My Little Husband

My Little Husband
Aku bosan



Hari-hari pun berlalu, para santri masih sibuk memikirkan muhadhoroh dan Zira sibuk dengan kemantapan hatinya. Rikaz belum juga datang, Randi pun entah sampai kapan berada di rumah.


Setelah kejadian malam Jum'at lalu, semua santri sepakat kalau masih ingin membuat jaburan hanya senior Kobong dibantu dua orang. Cukup, tanpa harus melibatkan banyak orang serta drama. Kayla juga meminta maaf pada Zira, Zainab (staff kedisiplinan seragam), tapi enggan pada Aruna. Baru setelah mengobrol empat mata dengan Zira anak itu mau mengulurkan tangannya lebih dulu.


Sekarang hari Senin, jadwal hafalan imrithi/kitab lain sebanyak 25 bait, semuanya sudah sangat risau karena kalau tidak hafal mereka akan berdiri selama kajian kitab pertama. Ghisa dan Raida terlihat komat kamit mengingat isi kitab tersebut, Nura hanya pasrah saja sembali membulak balik halaman, sedangkan Zira? Dia masih menyiram bunga disamping Ndalem dengan baju seragam yang sudah rapih.


Semua orang mengira Zira pasti sudah hapal, nyatanya belum sama sekali. Semalam saking lamanya berfikir jadi lupa kalau sekarang ada hafalan, tapi memang dia jarang bisa memenuhi hafalan hari senin tersebut.


Suara riuh santri didalam kian surut, itu tandanya kalau Umy sudah datang. Bergegas Zira menaruh siraman dan masuk dengan senyum canggung yang sangat dipaksakan, Umy melihat kearah Zira yang semakin mendekat dan duduk berlulut sambil menyodorkan tangan.


"Ra, kamu Ndak perlu ikut setor. Sekarang pergilah ke teras Aby menunggu," ucap Umy setelah Zira bersalaman. Gadis itu mengangguk kemudian bergegas pergi ke teras.


Beberapa pasang mata menatapnya dengan iri, seolah mereka ingin memakan Zira hidup-hidup dan mengulitinya. Tapi, begitu Zira menoleh kearah mereka tatapan mereka langsung beralih ke yang lain.


Tak ingin ambil pusing, Zira bergegas kelur dan mulai melangkahkan kakinya menuju teras, dalam hati Zira bertanya-tanya ada apalagi ini? Tapi mau bagaimana pun pertanyaannya tak mungkin terjawab bila dia tidak datang.


Perasaan campur aduk kini menyelimuti hati Zira, tatkala ia disuguhi pertanyaan tepat ketika ia baru duduk didepan Aby. Bukan hanya mereka berdua, disana ada seorang bapak-bapak yang belum Zira ketahui siapa identitasnya.


"Bagaimana Ra, bisa kamu jawab?" tanya Aby.


Zira menelan salivanya, dia bingung sekali sebab Aby tiba-tiba mempertanyakan siapa yang akhir-akhir ia pikirkan sepajang malam.


Rikas atau Randi? Gumamnya pada diri sendiri, dia bingung—dua orang itu sangat memenuhi pikirannya belakangan ini. Jadi dia tak tahu siapa yang mendominasi.


"Ra, Aby bertanya..."


"Ta—tapi Bi, Zira sendiri tak tahu perihal itu," ambigu sekali ini jawaban, batinnya.


"Kenapa? Apa ada dua orang yang membebanimu?"


Pertanyaan Aby seolah jebakan buat Zira, dia melirik sekilas pada bapak-bapak yang serius memperhatikannya. Zira bisa saja jujur pada Aby tapi, mengingat ada orang lain ia merasa takut dikira kurang etika atau semacamnya.


"Dia malah lebih ke stres mikirin pendapat Aby."


Suara yang familiar tersebut terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka, Umy hadir dengan wajah menahan kesal. Mungkin karena mendengar pertanyaan yang Aby lontarkan pada Zira.


"Eh, Umy apa-apaan kali, Ziranya aja nggak gitu ko," jawab Aby. Tanpa repot menggubris pernyataan Aby, Umy lebih tertarik pada sosok bapak-bapak yang sudah familiar dimatanya.


"Ada Abah Randi juga?" Umy cukup heran perihal ini. Dan juga Zira kaget sambil melirik lagi kearah bapak-bapak yang katanya Abahnya Randi.


