My Live For Battle

My Live For Battle
Sihir air



“Ya, jika biasanya kami membajak kapal, kini dia membajak kapal kami” jelas Cain salah satu anak buah Tuko


“Dasar panikmat keributan” cibir Kai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun cibiran itu hanya ditertawakan oleh Alviona dan anak buah Tuko yang berada di situ


Saat itu juga Tuko datang untuk menyapa Kai “Ngomong-ngomong, kalian akan kemana lagi?” tanyanya


“Kami akan ke kerajaan Kyandra” jawab Alviona


“Untuk apa? Apakah kau akan menyelamatkan seseorang lagi?” tanya Cian


“Aku.... Akan menyelamatkan diriku sendiri” Alviona berhenti sejenak, Cian dan teman-temannya menatap Alviona dengan kepala mereka yang sudah dipenuhi dengan pertanyaan


“Saat aku bermalam dirumah Kai, malam itu hujan deras. Tiba-tiba aku terbangun ditengah hutan dengan baju berlumuran darah dan satu belatiku hilang, setelah itu aku diselamatkan seorang nenek bernama Damari yang tinggal di hutan itu. Nenek Damari menceritakan sebuah kutukan tentang generasi ke enam ratus enam puluh enam dari dewi Eira dan mengatakan bahwa aku adalah orang yang mewujudkan kutukan itu, yang berarti aku telah membunuh salah satu cucu dewi Ema” Alviona melanjutakan


“Aku sempat tak percaya, tapi kemarin pagi setelah aku dipulangkan kerumah Kai, ada beberapa prajurit mencariku sambil membawa sebuah tiruan belati terbuat dari es yang berarti tiruan itu berasal dari kerajaan Eira. Tiruan belati itu adalah tiruan dari belati yang menancap didada pangeran Frost saat ditemukan mengambang diperairan kerajaan Eira. Aku dan Kai berhasil kabur, tapi saat aku melihat belati itu, tiba-tiba sebuah ingatan saat aku menghunus belati itu ke dada pangeran Frost masuk ke kepalaku”


“Barulah aku percaya bahwa kutukan itu benar-benar terjadi, lalu aku dan Kai menyelamatkan kak Kiowa yang ditahan di kerajaan dan merencanakan untuk memperbaiki hati es dari kerajaan Eira yang saat itu kami pinjam dalam misi membekukan Dosakara untuk menebus tuduhan jika aku adalah orang yang membunuh pangeran Frost. Ya, memang aku yang membunuhnya, tapi aku tidak sadar saat melakukan itu, seolah seseorang mengendalikan diriku untuk melakukan perbuatan itu” jelas Alviona panjang lebar


“Jadi apa yang akan kalian lakukan di kerajaan Kyandra nanti?” tanya Tuko


“Kami akan mencoba membangun sihir air diantara kami bertiga. Meskipun belum ada yang pernah mencobanya, kami akan tetap pergi kesana” jawab Kai


“Apakah kau tahu siapa dia?” bisik Marin pada Cain sambil menunjuk Kiowa yang sibuk membaca bukunya


“Kau pikir aku tahu? Jika ingin pendekatan, lakukan sendiri” ujar Cian sambil menyenggol temannya yang tampaknya tertarik pada Kiowa


Plak!!


Marin memukul kepala Cian yang menggodanya “Siapa bilang aku akan pendekatan dengannya? Fitnah!” Marin berusaha menghindar meskipun wajahnya sudah memerah


Namun ternyata suaranya terlalu keras sehingga Alviona, Kai dan yang lainnya juga mendengarnya. Alviona dan Kai hanya tertawa geli mengetahui maksud dari pendekatan yang dibicarakan Marin dan Cian. Alviona dan Kai bergantian berdehem sambil tertawa geli


“Oh ya, dia kakakku kak Kiowa. Dialah yang mengusulkan untuk pergi ke kerajaan Kyandra dan membangun sihir diantara kami bertiga” jelas Kai. Setelah itu Kiowa bergabung diantara mereka semua


“Ohya, aku punya pertanyaan untukmu” kata Alviona menatap Tuko


“Apa? Tanyakan saja” ujar Tuko


“Apakah kalian masih membajak kapal?” tanya Alviona


“Kami masih menjadi bajak laut, tapi tidak lagi membajak kapal, kami sedang mencari harta karun terbesar dari 7 samudra yang ada di dunia” jawab Tuko sambil menunjukkan peta harta yang sedang mereka cari


