
Ibu dan Abah Randi kebingungan, karena sejak datang tadi sore putra mereka hanya mengurung diri di kamar tanpa ada niat untuk keluar apalagi mengobrol.
"Bu, Randi kenapa yah?" tanya Abah dengan cemas, kondisinya jauh lebih baik dari kemarin setelah tau Randi akan pulang. Ibu Randi hanya menggeleng lemah, karena bagaimana pun Randi baru pulang mungkin hanya lelah.
"Mungkin cape Bah, yasudah Abah istirahat dulu yah, biar Ibu bertanya,"
"Iyah, semoga dia mau bercerita."
Abah mengangguk kemudian menyamankan posisi berbaringnya, memejamkan mata yang sebenarnya enggan untuk terlelap. Ibu pun keluar untuk melihat kondisi Randi, pintu kamarnya sepertinya juga dikunci.
Baru hendak mengetuk, suara isakan membuat tangan yang mulai mengeriput itu enggan. Ibunya mendekatkan telinga, menajamkan pendengaran sambil harap-harap cemas kalau tadi bukan Randi.
"Raa, kenapa saya jadi begini?"
samar-samar putranya menyebutkan nama wanita yang memang menjadi idamannya, tapi mengapa terdengar sangat menyedihkan?
"Ra, saya mohon sanget jangan pergi tolong kasih saya kesempatan lagi, tolong kembali pada saya"
Lirihan bercampur isak itu terdengar sangat menyedihkan, ibu mana yang tahan ketika mendengar anaknya merasa sebegini terluka?
Klek...
Pintu kamarnya ternyata tak dikunci, Ibu Randi bergegas masuk dan memeluk Randi yang duduk dipinggir ranjang sambil menggenggam beberapa kertas yang sudah basah oleh air mata. Randi tak melawan, ia membiarkan ibunya memeluknya menyalurkan kehangatan yang sangat ia butuhkan saat ini.
Air mata kedunya mengalir, Randi yang menangisi keadaan dan ibunya yang mengkhawatirkan kesehatan putranya. Mereka hanya menangis dan berbagi pelukan tanpa ada niat untuk membuka percakapan.
Mata Randi tak lepas dari kertas digenggamanya, tulisan² itu menghangatkan hatinya. Tulisan indah yang dipenuhi diksi serta puisi yang kadang tak ia pahami, tulisan indah yang menggurat nama mereka berdua. Sebentar lagi takan ada istri komandan, sebentar lagi ramainya pondok akan hilang dan sebentar lagi, hidupnya kehilangan warna.
"Cintailah ia sewajarnya saja, sebab tiap-tiap kebersamaan akan berujung pada perpisahan. Ada maut yang mampu memisahkan alam, ada taqdir yang mampu membalikkan keadaan; ibu tak ingin kamu malah balik membencinya Ran,"
Diam, hanya itu yang Randi lakukan. Ia tahu betul kalau semua itu benar, tapi untuk saat ini seperti inilah yang ia inginkan, izinkan dia sebentar saja mengumpulkan puing kenangan menyimpannya pada sudut yang memiliki banyak makna.
"Tak apa menangislah, tapi bukan untuk selamanya..."
Usapan lembut dan kecupan dikening menjadi penutup kebersamaan itu, ibunya memberinya waktu untuk menenangkan hati dan lugowo atas segalanya.
"Jika rantai taqdir sudah mengikat, sejauh apapun kamu menghindar akan dipertemukan kembali lewat cara yang tak bisa kamu mengerti,"
Suara alarm memecah sepi dini hari tersebut, mata bengkak sebab menangis terlalu lama, rambut tak tertata serta jejak air mata yang tersisa membingkai wajah teduh nan manis tersebut. Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu—ia butuh ketenangan lewat sepertiga malam, ia sangat membutuhkannya.
Dingin yang menggigit ia tepis jauh, sebab udara di pondok lebih dingin dari ini. Menghampar sajadah menghadap arah ka'bah, bertakbir memecah sepinya ranah, ditepisnya segala bayangan permasalahan yang melanda.
