
Entah mengapa Hendro sangat membenci Zira, padahal gadis itu tak pernah berbuat salah padanya tapi karna wajahnya yang mirip dengan calon tunangannya yang kabur entah kemana, Hendro jadi sangat membencinya dan merasa kalau semua hal yang gadis itu lakukan selalu salah.
Seperti saat ini dia tengah memikirkan cara agar gadis itu terusir dari pesantren, dan akhirnya dia menemukan ide briliant setelah melihat jadwal piket mengambil beras, ya besok adalah jadwal Zira dengan teman²nya dan mengambil beras haruslah malam hari dia bisa mengambil keuntungan ini.
...----------------...
"Eh, Zira kemana ya? " tanya Rona
"Dikamar Ghisa...ga bisa diganggu" ucap Raida
"Ouh, yaudah aku dikamar kamu ya Da? "
"Oke... ayok masuk"
Rona dan Raida pun saling bertukar cerita dan ketika sampai pada masalah Randi , Rona baru tau kalau Zira menaruh rasa pada pria itu pantas saja wajah Zira terlihat sedih saat dia mengobrol dengan Randi.
"Rona... kenapa? "
"Eh nggak...yasudah tidur yuk" Raida pun memejamkan matanya tapi Rona belum mengantuk sama sekali dia sungguh merasa tak enak hati pada Zira dan kini gadis itu dikamar Ghisa tak mau diganggu? apa ini adalah salahnya? dia menatap jam ternyata baru pukul 21:35 dia akhirnya bangkit dan keluar menghirup udara segar.
"Fyuuuh... adem banget ...kangen suasanya buka orang orangnya" ucap Rona lirih dia lalu melempar pandangan ke kamar mandi tenyata Zira baru keluar dari sana dan ada Arina juga disana...agaknya gadis itu terkejut akan kehadiran Arina tapi wajahnya sangat datar, seperti biasa Rona terus memperhatikan apa yang akan mereka bicarakan
"Eh... Kamu belum tidur tah Ra? " tanya Arina
"Belum Rin... kenapa gitu? "
"Wih mikirin Randi tah? " tanya Arina sambil tertawa tapi Zira hanya tersenyum dua jari
"Nggak tuh"
"Wih bener nih? "
"Iya"
"Yaudah, Randi buat aku aja ya? "
"Iyaaa ambil aja Rin"
"Canda kok... ya ampun serius amat"
"Ambil aja kalo kamu mau"
"Hih jangan gitu loh"
"Kamu tau kan Rin, kalo aku uda bilang ambil itu tandanya aku bener bener serius? "
"I ... iyasih..."
"Aku duluan"
Zira lalu meninggalkan Arina yang masih menunggu Selaya dikamar mandi, dia lalu melihat Rona yang menatapnya dengan tatapan sungkan
"Eh, Zira belum tidur? " tanya Rona kikuk, dia bingung bagaimana ingin meminta maaf
"Kamu belum? "
"Belum.. hehe... emm anu Ra... aku minta maaf ya"
"Soal? "
"Randi... tadi itu.. "
"Sello jan dibahas, itu hak kamu aku bukan siapa siapanya ini kan? ..aku duluan" Zira masuk ke kobong tapi sebelum menutup pintu dia melongkok kembali keluar
"Udah malam....masuk, takut masuk angin"
"Iyah... makasih" Zira hanya mengangguk lalu masuk dan menutup pintu,Rona sangat lega karna sudah meminta maaf pada Zira dia kemudian menyusul Zira masuk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya teman teman Zira tengah berdebat masalah piket mengambil beras nanti malam kegudang belakang dapur santri putra,mereka saling melempar tugas tersebut karna nanti malam adalah malam jum'at kliwon
"Heh! " ucap Zira agak keras, ketiga temannya menoleh dan saling lempar pandang, mereka takut Zira akan mengomel karna pagi-pagi begini mereka sudah berdebat
"Kamu Nura ama saya ambil beras...cuma temenin ga usah bantu ngangkat" ucap Zira sambil menunjuk Nura, anak itu langsung pucat
"Ta... tapi ... Mbuh... janganlah begitu" Nura memohon, Ghisa dan Raida saling terkikik
"Kalian berdua... masak lauk sampai selesai"
