
Zira kini semakin kacau, dia terisak dikamar mandi seorang diri sambil memegangi dadanya yang terasa berat dan sakit lalu dia terdiam mendengar percakapan Arina dan Sora
"Eh tau ga sih, Mas Randi minta ke Aby"
"Minta gimana? "
"Ya minta buat dijadiin istrilah"
"Weh, kira kira sapa ya? "
"Kalo kata aku sih Mbak Selaya"
"Lah? kata siapa? "
"Atu coba aja liat Mbak Selaya rajin, cantik tawadhu pula"
"Iya juga... cocok banget"
Hati Zira semakin pilu... dia merasa hancur sepenuhnya, isaknya semakin jelas terdengar, dia ingin menjerit tapi takut orang2 berdatangan, akhirnya dia memilih keluar lalu menceburkan diri ke kolam renang...
Byurr Byurrr
Zira berharap masalahnya ikut larut bersama air yang muncrat dari kolam, dia lelah mengapa taqdir harus sebegini kejam? saat dia tengah asyik menyelam panggilan dari Raida membuatnya berhenti lalu menoleh ke arah gadis itu
"Kamu kenapa sih?! " tanya Raida emosi
"Ada apa? " Raida lalu mendekat menatap lekat mata Zira tapi dia gagal menemukan sesuatu yang ia cari
"Ayo ke kamar" ucap Raida akhirnya, Zira mengangguk dia lalu naik ke atas dan meminta Raida mengambilkan pakaian ganti untuknya, gadis itu berlalu Zira kembali seorang diri menatap dirinya lewat pantulan cermin kamar mandi dia tersenyum mengejek dirinya karna bisa sebegini ceroboh.
"Raaa ini bajunya" Raida memberikan baju itu pada Zira dan gadis itu menerimanya lalu mulai dengan cepat, lima menit kemudian Zira keluar dengan keadaan yang lebih segar dan suasana hati yang membaik, dia berterima kasih pada Raida karna sudah mengambilkan pakaian untuknya ...akhirnya mereka berjalan beriringan menuju kamar sambil melempar candaan.
Saat sampai didepan kamar mereka melihat Randi dan kawan kawannya melintas tentu saja hal itu membuat Zira semakin enggan menatap pria tersebut, dia memilih bergegas masuk tapi suara Syaiban membuatnya urung
"De.. abis mandi? ko aneh" dia menoleh ke arah Syaiban lalu tersenyum penuh arti
"Ia nih, lagi pengen aja" ucapnya tanpa sedikitpun menoleh pada Randi, Syaiban tertawa dia tau ada yang tak beres dari adiknya ini ingin bertanya lebih jauh tapi takut malah membuat adiknya semakin sakit.
Zira memilih melangkah lebih dulu sebelum kakaknya itu membombardir dengan beribu pertanyaan karena saat ini dia tak ingin banyak bercerita, biarlah ini jadi urusannya sudah cukup dia membagi segalanya
Randi hanya menatap punggung yang Zira menjauh hatinya berdesir aneh sebentar lagi, batinnya. dia belum menceritakan apa apa pada teman temannya perihal obrolannya dengan Aby, karna dia juga belum tau apakah mendapat izin untuk hal itu dari Umik
"Ran, ente kenapa? " tanya Abus heran pasalnya dari tadi bos nya itu hanya menatap Zira seperti barang berharga yang takut hilang dari pengawasannya
"Eh, nggak papa ayo " ucap Randi, Abus semakin heran 'ayo? ' bukankah mereka kemari untuk men servic mesin jahit bu Yuna yang rusak? ada apa gerangan?
"Ran, kamu oke tak? " tanya Toga pelan
"Apa yang salah? " tanya Randi, dia melihat teman temannya saling pandang sebernarnya dia salah berucap atau apa?
"Nggak deh...tuh bu Yuna sudah nunggu Mas" ucap Toga pelan, dia sebenarnya juga tak mengerti ah sudahlah, lagi pula tak penting baginya terserah Randi mau bagaimana asalkan dia tak menjadi emosi seperti tempo hari, karna Randi tipe pendiam jadi marahnya adalah hal yang sangat Toga takuti.
"Bu .... ini Mas Randi udah ada... " teriak Toga didepan pintu kobong bilik tersebut, tak lama wanita berusia 65 tahun itu keluar sambil menatap Toga garang
"Pelan pelan aja! saya masi bisa denger" jawab Bu Yuna emosi, Toga hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Ehhh... salah ya maapin ya Bu" ucapnya pelan sambil bersembunyi di balik tubuh Syaiban, Randi maju lalu memeriksa mesin jahit tersebut, dia tersenyum hanya ada kain yang melilit wajar bila susah berputar, batinnya.
