My Little Husband

My Little Husband
Malam jum'at



Berita kepulangan Randi sudah menyebar satu pondok, mereka melebih-lebihkan perihal itu. Ada beberapa yang bilang kalau itu adalah pelarian sebab akan ditinggal Zira ada juga yang bilang kalau ia dijodohkan.


Manusia memang terlalu sering berspekulasi tanpa ruju yang pasti. Bahkan santri putri ikut meramaikan gosip tersebut.


"Kasian ya Mas Randi, ditinggal Mba Zira," ucap Wawa dengan wajah yang menunjukkan ekspresi puas. Zira yang melintas hanya mengangkat satu sudut bibirnya, yang lain segera mengalihkan topik. Wawa juga terlihat sedikit gemetar mendapati ekspresi Zira seperti itu.


Agak jauh didepan mereka Zira pun berhenti, berucap tanpa ada niat untuk memutar tubuh agar mereka melihat ekspresinya.


"Ayo Nuskahan, ngomongin Randi ga akan ada habisnya."


Singkat, padat dan melekat. Begitulah gaya bicara Zira jika sedang merasa tidak baik-baik saja.


"I—ia Mba, ini juga mau siap-siap ko."gemetar Adiba jika dihadapkan dengan sisi Zira yang satu ini.


Wawa meruntuk dalam hati, kenapa ia harus kalah pada orang yang usianya dua tahun dibawahnya? Argh, mau dipikirkan seperti apa pun juga memang banyak yang mengakui sosok itu.


"Mbak-mbak Nuskahan...heh ayo buruan siap-siap...buruan nanti dibilangin ke Umy loh kalau pada nggak Nuskahan."


Gebragan seperti itu adalah khas Aruna, ia selalu membawa embel-embel nama Umy agar yang lain mau menurut padanya, padahal mereka semua tau itu mustahil ia lakukan. Yang leluasa bercerita pada Umy hanya Mbak Ai, Mbak Juma, Mbak Muyu serta Zira. Aruna terlalu berlebihan, semua orang tau itu; mereka sebenarnya sering menggibahkan dirinya, hanya saja Aruna terlalu percaya diri.


Zira kembali melanjutkan langkah, ia malas jika mendengar Aruna berteriak sana-sini padahal Zira sedari tadi memutari Pondok sambil melihat anak-anak yang lain. Dia tau kalau mereka tengah bersiap, dia tau kalau ada beberapa yang baru makan karena baru selesai mengerjakan tugas, dia paham kalau beberapa anak baru masih ada yang belum kerasan.


Melewati Kobong Assalam dia mendengar kalau mereka tengah mendumel dengan cara Aruna, memang baik niatnya tapi eksekusinya terlalu bahaya. Aruna menghalalkan segara cara agar terpandang oleh Umy yang posisinya sebagai ratu , tapi ia lupa ada rakyat lain yang harusnya lebih ia perhatikan lagi. Zira juga sadar diri, ia belum bisa sepenuhnya menjadi pemimpin yang adil, belum bisa menjadi orang yang berani mengambil keputusan berat.


"Sudah yuk, ke Tajug daripada makin mirip kereta."


Seisi Kobong Assalam terdiam, mereka kaget sekaligus ingin tertawa akan sindiran Zira pada Aruna—yang sebenarnya itu juga ditunjukkan pada mereka.


"Siap Mbak, ini aku tinggal pakai jilbab," jawab Rara dengan semangat.


Zira tersenyum, ia lalu melanjutkan langkahnya menuju Tajug disusul Nura, Ghisa dan Raida yang berlarian. Mereka tadi terlalu lama ketika bersiap-siap, apalagi Ghisa anak itu sibuk dengan make up-nya padahal Nuskahan hanya santri putri ditambah sekedar satu jam lebih. Kadang jika mood Zira juga akan ikut memakai eyeliner dan lip cream, tapi terhitung sangat jarang.


"Mbuuuuuh, tungguin kita napa!" sungut Ghisa sembari menjajarkan langkah, nafasnya seperti orang habis marathon bulir keringat menghiasi wajahnya yang sudah didempul sedemikian rupa.