"Haaaaaah???? " Raida dan Ghisa kompak melongo, bagaimana tidak ? memasak lauk untuk 135 orang hanya berdua saja? astaga ... tapi akhirnya mereka mengangguk dari pada disuruh mengambil beras, setelah semuanya setuju Zira kemudian menyimpan sapu serta serokan ke pojok gedung dan menyuruh mereka untuk mandi
"Iya Mbuh..." ucap ketiga anak itu dengan lesu, mau bagaimana pun keputusan Zira tak bisa diganggu gugat jika sudah begini
"Kamu sih kata saiya juga jangan ribut" ucap Raida
"Leh leh... kamu tuh" balas Ghisa
"Heh! Ribut lagi yaudah saya ga bantuin sama sekali! " teriak Zira dari belakang
"Ehhhh.... jangan Mbuh, jangan... ia.. ia kita ga ribut lagi ko" jawab mereka kompak Zira tersenyum simpul
Begitulah mereka selalu bertengkar karna hal kecil tapi hanya sesaat karna jika lama wah bisa gawat urusannya, satu pondok mengenal mereka sebagai tukang ribut ya ... tapi mereka tak peduli toh ada Zira ini yang selalu membela mereka, karna itu mereka memanggil Zira dengan sebutan Mbuh agar terkesan seperti Ibu atau Mbu
Selesai mandi mereka lalu bersiap mengaji Umik, hari kamis adalah pelajaran kitab Wasoya yang berisi tentang adab-adaban dan hal itu sangat Raida benci, karna dia tau jika sudah menyangkut adab mereka akan dianggap paling rendah oleh semua orang, tapi lain halnya dengan Zira dia tetap santai meski kadang tau kalau orang lain jelas-jelas mencibir dirinya yang jarang tersenyum dan bergabung dengan junior.
Pernah suatu hari mereka ditegur oleh teh Riani senior yang sudah sangat lama disitu, reaksi Zira hanya diam sambil sesekali tersenyum, bukan senyum manis tapi senyum atau lebih tepatnya sebuah seringai, dia takan membantah apa pun karna dia tau mendebat yang lebih dewasa akan sia-sia jadi dia hanya mengiyakan lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Sama jika didepan Umik, dia hanya diam mengangguk paham sambil menjawab muhun atau nggih, hanya dua kata itu yang keluar dari mulutnya jika sedang bersimpuh dekat Umik, tapi memang gayanya itu selalu melihat kondisi, misal jika mendapat tugas untuk menerima santri baru si wali santri pasti akan dengan senang hati menitipkan anak mereka padanya, atau tamu tamu yang bertanya pasti kerasan berlama-lama dengannya, karna itu banyak santri yang pulang minta ditemani olehnya karna orang tua mereka pasti senang mengenalnya.
"Ra... masak napa seniki? " tanya Umik ketika selesai mengaji
"Opor tahu sareng sambal Mik" ucap Zira sambil tertunduk
"Owah... enak pasti... kelompok sinten? "
"Ghisa Mik"
"Sinten-sinten niku? "
"Ghisa, Raida, Nura sareng Zira Mik"
"Owalah... ya kenapa ndak bilang kelompokmu saja Ra... "
"Mboten Mik, Ghisa yang bisa memasak"
Begitulah dia, teman-temannya sudah tau kebiasaan Zira jika ditanya menyangkut sesuatu yang akan dibanggakan dia pasti memakai nama orang lain, tapi jika ada kesalahan dia takan tanggung memakai namanya sebagai ketua kelompok, hal ini yang sangat mereka sayangkan dari Zira.
Piket masak memang bergilir, tapi hanya untuk mereka yang sudah tiga tahun ke atas mondok di Ponpes Sirottholab ini, karna anak baru dikawatirkan lelah dan tidak kerasan hanya kelompok Zira yang berisi empat orang selebihnya tujuh sampai sepuluh.
"Ra.. tar malem ati ati ya ambil berasnya" ucap Ghisa saat mereka keluar dari majlis menuju kobong
"Kenapa? "
"Firasatku gak enak Ra... "
"Insyaallah... "
"Eh, kitabku ada yang kosong aku mau nyorog"
"Ke Arina atau Selaya saja... kitabku sama kosongnya"
"Ah.. kau ini yasudah kita baca bareng saja? "
"Kalau begitu aku oke"
"Yasudah ayok"
Mereka pun bergandengan menuju kamar dengan perasaan bahagia dan tenang tak tahu jika masalah menunggu mereka nanti malam.