
Ada rasa lega menelusup dalam benak Randi, sangat samar, tapi mampu membuatnya sadar dari hingar bingar keleburan rasanya. Ia menatap wajahnya dicermin, wajah kusut dengan jejak air mata yang sangat kentara sekali. Ah, dia malu sendiri.
Mas Sa'ad kemudian menyuruh Randi bergabung ke meja makan. Disana Abah dan Ibunya sudah menunggu dengan cemas, memang setelah pulang dari Masjid tadi Mas Sa'ad meminta waktu agar bisa membujuk Randi. Sementara Ibunya memasak di dapur, meski ragu tapi akhirnya Ibunya setuju dengan saran Mas Sa'ad. Begitu melihat anak mereka mau keluar, ungkapan syukur meluncur dari pasangan itu.
Kini mereka duduk di ruang makan dengan khidmat, Abahnya tak berhenti tersenyum, Ibunya pun tak jauh berbeda dengan abahnya. Randi diam-diam merasa sangat bersalah, dia jadi melupakan orang tuanya karena sibuk bersedih seorang diri. Ah, dia merasa jadi anak yang sangat durhaka sekarang ini.
"Ayo makan Ran," ujar ibunya sembari menyiukkan nasi.
"Nggih Bu,"
Mereka pun makan dengan lahap hingga tandas, hanya menyisakan sedikit noda akibat sayur melinjo yang dimasak ibunya.
"Masakan Ibu tidak berubah, selalu pol!" Seru Mas Sa'ad sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Ah, Mas Sa'ad bisa saja."
"Tapi emang bener loh Bu, soale kalau di Kobong memang sulit dapet rasa masakan yang penuh cinta," canda Mas Sa'ad.
"Pripun?" tanya Ibu Randi penasaran.
Mas Sa'ad tersenyum,
"Nggih Bu, kalau di Pondok mau makan seenak apa pun suka berasa kurang aja, bukan maksud kufur nikmat loh ya. Tapi, memang rasanya kaya asal-asalan. Hambar. Ndak pakai perasaan apalagi cinta. Nah, kalau masakan Rumah tuh nikmatnya terasa banget, ada bumbu cinta seorang ratu didalamnya. Begitu yang pernah saya dengar dari Zira." Mas Sa'ad semringah menceritakan hal yang dia dapat dari Zira.
Abah serta Ibu mangguk-mangguk paham, memang benar demikian adanya. Karena mereka berdua pun sudah pernah mengalaminya, ditambah mendengar kalau itu adalah kalimat Zira. Entah kenapa kebahagiaan lebih menelusup dalam benak mereka, tapi tidak untuk Randi.
Dia awalnya tersenyum, ingin memuji Mas Sa'ad. Tapi, begitu mendengar itu kata Zira hatinya benar-benar kembali tidak baik, menghantarkan gelombang aneh yang ia sendiri tak tahu penyebabnya.
"Mas, Abah boleh tanya?"
"Napa Bah?"
"Sudahkah gadis itu, Zira, memiliki seseorang yang penting?"
Deg! Pertanyaan itu menyambar hati Mas Sa'ad serta Randi. Membuat mereka berdua saling pandang bingung. Ibu yang paham tatapan itu menyenggol lengan Abah, suaminya terlalu bersemangat.
"Ah, bukan maksud kepo. Abah hanya ingin tau saja, agar tidak berharap." Sorot mata itu mendadak layu.
"Nanti insyaallah tak tanyai, belum tau pasti." Mungkin inilah jawaban untuk saat ini, mereka tak ada hak untuk bercerita.
Randi yang mulai tak nyaman mengajak Mas Sa'ad untuk mengobrol ke teras.
"Yasudah kalian duduk lah di teras, Abah sama Ibu juga mau mengobrol."
Tanpa banyak bicara, Randi segera bangkit dan mendahului untuk pergi ke teras, Mas Sa'ad yang menyadari perubahan raut wajahnya bergegas menyusulnya. Dilihatnya pemuda itu duduk sambil memandang burung perkutut peliharaannya, tapi bola matanya bergerak gelisah.
Tepukan di bahu membuat Randi sedikit kaget, ia menoleh dan mendapati Mas Sa'ad yang tengah mentapnya dengan serius. Memintanya untuk duduk menikmati semilir angin yang membawa hawa panas.
"Ran, maaf ya kalau tadi kamu terganggu,"
"Ndak ko Mas,"
"Terima kasih untuk sarannya, hati yang tengah berduka tidak dapat langsung nerima."
