
Assalamu'alaikum...
ini dariku, Zira orang yang kamu sebut pengurus galak.
Iaa... kabarku sudah jauh lebih baik, aku malah menghawatirkanmu apalagi malam itu kamu kedinginan. Terima kasih ya, sudah menolongku,terima kasih sudah lebih khawatir padaku, aku senang kamu sangat peduli.
Masalah Mas Indro, aku memang sudah tau...dia sangat membenciku karena dulu aku menolak cintanya, dulu sekali mungkin sekitar tiga tahun lalu. Mungkin dia dendam sejak saat itu.
Masalah keputusan sidang, aku tidak menyangka sama sekali kalau Aby akan memilih jalan itu. Rasanya aneh sekali, tapi pasti Aby memiliki alasan khusus soal itu...ah kamu lupa memberi tahu dengan siapa kamu menghadap?
Aku sudah punya jawaban... tenang saja, aku tau kamu anak baik, aku tau kamu adalah tipe bertanggung jawab, tipe pekerja keras. Masalah Randi,,, biarlah berlalu lagi pula dia sudah dijodohkan oleh Aby dan kamj tau? aku memang tanpa sadar sudah menempatkanmu pada ruang kosong yang tak pernah diisi oleh siapa pun.
Menikah? terdengar seperti mimpi... tapi bagaimana pun saat ini kita berada di kenyataan,yaa meski sangat mendadak.
Tadi umy menjengukku, beliau ingin aku menolak hal itu,beliau merasa usiamu belum matang dan ingin agar aku terus melanjutkan ngaji. Tapi entah kenapa aku ragu akan keduanya,mungkin kamu mudah menerina keputusaan ini. namun, Siapkah kamu hidup selamanya bersamaku? mampukah kamu melawan rasa bosan yang hadir nanti? siapkah atas segala sesuatunya yang akan kamu tanggung?
Aku ingin menanyakan segalanya padamu, secara langsung... tapi aku tau ini bukan saat yang tepat. Nanti sore aku akan menghadap Umy dan Aby memberi taukan keputusanku, jadi bersabarlah. Tetaplah tenang, nanti malam aku ingin kamu sudah ada di depan langgar,tepat saat waktu jama'ah isya apakah bisa?
Baiklah, mungkin hanya itu saja penggalan kata dariku, terima kasih dan sampai ketemu lagi...
......Wassalamu'alaikum, Zira. ......
...untukmu, Beby R...
Tepat saat aku selesai melipat kertas tersebut teman-teman datang sambil membawa piring berisi makanan,aku tersenyum menatap mereka dan mereka pun balas tersenyum.
"Mbuh,makan dulu"titah Ghisa dan Nura.
"Mbuh belum lanjut cerita"tuntut Raida.
"Punya tugas nih buat Ede"
"Wah apa Mbuh? "Raida antusias.
"Ini... " aku memberikan lipatan kertas tadi dan menjelaskan apa yang harus dia lakukan, Raida mengangguk paham lalu mengacungkan jempolnya.
"Oke... laksanakan" dia memberi hormat lalu Kemudian keluar.
Ghisa dan Nura menatapku penuh selidik,aku tertawa kemudian menceritakan kalau surat itu untuk Rikaz. Mereka heran mengapa Rikaz bukan Randi? aku tersenyum kembali sambil mengangkat bahu.
Hayooooh!!
Suara itu mengagetkan kami semua, ternyata Syaiban yang mongok dijendela dengan senyumnya yang lebar dan khas. Ghisa mendengus lalu memakinya,bagaimana bisa ada orang senekat itu,berani ke araea UKSA yang letaknya tepat di pinggir Ndalem?
"Afwan, habisnya penasaran banget sih"
"Mba Zira baik ko, ga perlu khawatir"jelas Nura.
"De.. bener nggak papa? " sorot matanya penuh prihatin.
"Iah, udah gapapa ko"
"Senyum dulu"pintanya.
Bukannya tersenyum aku malah tertawa, sungguh konyol sekali pria satu ini,pasti kalau ustadz Hanan tau sudah pasti akan marah besar dan juga ceramah panjangebar,ditambah dengan hukuman membersihkan WC selama tiga hari.
"Ko malah ketawa sih, dee...Kaka lagi serius nih"
"Baik ko, ini buktinya udah ketawa"
"Badan kamu panas banget tau, pas Kaka bawa kamu kesini"
"Emang?"
"Ia... kamu ngga tau? kalo kaka yang kepanasan gendong kamu? parah sih kenapa nggak ada yang bilang"
"Emang penting?!"sewot Ghisa.
''Ya jelas lah, biar Zira tau kalo si Randi cuma bengong natap dia sama Rikaz, padahal Rikaz udah mohon-mohon biar Randi ngangkat Zira" jelas Syaiban, yang membuatku kaget, jadi.... Rikaz memohon pada Randi agar menyelamatkanku? tapi dia tak bergeming? ah ia bagaimana perasaannya saat ini? mungkin marah atau kecewa?
