tidak banyak dipercaya orang-orang tentang generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira” Damari memberi petunjuk. Namun Alviona tidak mengerti apapun dari petunjuk itu
“Ramalan yang sangat aneh dan tidak masuk akal, sangat abstrak” Damari melanjutkan
“Memangnya ada apa dengan generasi keenam ratus enam puluh enam dewi Eira?” tanya Alviona penasaran sekaligus tertarik dengan ramalan itu
“Ribuan tahun yang lalu, saat dewi Eira masih muda, dirinya bertemu dewa Yas yang sama-sama memiliki kekuatan es. Mereka jatuh cinta, tapi saat itu dunia dikuasai dewa Blas dewa api. Mereka berdua berjuang untuk menegakkan kerajaan bersama-sama, dan berhasil. Namun es mereka menjalar terlalu cepat hingga menghabiskan wilayah kekuasaan dewa Blas yang membuat putra satu-satunya mati” Damari berhenti sejenak lalu melanjutkannya lagi
“Dewa Yas sempat meminta maaf atas kejadian itu, namun dewa Blas tak terima hingga mengutuk generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi Eira akan tersiksa dari hari mulai gelap hingga tengah malam dikarenakan seseorang yang tak dikenal. Lalu kerajaan Esnya tidak bisa meluas melainkan semakin mengecil hingga akhirnya habis seiring berjalannya waktu. Dewa Blas tidak memberi petunjuk seperti apa orang itu, dari mana asalnya, atau sifatnya. Dirinya juga tidak menjelaskan kapan atau pun tanda-tanda hal itu terjadi” jelas Damari panjang lebar
“Tapi ada beberapa cerita yang berbeda dan banyak yang meragukan kutukan itu benar atau tidak” Damari menunjukkan buku tua yang ia simpan. Alviona membuka buku usang itu
“Sejarah kerajaan-kerajaan dewa dewi yang terkenal ada disini” ujar Damari lalu menunjukkan sejarah kerajaan Eira
“Sebenarnya dewi Ema keturunan ke berapa dari dewi Eira?” tanya Alviona
“Dewi Ema adalah generasi ke enam ratus enam puluh empat. Dirinya sudah memiliki cucu, tapi belum ada yang mau menggantikannya” jawab Damari mencari ramalan itu di beberapa halaman bagian sejarah kerajaan Eira
“Ini dia” Damari menujuk bagian ramalan yang sedang mereka bicarakan
666
Angka yang sudah turun-temurun dipercayai sebagai angka bermakna buruk. Dewa Blas memang tidak memberitahukan tentang kutukan yang dirinya berikan pada generasi ke enam ratus enam puluh enam dari dewi Eira secara luas. Namun bisa dipercaya bahwa dewa Blas benar-benar mengutuk generasi itu
Generasi ke enam ratus enam puluh enam dewi dewi Eira akan disiksa dari hari mulai gelap hingga tengah malam oleh seseorang. Setelah itu kerajaan Eira tidak akan bisa meluas, melainkan menyempit hingga habis seiring berjalannya waktu
Alviona berhenti membaca setelah mengetahui isi ramalan itu. Alviona sejenak berfikir bagaimana dirinya bisa berpindah dari Zipa ke kerajaan Eira dengan sangat cepat, padahal untuk ke sana saja membutuhkan waktu satu bulan lamanya. Rasanya tak mungkin, karena dirinya sama sekali tak punya kekuatan magis
“Seorang pertapa yang mengatakan ini, namun tak banyak orang yang percaya. Ramalan ini jadi tidak terkenal” jelas Damari. Alviona berfikir bahwa perkataan Damari hanyalah omong kosong atau mitos belaka
“Namun bagaimana bisa saya berpindah begitu cepat ke kerajaan Eira? Untuk pergi kesana saja membutuhkan waktu sebulan lamanya menaiki perahu. Untuk kembali ke Zipa juga satu bulan lamanya. Sedangkan saya tidak memiliki kekuatan atau cakra sama sekali” tanya Alviona
“Ini sebuah kutukan, tak bisa dihindari” jawab Damari meyakinkan Alviona. Namun Alviona tetap pada pendiriannya bahwa dirinya diculik dan seseorang telah menyelamatkannya
“Tapi itu masih perkiraanku, kemungkinan jika kau diculik juga cukup masuk akal. Karena itu, kau tidurlah dulu. Jangan keluar” Damari menutup buku itu dan menyimpannya lagi
“Ohya, siapa nama temanmu itu?” tanya Damari
“Kai, dia mantan prajurit kerajaan Indana” jawab Alviona
“Ooh, aku tahu rumahnya. Besok aku antar kau kembali ya, malam ini tidurlah dulu disini” ujar Damari. Alviona mengangguk lalu tidur di sebelah Damari
Malam itu juga, Kai menyadari Alviona menghilang
Bersambung....