Hanya itu jawaban Randi, ya setidaknya itu adalah jawaban terbaik yang ia punya. Mungkin, jika orang lain yang mengutarakan demikian ia akan langsung memakinya habis-habisan. Untunglah ini adalah Mas Sa'ad, orang yang dianggap saudara sendiri olehnya.
"Ia, saya tau juga kok, yasudah. Apa kamu tau tadi Abahmu ke pondok?"
Mata Randi membulat seketika, ia tak tahu sama sekali perihal itu. Dia terlalu jauh menyendiri, hingga tak tau situasi sekitarnya. Mas Sa'ad yang mendapati ekspresi demikian paham, ternyata orang ini benar-benar tidak pernah keluar dari ruang sedihnya.
"Iah, bertemu Aby...dan Zira."
Reflex Randi bangkit dari duduknya, menghujam dengan tatapan tak percaya dan berharap kalau itu adalah berita palsu. Tapi, gelengan lemah dari Mas Sa'ad membuatnya luruh lagi, kembali terduduk sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Mas Sa'ad lanjut bercerita, tentang Abahnya yang selama perjalanan pulang terus membicarakan kekagumannya pada gadis itu. Bercerita juga tentang wajah Zira yang terlihat sangat manis dan teduh, berkomentar mengenai suara Zira yang cocok jadi seorang pemimpin. Semuanya, selama perjalanan pulang nama Zira terselip diantara binar haru dan tawa dari Abah Randi.
Randi semakin lemas, dia tak berdaya sekarang ini. Mau bagaimana pun dia tau, kalau orang tua sudah bertemu Zira mereka akan menjatuhkan nyaman serta kagum bersamaan. Dan hal itu yang paling Randi takutkan, tapi kini sudah menjadi kenyataan.
"Yasudah, saya pulang dulu Ran, mau pamit dulu pada Abah dan Ibu," Mas Sa'ad pun masuk ke dalam, mencari Abah serta Ibu yang ternyata tengah duduk di halaman belakang sambil menatap kebun sayur. Langkah Mas Sa'ad terhenti mendengar penggalan obrolan mereka berdua. Bukan maksud menguping, hanya saja terselip sedikit penasaran juga takut memotong.
"Bah, ibu juga suda bertemu gadis itu, dia baik, bisa membuat nyaman dan juga terlihat cekatan serta ceria.''
"Nggih Bu, duh, Abah juga tadi sampai ingin rasanya mengobrol banyak dengan dia. Ingin bertanya soal hidupnya, ingin tau bagaimana perasaannya pada putra kita."
Mas Sa'ad mundur, hatinya semakin tak karuan saja. kaget, dan semakin kaget karena merasa menabrak sesuatu yang ternyata adalah Randi. Sorot mata penuh luka itu lagi-lagi membingkai wajahnya, ada seulas senyum getir seolah berujar "lihatkan? Bahkan orang tuaku mengharapkannya" Mas Sa'ad memilih segera pulang, ia tak sanggup lebih lama lagi. Ia mendekat ke pintu diikuti Randi.
"Bu, Bah, aku pamit nggih. Hampir ashar, makasih ya untuk jamuannya sangat enak seperti biasa. Merepotkan saja aku ini ya," seloroh Mas Sa'ad tanpa memperdulikan wajah Randi, anak itu memilih lebih dulu ke teras. Membiarkan Mas Sa'ad berpamitan pada orang tuanya.
"Salam nggih, buat Zira." ujar Abah dengan senyum yang sangat tulus.
Mas Sa'ad mengangguk kaku, sementara Ibu menyenggol lengan Abah yang keceplosan berujar demikian.
"Cuma bercanda Mas, Abah memang suka demikian," bela ibu.
"Hehe, serius juga tak apa Buk, nanti insyaallah disampaikan. Kalau begitu pamit nggih, Assalamu'alaikum..." hanya itu yang bisa Mas Sa'ad lakukan. Ia bingung, bagaimana menjelaskannya nanti.
"Waalaikumsalaam, hati-hati Mas."
Mas Sa'ad keluar rumah itu dengan dada berat serta sesak. Sorot luka Randi, senyum Abah serta keinginan Ibu yang sangat kentara. Dia akhirnya paham, kenapa Randi menjadi sangat merana.
"Sampun?"
"Astaghfirullah! Kaget aku Ran."
Randi tersenyum tipis, ia lalu menjabat tangan Mas Sa'ad. Tangan Randi terasa sangat dingin, tanda kalau dia tengah gugup.
"Makasih sarannya, juga berita itu." Senyum tipis masih menghiasi wajah Randi. Membuat Mas Sa'ad kalang kabut sendiri.
"Sama-sama, jaga diri. Segeralah kembali."