
Sepanjang perjalanan pulang, Mas Sa'ad terus terbayang wajah keluarga tadi, wajah pengharapan serta ketidak berdayaan. Sebenarnya ia juga memikirkan perihal ini, soal Zira yang katanya akan dijodohkan dengan Rikaz. Ah, ingin rasanya menghadap Aby dan mejelaskan segalanya. Ia, sepertinya harus ia lakukan.
Dengan harapan baru, mas saad menjalankan motornya dengan riang menuju toko bangunan untuk membeli paku serta beberapa hal lainnya. Untungnya tadi, ia sudah meminta tolong pada Athir agar membawakan motor ke depan gang rumah Randi. Jadilah ia sekarang bisa berbelanja dengan perasaan senang dan ekspetasi yang tinggi.
Sementara itu, di pondok, Rikaz baru saja datang bersama pamannya. Tengah menunggu Aby yang katanya sedang memberi pakan ikan terlebih dahulu.
"Bang, kamu risau gitu kenapa?"
"Nggak."
Rikaz masih dongkol dengan pertanyaan pamannya tempo hari. "Jangan ngomong macem-macem ke Aby," ancam Rikaz, pamannya terkekeh sambil mengacungkan dua jempolnya tanda setuju.
"Eh, Rikaz rupanya. Sudah seminggu kah?"
"Belum Bi, tapi sudah minta balik aja dia." Balas pamannya sembari menyalami guru dari keponakannya tersebut.
Aby terkekeh, memang sudah beberapa kali bertemu dengan paman rikaz yang paling muda ini. Jadi sudah tidak canggung serta tau wataknya seperti apa.
"Aby sehat?"
"Alhamdulillah,"
Obrolan pun mengalir begitu saja, tetapi rikaz merasa sangat terganggu akan topik yang dibahas adalah perihal pernikahan.
"Assalamu'alaikum..."
Suara salam menghentikan obrolan asik itu, semuanya menjawab dan munculah Mas Sa'ad membawa belanjaan yang cukup banyak.
Mas Sa'ad melirik sekilas ke arah Rikaz, bingung kini melanda. Haruskah sekarang membicarakannya? Ditambah ada keluarga Rikaz. Akan tetapi, bukankah ini juga kesempatan bagus?
"Berapa totalnya Mas?" tanya Aby, Mas Sa'ad pun menjelaskan sembari menyerahkan nota. Aby manggut-manggut paham, kemudian mengucapkan terima kasih.
"Ngapunten Bi, ada yang mau saya sampaikan," ujar Mas Sa'ad setelah memantapkan hatinya. Biarlah ia menanggung sedikit rasa marah dari Aby.
"Apa itu, Mas? Sepertinya sangat penting terlihat dari raut wajahmu."
"Tadi ... saya ikut ke rumah Randi, melihat keadaannya yang kata Abahnya murung. Ternyata benar Bi, bahkan makan pun hanya sehari sekali, tanpa keluar kamar. Saya khawatir akan kondisi mentalnya." Jelas Mas Sa'ad panjang lebar, ia pun tak lupa menambahkan soal ibu Abah Randi yang sangat ingin mengobrol dengan Zira.
Rikaz yang mendengarkan 'pun ikut tak nyaman, ia merasa seperti orang jahat saat ini. Apalagi tatapan pamannya yang menyimpan segudang tanya.
"Maaf saya menyela, tetapi jika boleh tau siapa Randi ini?"
"Randi adalah orang yang dicintai Zira, seorang Mas ndalem."
Semua orang menoleh pada sumber suara itu, ternyata Umy sedari tadi berdiri dibalik pintu. Jawaban Umy sedikit membuat Rikaz merasa tersentil, ia tahu betul kalau Umy belum mendukung keputusan Aby.
"Umy? Ada apa datang-datang nimbrung begitu," ujar Aby sembari terkekeh pelan. Mencoba mencairkan suasana.
"Nyari Mas Sa'ad, rupanya ada disini. Mana belanjaan Umy?"
"Ngapunten Mik, belanjaan yang mana?" tanya Mas Sa'ad bingung. Seingatnya Umy tidak menitipkan catatan apa pun.
"Sama Athir nggak dikasihkan toh?"
"Tidak ada, Mik. maaf,"
"Yasudah, panggil Athir. Umy tunggu di belakang."
Mas Sa'ad pun pamit undur diri, sementara Aby memandang Umy dengan tatapan kurang suka. Bagaimana pun sekarang ini ada tamu, tak bisakah Umy sedikit saja untuk tenang?
Umy tersenyum kemudian kembali masuk, meninggalkan getir dihati Rikaz serta segudang tanya untuk pamannya.
Aby menghela nafas, ia melihat Rikaz yang langsung mengalihkan pandangan serta tangannya yang mengepal. Paham betul kalau Umy tengah terang-terangan menyuruh anak itu untuk mundur. Posisi Aby saat ini sangat tidak menguntungkan.
"Yasudah Bi, mungkin nanti sore kita lanjut, pamit memanggil Athir." Mas Sa'ad segera keluar dan bergegas memanggil Athir, ia kini sudah tau kalau Umy belum merestui jalannya perjodohan ini. Lagi pula, jika hanya kendala kasus lumbung takan sampai seperti ini. Pasti ada penyebab lainnya.
Paman Rikaz hanya diam, ia yang bingung sekarang ini semakin menjadi bingun setelah melihat raut wajah Aby. Ada rasa penasaran yang tinggi tapi harus ia tahan kuat-kuat. Jadi, inilah alasan kenapa Rikaz tak mau memberitahunya periha Zira sedikit pun.
"Mohon maaf, Bi. Sepertinya hampir ashar, saya pamit."
"Ah, ia, mau langsung pulang atau menginap?"
"Gimana nanti, Bi. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalaam."
Aby mengantar hingga pagar depan, kemudian menatap punggung rikaz yang sedikit terlihat bergetar. Hati kecilnya tak tega pada peristiwa sekarang ini. Tapi, bagaimana lagi semuanya sudah kadung menjadi begini.
Dan Umy, sudah terlalu terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada Rikaz. Harus berbicara lagi, meski akhirnya Umy hanya akan diam dan menangisi Zira.
Masalah Randi, Aby tak pernah tau kalau cintanya sudah sedemikian dalam. Pertanyaan paman Rikaz juga mengusiknya, siapa Randi? Aby mempertanyakan hal itu sekali lagi pada dirinya sendiri.