My Little Husband

My Little Husband
Rona



Hati Randi sangat bahagia dia tak tahu kalau tadi Zira mendengar percakapannya dengan Aby, gadis itu salah paham karena hanya sebentar mendengar dan Randi sama sekali tak tahu akan hal itu


"Ra, akhirnya aku bisa jujur ke Aby tinggal nunggu persetujuan Umik, makasih ya Ra udah sejauh ini merjuangin aku, sekarang waktunya aku merjuangin kamu" ucap Randi pada dirinya sendiri dia terlalu bahagia hingga tak menyadari jika Rikaz menatapnya dengan tatapan aneh


"Mas Randi sehat? " tanya bocah itu pelan, Randi menoleh sedikit kaget dengan pertanyaannya mengapa semua orang berkata begitu? apakah dia terlalu aneh hati ini


"Alhamdulillah ada apa? "


"Saya perhatiin ko aneh ya dari tadi"


"Aneh apanya Kaz? "


"Itu loh senyum mulu gajelas tau Mas"


"Lah emang saya senyum terus? "


"Ia, jangan jangan Mas kesambet ya"


"Asal kamu" apakah benar? apa ini efek bahagia? entahlah Randi tak tau pasti hal apa yang menyebabkan dirinya terus terusan tersenyum, mungkin karna Zira ya sepertinya gadis itu membawa pengaruh baik untuknya


"Tuh kan senyum lagi... Mas cek hih" ucap Rikaz sambil berdecak


"Aduh saya ga sadar Kaz" ucap Randi dengan jujur sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia juga bingung sendiri mengapa hari ini dia sangat salah tingkah


"Aku tau" ucap Rikaz sambil menyipitkan kedua matanya lalu menatap Randi dengan seringai aneh membuat pria itu mengerutkan keningnya


"Mas lagi jatuh cinta ya" ucap Rikaz kemudian sambil tertawa seorang diri, Randi terheran heran pada anak ini jatuh cinta katanya? apakah benar begitu


"Asal kamu Kaz, aneh ih"


"Ah Mas... ayo ngaku aja gini gini aku cenayang"


"Hahahaha... istighfar kamu musyrik kamu nak"


"Ehhh sembiringin Mas... janganlah kamu mengatain aku begitu"


"Hahaha.. lagian kui ini aneh" ucap Randi sambil tertawa,mendengar Randi tertawa lepas begitu Rikaz tersenyum lebar karna biasanya mereka perang dingin dan saling jaim tapi hari ini semuanya berbeda


"Mood booster banget aku"


"Ko bisa Mas? "


" Ia abis minta bawel ke Aby" ucap Randi tanpa sadar sambil tertawa


Deg, bawel? bukankah itu panggilan untuk Mba Zira? batin Rikaz. hatinya bergemuruh hebat dia mendadak bisu bingung mau bereaksi seperti apa dihadapan Randi


"Yaudah duluan ya Kaz... " Randi lalu berlalu masi dengan senyum merekah dibibirnya tak sadar kalau mata Rikaz memerah hebat dan tangannya terkepal kuat, dia bergegas pergi kekamarnya lalu berteriak sekencang mungkin sambil menutupi wajahnya dengan bantal


"Aaaaaaaaarggggh... "


Rikaz memukuli bantal hingga tak sadar kalau tangannya terkena pecahan gelas yang tersenggol, dia tak menghiraukan lukanya yang mengeluarkan darah segar karna luka hatinya lebih pedih dan dalam


"Kenapa gua harus kalah?! " ucapnya lirih sambil duduk memegangi kepalanya yang terasa berat dan sakit, dia lupa kalau dilarang stres dan memikirkan hal berat tapi dia tak peduli dunianya seakan runtuh mendengar Zira akan menjadi milik Randi,akhirnya dia bangkit berjalan ke kamar mandi dengan langkah goyah, dia harus menemui Zira, ya harus! agar semuanya menjadi jelas


"Mba Ziraa" ucap Rikaz dijembatan, tak ada seorang pun yang melintas dia terus meneriakan nama Zira, lalu ada seorang santriwati melintas dan menyeritkan dahi melihat keadaan Rikaz yang sepertinya tak baik-baik saja, mata merah serta bajunya yang semrautan


" Mau tak panggilin Mba Zira nya? "


"Boleh, syukron" Rikaz sangat bersyukur karna ada yang mau berbaik hati memanggilkan Mba Zira


"Ya.. bentar ya"


"Bentar, ke kamar mandi dulu" Rikaz hanya mengangguk lalu menunggu Zira yang masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai, ada apa gerangan? bukankah harusnya dia bahagia? apa Mas Randi hanya bercanda?


