My Little Husband

My Little Husband
Wingit



Adzan magrib menggema, mentari kembali ke peraduan. Santri putra berduyun-duyun datang ke Tajug dengan pakaian serba putih. Zira berbaring menatap lampu yang dikelilingi laron, riuh di dapur membuat fikirannya tetap terjaga.


Kejadian Mbak Sadah tadi membuatnya mengingat kejadian beberapa bulan lalu, dimana Mbak Piyah mengamuk dengan sangat dasyat.


Tanpa Zira sadari, kamar berkapasitas sepuluh orang itu sudah kosong. Sepi. Semuanya pergi berjama'ah, yang haid tentunya sedang sibuk di dapur.


Zira bangkit kemudian duduk bersandar pada tembok, menatap cermin lamat-lamat. Indra penciumannya menangkap samar-samar bau pandan serta melati. Di depan Kobong memang ada pohon pandan milik Bu Yuna, tapi melati?


Mata Zira menatap waspada kanan dan kiri. Tangan kirinya mulai merasakan panas yang sangat tiba-tiba.


Brak!


Pintu pojok terbuka tanpa aba-aba, Zira bangkit sembari membaca istigfar dalam hati. Langkahnya terasa berat, matanya samar-samar menangkap bayangan lewat dari satu pintu ke pintu lainnya.


Sebentar lagi dia melongok ke dalam kamar pojok, ketukan di pintu depan membuatnya terjingkrak sepenuhnya. Kaget, Khawatir, keduanya mendominasi perasaannya.


"Mbak...."


Panggilan itu, suaranya serak. Zira mengingat-ingat suara siapa itu? Tapi Nihil. Ingatannya tak menemukan memo tentang pemilik suara tersebut.


Brak!


Pintu kamar pojok kembali tertutup dengan keras, panggilan dari luar pun sudah tak terdengar lagi. Lemas, kakinya seolah menolak untuk maju ataupun menjauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Ekor matanya menatap cermin yang seolah menghadirkan sosok lain di belakangnya. Tengkuknya merasakan hawa dingin, bersamaan dengan rasa panas yang semakin mendominasi tangan kirinya. Hatinya menjerit tak karuhan begitu pintu utama terbuka lebar disertai angin kencang.


"Mbak...."


Suara lirih itu terdengar kembali, kepalanya dipaksakan untuk melihat ke arah luar. Gelap. Hanya dahan pohon rambutan dan angin yang semakin kuat menghadirkan hawa dingin. Panggilan samar itu masih terdengar.


Otaknya berfikir keras siapa pemilik suara itu, tapi kemudian seluruh tubuhnya bergetar hebat kala mendapati sosok yang baru turun dari pohon. Baju putih, dengan rambut panjang yang khas.


"Inalillahi...."


Bibir Zira bergetar hebat, tangannya semakin panas. Keringat mengucur dari tubuhnya kala sosok itu seolah berdiri sejajar dengannya.


"Mbak...."


"Aaarrrghhh...."


Teriakan dari lantai atas membuat Zira tersentak, suara itu ... Mbak Sadah! Matanya menatap arah depan lagi, tetapi kosong. Makhluq tadi sudah hilang, bersamaan dengan tubuhnya yang bisa bergerak lagi.


Zira limbung, suara ramai bubarnya santri putri membuatnya segera keluar.


"Astaghfirullah! Mbak Sadah, turun Mbak!"


Teriakan Fiqoh membuat semuanya kompak menatap ke atas. Disana! Mbak Sadah sudah memegangi tralis siap melompat ke arah kolam. Zira yang sadar akan keadaan segera memaksakan dirinya untuk berlari menaiki tangga, disusul Nura.


Yang lain sibuk ikut ke atas dan menyaksikan Zira yang sekuat tenaga mencegah hal nekat yang akan dilakukan Mbak Sadah yang tengah kerasukan tersebut.


"Sadar, Mbak." Zira berbisik sembari menguatkan pelukannya. Mbak Sadah hanya diam sembari bergerak-gerak mencoba melepaskan tubuh.


"Ra...."


Mbak Muyu datang menerobos kerumunan yang menonton, kemudian membantu menenangkan Mbak Sadah. Lantunan ayat suci terus Mbak Muyu lafalkan tepat di telinga kanan, sembari tetap menahan amukan.


Mbak Sadah melotot kemudian menyeringai lebar, membuat mereka yang menyaksikannya bergidik ngeri serta kaget. Semakin lama Zira semakin lemas, apalagi dia masih syok akan kejadian tadi. Jadilah kini tangan kiri Mbak Sarah bebas dan melayangkan pukulan padanya.


"Ya Allah, Mbak Zira!!!" Teriak semuanya karena kaget. Zira mengusap pipinya kemudian tersenyum samar. Raida yang menangkap raut yang berbeda segera mundur. Dia bingung sekaligus takut, bagaimana kalau tiba-tiba Zira kesurupan? Pasti yakan ada yang sanggup menahannya.


Zira mengangkat wajahnya, sorot matanya datang tanpa ada secuil pun rasa takut. Jempol tangan kanannya masih mengusap bekas pukulan tersebut. Yang lain bergidik ngeri, ekspresi wingit Zira memang tiada dua. Bahkan menurut mereka lebih menyeramkan dari Mbak Sadah yang saat ini tengah kerasukan.


Angin berhembus membawa serta aroma pandan dan melati yang kuat, semuanya memegang tengkuk masing-masing. Mereka mengalihkan pandangan dari Zira, Mbak Sadah pun diam saja setelah berhasil melayangkan pukulan.


Zira pelan-pelan mendekati Mbak Sadah, masih dengan ekspresi datarnya yang khas, perlahan pula Mbak Sadah yang ditahan Mbak Muyu semakin mundur, hingga menabrak teralis.


"Keluar," titah Zira. Suaranya sangat tenang, namun mengintimidasi. Raida memilih mundur sejauh-jauhnya, dia tak sanggup melihat wajah temannya jika sudah begini.


"Keluar!" Sentak Zira sembari semakin mendekat, Mbak Sadah seolah membeku, giginya bergemeletruk, tubuhnya mendadak menggigil seperti orang ketakutan. Kemudian limbung tak sadarkan diri.