My Little Husband

My Little Husband
Air mata Randi



Randi tetap berdiri, dia diam-diam melirik ke arah Zira yang hanya menundukkan kepalanya. Hatinya terlalu berat jika mengingat sebentar lagi gadis berisik itu akan menjadi milik orang lain sepenuhnya. Dia harus pulang hari ini, penyakit Abahnya kambuh lagi dan juga terus mendesaknya agar segera mencari istri.


"Mbak," lirih Randi. Zira sepenuhnya kaget, ia sampai menatap Randi tapi tidak berlangsung lama.


"Apa tidak bisa?" Pertanyaan Randi terdengar ambigu, Zira hanya menggeleng pasrah.


"Ah Randi, maaf Aby dari belakang ngecek ikan." Suara Aby terdengar, memecah keadaan tidak nyaman diantara dua insan. Randi tersenyum sambil mengangguk.


"Boten napa-napa, Bi."


Ra, kembalilah ke kamar." Ujar Aby pelan sambil terus menatap Randi. Zira beranjak, menghilang dibalik pintu jati.


Randi tetap berdiri, dia diam-diam melirik ke arah Zira yang hanya menundukkan kepalanya. Hatinya terlalu berat jika mengingat sebentar lagi gadis berisik itu akan menjadi milik orang lain sepenuhnya. Dia harus pulang hari ini, penyakit Abahnya kambuh lagi dan juga terus mendesaknya agar segera mencari istri.


Aby menghela nafas, melihat tatapan nanar dari Randi membuat beliau merasa kasihan dan bersalah.


"Ran, maaf ya..."


Randi hanya mengangguk paham, sebenarnya ia ingin mengajukan banyak pertanyaan. Mengapa Aby menetapkan pilihan macam ini? Alasan apa yang sebenarnya membuat Aby sedemikian memaksa agar Zira bersama Rikaz? Tapi sayang pertanyaan itu hanya bercabang dikepalanya, takan pernah sampai pada Aby.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Zira kembali berpapasan dengan Aruna yang menatapnya tajam, Zira hanya menatapnya dingin yang membuat Aruna memilih berlalu dengan hati dongkol serta iri. Zira menatap gedung Qodim serta Jadid, ia belum mampu jika harus meninggalkan semuanya dalam waktu dekat ini.


Aruna sudah melakukan kesalahan besar karena berani beradu pandang dengan Zira, dia iri karena Zira selalu terdepan, dia selalu dicari oleh semua orang. Padahal sikapnya sering melanggar aturan pondok, dia aneh sekali kenapa semua orang begitu menyayangi anak itu.


Padahal Aruna baru 4 tahun, berhubung ia caper serta selalu ingin dilihat Umy jadilah Umy menganggkatnya sebagai anak Ndalem. Tanpa tahu niat Aruna yang sebenarnya ingin menguasai segala tugas, ia merasa kalau yang lain pemalas tak seperti dia yang rajin.


Bahkan pernah terang-terangan Aruna menuduh Zira atas hal sepele didepan banyak orang, seolah membuktikan bahwa dia yang seharusnya menjadi pemimpin.


Untungnya Zira tak ambil pusing, toh ia juga tak ingin menjadi Rois Khos-jika bukan Umy yang menyuruhnya. Ia malas berebut hal semaca


Aruna adalah salah satu anak Ndalem, ia bertugas mengatur kerapihan serta tata letak barang. Tapi sayang, banyak yang kurang senang akan sikapnya yang selalu ingin dijadikan nomer satu. Ditambah semua tau, kalau Aruna sepertinya ingin mengambil posisi Zira.


Zira merasa tak enak pada teman-temannya, karena itu ia bergegas mencari mereka. Ternyata mereka menunggunya ditempat biasa mereka duduk sambil menatap langit, Ghisa bersandar pada tembok, Nura bersandar pada tiang sedangkan Raida ia tengah mengoceh tak jelas perihal Athir.


"Ghisa, kamu udah makan?" Tanya Zira pelan


Ghisa kaget, ia segera menoleh ketika mendengar suara zira sudah lebih baik.


"Eh, kamu...aku udah kamu belum kan?"


"Nggak laper ko, ah ia, aku ke kamar dulu ya"


Ghisa menatap langit yang membuat matanya silau, ia takut jika Zira pergi semuanya akan merubah situasi. Siapa yang akan menggantikan gadis itu untuk paling semangat pergi ke lumpur? Siapa yang akan paling awal jika disuruh mencari bangkai tikus? Bahkan Umy pernah marah sebab jika bukan Zira yang mencari biasanya akan memakan waktu 2-3harian.