“Wah, perjalanan panjang. Jika saja aku tidak sedang memiliki masalah, aku ingin sekali ikut denganmu” ujar Alviona


Alviona mengangguk. Seketika itu Tuko teringat sesuatu tentang kerajaan Kyandra “Aku pernah dengar sedikit tentang kerajaan Kyandra, katanya di kerajaan itu ada semacam mata mata yang menyamar”


“Mata mata?” tanya Alviona penasaran


“Ya, mata mata itu bertugas mengenali pendatang. Apakah dia hanya pendatang atau penyusup, orang baik atau orang jahat, dan semacamya. Hanya itu yang aku tahu dari kerajaan Kyandra” jelas Tuko


Sekali lagi Alviona mengangguk mengerti. “Kita harus berpisah, tujuan kita berlawanan arah” ujarnya sambil bangkit lalu bersiap kembali ke kapal. Kai dan Kiowa juga bersiap meninggalkan kapal Tuko


“Kita bertemu lagi di lain hari. Jaga dirimu” pesan Tuko pada Alviona


Alviona menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu mengucapkan salam perpisahan “Selamat tinggal” melambaikan tangan lalu menjalankan kapalnya yang semakin menjauhi kapal Tuko hingga saling menghilang dari pandangan


“Baiklah! Sekarang tujuan kita ke kerajaan Kyandra” Alviona memberi semangat pada Kai dan Kiowa “Ayo!” seru mereka bertiga bersamaan


Satu bulan pelayaran telah berlalu, kini mereka tiba di daratan kerajaan Kyandra “KITA SAMPAI!” seru Alviona melihat pantai Kyandra lewat teropongnya. Mereka semua bersiap untuk berlabuh dipantai. Setelah selesai menurunkan jangkar dan menaikkan layar serta membawa mangkuk air, mereka berjalan memasuki daerah Kyandra.


Pertama-tama, mereka melewati muara sungai yang digunakan untuk berjualan beraneka benda. Makanan, benda-benda kecil, hingga bumbu dan aksesoris dijual di pasar apung ini. Disalah satu bagian sungai terdapat kincir air untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga kerajaan. Semakin memasuki daerah Kyandra, semakin banyak aliran air yang mereka lihat seperti sungai, rawa, air terjun memenuhi daerah itu. Hampir semua kegiatan dilakukan dengan air, mayoritas warganya juga menguasai sihir air meskipun hanya dasarnya. Bahkan para prajurit berpatroli dengan menggunakan sihir air


“Benar-benar kerajaan air” ujar Kai kagum dengan kerajaan yang baru saja ia kunjungi itu


“Sebentar lagi kita sampai” Kiowa mengingatkan


“Kau pernah kesini?” tanya Alviona


“Belum, tapi aku yakin air terjunnya tak jauh dari sini. Lagi pula kita sudah cukup jauh menyusuri aliran air ini bukan?” jelas Kiowa


Alviona dan Kai mengangguk sambil tetap berjalan mengikuti Kiowa. Setelah hari semakin siang, mereka akhirnya sampai ke air terjun tujuan mereka untuk membangkitkan sihir air diantara mereka bertiga. Kiowa mengambil air dari air terjun itu dengan mangkuk lalu meletakannya diatas batu yang cukup besar. Meletakkan sobekkan mantra dan sebatang bunga lily


“Kai, kau duluan” Kiowa memberikan kesempatan pertamanya pada Kai


Kai pun maju untuk mencobanya, berdiri di samping betu itu tapi karena pada dasarnya Kai sulit untuk berkonsentrasi dan mudah terganggu oleh bunyi-bunyian disekelilingnya, Kai gagal membangun sihir itu. Namun dirinya rak menyerah begitu saja, ia mengulanginya berkali-kali hingga akhirnya.... menyerah.


“Sudahlah, aku memang tidak berbakat” gerutu Kai sambil berjalan lemas menuju batu yang kecil untuk duduk


“Kalau begitu, kau duluan saja” Kiowa memberikan kesempatan selanjutnya pada Alviona


“Baiklah” jawab Alviona ragu-ragu. Ia menarik nafas dalam dan memberanikan dirinya untuk mencoba


Alviona yang memiliki konsentrasi tinggi dan mudah untuk memfokuskan seluruh pikirannya pada suatu benda tanpa terganggu hal apapun yang ada disekitarnya. Entah itu bunyi, sentuhan, atu bau-bauan. Setelah mencoba cukup lama....


Bersambung....