"Nggih Mik, saya kesini mau bertanya pada Aby. Soalnya di rumah Randi bersikap aneh," papar Abah Randi, kemudian berlanjut dengan menceritakan tangisan Randi serta acara mengurung diri di kamar terus-menerus.


Aby dan Umy saling pandang, mereka berdua merasa tak enak akan hal ini. Tapi, mengingat kesehatan Abah Randi mungkin mereka harus tetap sedikit merahasiakannya.


"Bisa saja, tapi dia sering menyebut nama Zira. Dan Nduk yang ini, apakah benar Zira?"


"Merasa namanya terpanggil Zira mengangkat wajahnya, pandangannya bersibobok dengan mata yang memang sangat identik dengan Randi."


"Nggih, saya Zira."


Zira lalu hanya bisa diam sambil menatap lantai dingin. Dia tak tahu harus bereaksi bagaimana saat ini, ingin sekali rasanya menghilang saat itu juga. Ditanyai perihal perubahan anak orang? Hey, ayolah bahkan ia sendiri lebih sering dibuat kalang kabut oleh Randi.


Hanya suara riuh santri putri yang menghangatkan suasana beku diantara empat orang tersebut, Zira dengan pikirannya, Umy dengan rasa kesalnya, Aby dan Abah Randi dengan rasa penasaran mereka.


"Sudahlah Bi, untuk apa memanggil Zira? Sungguh aneh. Kalau tau begini Umy ndak bakal izinin Zira kesini."


Aby menghela nafas, memang sepertinya keputusan ini agak kurang tepat. Tapi, Aby ingin kalau Zira bisa jujur pada Abah Randi karena Aby maupun Umy tak tahu ada hal apa dibelakang mereka selama ini.


"Nduk, Zira," panggil Abah Randi dengan lembut, Zira mengangkat wajahnya sebentar kemudian kembali tertunduk lesu.


"Sudah, jangan dipikirkan. Abah hanya ingin tau, kenapa Randi bersikap aneh demikian. Siapa tahu kamu mendengar sesuatu dari anak-anak, dan juga Randi selalu menangisi kamu sambil menatap kertas yang bahkan tak pernah ia perlihatkan. " Senyum diwajah Abah Randi tak pudar juga. Tapi, matanya menyiratkan kegelisahan yang nyata.


"Aku, bosan," gumam Zira.


"Apa Ra?" tanya Aby yang yakin sekali kalau Zira tadi mengatakan sesuatu. Umy menoleh heran pada suaminya, kenapa sangat penasaran pada perasaan Zira. Lalu jika misal Zira memilih Randi, apakah suaminya akan setuju?


"Ra, berbicaralah. Ada Umy disini, jangan takut." Lirikan tajam Umy tujukan pada Aby yang hanya tersenyum mengejek.


"Aku bosan, sudah terlalu banyak yang bertanya demikian. Padahal, kadang mereka jelas-jelas tau kalau Aku tengah babak belur oleh keadaan." Wajah manis itu mengeluarkan sisi lelah yang ia tangani seorang diri.


Aby, Umy dan Abah Randi terdiam kaget, mereka diam menunggu Zira untuk melanjutkan ucapannya tapi, sepertinya gadis itu memilih untuk diam kembali. Menyisakan tanda tanya besar pada mereka yang mendengarnya.


Aby menghela nafas, ini perkara sulit. Sepertinya keputusannya membuat mental Zira terguncang, sejujurnya Aby pun merasa bersalah tapi, nasi sudah menjadi bubur.


Abah Randi tersenyum arif, sepertinya memang ada sesuatu antara puteranya dan gadis dihadapannya ini. Jujur saja, ia sendiri merasa tertarik untuk melanjutkan obrolan lebih jauh, tapi melihat wajah Zira menjadi tak tega.


"Bi, sudah mboten napa-napa. Biar Zira kembali ke Majlis, dia pasti sedang mengaji 'kan." Seulas senyum menghiasi wajah yang mulai menuju usia senja tersebut.


Aby mengangguk, Umy masih menatap Zira penuh. Beliau belum puas akan jawaban Zira yang terkesan ingin menjelaskan namun, segan entah bagaimana.


"Ra, kembalilah ke kamar. Ndak perlu ikut ngaji hari ini. Sore bisa kamu nembel pada yang lain."


Umy merasa keputusannya tepat, Zira butuh waktu untuk sendiri. Mendinginkan pikiran serta kemantapan hatinya, ini adalah perkara seumur hidup. Bukan lagi sebuah permainan perasaan.