Kehadirannya memang bukan detak jantung, tapi dia itu warna yang diterima semua orang. Meski dengan tingkah anehnya, meski dengan sikap dinginnya yang datang secara tiba-tiba, malahan semua itu yang membuat sosoknya melekat dihati banyak santri.


"Mbak Ghisa, ngelamunin apa?" Tanya Nura sambil mengguncang pelan lengan Ghisa, karena sedari tadi hanya diam.


Ghisa kaget, dia terlalu memikirkan hal ini membiarkan segala kemungkinan yang ia buat seorang diri. " Nggak papa ko, eh ia aku masuk ya mau ke Zira, penting." Jawabnya sambil segera bangkit dan masuk kedalam Kobong Al-Warod.


Nura menatap Ghisa heran, ada apalagi ini? Tadi Mbak Zira, sekarang Mbak Ghisa sungguh dua orang itu membuatnya bingung.


"Untung aku masih kecil, jadi belum paham,"lirihnya sembari mengayun-ayunkan kaki. Raida hanya menatap sekilas, lalu kembali sibuk pada khayalannya yang sudah terlalu jauh ia bangun seorang diri.


***


Setelah mengantongi izin dari Aby, Randi bergegas kembali ke Kobong untuk bersiap-siap pulang. Hatinya sebenarnya tak tenang, tapi bagaimana lagi ia perlu bercerita pada kedua orang tuanya perihal gundah dan dilema yang membuatnya kewalahan menahannya.


"Mas Randi, dicari kang Abus tadi," ucap Athir begitu melihat Randi berjalan dengan sangat lesu dan menunduk dalam.


"Nuhun nggih,"balas Randi sekenanya sembari tersenyum yang sangat dipaksakan, Athir mengangguk tanpa berbicara lebih lanjut.


"Ya Allah, kenapa perihal cinta begitu runyam." Sambil mengusap wajah berkali-kali ia masih melirihkan kalimat tersebut, ia padahal sudah berusaha ikhlas tapi sepertinya hatinya benar-benar menolak untuk melepaskan Zira begitu saja.


Randi mempercepat langkah, tak peduli pada beberapa santri yang menyapanya. Ia benar-benar tak baik-baik saja, ia butuh ketenangan yang sesungguhnya.


Sesampainya di gedung Jadid, ia bergegas masuk kamar tapi, disana sudah ada Abus yang menantinya sembari berbaring diatas kasur. Melihat ini jiwanya semakin resah, ingin rasanya ia marah sebab masuk tanpa izin tapi, untungnya batas sadarnya masih walau samar.


"Begini Ran, aku..."


Belum selesai Abus berbicara, tangan Randi mengode agar ia diam. "Maaf Bus, saya mau bersiap untuk pulang."


"Tapi, ini penting Ran..."


Randi menggeleng, ia tak mampu lagi jika mendengar hal buruk lainnya, batinnya tengah lelah dan sangat sensitive. Ia tak ingin marah tanpa dasar yang jelas seperti tempo lalu. Secara tidak sengaja ia membentak anak baru, padahal hanya karena anak itu memakai sendalnya begitu lama ke kamar mandi, semua orang paham kalau Randi sangat terpukul.


"Maaf, tolonglah." Pinta Randi dengan wajah yang sudah sangat putus asa. Abus tak percaya itu, ia paham betul Randi tidak pernah mengabaikan berita yang ia bawa tapi, kali ini semuanya jelas berbeda. Sorot mata kawannya itu sudah begitu lelah dan sedih, sebegini lemahnya Randi khoruddin sebab seorang Zira al-qudaysi.


Abus lalu bangun dan menepuk bahu Randi, menyemangati tanpa kata. Begitu Abus keluar, Randi bersandar pada dinginnya dinding kamar ia terisak pelan. Abus yang sejatinya masih diluar bisa mendengar isak yang tertahan itu, ia getir sendiri setelah ini seorang Randi tak mungkin sama lagi, sudah dipastikan mereka akan kehilangan Randi yang sangat dewasa dan tegar.


Tangis Randi belum juga reda, Abus pun masih setia dibalik pintu kamar nomor 1 tersebut. Ia sebenarnya ingin masuk, mendengarkan segala keluh kesah kawannya yang tengah patah tapi, Randi pasti merasa sangat terganggu nantinya. Mungkin jika tau ia menguping seperti ini juga akan marah cukup lama.