My Little Husband

My Little Husband
Suka suka



Sementara itu Zira yang moodnya sudah membaik berkat Rikaz kini tengah duduk menatap bintang, dia menunggu teman temannya yang sedang ke dapur mengambil jatah makan mereka


"Ziraaaaaaa.... " panggil seseorang dari jauh, Zira sampai agak terkejut karna teriakan orang itu setelah agak dekat dia baru mengenali pemilik suara tersebut dia adalah Rona, alumni tahun lalu


"Waalaikumsalam pelan pelan atu manggilnya" tegur Zira halus, Rona hanya tertawa dia lantas duduk didekat Zira ikut menatap bintang


"Malem malem kesini ada apa? "


"Ouh ini mau minta anter ke kamu"


"Kemana? "


"Ketemu Mas Randi" jawab Rona santai dia tak menyadari sama sekali perubahan wajah Zira


"Mau ya... kalau ama yang lain takut akunya"


"Mau apa gitu? "


"Hmmm ada deh "


Tak lama Ghisa Nura dan Raida datang mereka lalu makan terlebih dahulu, Zira hanya diam atau sesekali menimpali pertanyaan teman temannya dia bingung bagaimana akan bertemu Randi nantinya


"Yauda kita duluan ya" ucap Rona sambil menarik Zira agar mengikutinya kedaerah santri putra, Zira hanya diam dia takut untuk bertemu Randi saat ini


"Kang, maaf panggilin Mas Randi ya" ucap Rona pada seorang santri yang melintas pria itu hanya mengangguk lalu berjalan ke arah gedung kodim dimana Randi berada, tak lama dari itu seseorang mendekat Zira hapal betul cara berjalan seperti itu hanya dimiliki oleh Randi


"Mas Randi... masih inget aku gak? " tanya Rona sambil tertawa, Randi tersenyum lebar senyum yang paling membuat Zira luluh beberapa waktu lalu tapi senyum itu kini ibarat sebuah belati baginya


"Hmm Rona ya? " ucap Randi sambil melirik Zira yang hanya terdiam menatap arah lain, cemburukah ia?


"Wah masih inget ya... CLBK yuk" ucap Rona jujur


"Hahahah... harusnya iya"


Zira membuang muka dia sudah tak sanggup lagi membendung perasaan kesalnya pada makhluq dihadapannya ini


"Rona.. aku duluan ya" ucap Zira pelan namun agak bergetar, Randi tersenyum simpul


"Eh Mba Zira dikira siapa, diem aja"


"Assalamu'alaikum bye Rona.. kita ketemu dikamar ya" Zira segera berbalik karna air matanya sudah lolos tapi langkahnya terhenti


"Mba... kenapa? kalem amat" tanya Randi sedikit keras, jika saja saat ini hanya ada mereka mungkin Zira sudah berteriak bahwa dia lelah dengan semuanya, akhirnya tanpa menjawab pertanyaan Randi Zira melanjutkan langkah tapi sayang bertemu Syaiban ditikungan langgar putra


"Dek? " Zira menatap Syaiban sambil tersenyum simpul dia tak berani bersuara karna takut air matanya lolos kembali


"Kamu kenapa? "


"Gapapa ko.. duluan ya Kak" tanpa menunggu jawaban dari Syaiban Zira segera berlari sambil menghapus air matanya yang lolos berkali kali


"Hu Allah mengapa harus semenyakitkan ini" lirih Zira dalam hati, tanpa dia sadari Rikaz menatapnya dengan tatapan sedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ran... diapain adek saya? " tanya Syaiban sedikit emosi saat Randi sudah selesai mengobrol dengan Rona, yang ditanya menyerit tak paham


"Kenapa? "


"Ia... dia nangis tadi"


Deg! Randi kaget, jadi Zira tadi berbalik karna sudah tak kuasa membendung air mata? tapi bukankah dia tak mengatakan sesuatu yang menyakitkan?


"Jawab! "


"Ya gak tau... emang kalo Zira nangis selalu dapet saya gitu? " tanya Randi


"Oh, maaf saya lupa" Syaiban lalu pergi dia tak ingin menghajar wajah didepannya, dia akhirnya memutuskan pergi ke kamarnya menenangkan hatinya sendiri yang sudah tersulut emosi


Sementara itu Randi yang kaget akan ucapan Syaiban akhirnya memutuskan mencari Zira dan menanyakan ada apa sebenarnya dengan dirinya akhir akhir ini, dia berlari ke jembatan lalu melihat Raida melintas dan memanggilnya


"Raida... sini" panggil Randi pelan, Raida kemudian mendekat padanya dengan tatapan heran


"Mas Randi... kata Mbak Zira dia cape gamau ketemu ..."


"Ta... tapi penting"


"Suka Suka orang lah mau nemuin apa nggak, jangan maksa Mas! " ucap Ghisa dari depan kamar dengan nada sewot,Randi tak mengerti apa salah dia sebenarnya? akhirnya dia mengalah lalu berbalik duduk diteras langgar disudut gelap.


