
Assalamualaikum Mba... ini aku Rikaz.
Apa kabar? jauh merasa lebih baik dari hari kemarin? semoga saja yah. Jujur ya Mba,aku khawatir banget liat mba kaya gitu. Aku takut, kalau mba nggak bangun lagi gimana? aku nggak mau ya kalo Mba wafat di pangkuan aku.
Ah, ia Mba... ini aku mau ngasih tau soal keputusan sidang tadi pagi. Aku sih nerima aja tapi entah kalo Mba,aku serahin keputusan final ke Mba.
Mba... aku tau ini berat buat kita, aku juga nggak tau kenapa Mas Indro sebenci itu sama kita. Aku nggak tau kenapa dia sampe sejahat itu sampe-sampe ngerencanain semua ini.
Bukan suudzon, aku nggak sengaja dengar saat dia ngobrol sama Kang Lukim. Aku pengen kasih tau semuanya ke Aby, Umy, Mas Syaiban dan Mas Randi. Aku takut Mba dibenci semua orang, aku takut Mba jadi murung. Tapi apalah daya aku juga nggak punya bukti.
Jadi, Aby memutuskan kalau jalan terbaik menghindari fitnah adalah menikahkan kita. Aku tau, Mba mungkin nolak keputusan ini...tapi tadi pagi aku nerima keputusan ini dan aku juga bilang ke Aby kalau keputusan akhir ada ditangan Mba...
Jadi, sore ini aku tunggu jawaban Mba... maaf mendadak dan juga mungkin menyakitkan.
Aku nggak tau kenapa, aku sayang sama Mba udah lama ini bukan modus ya... ini kenyataan loh,tapi entah juga ini sayang atau mungkin udah menjelma menjadi cinta. Hahaha Mba pasti nggak percaya yah, selalu gitu, selalu nganggep aku anak kecil. Padahalkan cinta itu rasa, bukan logika. Please jangan larang aku buat ngejaga rasa ini.
Meski aku tau, kalau Mba ngejaga hati buat Mas Randi, tapi bolehkan aku mengisi sedikit saja ruang yang masih kosong? bolehkan aku jadi imam yang nemenin Mba solat? bolehkan aku berharap kalau Mba nggak nolak hukuman untuk hidup bersamaku?
Mba, mungkin ini konyol dan terasa tak nyata tapi sungguh hati ini menjadi nyaman bersamamu, melihat tawamu, mendengar kisah hidumu, terlihat jelas dimataku warna-warna indahmu.
Mendengar lantunan nadzom yang keluar dari bibirmu yang jarang tersenyum membuat duniaku seketika berubah, tolong mengertilah. Aku jatuh terlalu dalam oleh pesona seorang pengurus galak.
Terima kasih,cukup sekian...segeralah pulih, aku rindu suara berisikmu.
......Tertanda, Rikaz. ......
...----------------...
Tanganku gemetar hebat, tubuhku dibanjiri keringat dingin,mataku terasa perih dan hatiku tenang dan cemas dalam waktu bersamaan. Menikah? dengan Beby R? mimpi kah? entahlah tapi semua ini terasa nyata.
Melihat Ghisa, Raida dan Nura datang aku buru-buru menghapus air mata sambil menyelipkan surat itu kedalam saku baju.
"Jangan ditahan, nangis aja sini," ucap Ghisa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar"In my Arm"lanjutnya.
"Nggak, agak sakit aja kepalanya"elak Zira.
"Pura-pura terus nih"sindir Raida.
Mereka pun saling terkikik pelan, Zira menatap temannya satu persatu, dia tak tega harus meninggalkan mereka. Sudah terlalu panjang kisah yang mereka jalani, suka,duka,semuanya mereka bagi.
Apalagi saat melihat Ghisa, hatinya semakin enggan. Diantara semuanya akhir-akhir ini mereka lebih banyak membicarakan hal berdua. Tapi dia harus memberi tau mereka, ya meski pun sangat berat.
"Mbuh punya wasiat nih" ucapku sambil tertawa, tapi mereka menatapku tajam.
"Apaan sih jangan bercanda! " nada suara Ghisa naik satu oktaf.
"Apaan sih Mbuh, ish bikin takut"omel Nura.
"Jangan gitu dong, pengen nangis nih" Raida sudah berkaca-kaca.
Aku menghela nafas, sungguh ini terasa berat,sangat-sangat. Tapi bagaimana lagi, toh perpisahan adalah suatu hal yang pasti dalam hidup ini.
"Jadi... "
"Isi surat tadi?" tanya mereka bersamaan.
Baru akan menjawab, Umik datang bersama Mba Ai dan juga jajaran pengurus lainnya.
"Assalamu'alaikum Ra... " ucap Umy dengan lembut.
"Waalaikumsalam Mi... "lirihku.
"Raida, Ghisa dan Nura... kembali ke kamar" titah Mba Ai.
"Nggih" balas mereka kompak, kemudian segera keluar.
Umy duduk menghadapku, Mba-Mba yang lain berdiri mengelilingi tempat tidur ini. menatapku prihatin.
"Aruna,Sonya,Nandya...kalian silahkan kembali,lagi pula Umik tidak memanggil kalian"
"Nggih, Mik"
Kini tinggal Umy,Mba Ai dan aku,yang masih saling diam. Kemudian Umy menghela nafas,menatapku dengan nanar dan prihatin? entahlah.
"Ra... Umy tak percaya kamu sengaja bermalam dengan Rikaz, rasanya berita itu terlalu dibuat-buat,apa lagi setelah mendengar cerita Mba Ai. Umy juga tidak setuju atas keputusan Aby yang memilih menikahkan kalian,rasanya terlalu tak sekufu"
jeda tiga detik, lalu Umy melanjutkan.
"Ra...jangan terima ya... lebih baik kamu pulang saja, tanpa harus dengan Rikaz... "
"Apa Aby akan Ridho? "tanyaku.
"Mungkin tidak,"
"Lalu jika aku menikah,apa umy bisa ridho? "
"Mungkin bisa, jika kamu juga bisa menerima"
"Zira sudah punya keputusan Mik, insyaallah sore ini menghadap ke ndalem"
"Ah, umy tidak bisa menebak pikiranmu Ra.. umy hanya berharap kamu melanjutkan mondok, kemana pun. Yasudah syafakillah...umy tunggu jawabanmu"
"Ra... lekas membaik,kami rindu suaramu padahal baru satu hari"
Umy bangkit,lalu keluar diikuti Mba Ai dibelakangnya. lalu mengucap salam sambil menutup pintu ruangan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... "jawabku dengan lirih bersamaan dengan luruhnya air mata.
"Kaz, aku sendiri bingung bagaimana perasaan ini,tapi entah mengapa aku menghangat saat mendengar kamu menyayangiku, tulus"
Kembali aku menatap coretan diatas kertas tadi, kemudian meraih buku yang ada diatas meja,mulai menulis balasan untuk Rikaz.