My Live For Battle

My Live For Battle
Perang Anjana



Tiba-tiba para Monster dan raksasa berlarian keluar dengan raungan yang sangat mengerikan. Setelah tidak ada lagi monster ataupun raksasa yang keluar dari dalam, mereka berdua segera menuju ke gerbang.


Gerbang itu terbuka lebar. Mereka berdua memanfaatkan ukuran tubuh mereka yang jauh lebih kecil dibandingkan si beruang raksasa, mengendap-endap agar tidak menyadarkan raksasa akan keberadaan mereka.


Ketika memasuki gerbang, mereka akhirnya melihat istana Anjana yang berdiri megah di depan mereka. Aura kegelapan pekat menyelimuti mereka berdua. Istana yang disusun dari tumpukan batu-batu.


Karena waktu mereka tidak banyak, Sen dan Fang segera berpencar untuk mencari pangeran Fitz. Sen mencari di daerah luar istana, sedangkan Fang mencari di dalam istana.


Beberapa saat mencari, Fang mulai mendengar suara-suara aneh yang dilantunkan oleh ribuan orang dari aula istana. Segera ia menuju tempat itu.


Setelah mengintip dari sela pintu aula, terlihat para monster dan raksasa yang sedang mengadakan semacam ritual dengan membentuk lingkaran. Di tengahnya, terdapat sebuah meja besar yang di atasnya tergeletak para bayi tanpa pakaian.


Dan seorang pria berjubah hitam yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki, bayi itu tidak lain dan tidak salah lagi adalah pangeran Fitz. Melihat itu, Fang tidak segera memberi tahu Sen. Tapi ia memperhatikan ritual itu sejenak.


“Pangeran Indana! Penerus tahta yang baru saja mereka lahirkan!” pria berjubah itu mengumumkan dengan bangga.


“AZAZEL! AZAZEL! AZAZEL!” seru para monster dan raksasa.


“Akuma akan bangga dengan kita!!” Teriak pria itu, mengangkat tinggi-tinggi pangeran Fitz.


“YAAAAA!!! AKUMA!!!” Seruan itu semakin keras.


“Kau akan menjadi awal dari kehancuran ini.” Bisik pria itu di telinga pangeran Fitz, lalu lidahnya yang panjang menjilat pipi kiri Fitz yang sedang menangis kencang.


Fang dengan amarah yang sudah memuncak segera melompat tinggi dan mendarat tepat di tengah meja. Fang mengayunkan tangannya dengan kuat dan memorak-porandakan seisi ruangan dengan anginnya yang kencang.


Satu persatu monster dan raksasa berhasil ia tumbangkan, mereka bergelimpangan di lantai. Setelah puas mengobrak-abrik para monster, hanya satu yang masih berdiri.


Pria yang dipanggil Azazel itu masih berdiri tegap dengan jubahnya yang masih rapi. Pangeran Fitz dibawa keluar oleh salah satu monster.


Pria itu memberi tepuk tangan dingin pada Fang. “Kau hebat juga ya.”


“Tapi sayang, istana inilah tempat istirahat terakhirmu. Bersama dengan bayi-bayi itu dan Fitz.” Katanya dengan senyum licik.


Fang menggenggam kuat tangannya dan memadatkan udara di samping kirinya. Ketika Azazel mendekat dan melancarkan serangan pembuka, Fang menyiapkan tinjunya bersama udara padat ke arah Azazel.


BUM!!


Udara itu meledak dan menghancurkan aula hingga menjebol lapisan istana yang membuat aula dapat dilihat dari luar, namun pukulannya meleset. Azazel agak terkejut dengan apa yang dilakukan Fang barusan.


Di luar, Sen yang sedang mencari keberadaan pangeran Fitz dibuat kaget dengan dentuman keras barusan. Mengetahui itu adalah sinyal dari Fang, Sen segara mendatangi pusat ledakan.


Saat tiba, Fang dan Azazel ternyata sedang bertarung hebat. Sadar Sen sudah tiba, Fang melempar sebuah batu kecil menuju luar. Sen pun segera mengikuti arah batu itu.


Batu itu terus menggelinding di reruntuhan hingga mengenai kepala seekor monster kanguru yang sedang berlari menuju luar istana. Tapi karena batunya kecil, tak berdampak apa-apa pada monster itu. Dari batu itu, Sen mengerti bahwa Pangeran Fitz di bawa oleh monster itu.


Sen meluncur deras menuju monster Kanguru dan menabrakkan tubuhnya keras-keras. Monster kanguru tersungkur di tanah, sedangkan yang pangeran Fitz terlempar jauh ditangkap oleh monster kera yang sudah siap di sisi lain.