Syaiban hanya memperhatikan Randi tugas ini kecil, mengapa harus mereka semua ikut? dia memilih duduk diatas batu sambil melafalkan nadzom alfiyah, dia bosan jika hanya memperhatikan akhirnya memilih berpamitan kembali ke kamar
"Ran, duluan ya? " Randi menjawab dengan anggukan dia pun melangkah kembali ke kamar sambil menatap langit biru yang mulai panasq?aa?a?a1
Sementara itu Abus dan Toga duduk mendengarkan Randi bercerita pada Bu Yuna soal Abahnya yang mulai sakit dan memintanya mencari istri
"Lalu udah ada?" tanya Bu Yuna
" Haaah?!!! " ucap Abus dan Toga berbarengan karna kaget akan ucapan Randi, sudah punya calon kah ia? Abus menyenggol lengan Randi tapi pria itu tak bergeming
"Ran kamu serius? " tanya Abus pelan
"Apa? " nada bicara Randi yang datar membuat Abus enggan meneruskan pertanyaan dia takut jika Randi tersinggung, akhirnya dia memutuskan diam untuk sementara waktu
"Yauda bu kita balik ke kamar ya " ucap Randi seraya tersenyum manis, lalu tanpa kata dia lagi dia berjalan lebih dulu disusul oleh Abus dan Toga yang berjalan dibelakangnya sambil saling melempar senyum aneh
"Mas Randi udah ada yang nunggu ya? " ucap Toga sambil tertawa, Randi menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Toga dengan senyum merekah
"Siapa? malaikat izroil? "
"Mas aku serius loh" jawab Toga sambil manyun
"Hahaha... emang ada apa hemm nanya gitu? "
"Abis Mas keliatannya bahagia banget hari ini"
"Alhamdulillah dong, mau saya marahin? "
"Ih ga gitu juga... yakin ga mau cerita? " cecar Toga, Abus hanya diam dia tau kalau Randi tipe pria yang tak suka mengumbar apa yang dia punya
"Iya alhamdulillah ada gadis yang memikat hati ini" jawaban Randi membuat Toga dan Abus terdiam saling pandang
"Siapa? "
"Tunggu aja khitbahnya" ucap Randi seraya tersenyum manis, saat mereka berdua hendak bertanya pria itu sudah berbalik lebih dulu dan melangkah meninggalkan mereka dengan tanda tanya besar menggantung
"Rannnnn ente berhutang penjelasan ke ana!!! " teriak Abus kesal dia malas jika Randi berhutang penjelasan pasti anak itu tak pernah mau membayarnya jika jangka waktunya telah lama
Randi yang mendengar teriakan Abus hanya menggelengkan kepala,teman-temannya memang kadang lepas urat malunya tapi meski begitu mereka setia kawan dan hal itu sudah cukup untuknya.
"Nanti juga ana cerita, kalau si bawel lah yang menaklukan hati ini" gumam Randi pada dirinya sendiri lalu seulas senyum terukir diwajahnya yang teduh itu.
...****************...
Ghisa menatap awan yang memenuhi langit, dia menghembuskan nafas berat mengingat sosok yang ia sukai ternyata sudah punya kekasih bahkan ada beberapa yang menyebut kalau mereka sudah bertunangan, hal itu membuatnya agak merasa sedih karna dia sudah salah melabuhkan hati
"Ingin bercerita pada yang dicinta, tapi yang dicinta sudah memiliki orang yang dicinta"
Ghisa lalu memejamkan matanya berharap kalau semua rasanya hanya mimpi konyol semata, tapi semakin ia mencoba melupakan...rasa itu kian menggebu seakan tak terima pada kenyataan,dari awal memang dia sudah diingatkan oleh Syaiban bahwa berharap pada Abus adalah sebuah kesalahan tapi toh, semuanya sudah terlanjur karna cinta kadang melupakan logika.
"Saaa... " teriak Raida dan Nura bersamaan dia lalu menoleh teman-temannya baru saja naik ke lantai tiga, dia lalu bangkit tersenyum pada mereka
"Mbak Zira nangis tau"
"Hah?! kenapa? " ucap Ghisa kaget pasalnya jika gadis itu sudah menangis itu tandanya kalau masalahnya sudah sangat berat dan tak mampu dia sembunyikan
"pulang dari ndalem dia tiba² renang coba trus ya pas ada Mas Randi buang muka, padahal Mas Randi senyum" papar Nura
"kamu liat sendiri? "
"Hehe enggak, cerita dari Raida" ucap Nura sambil tertawa
"Astaga" ucap Ghisa sambil meneplok jidatnya, temannya yang satu ini minta ditepak rupanya
"Ampun jangan marah, hehe"
"Yauda nanti aku cek keadaanya deh, moga mau cerita"
"Aamiin soalnya Mas Syaiban nanya dicuekin"
"Hah? " Ghisa makin bingung, jika Syaiban yang notabene kakaknya saja dia enggan bercerita apalagi pada mereka.