
Hening kembali...
Santri putri pun tak terdengar riuhnya dan santri putra mulai berdatangan untuk mengaji. Tapi, begitu melihat ada tamu di teras mereka bergegas berbalik arah dan menunggu di gazebo depan.
"Ra, kembalilah ke kamar. Tidak perlu ngaji hari ini, oke?"
"Nggih Mik," Zira maju sambil menyalami Umy, kemudian tersenyum sembari mengangguk pada Aby dan Abah Randi.
"Assalamu'alaikum..."ucapnya sembari mundur dan menghilang ditelan tembok garasi.
Zira agak kaget karena ternyata sudah banyak santri putra di gazebo, terlebih ada Toga, Sayron dan Syaiban yang menatapnya penasaran. Dia segera mempercepat langkah menuju kamarnya, kamar pojok yang selalu membuatnya merasa nyaman.
....
Seperginya Zira, Abah Randi pun pamit untuk pulang. Karena merasa mengganggu jadwal kegiatan Aby maupun Umy.
"Ngapunten nggih Bi, Mik, jadi merepotkan dan juga mengganggu jadwal kegiatan," tutur Abah Randi.
"Bonten Bah, hanya saja Umy ini sedang aneh pada Aby,"
Abah Randi hanya tersenyum, kemudian bersalaman dan bergegas keluar. Benar saja, sudah banyak santri putra yang duduk di gazebo sambil menderes kitabnya masing-masing.
Toga dan Sayron menghampiri Abah Randi, sambil menanyakan keadaan bos mereka.
"Bah, Mas Randi kapan kesini?" tanya Toga.
"Wah, mungkin secepatnya, dia sedikit kurang enak badan."
"Salam ya Bah, suruh cepet kesini. Tapi, kalau belum sanggup nggak usah. Kita khawatir aja sama perasaannya," ucap Syairon yang jelas mengundang tanya. Mau bertanya lebih lanjut, ternyata ngaji Aby akan segera dimulai.
"Ya sudah bah, kami duluan nggih, assalamu'alaikum..." ucap Toga dan Syairon berbarengan.
Abah Randi terdiam sejenak, memilih duduk dekat pohon nangka yang tengah berbuah dengan lebat. Mata itu menatap langit yang sedikit dihiasi mendung, hingga sapaan menyadarkannya kembali.
"Pak ustadz Syam'un 'kan, Abahnya Mas Randi?" Sapa pria berusia sekitar 26 tahun tersebut.
"Nggih, lah Mas ini siapa ya?"
"Wah, Abah lupa nggih, saya Sa'ad Bah,"
"Ya Allah Mas Sa'ad?! Apa kabar Mas, suda lama loh tidak berkunjung ke rumah"
"Hehe kemarin lama di rumah, alhamdulillah baik Bah, Abah bagaimana?"
"Alhamdulillah, seperti yang Mas lihat ini."
"Abah mau pulang?"
"Nggih, tadi habis silaturahmi ke Aby dan Umy," binar bahagia terpatri dari kedua bola mata itu.
"Gimana kalau pulangnya bareng saya? Sekalian ada hal yang ingin saya bicarakan pada Mas Randi,"
"Boleh sekali, ayok kalau begitu kita pulang sekarang."
"Sebentar Bah, ada yang ingin saya ambil dulu nggih,"
"Ia, ia silahkan Mas,"
Mas Sa'ad pun berlari kecil menuju kobongnya, mengambil tas selempang dan helm. Kemudian segera berbalik karena tidak ingin membuat Abah Randi menunggu lama.
"Insyaallah ndak ada yang tertinggal, mari bah saya yang bawa,"
Akhirnya ustadz Syam'un alias Abah Randi pulang sambil diboceng oleh Mas Sa'ad. Sepanjang perjalanan pun mereka asyik mengobrol hingga sampai depan rumah.
Ternyata Ibu Randi sudah menunggu di teras dengan wajah cemas, Abah yang melihat itu pun segera turun dari motor dan menghampiri istrinya.
"Assalamu'alaikum, kenapa Bu?"
"Waalaikumsalaam, itu loh Bah, tadi Randi menangis lagi. Lebih keras dari kemarin, Ibu khawatir."
"Assalamu'alaikum," ucap Mas Sa'ad dengan sopan sembari menyalami Ibu Randi.
"Waalaikumsalaam, Mas Sa'ad."
