My Little Husband

My Little Husband
Bagaimana?



Semua orang mulai sibuk mempersiapkan muhadhoroh, tapi lain dengan Zira, dia hanya duduk manis memperhatikan mereka semua kadang sesekali ikut tersenyum kala yang lain mulai mengomel.


"Gila, kita bikin acara dadakan kek gini ada apa sih?"


"Iyah, terus tema-nya juga tumben pernikahan."


"Padahal Aniversarry Umy dan Aby masih dua bulan lagi, kira-kira kenapa?"


"Itu usul Zira,"celetuk Mba Muyu sambil melirik gadis yang hanya tersenyum.


"Lah, emang iyah?!" Pekik semuanya.


Zira diam saja, kemudian bangun dan memilih melihat Kobong lain yang tengah latihan juga. Membuat semua orang mencibirnya.


"Huh, sombong amat kali, yaelah dia enak..."


"Apa? Mau gantiin dia? Emang sanggup?" Sarkas Mba Muyu.


"Ko marah sih Mba? Emang kenyataannya gitu ko.."


Zira yang sebenarnya masih berdiri didepan pintu tersenyum getir, semua orang merasa kalau Umy pilih kasih karena dia tak mendapat tugas apa pun. Padahal nyatanya disini dia tengah berjuang dengan hatinya, apalagi Mamahnya harus dirawat di daerah Magelang, tempat Kaka angkatnya. Sehingga yang datang hanyalah Om-nya yang akan menjadi Wali-nya.


Dia menghela nafas, menstabilkan hatinya yang lagi-lagi goyah oleh keadaan. Akhirnya dia memilih menuju kamarnya, mengunci pintu, lalu menumpahkan segalanya pada boneka kesayangannya. Tanpa seorang pun yang tau, setidaknya itu lebih baik.


Ghisa yang baru selesai piket Ndalem sedang bertanya pada orang yang dia temui tentang keberadaan Zira, tapi tak satu pun yang tahu dimana keberadaannya. Dia mulai khawatir, dia tahu kalau hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja, terbukti saat dia menceritakan perihal hukuman itu air matanya ikut mngalir dengan deras.


Ghisa pun mencari Nura dan Raida, yang memang juga sedang mencari Zira.


"Gimana?"


"Nggak ada yang tahu, padahal Mba Zira dicari Umy," keluh Nura sambil bersender pada tiang.


"Mba Ziraaaaaa, didawuhi Umy supaya ke Ndalem!!!" Teriak Raida.


Hening sesaat, setelah itu suara langkah menuruni tangga membuat mereka kompak menoleh. Disana, Zira turun dengan wajah datar dan sorot matanya yang dingin, membuat ketiganya memilih bungkam.


Zira melewati mereka begitu saja, tanpa senyuman apalagi sapaan, seolah mereka tak pernah ada. Ghisa yang tadi bersemangat pun mendadak kelu, dia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena saat tubuh Zira melewatinya ada aura menyeramkan yang menyelimutinya.


Begitu Zira masuk ke Ndalem, mereka baru bisa bernafas lega, seolah tadi ada sesuatu yang menahan mereka.


"Gila! Creepy banget!" Keluh Nura.


"Setuju, sampe lupa mau nanya Uda makan apa belum."


"Semoga keluar dari Ndalem sehat deh,"


"Semoga, kalo nggak, kita bingung harus gimana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dari tadi kamu dicariin, lah ko baru muncul," sembur Aruna begitu melihat Zira memasuki Ndalem. Tapi gadis itu tak bergeming, ia hanya menatap lurus kedepan sambil terus melangkahkan kakinya ke arah kamar Umy.


Klek...


Pintu terbuka menampilkan Umy dengan senyumannya, ia tahu kalau Umy pasti hafal dengan suaranya. "Eh, Zira kamu habis kemana toh? Dari tadi Umy nunggu," terdengar halus, tapi Zira paham kalau ada sindiran dari kalimat tadi. Ia hanya tersenyum simpul, memilih menanyakan perihal apa Umy sampai memanggilnya.


