My Little Husband

My Little Husband
Firasat



Menatap kosong pada gerombolan ikan koi dalam akuarium, adalah kegiatan yang tengah dilakukan oleh bocah tengil yang dicari oleh Zira. Entah kenapa ia hanya diam seperti orang linglung begitu, padahal sedari tadi adik kecilnya menarik baju Koko biru yang ia kenakan.


"Bang, Abang Rikaz..."


"Eh, ia kenapa?" Tanyanya gelagapan.


"Aku mau pulang, salim dulu." Sembari menjulurkan tangan, bocah kecil itu berucap.


"Ah, ia udah mau pulang ya? Yaudah hati-hati yah salam buat Om yah," balas Rikaz.


Anak kecil itu mengangguk kemudian segera berlari ke teras, disana mobil hitam Pajero sudah menantinya. Rikaz kembali menatap ikan koi itu, Ia lupa berpamitan pada Zira, tapi tidak mungkin juga dia mencarinya. Arrrggh, semua ini membuatnya semakin kalut entah kenapa dirinya merasa kalau semua ini terlalu salah.


Kemana keyakinannya yang kemarin? Kemana perginya semua alasan dia mau menerima hukuman ini? Ah, percakapan kemarin membuatnya se-resah ini.


Padahal pamannya hanya bertanya perihal kesiapannya dalam hal ini, tapi pertanyaan terakhir membuatnya se-kalut ini.


"Kaz, pastikan dulu Zira menerima ini sebab apa. Karena terpaksa akan menjadi mala petaka, tanyakan padanya adakah yang ia cintai."


Rikaz tidak bodoh, ia tahu betul kalau Zira pasti masih menyimpan nama Randi pada sudut hatinya. Tak peduli seberapa sering pria itu menyayat luka. Segala fakta itu seolah ia buang demi mendapatkan Zira sutuhnya.


Haruskah ia bertanya? Tapi, hal itu akan melukai Zora dan dia tak ingin kalau hal itu terjadi. Ah, sial mengapa sebegini rumit?.


Masih sibuk bermain dengan angan, dering ponselnya mengacaukan segalanya.


"Waalaikumsalaam, ada apa?"


Mata Rikaz membulat, cerita orang disebrang sana membuat hatinya kembali gundah. Begitu sambungan terputus, ponsel itu dia lempar ke atas kasur kemudian berbaring.


"Masalah baru lagi..."lirihnya, ia lelah masih sekecil ini sudah dihadapkan dengan masalah macam ini. Ia memejamkan mata, menikmati sensasi indah bersama kegelapan, tapi suara isak tangis tetiba mengganggunya.


ia melihat Zira tengah menangis entah karena apa. Disana pula ada Randi yang sibuk dengan dunianya sesekali tertawa sembari mengocehkan nama Zira. Rikaz bingung, ini mimpi ataukah nyata? Dia mendekati Zira, bertanya dengan lembut apa yang terjadi tapi, hanya tangis yang terdengar.


"Ziraaaaa, kamu harus disini temenin aku aja,"ujar Randi dengan binar polos bak anak kecil tanpa dosa.


Rikaz mundur, dia tak tahan akan pemandangan didepannya. Sebenarnya ada apa ini? Mengapa Randi malah menjadi seperti ini? Dan Zira, mengapa ia menangis tanpa jeda? Rikaz terus mundur hingga tak sadar dibelakangnya adalah jurang.


Aaaaaaaa, bugh!


Arrgh, erang Rikaz begitu wajah serta tubuhnya mendarat pada dinginnya lantai. Nafasnya memburu, matanya mengerjap, dadanya naik turun seiring peluh yang mengaliri wajah kagetnya. Dia bersyukur ini hanya mimpi, jika nyata mungkin sudah wafat sekarang juga.


"Den, ada apa?"


"Nggak papa ko, tenang aja."


"Ia pak Seto, hati-hati ya..."


Rikaz kemudian duduk dan minum seperti orang balik marathon keliling komplek. Ia gelisah memikirkan mimpi tadi bebannya bertambah satu lagi, dan itu ia sendiri yang menciptakannya. Ada notifikasi dari aplikasi berwarna biru, lockscreen yang menggunakan foto Zira tengah tertawa membuatnya sedikit menghangat.


'Assalamu'alaikum...Kaz, kamu dimana? Sehatkan? Aku tanya Bima, Idan, Walidin katanya gak tau kamu dimana.'


Satu pesan yang bernada khawatir tersebut membuat senyum lebar terbit, menghempaskan segala kegundahan yang tadi melanda. Dengan semangat empat lima Rikaz membalas,


'Waalaikumsalaam, ia Mbak. Hehe, maaf aku lupa bilang kalau pulang. Iah, mereka nggak tau kalau aku pulang. Maaf ya, kenapa?'


Setelah mengirim, ia merasa sangat bahagia dan lega apalagi ternyata Zira tengh online juga. Jadilah mereka berbalas pesan. Rikaz tau, Zira pasti mengkhawatirkannya sebab biasanya ia selalu hadir dan mereka tertawa bersama, ah jika saja ada sedikit ruang dihati Zira untuknya pastilah ia sangat gembira.


'Kaz, aku boleh tanya?'


Rikaz mengerutkan keningnya, firasatnya agak kurang enak perihal ini tapi, bagaimana pun ia perbolehkan juga.


' Cuma mau tau, kamu bukannya pernah suka ke Layla ya?'


Layla, satu nama itu memang pernah menyita perhatiannya tapi, seolah tak berdaya jika disandingkan dengan Zira. Dia sendiri tau kalau Layla seusia dengannya, tapi apa dikata cinta sudah menentukan rumahnya.


'Pernah, tapi udah hilang. Soalnya nama itu terlalu kerdil bersaing dengan maha ratu.'


Hanya itu jawaban Rikaz, ia juga ingin bertanya perihal Randi, tapi enggan membuat Zira terlukai lebih dalam lagi. Sudah cukup segala duka yang ia terima selama jatuh hati pada orang seperti Randi. Rikaz berjanji dalam hati, kalau Zira akan bahagia bersamanya.


Obrolan mereka berlanjut, Zira bercerita perihal sepinya pondok tanpa suaranya yang khas, sepertinya mood gadis satu itu sedang baik dan Rikaz bersyukur akan hal ini. Karena siapa pun juga tau kalau marah Zira adalah sesuatu yang harus diperhitungkan, gadis itu kadang selalu tersenyum ketika bertemu orang tapi, setelah berlalu wajahnya menjadi sangat dingin kemblali.


Sudah waktunya untuk Nuskahan jadi mereka pun memutuskan mengkahiri obrolan tadi.


' jangan lama ya, sepi '


' nggak janji yah, babay '


Bergegas Rikaz mematikan dara selulernya, takut malah mengganggu Zira. Pikirannya kini bercabang lagi, perihal mimpi, masalah toko, perkataan paman serta Neneknya yang ingin agar mereka segera menikah. Sebenarnya Rikaz ingin bertanya pada Aby, mengapa sampai sebegininya pada mereka berdua.


Angan tetaplah angan, hayal belum tentu menjadi sesuatu yang nyata. Mimpi memang sebuah misteri tapi taqdir sesuatu yang ditetapkan ilahi.


Hatinya gundah, realita benar-benar mengombang ambingkannya dalam lautan kebingungan yang dasyat. Tapi mungkin benar, ia harus bertanya pada Aby setelah itu pada Zira agar firasat serta kemungkinan tak jelas segera tuntas.


Harus secepatnya, meski akan menggores hati Zira.