Entahlah, tapi anehnya aku sama sekali tak peduli lagi padanya,mungkin lebih tepatnya aku lelah peduli. Aku tersenyum kikuk sambil menatap teman-temanku satu persatu, mereka hanya menaik turunkan alisnya tanpa berkata apa-apa.
"Heh, istighfar Syaiban!!!"
Bentakan keras seperti itu kami sudah hafal betul, kalau itu adalah Mba Ai.
"Bentar doang Mba... yaaaah" rengek Syaiban.
"Udah, udah... jangan bikin masalah"
Mba Ai meneruskan jalannya, kami terkikik pelan tapi sedetik kemudian mereka menatapku tajam dan menelisik membuatku salah tingkah sendiri.
"Nggak bikin surat buat Mas Randi?"tanya Nura.
"Ndak..."jawabku mantap.
"Wasiat, belum dilanjutin"
"Eh ia... inget terus kamu Saa"
"Apaa buruan... "rengek Raida.
"Wasiat nanti dulu, sekarang masalah ta'ziran yang aku terima... "
Aku menghembuskan nafas berat, menatap mereka yang serius menunggu kelanjutan ceritaku.
"Menikah dengan Rikaz... "lirihku, seakan ada sesuatu yang mengganjal dikerongkongan ini.
Hening, semuanya diam tapi detik berikutnya...
"Haaaaaah???? "
"Serius? "
"Nikah? sama beby R?!"beo Nura.
"OMG Buh... ko bisaaaa"
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, kemudian menceritakan isi surat dari Rikaz tadi dan juga balasan dariku serta kedatangan Umy,tapi tentu saja keputusan ini masih dirahasiakan dulu.
"Kamu jawab nggak kan?" harap Ghisa "atau ia? " dia ngeri sendiri sepertinya.
"Tunggu nanti sore yah.... sabar"jawabku.
"Kalo nikah, Mas Randi gimana? "tanya Nura.
"Dia... dijodohin sama Selaya"ucapku.
"Lah dia kan nolak" kata Raida mantap. Kemudian dia bercerita kalau dia tau berita itu dari Bang Ojan, ternyata Randi sudah punya pilihan sendiri dan Aby menyetujuinya. Aby memberinya waktu satu bulan untuk menguatkan tekadnya.
Kami hanya saling padang, aku dan Ghisa meneguk saliva bersamaan seolah punya satu pemikiran.
"Jangan bilang kita satu pikiran"ucapnya,tapi sayang aku mengangguk.
"Pilihan Randi adalah Zira,tapi sayang skandal ini membuat dia sangat shock"
Kami menoleh ke asal suara, ternyata disana Mba Nandya sedang berdiri sambil bersandar pada pintu. Sejak kapan dia disana? semoga tidak mendengar soal surat itu.
''Ndak mungkin Mas Randi milih saya,kita semua tau betul selera dia"elakku.
''Kamu tau apa itu cinta? cinta itu tumbuh karena terbiasa"
"Aku juga tau *kalo itu mah...''kata Nura.
''Nah ia itu tau... mungkin Kang Randi nyaman dengan kehadiran Zira yang selalu mengganggunya''
Ghisa sudah mengepal tangannya, mengapa dia begitu kesal? karena raut wajah Mba Nandya memang menjengkelkan jika sudah menyiyir, kalian harus lihat kapan-kapan.
''udah? mending balik ke kobong...gemesh da ngedengerinnya''usir Ghisa secara halus nan sopan.
''Hhhh wajar aja Kang Abus nggak suka, la yah kamunya gini toh''ejeknya lagi.
''Terserah,nggak peduli lagi! ''
''Wah beneran? yaudah aku mau comblangin Kang Abus sama Mba Fey'' Mba Nandya mulai mengompori Ghisa yang memang sudah panas.
Terahir Nura segera merangkul Mba Nandya dan mengajaknya keluar agar situasi kembali dingin dan tenang. Aku bersyukur anak itu peka juga,Raida hanya menonton tanpa itu ambil andil toh Mas Athirnya tidak disebut sama sekali.
''Daa... Athir sedang mencari kunci motor dan kamu tau? Amba yang mencarikannya''teriak Mba Nandya yang jelas membuat Raida seketika geram. Semua orang tau kalau Raida dan Amba secara terang-terangan berebut Mas Athir padahal cowo itu sangat dingin.
Raida yang kesal kemudian mencari Mba Nandya,kini tinggallah aku dan Ghisa yang saling diam dan juga menatap ke arah luar jendela.
''Kalo kamu udahan, nanti siapa yang terang-terangan nyindir Raida? siapa yang minta pisang buat maskeran? siapa yang nyapu meski mulut bilang males? ''
''Tenang aja... semuanya bakalan baik-baik aja ko" ucapku dengan tenang, semoga... imbuhku dihati*.