
Maghrib pun tiba... Nura tengah tersungut-sungut karna Raida dan Ghisa terus menggodanya tentang aula santri putra yang katanya seram jika malam jum'at begini apalagi ditambah angin yang berhembus agak kencang membuatnya semakin ketakutan
"Kalian... aku bilangin Mba Zira loh"
"Hu tukang ngadu dasar Nura"
"Kaliannya sih ... jangan nakutin mulu geh"
"Hehe... ia nggak kan cuma ngingetin Nura"
Tak lama mereka terdiam karna melihat kehadiran Zira yang sudah rapih dengan mukena dan sajadah dipundak kanannya, dia menghampiri mereka membuat mereka saling diam.
"Ayok.... sholat berjama'ah"
"Iyah... mau wudhu dulu ya" jawab Ghisa sembari tersenyum lalu segera kabur ke kamar mandi, tinggal Raida dan Nura yang nyering kuda dihadapan Zira
"Hehe... udah sholat duluan Mba.. maaf" ucap Nura kikuk, Raida ikut mengangguk tapi sebelum Zira membalas ada suara yang mendahuluinya
"Eh... kamu Raida dan Nura, masa jarang jama'ah tapi giliran keluar jajan ada? ga malu tah ama junior? kamu ge Zira ko masih disini uda hampir mulai noh" setelah mengucap demikian orang itu pergi ke dapur membawa cucian piring, ingin rasanya Nura mendorongnya dari belakang agar piringnya berhamburan tapi dia tau Zira takan membiarkannya.
Gadis itu terdiam menghela nafas, dia tau persis bagaimana kepribadian orang yang baru saja menegurnya, junior katanya? padahal dia juga baru kemarin 3 tahun pertama, hanya saja karena usianya sudah dewasa dia dimasukan ke daftar piket Ndalem.
"Bilangin ke Ghisa... aku duluan ke Tajug"
"Iya Mbuh" jawab Raida dan Nura bersamaan lalu Zira melangkah menuju Tajug meninggalkan kedua temannya yang saling terdiam karna merasa tak enak hati.
Jama'ah maghrib biasanya ramai apalagi sekarang malam jum'at setelah ini adalah acara 'nuskahan' atau pembacaan maulid diba' yang mana setelah selesai acara tersebut biasanya dibagikan jabur ala kadarnya oleh kamar yang bertugas, ada dua kelompok ... kelompok pertama bertugas memimpin acara hingga akhir mulai dari lagam, rowi serta do'a... kelompok kedua bertugas membuat jabur, kadang cilok, cimol, cireng, gembleng dll sesuai bahan yang ada didapur Ndalem.
Tapi masalahnya saat ini Zira tengah piket beras dan hal itu harus membuatnya meninggalkan kegiatan nuskahan , dia sebenarnya bisa mengoper tugas itu pada senior lain karna dia harus selalu hadir dalam acara apapun selaku ketua seksi kegiatan tapi sayang dia bukan tipe orang yang mudah memindahkan tugasnya pada orang lain.
"Ra... kamu piket ya? " tanya Mbak Siska
" Hehe... nggih Mbak"
"Kugantikan saja yo... kamu nuskahan awasi anak-anak"
"Haduh ndak usah Mbak, ini tugasku lagian sebentar saja.. insyaallah ditengah nuskahan aku datang"
"Owalah yasudah ... aku capek ngasi tau mereka itu loh suruh rapi dan tertib bacanya"
"Sabar Mbak, dulu kita juga pernah begitu"
"Betul kamu itu hahaha... yasudah duluan nggih"
"Nggih..."
Zira kemudian membuka al-qur'an dia mulai menderes juz 27 yang baru selesai ia hapal kemarin, baru membaca dua kali putaran tiba tiba kelebat bayangan Rikaz mengganggu konsentrasinya.
"Astaghfirullah"
Dia menutup al-qur'an dan terus membaca istighfar berulang kali, sungguh aneh anak itu tiba-tiba masuk dalam benaknya sebenarnya ada apa dengan hatinya? sepertinya dia harus kembali kekobong karna teman-teman sudah pasti menunggunya untuk makan.
"Ra... makan yu aku laper" ucap Raida didepan pintu Tajug, dasar anak satu ini jama'ah tak hadir tapi berani mendekat ke Tajug
"Hayo ini mau bangkit" mereka lalu bergandengan menuju kobong, lalu Raida melontarkan pertanyaan kecil
"Ra... kalo kamu nikah ama beby R gimana? "
"Lah ko beby R? "
"Misal... tinggal jawab aja"
"Ga gimana-gimana ya jalanin"
"Buset.. beneran? "
"Katanya misal.. ya iya mungkin dia taqdirkan? "
"Iya juga ya... hmmm semoga enggak"
"Lah kenapa? "
"Anaknya ngeselin "
"Tapi bikin mood booster tau"
Raida menatap Zira tak percaya, mood booster katanya? biasanya hanya Syaiban yang bisa membuatnya bahagia tanpa tapi, apa Zira menaruh hati pada Rikaz? karna Raida tau sesedih apapun dia jika anak tengil itu yang mencarinya Zira akan menemuinya.