Setelah dua salam terdengar wajah itu mengadah menatap langit kamar, tangannya mulai mengikuti buliran tasbih yang kian bergerak sesuai ritme pelafalannya. Air mata itu lagi-lagi tak terbendung, banjir tanpa ada niat untuk berhenti barang sekejap, padahal wajahnya sudah bengap.
Tangan itu mulai mengadah, memohon ampun sebab sebegini terluka oleh perbuatan hamba. Menangis begitu hebat namun lupa pada alam yang baka, meruntuki gurat taqdir yang tertera dengan bijaksana. Ia menangis, memohon kesembuhan untuk Abah dan Ibunya memohon agar mereka diberi kenikmatan umur panjang dan bahagia pada usia yang memasuki senja. Ia menangis lagi memohon keberkahan ilmu serta ridho gurunya, ia menangisi segala dosa dan kenangan yang selalu membayanginya.
"Robbul izati pembulak balik hati, lapangkanlah dada ini agar menerima setiap gurat taqdir yang tertera. Kuatkan bahu ini memikul beban sebab kecintaan hamba pada sesuatu yag fana, kuatkan lagi pundak ini untuk memikul segala beban derita sebab cinta, kuatkan langkah ini, jika sekiranya tak mungkin untuk dipercepat menuju hakikat. Aamiin ya robbal alamin."
Randi lanjut membaca al-qur'an guna menanti waktu subuh, surah An-Najm menjadi pilihannya tapi bayangan Zira membacakan surah itu tetiba muncul tanpa permisi, segera ia enyahkan sebelum meraja lela kembali. Tapi ternyata tak berguna sama sekali, hatinya menghangat begitu mulai melantunkan surah yang berjumlah 62 ayat tersebut. Begitu sampai diakhir surah yang kebetulan ayat sajdah ia membaca bacaan yang disunnahkan. Yakni 'Subhanallah walhamdulillah wala ilaha ilallah wallahu akbar' sebanyak tiga kali diakhir ditambah 'Wala haula wala quata illa billahil'aliyyil 'adzim'
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu mengakhiri deresan Randi, ia bergegas membukakan pintu. Wajah khawatir Abahnya adalah pemandangan yang tersaji, kala pintu itu terbuka sepenuhnya.
"Sampun beres Ran?"
"Sampun Bah, ada apa?"
Abahnya tersenyum melongok kedalam kamar, melihat kertas-kertas berserakan. Randi tersenyum samar, ia lalu mengajak Abahnya masuk dan duduk ditepi ranjang.
Elusan dipunggung membuat Randi tersenyum lebih lebar, ia sangat merindukan moment seperti ini. Menatap wajah yang sudah dipenuhi gurat lelah membuat hatinya kian terenyuh.
"Maaf nggih Bah, belum bisa nurut sepenuhnya. Maaf belum bisa berbakti sepantasnya."
"Kenapa kamu Ran? Sudahlah, tak apa hiduplah sesuai jalan yang kamu tuju. Yang terpenting kamu bisa maslahat bukan gundah begini."
"Nggih Bah, Randi hanya sedikit khawatir."
"Jangan menyimpan semuanya sendirian, jangan menangis terlalu lama. Kamu harus bisa melobi hati, agar tetap pada jalur yang seharusnya."
Randi mengangguk, dalam hati mengaminkan segala ucapan Abahnya. Ia ingin menjadi anak yang dibanggakan, ia ingin sepenuhnya menjalani kewajiban sebagai anak. Dia ingin, masalah ini tak perlu kedua orang tuanya tau, sebab akan sangat menyakiti mereka.
Biarlah ini menjadi masalahnya, selama masih bisa ia tahan seorang diri ia rasa tak apa bila orang tuanya tak tahu. Perasannya campur aduk, ia mungkin harus bicara dengan Rikaz agar hatinya benar-benar bisa menerima. Tapi, jika anak itu hanya bermain-main soal perasan Zira maka takan ia maafkan. Cukup hanya dirinya saja yang sebodoh itu, cukup dirinya saja yang terlambat menyadari betapa berharganya seorang Zira Al-qudaysi