My Little Husband

My Little Husband
Salah Paham



ketika adzan isya berkumandang Zira dan Raida baru selsai mandi,mereka ngobrol tentang hari-hari ketika Zira pulang gadis itu sudah lebih baik sekarang ,dan disana tiba-tiba ada Rikaz yang sengaja menabrakkan dirinya ke Zira sehingga dahi mereka berbenturan, harusnya Rikaz mengenai Raida tapi karna dia mengelak akhirnya Zira yang menjadi korban, dia tertegun sesaat ketika wajah anak itu begitu dekat


"Awww,Kaz kamu parah" ucap Zira sambil memegang dahinya yang tadi berbenturan dengan Rikaz


"Hehe...tabrakan lagi yu" ucap Rikaz tanpa dosa,


Zira diam saja mempertanyakan mengapa ia merasai desir aneh dalam hatinya saat tadi bersama Rikaz,parfum anak itu begitu khas membuat Zira betah berlama-lama didekatnya


"Mba,maaf" ucap Rikaz saat dia merasa kalau Zira diam karna marah


"Parah heh!" ucap Raida sewot


"Kamu mau juga?"goda Rikaz


"Dasar bocah sableng!"balas Raida


"Hehe" Rikaz hanya menampilkan geliginya yang rapi,lalu dia berjalan sambil bersiul pelan, dia senang sekali atas tindakan nekatnya yang menyebabkan dahi mereka bertabrakan


"Ra,kamu kenapa?" tanya Raida


"Gapapa ayo" mereka lalu jalan kekamar masing-masing dan Zira terdiam dia belum menghadap ke umik mungkin besok saja,batinnya.


.


.


.


Sementara itu Walidin,Bima,Idan tengah mengintrogasi Rikaz yang datang dengan wajah sumringah.


"Napa boss?"


Rikaz lalu menceritakan kejadian tadi, sontak teman²nya menggeleng geram.


"Kelewatan kamu" ucap Bima sewot


"Kenapa?" tanya Rikaz santai


"Kalo mbak Ai lihat mampus kamu!" ucap Walidin


"Yaelah tabrakan geh" ucap Rikaz


"TAPI ITU SENGAJA!!" ucap ketiga temannya kompak


"Iya iya salah lagi" ucap Rikaz sambil pergi,dari pada diceramahi lebih panjang lagi, dia memilih kekamar memandangi foto mba Zira.


_______ / /__________


Zira POV


Keesokan harinya aku tergopoh² menuju Ndalem karna aku dengar Umik memanggilku,berulang kali aku mengucapkan istighfar karna hatiku tak tenang aku takut menghadap umik tak fokus,


"Sampun rauh Ra?" tanya umik saat aku mengahadap beliau sambil tersenyum samar


"Nggih Mik,kemarin sore,maaf baru menghadap" ucapku sambil menunduk, takut memandang wajahnya tak sopan


"Ouh yasudah,bagaimana kabar Mamamu?"


"Baik mik Alhamdulillah"


"Syukurlah,bantu umik sebentar melipat baju"


Aku mendekat kearah Umik agar leluasa melipat pakaian neng Naya dan Shima,lalu tak lama ada suara salam dari pintu depan,aku membuka pintu tersebut dan hatiku mencelos saat wajah dengan sesungging senyum yang kuhafal menyambutku lembut


"Ada apa mas?" tanyaku sopan tanpa menatap wajahnya karna aku tau Umik mengawasiku


"Ngapunten Abi ada?" tanyanya dengan pelan


"Kedap nggih" ucapku


"Mas Randi ingin bertemu Abi"


"Abi di belakang panggilkan dulu"


Aku bangkit lalu mencari Abi,ternyata beliau tengah menatap kolam ikan dekat taman bunga mawar, aku menghampiri beliau lalu menyampaikan perihal Mas Randi diteras dan aku kembali menemani Umik merapihkan pakaian.


Konsentrasiku terbagi dua karna kadang-kadang telingaku mendengar suara tawa Abi dan Mas Randi diluar,Umik yang tengah hamil masuk lebih dulu ke kamar,meninggalkanku seorang diri


"Ra,umik masuk ya kalo sudah kekamar saja"


Aku hanya mengangguk paham,dan aku mempercepat pekerjaanku agar tak lama-lama mendengar suara Randi,tapi saat aku hendak bangkit suara Abi membuatku terduduk kembali.


