
Jembatan Langgar
Pukul 19:05 WIB.
''Mba...Mba...psssttt,"seru Rikaz,dibalik pohon sawo yang berada dipinggir jembatan namun lebih dekat dengan kran air untuk minum.
''Hmmm? aku disini.'' Jawab Zira sambil memunculkan diri dari sisi gelap gubuk Bu Yuna.
''Udah nggak sakit 'kan?'' tanya Rikaz khawatir,dia tidak leluasa melihat Zira oleh karena itu ia berpindah,bersembunyi diantara lebatnya pohon honje/kecombrang.
''Alhamdulillah,udah enggak ko...kamu juga sakit nggak?'' tanya Zira.
''Nggak dong,aku 'kan kuat,hehe." Jawab Rikaz sambil tertawa pelan.
''Syukurlah,aku tau ko kalau kamu kuat,''aku Zira yang membuat Rikaz salah tingkah sendiri.
"Ah,Mba bisa aja nih...'' Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya,mereka saling berdiri dengan jarak yang cukup jauh.
''Dih,calon suami salting." Zira tertawa sambil menutup wajahnya,tapi apa kalian tau wajah Rikaz memerah. Dia merasa gugup sekaligus bahagia.
"Calon?"beo nya tidak percaya. Zira meredakan tawanya terlebih dahulu lalu mengangguk,membuat Rikaz semakin bahagia dan ...entahlah rasanya terlalu random.
"Benar Muhammad Rikaz Al-barnawy,kamu akan menjadi imam dalam setiap sholatku kedepannya." Ucap Zira dengan mantap sambil menatap bahu kokoh didepannya.
Rikaz masih mematung,bocah itu terlalu bingung mau mengatakan apa. Jadi,sekarang 'pengurus galak' menjadi calon istrinya? haaaah mimpi apa dia siang ini. Tapi,apa alasan Mba Zira setuju? sadarkah ia atas pilihannya?.
Zira yang tau kalau Rikaz bingung dan masih ragu atas jawabnnya langsung membuka suara,dia kemudian menatap sebentar wajah yang selalu membuat dia tertawa.
''Aku memutuskan ini secara sadar,aku tahu betul pilihanku. Ini bukan paksaan siapa pun jadi jangan ragu,bukankah kamu sendiri tadi siang sangat bertekad? tapi kenapa saat ini jadi begini ragu?"
"A-aku hanya,terlalu bahagia,''aku Rikaz seraya menatap kearah Zira.
Zira paham betul,bagaimana pun pikiran Rikaz masih sederhana dan juga selalu optimis. Dan dua hal ini yang membuatnya menyayangi sosok itu sebagai adik,ya dulunya hanya sebatas itu.
Rikaz masih mencuri-curi pandang,dia sebenarnya ingin menatap wajah Zira lalu berkata dengan tegas kalau dia mencintainya,tapi hal itu masih mustahil saat ini.
"Mba tau apa itu cinta?"tanya Rikaz seraya menatap langit yang dipenuhi bintang.
"Aku tau, cinta itu Amrun Jibiliyyun Fii Qolbi." Jawab Zira lantang sambil ikut memandangi bintang.
"Benar,cinta adalah suatu hal yang bergejolak dalam hati,seperti halnya ketika aku menatapmu hatiku bergejolak menampung kebahagiaan yang hadir." Rikaz berucap lirih,tapi masih terdengar jelas oleh Zira.
Dia menoleh,bahagia rasanya mendengar hal itu langsung dari mulut orang yang mencintainya. Perasaannya jauh lebih tenang.
"Oke kalau begitu,sampai jumpa" ucap Zira seraya keluar dari tempatnya,berjalan dengan tenang menuju kamar mandi seolah keberadaan Rikaz hanyalah angin lalu. Dan hal itu adalah yang Rikaz suka,gadisnya tidak pernah sekali pun berbuat hal yang membuat orang curiga padanya.