"Ini kalian make up ceritanya look apa?"


"Gatau tuh Mba Ghisa, masa aku kaya onde² gini," keluh Nura.


"Ko onde? Bukan ondel?" tanya Raida.


"Bukan, itu loh kan onde ada wijen jadi mengkilap. Nah aku pae gliter dihidung, mata, pipi jadi sama 'kan."


"Heleh, keliatan Mba Juma habis kau," ejek Zira tanpa melihat wajah ketakutan Nura.


Semua santri rata-rata memaki almamater, tapi ada juga yang memakai gamis putih. Tapi, tetiba Kayla datang dengan tingkat percaya diri yang akut memakai kerudung warna hitam. Semua mata sudah melotot kaget dan melirik takut-takut pada Zira yang masih santai memperhatikan tingkah bocah tersebut.


"Kay, kenapa beda?" bisik Adiba begitu Kayla duduk disampingnya. Mereka satu Kobong, tapi Adiba pergi duluan karena Ima menang sudah merasa beres.


"Males naik ke atas soalnya, aku cape dari dapur bikin cilok."


Telinga Zira mampu menangkap percakapan tadi, ia tersenyum tipis. Malas? Hmmm mungkin tidak perlu diadakan membuat jabur(semacam suguhan) jika pada akhirnya menghilangkan kedisiplinan.


"Heh Kayla, kenapa kamu pakai kerudung hitam?!" datang-datang sudah nge-gas, begitulah kira-kira pikiran semua yang hadir setelah mendengar ocehan Aruna.


Kayla hanya diam sambil menatap tak suka pada Aruna yang meninggikan suaranya, mau bikin dia malu apa? Mbak Zira aja diem doang, dumel Kayla dalam hati.


Para santri mulai berdatangan, Tajug pun mulai ramai ditambah anak Kobong Al-hasanah hadir membawa cilok yang sedari tadi mereka kerjakan. Ima, Manda, Fiqoh, Najwa dan Dea mereka rapih memakai almamater dan jilbab putih.


"Loh Kay, ko kamu—"


"Ayo mulai, ini sudah semakin malam." Potong Zira, dia tak ingin mendengar keributan dulu. Aruna melirik tajam pada Zira, tapi tidak digubris sama sekali untuk apa repot meladeni orang iri? Yang ada malah semakin memperkeruh keadaan.


Semuanya setuju pada Zira, akhirnya pembacaan kitab Badrul wahaj pun bisa dimulai, kitab yang berisi nadzom tentang perjalanan isro' mi'raj nabi Muhammad SAW. Semua santri khidmat membacanya, eurofia yang sangat menenangkan hati. Lantunan nadzom pun menggema, menghiasi malam Jum'at yang bersinar oleh purnama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Ndalem


Umy duduk sambil melihat album haflah tahun kemarin, acara tahunan yang sudah dilakukan sejak awal pesantren didirikan hingga saat ini, bertepatan dengan bulan Rabiul Akhir tanggal 14.


Flash Back


"Punten Umy," sapa seorang ibu-ibu yang baru tengah duduk digazebo depan begitu melihat Umy keluar.


"Mangga kalebet," tawar Umy dengan sopan, Ibu tadi adalah orang tua Randi mungkin sedang menjenguk.


Setelah keduanya duduk, Umy meminta agar Aruna membuatkan teh. Obrolan ringan pun terjadi, tapi begitu sampai pada bagian jodoh Randi Umy sedikit terlihat sendu. Apalagi Ibu Randi bercerita kalau Randi pernah bercerita seorang gadis.


Apalagi abahnya sudah mulai sakit-sakitan dan ingin melihat anak lelaki satu-satunya menikah dengan gadis yang tepat, karena itu begitu mendengar cerita Randi tentang Zira abahnya ikut bersemangat lagi.


"Saat Randi bercerita, dia sangat bahagia Mik. Kalau boleh tau, apakah dia santri sini Mik?" Tanya Ibu Randi dengan binar penuh harap.