Monster itu menyerang Sen tanpa menggubris protesnya. Sen berusaha kembali mengejar pangeran Fitz, namun monster kanguru itu menghalanginya. Terpaksalah Sen meladeni.


Fang dan Azazel masih bertarung hebat hingga keluar istana. Berbagai serangan telah dilancarkan Azazel untuk melumpuhkan bocah tengil di depannya, namun Fang selalu kembali berdiri melanjutkan pertarungan.


Tanpa Fang sadari, Azazel telah membuat bayangan dirinya yang sedang bertarung dengan Fang. Sedangkan Azazel yang asli tengah menyiapkan pengiriman para bayi ke luar angkasa dengan portal hitam.


Di tengah pertarungan sengit itu, Alviona baru saja selesai dengan para pasukan kiriman kerajaan. Ia segera pergi ke istana Anjana untuk membantu Sen dan Fang. Setibanya Alviona, keadaannya sudah porak-poranda.


Tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam tepat di perut Alviona yang membuatnya kesulitan berdiri lagi. Mengetahui Alviona dalam keadaan genting, Sen mengirimkan perisai berbentuk setengah bola untuk melindunginya dari segala arah.


Sementara itu, Fang masih terus melanjutkan pertarungannya dengan Azazel. Namun karena tenaganya sudah habis saat melawan para monster, Fang pun menjadi bulan-bulanan Azazel.


Kakinya diseret, tubuhnya dihujani pukulan keras, lalu dilempar ke arah gedung-gedung di sekitar tempat pertarungan. Fang terbanting keras ke tanah setelah menghantam atap, pusing melanda kepalanya.


Belum sempat berdiri, tubuh Fang kembali diangkat tinggi-tinggi oleh Azazel. Lalu dibantingnya keras-keras ke tanah. Belum puas dengan darah yang mengucur deras dari tubuh Fang, Azazel meremat kepalanya dan dihantamkan ke dinding menara.


Fang dibawa menembus puluhan dinding oleh Azazel. Tulang-tulangnya remuk seketika, masih belum selesai, Fang dilempar tinggi ke udara dan dihantam berbagai serangan dari segala arah.


Tubuhnya hanya pasrah menerima semua serangan yang di lancarkan. Terombang-ambing tanpa perlawanan, tenaganya benar-benar habis. Perlahan, matanya mulai terpejam.


“FANG!!” teriak Alviona yang sudah pulih dari lukanya.


Ia mencoba keluar dari perisai itu, namun perisainya terlalu tebal untuk ditembus. Sementara matanya tak kuat lagi melihat penyiksaan yang Azazel berikan pada Fang.


Air mata Alviona jatuh ke tanah, tangannya menggenggam kuat. Gelombang emosional yang terlalu kuat memancing kedua Emosanya keluar. Blar!! Perisai Sen hancur berkeping-keping karena Emosa Alviona.


Setelah memastikan Fang benar-benar tak sadarkan diri, Azazel kemudian melemparnya tinggi ke udara. Serangan penutup ia siapkan.


Duar!!


Tanah sampai bergetar saking kuatnya serangan menghantam Emosa biru, sementara Emosa merah menyelamatkan Fang. Azazel berusaha keras untuk melukai Emosa biru yang berdiri tegap di depannya seperti patung.


Namun, sifat asli Emosa yang tidak dapat dilukai membuat usaha Azazel sungguh sia-sia. Alhasil Azazel pun menjadi bulan-bulanan kedua Emosa Alviona. Hanya seklai serang, Azazel hancur berkeping-keping menjadi debu.


Mengetahui bahwa itu hanya bayangan Azazel, kedua Emosa itu segera mencari Azazel yang Asli. Tiba-tiba sebuah ledakan menggetarkan tanah, sebuah lubang hitam terbuka lebar di awan. Diikuti suara berat tertawa keras.


Kedua Emosa Alviona meluncur deras menuju lubang itu. Brak! Mereka berdua menabrak perisai tebal yang dibuat Azazel untuk mengamankan pengiriman para bayi ke liar angkasa.


Akibat tabrakan keras itu, perisai mengalami retakan besar. Kedua Emosa menghantam perisai itu habis-habisan. Hanya tiga kali pukul, perisai itu hancur berkeping-keping.


Emosa biru berusaha keras menutup kembali lubang hitam itu, sementara Emosa merah menghajar Azazel tanpa ampun. Sama seperti yang Azazel lakukan pada Fang.


Bersambung....