
Setelah bertemu Randi hati Zira menjadi sangat kacau dan buruk, dia lelah, dia bosan dengan segala kata maaf dari mulut pria tadi. Semuanya baru bubar dari Tajug, dia hanya berbaring memeluk nafisya, boneka teddy berwarna buluknya.
Ghisa yang baru datang mengucap salam dengan antusias,namun begitu melihat Zira meringkuk tawanya pudar saat itu juga.
"Mbuh kenapa?." Dia bertanya sambil melepas mukena.
"Sakit lagi?" hanya gelengan yang menjawab segala kekhawatiran Ghisa dan dia benci itu.
''Please cerita sama kita, eh jangan sama aku aja dulu." Bujuk Ghisa sambil mengguncang tubuh gadis batu didepannya ini.
''Ayo keluar, kita duduk ditempat biasa" akhirnya dia membuka suara. Ghisa mengangguk senang, dia merapihkan jilbabnya tak lupa memakai sedikit lip tint.
''Takut Abus lewat, malu kalau kucel.''Tawanya terdengar begitu renyah.
''Ia, terserah ayok"
"Mbuh, ini dibawa jangan? Mbuh kan belum makan"
"Nggak perlu,"tolaknya halus.
Zira dan Ghisa keluar,duduk ditengah semen yang sengaja dibentuk agak tinggi, mirip meja mungkin. Ini salah satu tempat mereka beekumpul,dekat dengan kobong Bu Yuna,dekat kran air dan juga agak jelas melihat ke arah Langgar.
Nura dan Raida belum kembali,karena deresan mereka double dengan ashar. Disini setiap beres sholat berjama'ah wajib nderes satu juz, jika melanggar maka akan di lempar pada ba'da sholat berikutnya.
Zira hanya terdiam,menimbang apakah dia harus memberi taukan semuanya pada Ghisa atau tidak.
"Kalo aku kamu anggep temen, pasti cerita." Sarkasnya. Zira menatapnya kemudian beralih lagi menatap langit yang penuh bintang.
"Kalian jaga diri baik-baik,mungkin sebentar lagi kita bakalan nggak sama-sama---"
"Kamu mau pulang?! " potong Ghisa cepat.
"Mungkin aja."Balas Zira.
"Mba-Mba jajaran pengurus dipanggil menghadap Syaikhuna"
'Ada apa?' Batin Ghisa, dia kembali melirik Zira yang sepertinya sudah tau masalah ini.
"Ayo" ajaknya sembari menarik tangan Zira yang entah mengapa terasa sangat dingin.
Ndalem Syaikhuna
Disinilah mereka,menunggu kehadiran Umy yang masih didalam kamar. Mereka semua berjumlah kurang lebih 35 orang,terbagi menjadi beberapa bagian. cabang utama adalah Pengurus kantor,Rois Khos, Rois 'am,Mba Ndalem, Pengurus dapur serta Pengurus pendidikan.
Zira duduk bersama Mba Yumu, mereka adalah jajaran Rois khos, sedangkan Mba Ai duduk tak jauh dari mereka sebagai Rois 'am. Yang lain agak menjaga jarak, mungkin merasa tak enak akan jabatan yang dipegang mereka bertiga.
Ghisa yang menjadi bagian pengurus dapur pun mau tak mau harus jauh dari Zira, sebebarnya tidak ada aturan khusus hanya mereka saja yang ingin lebih menghargai. Raida juga yang masuk pengurus kantor bagian koperasi harus duduk disudut, menatap Zira dan ghisa bergantian. Dia sungguh malas jika di adakan kumpulan begini,karena semua orang pasti menyalahkan Zira.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab semuanya.
"Sonya, tanggal berapa sekarang?"tanya Umy.
"19 Mik,"jawab Sonya lirih.
"tanggal 30 adakan Muhadhoroh." ucap Umy yang sebebarnya adalah perintah,semuanya saling berpandangan satu sama lain, Muhadhoroh? dalam waktu sebelas hari? mantap,kadang satu bulan saja masih ada sedikit kesalahan.
"Zira,kamu membawa buku?"tanya Umy.
"Hanya mengantongi kertas dan pulpen Mik,"jawab Zira tenang.
"Tulis ini..."
Zira segera mengeluarkan selembar kertas dan pulpennya, Ghisa bahkan tak tau kalau Zira sempat membawa barang itu.
"MC : Yumu,Mba Ai.
Pidato: Fey, Aruna,Muna, Junda.
Sholawat 1 : Raida, Nura, Siska, Nara, Hanin,Khansa,Imel.
Sholawat 2 : Kayla, Diba, Fiqoh, Ilma, Manda, Nisa,Caca,Dea.
Dekorasi : Pengurus Dapur(Ghisa)
Konsumsi : Pengurus Ndalem(Syafa)
Dokumentasi : Pengurus Kantor(Sonya)
Hiburan : Wajib perwakilan setiap Kobong"
Umy mengucapkannya dengan santai, tapi jantung semua yang ada disitu sudah sangat tidak tenang,mereka menatap dengan pasrah pada Zira yang tengah menuliskan nama dan tugas mereka.
"Tema pidatonya adalah...pernikahan"imbuh Umy, yang membuat Zira mengangkat wajahnya kaget. Setelah sadar ia kembali menunduk,jadi...ini adalah acaranya?
"Bagaimana Ra, kamh setuju?"
"Tentu Mik, lebih cepat mungkin lebih baik."
Semua orang terkaget-kaget oleh penuturan Zira, mereka menggerutu dalam hati. Bagaimana mungkin lebih cepat? Dengan waktu segitu saja mereka kewalahan apalagi lebih cepat.
Umy tersenyum, dia tau kalau Zira pasti akan memiliki jawaban yang selalu bisa membuat tenang. Tapi masih ada juga secuil rasa sedih, karena Zira gagal dengan Randi.