"Dia punya aura positif yang bikin aku selalu bahagia... semoga ada versi gedenya ya" ucap Zira sambil tersenyum tulus Raida sampai kaget dibuatnya.
"Mbuuuuuuh...." teriak Nura dan Ghisa berbarengan mereka sangat menunggu Zira, tapi yang dipanggil hanya tersenyum lalu masuk ke kamar berganti dari mukena ke kerudung.
"Dek... kenapa ko diem? " tanya Ghisa mereka memang memanggil Raida dengan sebutan Dede atau Adek karna dia adalah anak bungsu padahal jika umur Nura paling kecil
"Tumben ngelamun"
"Ayo makan" ucap Zira yang sudah duduk diantara mereka, akhirnya mereka mulai makan sambil diselingi pembahasan ngaji tadi pagi, karna makan sambil membicarakan akhirat sangat dianjurkan.
"Udah? "
"Hehe ia... " Zira lebih dulu berhenti dan mencuci tangannya padahal nasi mereka baru habis separuh, dia duduk di tepi menatap bintang sambil mendendangkan syiir dalam hatinya.
"Mba.. mau ambil beras kapan? "
"Pas putra udah mulai nuskahan aja"
"Juru kunci siapa? "
"Ustadz hanan kayanya"
"Ouh... yasudah"
Mereka pun duduk menemanin Zira menatap bintang kecil dilangit yang tampak lebih gelap, apakah akan turun hujan? ah semoga saja tidak karna jika hujan turun Zira dan Nura harus larut malam ke gudang dan hal itu mustahil untuk dia lakukan.
"Ayok" ucap Zira mengajak Nura mengambil beras lebih awal dia khawatir hujan turun tapi saat ini putra masi makan di aula lalu bagaimana mereka lewat?
"Ra... minta tolong aja ke Bang Ojan ya? "
" Gausah... ga mau repotin"
" Ta... tapi... "
"Ga perlu... ayok Nura"
"Siap Mbuh" jawab Nura lemah seperti prajurit yang kalah dalam pertempuran
Akhirnya dengan sangat terpaksa Nura mengikuti langkah Zira ke arah aula putra disana sudah mulai ramai karna memang waktunya mengambil jatah makan, mereka berdua berjalan sambil menundukkan kepala tak menggubris sahutan demi sahutan
"Weeeee ada Nura nih"
"Cie cie Qail nih bebepnya nyamperin"
"Eh ama siapa tuh"
"We.... itu Zira" seketika semua sahutan terhenti karena orang yang bersama Nura adalah Zira mereka semua tau bagaimana galaknya Zira dan kedekatan dia dengan keluarga Ndalem.
"Dek... " panggil Syaiban dari aula
"Apa? " tanya Zira sambil mendongkak
"Mau ngapain? "
"Piket ambil beras"
Zira lalu mempercepat langkahnya Nura sampai kewalahan mengekorinya...lalu saat sampai di gudang padi lampu tiba-tiba padam dan kilat serta guruh terdengar memekakkan telinga Nura reflex berlari keluar dan langsung menuju pondok putri meninggalkan Zira yanf tampak tenang didalam gudang.
Zira bingung harus bagaimana sekarang, jika hujan turun lebat sampai pagi mereka tak bisa mengambil beras lalu jika sekarang dia membawa karung ini seorang diri dia tak mampu, akhirnya dia duduk didekat pintu berharap seseorang datang lalu tak lama sorot senter membuatnya berdiri.
Ternyata Rikaz dan Hendro yang masuk mereka berdua agak kaget melihat Zira yang berdiri mematung dalam gudang gelap ini
"Mba? ko disini"
"Piket ambil beras, ama Nura tapi dia kabur"
"Yaudah aku mau cek MCB dulu Mba"
"Eh, Kaz... alatnya ada di kamar Mas Dudi bentar saya ambil"
"Iya... jangan ditutup pintunya takut fitnah uda mah rusak pintunya"
"Iya" jawab Hendro datar lalu seringai muncul saat ia berbalik, ya itu adalah tujuannya dia ingin menimbulkan fitnah untuk Zira yang mengharuskan gadis itu keluar dari pesantren, dia keluar tak menutup pintu tapi mengaitkan sebuah benang ke gagang pintu lalu secara spontan menariknya seakan-akan hal itu terjadi oleh angin.
"Kaz... pintunya ketutup! " ucap Zira panik
"Ya ampun... " Rikaz lalu mendekati pintu mencoba menariknya tapi usahanya gagal dia mencoba berteriak tapi suaranya teredam suara air hujan yang disertai gemuruh kilat.
"Gimana? " tanya Zira
"Gatau... semoga ada yang bukain ini pintu nanti"
"Tapi... "
"Mba jangan takut, aku disini saat ini jagain Mba"
Zira tersenyum lalu mengangguk paham, dia tau anak ini akan menjaganya.