"Ada apa? " pertanyaan Zira dengan nada dingin membuat lamunan Rikaz buyar seketika, tatapan mereka bertemu Rikaz bisa melihat dengan jelas ada luka dimanik coklat tua tersebut, dan dia benci pada orang yang menoreh luka itu


"Anu.. Mas Randii" baru Rikaz ingin meneruskan ucapannya tapi tangan Zira memberi isyarat agar dia diam ditambah gelengan kepala dari gadis itu seakan menandakan jika dia sudah tak ingin tau apa-apa lagi tentang nama itu


"Saya udah ga mau denger apa apa lagi tentang dia Kaz, saya capek terus kaya gini... tolong pembahasan lain, oke? "


"Oke... tapi Mba kenapa? " hati Rikaz mendadak lega, berarti Zira belum tau soal urusan Randi tapi sampai kapan hal itu dirahasiakan? entahlah saat ini Rikaz tak peduli


"Kamu yang kenapa? itu tangan berdarah" tunjuk Zira pada luka ditangannya yang belum dia bersihkan sepenuhnya


"Ouh ini biasa kena beling gelas Mba" ucap Rikaz disertai senyuman lebar, Zira hanya menggelengkan kepalanya lalu meminta Rikaz berjongkok, sementara itu dia memetik daun binahong dan memasukannya ke dalam plastik yang dia bawa disaku bajunya


Rikaz hanya memperhatikan cara Zira menumbuk daun itu hingga halus dan menatap Zira heran saat gadis itu menyodorkan ramuan tersebut padanya


"Gimana? " tanya Rikaz


"Tinggal ditempeli ke luka"


Rikaz kemudian meraih plastik tersebut dan menempelkannya ke luka yang ada ditangannya, Zira hanya memperhatikan sambil tersenyum ya senyuman itu yang selalu Rikaz harapkan hanya tertuju padanya, tapi dia tau Zira tersenyum dengan cara yang sama kesemua orang


"Udah makasih Mbak, baik deh ga jadi galak"


"Alah dasar kamu ya" ucap Zira sambil tertawa, Rikaz memperhatikan baik baik setiap detail wajah Zira lalu dia mengendapkannya ke dalam relung hatinya


"Hehe, atu gimana ge... Mba jangan lupa ya" ucap Rikaz dengan serius Zira menyerit aneh


"Lupa? "


"Iya jangan lupa bahagia karna bahagia Mba itu penting buat aku" Zira tertawa Mendengarnya tapi tawanya terhenti saat melihat wajah Rikaz serius, sepertinya anak itu tak main main akan ucapannya


"Teruslah bahagia, karna jika kamu bahagia aku ikut bahagia" ucap Rikaz kemudian, Zira hanya tersenyum lalu mengangguk entah mengapa hatinya tiba tiba menghangat dan merasa baik baik saja, aura positif yang Rikaz bawa membuatnya sangat bahagia


"Pasti Kaz, kamu juga jangan lupa bahagia"


Mereka saling melempar senyum lalu tertawa, tak memperhatikan jika ada sepasang mata yang menatap dengan aura kebencian yang kuat dan dalam


"Tak lama lagi, kalian hancur" kemudian seringai licik tergambar diwajah tersebut


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Aby membicarakan soal Randi yang meminta izin untuk ta'aruf dengan Zira pada Umik, dan Umik sedikit kaget karna tak menyangka jika Randi memiliki ketertarikan pada Zira


"Lalu Selaya? " tanya Umik pada Aby


"Randi sudah memilih Mik, kita tinggal bantu istikhoroh saja"


"Ta.. tapi Bii"


"Ada apa? "


"Ah ndak, Umik hanya memiliki firasat jika akan ada sesuatu yang terjadi pada Zira"


"Semoga tidak Mik, yasudah ayo lanjutkan makan"


Akhirnya Aby dan Umik melanjutkan makan malam mereka, hati Umik masih tak tenang beliau terus memikirkan Zira dan mimpi mimpi tang terus berdatangan seakan memberi tanda agar gadis itu lebih hati hati.