Rikaz juga berjalan ke arah Kobong,dengan hati yang berbunga-bunga tanpa menyadari ada yang terus menatapnya dengan hati kecewa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zira mematung,dia mendadak kelu jika harus langsung bertemu. Haruskah ia lari? tidak! dia bukan seorang pengecut. Oleh karena itu dia memutar tubuhnya dan mengangkat wajahnya.
Randi terus maju,hingga jarak antara mereka sekitar dua meter,keduanya tidak saling tatap hanya menatap ke arah lurusan masing-masing.
"Ada apa mas Randi?" tanya Zira pelan.
"Mas? tolong,panggil aku Randi,seperti biasa. Ada apa denganmu?"
"Apa?"tanya Zira.
"Apa benar soal hal itu,tolong beri aku penjelasan!" Permintaan Randi yang terdengar seperti perintah.
"Soal apa? lumbung padi? atau yang lain?" tanya Zira setenang mungkin,padahal hatinya sudah ingin memaki Randi.
"Semuanya! jangan sampai ada yang terlewatkan,"
"Intinya,aku akan menikah dengan Rikaz." Datar,dingin dan tegas Zira berucap demikian. Membuat Randi mundur kemudian duduk bersandar pada tiang Langgar.
"Ini bercanda kan?" gumamnya.
"Kamu selalu begitu,menganggap semua hal didunia ini bercanda! perasaanku kamu anggap bercanda! cintaku,semua yang aku lakukan untukmu kamu anggap bercanda! selalu kata BERCANDA yang kamu pakai untuk menilai segala hal! Saya lelah,saya lelah,saya lelah! dengar hal ini,kenyataannya begini saya akan menikah dengan Rikaz,orang yang mencintai saya." Akhirnya,semua unek-unek itu keluar juga. Zira bergegas pergi sebelum perkataan Randi membuatnya semakin emosi dan terluka.
"Maaf,apa sebegini terlambat menyadari perasaan ini Ra? apa sebegitu bodohnya aku?" Randi bermonolog sambil menatap tempat Zira tadi berpijak. Hatinya hancur saat itu juga,kenyataan ini terlalu membuatnya sakit dan mungkin hampir gila. Mengapa taqdir tidak membiarkannya memperjuangkan perasaannya? ini semua salahnya, jika saja dia langsung memberi tau Zira soal keputusannya yang disetujui Aby pasti semuanya tidak rumit.
Lalu sekarang dia harus apa? menyerah? bahkan dia belum memperjuangkan cintanya, mengapa harus sebegini cepat? bisakah waktu berputar sedikit saja? dia ingin mendengar tawa itu lebih lama, dia ingin melihat senyum dan tingkah konyol itu lagi, dia ingin terus membaca surat cinta yang dikirim setiap jum'at.
''Bersholawatlah, biar tenang... tarik dan keluarkan nafas pelan-pelan''
Suara dan tepukan dibahu itu membuat Randi keluar dari dunia gelapnya, dia melirik tajam sambil mendengus. Tapi dia juga tetap melakukan saran dari orang tersebut,berangsur angsur dia mulai tenang meski kesedihan masih tergambar pada tatapnnya.
''Lebih baik kita kembali ke kobong, karena disana Abus sudah menunggumu,ada Toga dan Soiron juga''
"Dia ada? "
"Tidak perlu khawatir Mas,dia sedang berdebat dengan Rikaz"
"Untuk apa?"
"Agar mau menolak hukam itu"
Baru bangkit dari duduknya, Randi malah bertemu dengan Hendro yang terlihat sangat senang. Randi aneh sekali, apakah ini semua ulahnya?
"Mas Randi,Mas Athir" sapa Hendro sambil tersenyum, namun keduanya hanya menatapnya aneh.
"Ayo Mas Randi, sudah waktunya istirahat"ucap Athir sambil menarik tangan Randi agar mau menjauh.
Seringai muncul diwajah Hendro, dia puas karena Zira akan dikeluarkan dan juga dijamin tidak akan pernah kembali. Tapi sayangnya Hendro tidak tahu kalau hukuman Zira bukan hanya sekedar diusir namun dinikahkan dengan Rikaz.