Umy melirik kearah dapur, disana ada Aruna yang sedang membereskan piring tapi sepertinya sesekali mencuri dengar. Salah satu sifat yang paling tidak Umy sukai, oleh sebab itu memilih mengajak Zira duduk di teras agar lebih leluasa mengobrol.


Umy duduk pada kursi rotan yang langsung menghadap kearah gunung karang, beliau terlihat sedikit lelah dan cemas entah memikirkan apa. Zira duduk diatas lantai marmer coklat, dia hanya menunduk sambil menatap kosong lempengan dingin itu.


"Ra...apa kamu tau, tadi keluarga Rikaz datang," Umy kemudian bercerita panjang soal kedatangan keluarga Rikaz, ternyata anak itu sudah tidak memiliki orang tua sejak ia berusia 9 tahun. Dan selama ini dia diasuh oleh nenek serta bibinya, Umy dan Aby baru tahu akan hal itu, karena memang mereka tak pernah bertanya apa-apa selain perihal mengaji dan kegiatan.


Zira mendengarkan cerita Umy, jujur saja dia juga baru tahu akan hal tersebut, karena mereka juga tidak pernah membahas soal keluarga. Umy semakin khawatir pada Zira, beliau hafal betul kalau anak didiknya satu itu juga tidak berbeda jauh keadaannya dengan Rikaz.


"Kamu yakin Ra, jika kamu belum mantap masih bisa dicegah.'' Umy memberi saran sambil menatap Zira yang masih bermain dengan pikirannya.


''Maaf, keluarganya datang apakah mengetahui perihal itu Mik?"


"Tentu saja, mereka sangat bahagia begitu tau kalau Rikaz akan menikah denganmu, apa kamu pernah bertemu mereka?"


"Pernah beberapa kali mengobrol dengan neneknya Mik."


Jawaban Zira membuat Umy faham, pantas saja neneknya sangat senang. Dia tau siapa saja yang sempat mengobrol dengan Zira akan merasa cocok, karena gadis itu pandai menempatkan diri serta punya selera humor yang bagus, wajar sangat wajar.


"Bagaimana dengan perasaanmu pada Randi?"


Zira diam, dia tak menyangka Umy akan bertanya sejauh itu. Bagaimana? Bahkan dirinya sendiri tak tahu seperti apa hatinya saat ini. Umy melihat perubahan ekspresi Zira, wajahnya yang tadi tenang mendadak kalut seakan nama Randi adalah sebuah kunci untuk kehancurannya.


"Bagaimana Ra? Apakah kamu tahu kalau waktu itu Randi sempat memintamu dan menolak dijodohkan dengan Selaya?"


Zira sudah benar-benar tidak baik, dia jadi ingat akan kejadian itu. Dia juga baru tau beberapa waktu lalu perihal itu, dan kini Umy menanyakan perihal rasanya pada Randi? Padahal jelas-jelas Aby memintanya untuk bersama Rikaz.


"Ra...Umy tanya sekali lagi, bagaimana perasaanmu pada Randi?"


"Itu..." kalimat Zira terpotong oleh ucapan salam.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsalaam, masuk Mas,"


Zira tanpa sadar menghela nafas lega, tapkoi tidak karena begitu ekor matanya melihat siapa yang datang perasaan sesak kembali menghimpit dadanya, lebih perih dari pertanyaan tadi.


Sosok itu kini nyata didepannya, tengah berdiri sambil memberitahukan keperluannya pada Umy. Sakit, hati Zira terlalu sakit dan tidak terima pada pemandangan didepan matanya.


"Pulang berapa hari kamu Ran?"


"Tiga hari saja Mik, Abah drop"


"Sebentar Umy panggilkan Aby," lirikan Umy bermakna banyak.


Umy masuk, meninggalkan Randi yang masih berdiri dekat pagar dan Zira yang menunduk dalam. Mereka hanya berdiam diri sambil berkecamuk dengan pikiran masing-masing tanpa ada niat untuk mengawali sebuah obrolan.