
Ketika hendak mengambil wudhu untuk sholat ashar, ternyata Zira haid. Oleh sebab itulah sekarang ini ia memutuskan untuk turun membantu ke dapur. Suara wirid dari Tajug putra membuatnya terhenti sebentar, menatap lamat-lamat bangunan bercat hijau tersebut.
"Mbak, mau kemana?" tanya Fiqoh yang hendak naik.
"Mau ke dapur."
"Tapi, tadi Umy bilang katanya Mbak nggak boleh bantu ke dapur."
"Ah, ia. Lupa, yaudah mau nyari angin ke bendungan."
Zira segera berlalu, ia menahan air matanya kuat-kuat. Barulah begitu sampai pada bendungan ia keluarkan segala tangisannya. Ditatapnya hamparan sawah yang baru ditanduri. Serta bukit yang menjulang di depannya.
Tempat ini salah satu ikon favorit para santriwati jika akan menghafal atau sekedar bertafakur. Zira menatap lamat-lamat setiap inci keindahan yang ada. Sebelum ia pergi. Lagi-lagi kenyataan selalu membawanya pada situasi rumit. Sangat rumit.
Hidup memang tak pernah semulus jalan tol, tak pula secerah langit bulan January. Semuanya memiliki batas untuk berjuang serta pasrah. Dan sekarang ini ... Zira memilih pasrah atas kehendak orang lain padanya.
Bayangan Randi berkelebat di pikirannya, sisi lain dirinya terus bertanya apa kabar pemuda tersebut? Bagaimana perasaannya, bahkan mulai merasa bersalah pada kedua orang tuanya.
"Ngelamun, Ra?"
Zira buru-buru menguasai dirinya, menatap jengkel pada Mas Sa'ad yang menertawakannya. Sejak kapan dia ada disana?
"Ah, ia ... ada salam dari Ibu--Abah Randi."
Zira tersenyum getir, apalagi ini? Apakah akan ada hati lain yang terluka selain dia dan Randi? Semoga saja tidak begitu. Mas Sa'ad tersenyum maklum, dia faham betul kalau Zira sepertinya sangat tertekan.
''Saya duluan, Ra. Mau ngambil singkong."
"ia...."
Mas Sa'ad hilang diantara ilalang yang meninggi, Zira kembali terpekur bersama segudang gundah serta resah tak berkesudahan. Akan tetapi, kali ini tak berlangsung lama. Teriakkan dari Kamar membuatnya bergegas bangkit.
Sarung motif batik itu berkelebat mengikuti langkah Zira yang setengah berlari. Firasatnya mulai tak enak mendnegar teriakan tersebut, dan benar saja. Disana, Mbak Sadah tengah dipegangi tangannya oleh Mbak Muyu dan Raida.
"Panggil Mbak Zira!" titah Raida.
Mbak Sadah semakin histeris begitu Zira mendekat. Yang lain ikut membantu menenangkan sembari membaca do'a sebisanya.
"Pergi kamu!" Mbak Sadah berteriak seraya berusaha melepaskan tangannya dari Raida.
Zira tersenyum, dia meminta segelas air dan memsukkan tiga daun Bidara tadi. Membacakan do'a ruqyah kemudian membasuhkannya ke muka Mbak Sadah.
"Panas! Panas! Aaarrrgggh...." teriakan panjang mengiringi tubuh Mbak Sadah yang kian melemas. Semuanya mengucap hamdalah dan saling berbisik kagum.
"Udah, Ra?" tanya Mbak Muyu.
"Insyaallah, Mbak. Di baringin aja dulu, terus kasi minyak kayu putih."
Zira kembali keluar sembari mengusap-usap telapak tangannya yang terasa memanas. Hal ini sering terjadi jika ada yang "kemasukan" seperti tadi. Seperti sebuah sinyal atau entahlah.
Saat Zira belum jauh, dia mendengar Aruna yang baru datang sangat sibuk. Suaranya sangat keras seolah membuat pengumuman bahwa dia yang paling peduli. Senyum dan gelengan menghiasi langkah Zira menuju jemuran.
Pakaian-pakaian ada beberapa yang jatuh terbawa angin, Zira membantu menempatkannya kembali. Ditatapnya lagi setiap sudut yang terlihat jelas dari ketinggian macam ini. Kenangan-kenangan berkelebat riang menggoda matanya untuk meneteskan air mata.
Suara langkah di tangga membuatnya sadar, rupanya Fiqoh, Adiba dan Layla akan mengangkat jemuran juga. Mereka rupanya belum menyadari kehadiran Zira.
"Males banget ya, Mbak Arun datang-datang sibuk nggak jelas. Padahal ada Mbak Mutu disitu yang udah nyiapin semuanya. Dia kemana juga pas geting? Wong yang ngebantu tadi Mbak Zira," cebik Fiqoh.
"Heh, heh, heh. Jangan gitu." Zira menegur sembari tersenyum. Mereka bertiga salah tingkah dan tersenyum canggung.
"Hehe, ia Mbak."
"Aku duluan ya."
"Makasih jemurannya udah diangkatin, Mbak."
Zira tersenyum kemudian turun sembari membawa jemurannya. Setelah ini dia aka mandi dan melihat ke dapur. Melihat saja boleh kan?