My Little Husband

My Little Husband
Persidangan



Rikaz dibawa oleh teman-temannya menuju kamarnya,dia kemudian segera berbaring dan memeluk guling. Mereka bertiga pun keluar dan memberinya waktu. Tapi dia sadar, kalau harus mengganti bajunya akhirnya dia melepas bajunya dan mengenakan kaos warna navy kesukaan Mba Zira.


Ah, lagi-lagi pengurus galak itu yang dia pikirikan. Bagaimana keadaannya? apakah dia sudah sadar? belum puas dia menerka pintu kamarnya diketuk.


"Kaz, ini saya"


"Masuk ustadz"


Ustadz Hanan pun masuk,menatapnya dengan sorot yang entah seperti apa.


"Ikut saya, Aby dan Umik sudah tau... kamu disuruh madep langsung"


"Si biawak ikut? "


"Indro? tidak hanya kamu dan saya"


Rikaz mengangguk setuju, kemudian dia ikut ustadz Hanan menuju ndalem.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kabar tentang aku dan Rikaz yang ditemukan tak sadarkan diri dilumbung pun menjadi topik center dipondok. Dan sudah pasti tembus pada Umik dan Aby sedangkan aku masih disini,unit kesehatan santri.


Raisa,Ghisa dan Nura hanya diam,padahal aku tau betul kalau mereka sedang menahan diri agar tak bertanya skandal itu padaku.


Yang membuatku geram adalah,kenapa harus Indro orang yang pertama kali menemukan kami dan juga untuk apa dia repot² memanggil Randi yang jelas-jelas sedang muthola'ah? Sungguh,hal itu masih menjadi pertanyaan buatku.


Ah,aku jadi teringat Rikaz,bagaimana keadaan bocah itu?pasti dia lebih memperihatinkan. Karena dia tidur memakai baju pendek,sedangkan cuacanya sangat dingin.


"Mba...mau makan?"tanya Nura.


Aku menggeleng pelan,kemudian memantapkan hatiku untuk bertanya.


"Boleh tinggalin aku sama Ghisa?"ucapku.


Raida dan Nura mengangguk kemudian keluar ruangan. Ghisa mendekat padaku.


"Kenapa?"


Aku kemudian mulai bertanya padanya,soal keadaan Rikaz dan juga gosip seperti apa yang beredar.


Aku menghembuskan nafas,sudah kuduga dalangnya adalah dia.


"Rikaz sudah menghadap Abah dan kamu tau,umik tidak setuju pada hukuman yang Abah berikan"


Aku heran,memangnya hukuman seperti apa yang membuat umik menolak?aku sudah membayangkan akan diusir,lalu sebelum itu disiram air got dan diarak kedaerah santriawan.


"Mbaaa"panggil Nura dari luar


"Dalem''


"Ini ada Beby R mau ketemu"


Aku bingung,sebenarnya aku ingin banyak bertanya tapi...entah lah aku malas.


"Ga mau''jawabku akhirnya.


"Yaudah dia nitipin kertas mba.." teriak Nura.


Aku pun meminta mereka berdua kembali masuk,setelah kertas itu ditanganku aku meminta mereka bertiga menunggu diluar.


Aku menatap kertas ditanganku dengan gemetar, apa isinya? apakah salam perpisahan? aku belum siap.


"Ra... aku boleh masuk? "


Ah, suara itu sudah pasti Mba Ai aku menaruh kertas tadi dibawah bantal kemudian menyilakan Mba Ai masuk. Wanita itu masuk dengan senyum hambar.


"Baikkan? "


Aku hanya mengangguk.


"Bisa cerita soal detailnya? "


Aku kemudian bercerita dari awal kalau aku dan Nura tengah piket masak dan juga menceritakan masalah MCB yang terbakar serta kenapa aku tak sadarkan diri.


Mba Ai hanga mengangguk paham, dia tersengum arif dan kembali keluar. Setelah itu aku kembali mengambil kertas yang belum aku baca.


Tanganku berkeringat,saat melihat goresan kata yang tsrtoreh diatas kertas tersebut... air mataku luruh, mengapa harus sekejam ini? aku bahkan tak tau bagaimana keadaan bocah itu sekarang, bagaimana perasaannya dan juga apakah dia yakin?