"Gimana Ran?setuju Abi jodohkan kamu dengan Selaya?" Deg! kalimat itu menohok hatiku, memakuku ditempat aku berpijak saat ini, kunantikan jawaban Randi, setelah hening beberapa saat suaranya terdengar samar


"Hmmm,,,sing pundi nika?"


"Anak bandar lampung sampun 6 tahun mondok ning riki"


"Nggih setuju" Jawaban Randi serupa sebuah gong yang ditabuh nyaring ditelingaku, membuat hatiku remuk, tak berbentuk. Dua kata itu mempu meluruhkan tangisku, akhirnya kupercepat pekerjaanku karna aku sudah tak bisa lagi mendengar apa yang selanjutnya ia katakan, setelah semua beres aku bergegas keluar dari Ndalem membawa air mata dan luka yang menganga.


Dan karna tak hati-hati kejadian seperti dikoridor rumah sakit ter ulang dimana aku menyenggol bahu seseorang dengan cukup keras, ternyata orang itu adalah Rikaz!


"Eh, Mba ati ati atuh" ucapnya sambil tertawa


"Maaf kaz, saya buru buru"


"Wait!! ada luka dimatamu"


"Tak ada, hanya debu" ucapku sambil mengusap air mata yang luruh


"Jangan bohong! aku bisa menangkap jelas luka itu, sayatan dalam hati"


"Kaz, ini bukan waktunya bercerita biarkan saya tenang"


"Okeh tapi kumohon hapus air matamu, aku tak kuasa membendung pilu" ucap Rikaz sambil berkaca kaca membuat Zira merasa hangat dia punya tempat untuk berbagi.


Randi Pov


Sudah beberapa kali aku mengucap salam, tapi sepertinya tak terdengar, akhirnya disalam yang ter akhir aku mengeraskan suaraku, tak lama pintu terbuka dan hal yang mengejutkan Zira yang membukakan pintu, jadi dia sudah datang? batinku


Aku pun menunggu Aby keluar sambil menormalkan jantungku, tak lama Aby keluar lalu beliau menyilahkan aku duduk berhadapan,setelah agak lama Aby tiba-tiba bertanya padaku serius


"Gimana Ran, setuju Aby jodohkan dengan Selaya? "


"Sing pundi nika? "


"Anak bandar lampung sampun 6 tahun mondok ning riki"


"Nggih setuju" ucapku pelan tapi kemudian aku mulai menjelaskan segalanya pada Abi dan akhirnya beliau mengerti bahwa hatiku telah tertambat oleh satu nama.


"Yasudah Aby hargai keputusanmu kamu hebat berterus terang agar tak melukai berbagai pihak" ucap beliau lalu masuk ke dalam, meninggalkan ku yang termenung dalam.


Ya entah bagaimana awalnya aku bisa menaruh hari pada orang yang awalnya sama sekali tak pernah aku bayangkan dalam hatiku,orang yang mewarnai hariku dengan sapaan dan kekonyolan lakunya membuatku sulit melupakannya tapi kini bagaimana memberi tahunya kalau aku benar serius? Ah,sudahlah itu urusan nanti jika memang taqdir pasti kita akan dipersatukan lewat cara terbaik, saat ini hatiku berbunga karna sudah ber terus terang pada Aby, tinggal menunggu keputusan akhir, dengan enteng ku langkahkan kaki menuju kamar sambil bersyair pelan menggunakan bahar thowil


Datanglah kekasihku


ku rindu kepadamu


ingin menatap wajahmu


dibalik jeruji paku


Tapi langkahku terhenti saat melihat Rikaz berjalan gontai, anak itu menyeret kakinya malas, lalu tertunduk dalam di beranda langgar, saat jarak kami semakin dekat aku bisa melihat kalau punggungnya bergetar, jadi anak itu menangis, tapi apa sebabnya? malas bertanya aku melanjutkan langkah tapi samar aku dengar Rikaz berucap lirih


"Mba, jangan nangis lagi aku ga mau liat mba lemah"


Seketika hatiku beku, jadi dia menangisi Zira, tapi tunggu, mengapa gadis itu menangis lagi?