"Kalau boleh tau, siapa namanya Bu?"


"Zira, ya itu dia namanya Zira, Mik." Bak pendekar yang membawa kemenangan Ibu Randi sangat girang begitu ingat nama gadis itu, dalam hati berharap agar bisa bertemu.


"Punten Mik, ini teh nya" ucap Aruna sambil meletakkan dua cangkir teh yang masih mengepul ke atas meja. Begitu ia pergi Umy melanjutkan obrolan tadi,


"Yang tadi Aruna, kalau Zira sepertinya ia tengah istirahat."


'' jadi benar Mik, kalau dia mbak santri sini juga?"


"Nggih, siapa tau nanti bisa bertemu."


"Amiin saya sanget ingin ketemu. Tadi ada mbak santri yang sempat nemenin saya duduk sebentar, tapi dia kembali ke dalam karena temannya memanggil. Anaknya manis, sopan tapi memang asik dan sepertinya wawasannya luas mik," tutur Ibu Randi yang membuat Umy berfikir kalau itu adalah Zira.


"Apa pipinya chuby?"tanya Umy ragu.


"Wah, benar sanget Mik, itu siapa?"


"Itu yang Ibu cari, Zira."


Wajah Ibu Randi terlihat sangat berbinar, terbukti dari beberapa kali mengucap syukur. Umy tau betul, semua orang pasti akan begitu bahagia jika orang semenarik Zira bisa membersamai mereka.


"Ya Allah mik, andai dari awal saya tau. Randi belum pernah sesuka ini pada perempuan, saya tapi khawatir jika nanti Zira pergi akan sehancur apa Randi. Mungkin dia akan kehilangan dirinya, sepenuhnya."


Umy kehilangan kata-kata, jika madorotnya akan sebegini besar mungkinkah akan tetap diteruskan? Bukankah mereka berdua saling mencintai? Mengapa Aby begitu keras dalam hal ini. Tak taukah Aby kalau Randi selalu memuja nama Zira seorang?


Obrolan berhenti sebab Adik Ibu Randi sudah selesai sowan pada Abah.


Come Back


"Ra, bahkan sampai saat ini Umy tak tau apa yang Aby rencanakan untuk kalia, maaf Ra..."lirih Umy.


Aby melihat Umy duduk sambil melamun, mendekati sambil bertanya hal apa yang membuat pusat kehidupan rumahnya tersebut begitu terbebani.


"Ada apa Mik, cerita pada Aby"


"Ini karena Aby bersikukuh antara Zira dan Rikaz, lihat Randi ia begitu terlukai."


"Ia, Aby paham. Dia bahkan sampai pulang untuk menenangkan dirinya sendiri ditambah abahnya yang sering drop."


"Taukah Aby, kalau Randi sudah dipaksa agar segera menikah sebab abahnya sering sakit?"


"Aby tau,"jawab Aby dengan lesu, Randi memang beberapa kali meminta doa untuk kesembuhan abahnya.


"Lalu, jika orang tua Randi tau perihal ini bagaimana hancurnya mereka?"


"Mik, mungkin belum taqdir. Kita harus lugowo nerimo, Zira saja begitu."


"Aby ndak lihat binar mata Zira redup? Mba Ai, Mba Muyu, Mbak Juma saja belum menikah yang lebih dewasa dari segi usia. Tolong Bi, lebih baik hukuman lain pernikahan ini perihal sehidup semati,"


Aby menulikan diri dari perkataan Umy yang menyayat hati, hukuman macam apa? Aby segera beranjak menuju kamar depan, meninggalkan Umy dengan air matanya.


"Ra, pergi saja Ra, Umy mohon. Tolak semua ini, kamu berhak bahagia."


Malam itu, ruang tengah Ndalem menjadi saksi bisu tangis seorang guru untuk murid yang sangat ia sayangi. Tangisan lelah sebab tak bisa memperjuangkan masa depannya lagi, hancur, kandas sudah segala rencana Umy untuk menarik Zira dalam setiap langkahnya.