My Little Husband

My Little Husband
Persiapan Muhadhoroh



Hari ini, tepat sesudah sebelas hari berlatih, bagi yang memiliki tugas. Semuanya sibuk dengan perdapuran, kerena setiap kamar wajib memberikan satu menu untuk dinilai juga dalam acara nanti malam.


Sedangkan Zira, dia meringkuk di pojok kamarnya. Menutup telinga rapat-rapat dari hingar bingar di luar. Kejadian tempo hari masih menjadi sesak untuknya, padahal dia sendiri tau ... kalau antara dia dan Randi sudah terlalu banyak cerita.


Suara Abah Randi pun terngiang-ngiang di telinganya. Suara teduh nan sabar yang entah kapan terakhir ia mendengar yang seperti itu. Semuanya kacau, besok hidupnya akan berubah sepenuhnya.


Ketukan pada pintu membuatnya duduk tegak dan memasang senyum lebar.


"Mbak Zira..."


"Kulan," sahut Zira pelan.


"Adiba izin bertanya, nggih?"


"Nggih Diba,"


"Mic, kabel-kabel, busa dekor sama piring list putih. Semuanya simpen dimana, Mbak?"


"Semuanya ditaruh Mbak Juma, kalo nggak tanya saja ke Mbak Aruna."


"Nuhun sanget, Mbak."


Zira kembali berbaring, ia merasa kalau suhu tubuhnya naik. Ini pasti karena terlalu banyak memikirkan hal konyol; seperti biasanya. Harus bagaimana ia menghadapi ini semua? Harus bagaimana juga dia berekspresi didepan semua orang nantinya?


Lagi-lagi dia harus berada pada situasi sulit, terlalu menyebalkan serta menguras tenaga. Tidur pun bukan solusi untuk situasi saat ini. Semuanya terasa sangat menyebalkan buat Zira, garis-garis kejadian yang sangat tidak diduga terus berdatangan


Ketukan pada pintu lagi-lagi membuatnya tersadar, kali ini sepertinya orang dekatnya. Sebab tanpa salam sudah masuk sambil menampilkan senyum lebar.


"Mbuh, kenapa murung?"


"Gapapa, udah beres?"


"Udah, cuma mau ngasih ini, titipan dari Kang Hendro." Nura menyodorkan kertas yang dilipat sedemikian rupa. Zira menerimanya sambil menyerit heran, Hendro? Ada apa orang itu sampai repot mengiriminya surat.


"Yaudah aku turun lagi ya, sibuk banget."


"Ia, makasih, ya."


Nura tersenyum kemudian kembali keluar, anak itu faham betul kalau Zira pasti merasa sangat tertekan sekarang ini. Sementara Zira tengah menebak-nebak isi dari kertas yang ia pegang itu. Disatu sisi dia penasaran, disisi lain dia malas jika isinya hanya membuatnya semakin sakit saja.


Oleh karena itu, ia memilih untuk mengurungkan niat membuka kertas tersebut. Mungkin nanti saja lebih baik, toh belum tentu isinya hal penting.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Adiba, kamu udah ke Zira?"


"Udah, Mbak. Udah ketemu juga semuanya."


"Dia lagi apa emang? Ko, nggak ngebantuin kesini?"


Sukma tadinya ingin menimpali, tapi begitu melihat Umy di belakang Aruna ia jadi urung. Aruna sama sekali belum sadar akan keberadaan Umy, oleh sebab itu dia mengulangi lagi pertanyaannya.


"Zira kenapa nggak turung? Raida, Nura, Ghisa, kalian kan temennya. Enak amat di kamar aja."


"Umy yang nyuruh dia istirahat."


Mata Aruna melolot, yang lain berusaha sebisa mungkin untuk menahan tawa mereka. Wajah Umy terlihat sangat tak suka akan pertanyaan Aruna barusan. Mbak Juma yang melihatnya faham akan keadaan hati Umy.


Aruna berbalik dan menghadap Umy sembari tersenyum canggung, ia kemudian bergegas masuk ke dapur dan membaur bersama yang lain dengan wajah ditekuk.


"Raida, sini sebentar,"


"Nggih, Mik."


Raida bergegas mendekat, kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Dirasa aman akhirnya semuanya tertawa puas sekali. mengatai Aruna mampus dan berbagai ejekan lainnya dalam hati. Hanya dalam hati.


Raida ikut Umy masuk ke dalam kamar paling depan, tempat menyimpan baju-baju yang belum pernah terpakai. Umy memilah baju-baju yang terlihat bagus semua dimata Raida, dalam hati ia bersholawat sembari berharap bisa memiliki yang banyak seperti ini.


"Da, Zira suka warna apa?"


"Ungu, Mik."


Umy kembali memilah, kemudian menarik satu gamis putih yang memiliki beberapa payet berwarna ungu lembut. Raida menatap baju itu kagum, pasti harganya mahal, terbukti dari bandrol yang masih melekat.


"Kira-kira ini cocok ndak?"


"Cocok, Mik."


Umy tersenyum, kembali memilah. Kali ini memilah kerudung. Raida rasanya ingin menangis juga sekarang ini, sebab sadar kalau mata Umy sangat berkaca-kaca ketika memilah baju. Dia faham, pasti Umy kecewa dan merasa sangat bersalah sekali.


Umy daritadi hanya memilah tanpa sekali pun melihat kearah jajaran kerudung itu. Matanya hanya menatap kosong pada deretan baju yang terakhir kali dibereskan oleh Zira. Raida tau kalau posisi Zira takan pernah terganti, dengan Aruna sekalipun.


Apalagi jiwa kepemimpinannya, rasa bertanggung jawabnya, kepercayaan dirinya. Semua hal itu takan pernah lagi ada setelah besok. Dan hal itu pula membuat Raida tanpa sadar menitikkan air mata.