Tak lama Rikaz datang membawa plastik bermerek toko make up, lalu meminta tolong pada Nura untuk memanggilkan Zira, Randi tersenyum miring tak mungkin Zira keluar tapi ternyata tebakannya meleset gadis itu keluar sambil tersenyum dengan mata sedikit bengkak, Rikaz tertawa


"Mau ke kamar mandi dulu? "


"Hu um... kamu selalu ga tepat waktu" ucap Zira sambil melenggang ke kamar mandi dan datang lagi dengan senyuman yang manis, Randi yang melihat hal itu menjadi marah dia ingin menarik Zira lalu bertanya apa salahnya? hingga gadis itu enggan menemuinya


"Nih Mba... adanya kaya gini aku gatau Mba suka apa nggak"


"Mmmmm.... oke ko warnanya suka"


"Kalo ama aku? " tanya Rikaz sambil tertawa padahal jantungnya sudah dag dig dug tak karuan apalagi Zira menatapnya dengan sesungging senyum manis


"Sama... kamu imut soalnya kaya kucing" ucap Zira sambil tertawa... huhu Rikaz salting sendiri dibuatnya dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum lebar


" Apalagi kalo udah senyum kamu unyu banget aku suka" kata kata Zira seperti angin menyejukkan bagi Rikaz namun lain hal nya dengan Randi dia terasa sangat terbakar


"Haha... Mba nih bisa aja" hanya kata itu yang dapat Rikaz keluarkan dia terlalu bahagia


"Dih... dih salting, katanya aku kaya adek kamu masa baper ih gajelas" Zira tertawa lepas, sungguh berada didekat Rikaz membuatnya sangat bahagia


"Hehe yaudah dek, Abang ke kobong lagi ya"


"Lah mau apa? "


"Mau nyadarin diri kalo adek terlalu manis untuk dilupakan" mereka tertawa bersama, sungguh pemandangan manis bagi siapa saja yang melihatnya


"Yauda... bye Abang... fii amanillah" ucap Zira sambil melambai


"Oke adek bobo jelek gih" kata Rikaz sambil tertawa dia lalu berbelok sama sekali tak menyadari jika Randi menatapnya tajam


Zira berbalik dia hendak melangkah tapi suara berat itu menahannya


"Ouh gini yang cape itu" nada bicara itu terlalu dingin, hingga membuat Zira bergetar dia hanya diam tak menjawab sepatah kata pun


"Jawab! " suara Randi naik satu oktaf, tapi saat dia sadar dia sangat menyesal


"Suka suka saya ingin bertemu dengan siapa dan enggan pada siapa, anda tak bukan siapa-siapa lalu masalah nya? " ucap Zira dengan nada dingin lalu dia berbalik menatap Randi dengan tajam dan lelah


"Ouh... jadi bocah tadi lebih penting?! " tanya Randi kemudian dia sudah tak tahan lagi entah mengapa dia tak suka ada orang lain yang dekat dengan Zira


"Ya... dia bisa buat saya bahagia" jawab Zira dengan lantang, sungguh dia tak main akan kata-katanya Randi kaget melihat kilatan di mata Zira


"Saya lebih bisa"


"Kemana saja?! selama ini anda tertutup kabut gengsi saya malas dengan orang seperti anda" ucap Zira dengan dingin dan menusuk baru kali ini Randi diperlakukan begini oleh Zira, sebelumnya dia hanya mendengar dari kawan kawannya soal nada bicara Zira yang menakutkan awalnya dia tak percaya tapi kini semuanya nyata didepannya


"Saya jatuh hati padamu Zira! " ucap Randi dengan lantang, tapi Zira tak bergeming hatinya terlalu sakit untuk percaya pada kalimat yang selama ini dia nantikan


"Maaf hati saya tertutup untukmu" blass!! Randi limbung mendengar kata kata dari bibir mungil yang senyumnya selalu membayangi malamnya dia menatap wajah Zira lekat mencoba mencari kebohongan disana


"Terserah, saya akan perjuangkan rasa ini" ucap Randi kemudian dia masih percaya kalau cinta untuknya tak mungkin semudah itu menghilang


"Kamu egois Ran! kamu orang ter egois....kamu udah biarin saya berjuang sendirian selama lebih dari dua tahun.. lalu sekarang seenaknya kamu bilang bakal berjuang? cukup Ran... cukup!!mau sejauh apa lagi kamu bikin saya kecewa huh?! " ucapan Zira menampar Randi dia tersentak sendiri benarkah? sudah dua tahun? selama itu dia menyiksa


"Dulu kamu berjuang sendiri sekarang biarin aku membayar semuanya Zira"


"Gak perlu, makasih banget kamu udah ngerusak mood yang ditransfer Rikaz buat saya, makasih banyak udah bikin air mata ini bosen nangisin kamu, makasiiiih banget, karna ini udah cukup Ran... cukup tolong terima tawaran Aby untuk menikahi Selaya, karna kalian pasangan serasi menurut semua santri, jangan tolak kemauan guru...disitu terletak Ridho yang besar...makasih buat semuanya! "


Randi hanya terpaku, dia bahkan tak menyadari jika Zira sudah berlari menjauh sambil ter isak hebat ke kamar Ghisa


Jadi... Zira tau masalah perjodohan itu? otak Randi sangat kacau, mengapa semuanya jadi begini?! apakah dia terlalu bodoh? entahlah dia kesal kenapa dari awal tak mengutarakan rasanya pada gadis itu, jika saja dia tak egois, jika saja dia tak memikirkan gengsi... segala kilatan kilatan tentang Zira memenuhi otaknya saat gadis itu tertawa saat memanggilnya ayah, sungguh dia sangat menyesal tapi semua terlambat


"Aaaaaarrrrrrrrggggghhhh" Randi hanya bisa berteriak tak peduli pada beberapa santri yang melintas ,sungguh dia ingin menjelaskan segalanya pada Zira tapi mengapa malah begini? akhirnya dia memilih kembali ke kamarnya dengan langkah gontai tak menyadari jika Rikaz menatapnya dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.