"Randi tadi kenapa Bu?" Tanya Mas Sa'ad dengan raut wajah khawatir. Ibu Randi pun bercerita, membuat wajah Mas Sa'ad sangat kaget.
"Ada apa toh Mas? Mukanya terlihat sangat kaget." Tanya ibu Randi dengan wajah semakin gelisah, Mas Sa'ad segera menormalkan mimik wajahnya.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita ke Randi dulu."
Akhirnya mereka menuju kamar Randi yang terkunci dari dalam, suara isakan lirih masih terdengar. Abah mencoba membujuknya tapi gagal, Ibunya sudah kehilangan kata-kata agar putranya itu mau membukakan pintu. Hanya air mata yang menitik dari kelopak tuanya.
Tak lama, suara adzan dzuhur terdengar dari masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Abah Randi bergegas mengambil wudhu karena harus menjadi imam. Sedangkan Ibunya memilih masuk ke kamar, meninggalkan Mas Sa'ad yang duduk sambil menyandar pada pintu.
"Mas, Abah duluan nggih. Mau bareng atau solat disini?"
"Bareng saja Bah."
Mas Sa'ad merasa kalau mungkin setelah sholat nanti Randi bisa tenang, lagi pula didalam kamar Randi sudah ada kamar mandi, pastilah anak itu tidak akan keluar sebelum tenang.
sepanjang alanan menuju Masjid, banyak warga yang menyapa. Baik pada Abah Randi maupun Mas Sa'ad, karena memang dulu cukup sering ia menginap di rumah Randi. Suasana kampung sini masih sangat asri, warga-warganya pun rukun dan damai. Meski tak jarang ada perselisihan kecil antara tetangga tapi, itu adalah hal wajar. Kebanyakan profesi warga adalah petani serta kuli, oleh karena itu Masjid agak sepi.
Begitu Abah Randi datang, beliau langsung menunaikan sholat qobliyah Dzuhur dua raka'at disambung jama'ah dzuhur.
...
Sementara itu, Randi masih berdiam diri dibalik selimutnya. Menutup rapat-rapat telinga dari bisikan yang dia sendiri tidak meyakini keberadaannya. Untunglah ketika adzan terdengar semuanya lenyap, menyisakan dia seorang diri yang bernafas dengan terengah-engah.
Bergegas ia berwudhu dan sholat, dilanjutkan dengan do'a panjang tak berkesudahan. Mengeluh perihal masalah yang ia hadapi saat ini, mengaduh akan perihnya patah hati. Beberapa kali ia ingin membuka pintu ketika suaranya dipanggil, tapi ia malu jika menampakkan diri dengan keadaan sekacau ini. Barulah ia mau membukakan pintu ketika suara Mas Sa'ad terdengar mengetuk qolbu.
"Ran, ini saya. Buka pintunya, tak ada kesedihan abadi. Tak ada pula cinta tanpa rasa kecewa. Apa kamu lupa? Disetiap luka terdapat pelajaran bermakna."
Seakan ditarik dari mimpi panjang, Randi bergegas membuka pintu dan mempersilahkan Mas Sa'ad untuk masuk.
"Hey, baru beberapa hari di rumah kamu udah kurus kaya gini." Ledek Mas Sa'ad guna mencairkan suasana, tapi tidak berpengaruh banyak.
"Beginilah adanya," jawab Randi sekenanya. Mas Sa'ad terkekeh pelan, ia tahu betul ini hal pertama untuk Randi. Anak satu ini memang sulit jatuh hati, sekali jatuh hati malah dilanda sedemikian rupa.
"Ran, kamu tau pondok lagi rame masalah kamu, sana-sini menggosipkan kamu dijodohkan."
Tangan Randi terkepal kuat, ia paling malas jika orang-orang yang tidak tahu apa-apa ikut campur dalam hidupnya. Tepukan dibahu membuatnya sadar lagi, kemudian segera beristighfar.
"Kamu berhak sedih, kamu berhak marah sementara. Tapi, jangan sampai kamu malah mengumpat taqdir, jangan sampai kamu malah mencelakai diri sendiri. Dan jangan sampai kamu menghilangkan imanmu itu."
Helaan nafas menjadi jeda dari deret kalimat penuh makna tersebut,
"Saya tau ini berat, saya tau ini sulit. Tapi, seringlah baca Al-Qur'an disana kamu akan mendapat ketenangan, seperti saat kamu merindukan dia dahulu."