
Jam dinding sudah menunjukan pukul 16:05 WIB. aku kembali menelisik hal apa yang kira-kira terjadi saat mereka semua melihat kami di lumbung padi? apakah semua orang percaya pada Mas Indro? tapi,apa mungkin dia bersekongkol dengan seseorang lagi? entahlah manusia memang sulit sekali untuk ditebak.
Bingung juga harus menerima hukuman seperti ini, apa yang Aby lihat saat memutuskan hal ini? lalu Mas Randi,bukankah Aby setuju pada keputusannya? ah orang tua memang selalu punya sudut pandang yang berbeda serta berfikir panjang.
Bagaimana cara memberi tahu pada Mamah? argggghhhh semua ini makin runyam sekali. Dan juga aku harus segera menghadap ke Ndalem, semakin cepat semakin baik. Tapi jam segini Aby masih di Langgar dan akan keluar pukul 16:25 WIB. jadi aku masih punya waktu.
Alasan? ah ia tentu saja aku butuh alasan untuk setiap keputusan dan juga tanggung jawab tentunya... ah ini terlalu sulit, mengapa tidak hukuman lain saja? hanya dikeluarkan aku tidak keberatan,jika hanya disuruh membersihkan WC santri putra setiap jum'at selama satu tahun sepertinya lebih baik.
Kenapa harus sesulit ini? lalu apaa jawabanku akan diterima semua pihak? bagaimana jika salah satu dari Umy atau Aby kecewa? hufffttt ingin rasanya menangis saja, tapi aku terlanjut kuat.
''Assalamualaikum...Mba Zira''suara lembut itu aku hapal betul,itu milik Mba selaya.
''Waalaikumsalam...masuk Mba Selaya''
''Maaf ya baru sempet jenguk, gimana-gimana udah baikan?''
''Udah ko, ini udah mau balik ke kobong''
''Alhamdulillah kalo gitu seneng dengernya, anak-anak juga kayanya udah pada kangen mereka mau jenguk malu katanya''dia terkikik pelan.
''Kebiasaan pada lebay, padahal mah santai aja'' selalu begitu, mereka enggan mendekat padaku.
''Biasa atuh namanya juga kesenior, wajar Mba''
''Tapi kan disini nggak make kaya gitu, cuma cukup saling hormat dan sayang jangan terlalu jaga jarak jangan terlalu berani. Huh males deh''omelku seketika.
''Mereka juga udah pada nunggu buku cerita ''the last aura'' lanjut katanya, masih ngegantung''
''Ndak bisa lanjut,''lirihku.
''Yasudah,sekarang Mba pulihkan dulu saja jangan mikirin masalah itu.''
''Insyaallah... ''
Suara salam yang diiringi ketukan pintu membuat kami diam.
''Waalaikumsalam, sinten? ''
''Ini aku Mba,Anila...hampunten nggih didawuhi Umy dan Aby menghadap ke Ndalem''
''Nggih,nuhun sanget''
Yasudah ayo,aku juga akan piket ke sana kita bareng saja. Aku mengangguk pasrah, sebenarnya ingin menolak tapi tak apalah bukan maslah besar ini. Lagipula jarak antara UKSA dengan Ndalem dekat,karena memang sengaja agar keluarga bisa mengontrol keadaan santri yang sakit dan perawatannya.
Kami masuk lewat pintu sebelah utara yang biasa digunakan para Mba-Mba Ndalem masuk, karena pintu ini langsung terhubung pada lorong arah dapur dan ruang depan, jika santri biasa mereka menggunakan pintu dibagian tenggara yang lebih dekat dari Kobong.
Begitu masuk suasana Ndalem sangat sepi, Mba Nandya sepertinya belum turun juga Mba Sadia. Mba Selaya mulai membereskan meja yang ada gelas-gelas bekas menjamu tamu, mengembalikan barang pada temat semulanya,menyapu dan terakhir menyiram tanaman.
Aku duduk sambik menunggu Umy msmanggilku, benar saja namaku di panggil tak lama kemudian.
Disinilah aku sekarang, duduk bersimpah sambil menunduk dalam. Diteras rumah bercat putih dikelilingi indahnya bunga koleksi Umy, suara ayam kadang bersahutan memecah sunyi.
''Bagaimana keadaanmu? ''tanya Aby.
''Alhamdulillah,baik''balasku.
Beliau menghela nafas, sepertinya menatap Umy.
''Tadi Rikaz sudah cerita apa yang terjadi,jadi kini giliranmu... apa yang sebenarnya kalian lakukan malam itu? ''
Aku mulai menceritakan masalah yang terjadi, versiku. Aku tak berani mengangkat kepalaku untuk sekedar melihat ekspresi Aby dan Umik, tubuhku sedikit bergetar apalagi saat kaki ini menyentuh lantai marmer yang beku.
''Sebenarnya ini sulit untuk kami,apalagi Randi sudah memintamu pada kami. Ini berat, sangat berat...sebebarnya Aby juga berharap kamu bisa bersatu dengan Randi tapi kita tidak pernah tau rencana taqdir Nduk. Ditambah Aby bermimpi saat kamu akan melangsungkan ijab qobul bersama Randi tiba-tiba ada angin yang sangat besar, membuat Randi hilang. Jadi Aby memutuskan jalan terbaik untuk menghindari fitnah yang takutnya malah semakin besar dan menjadi-jadi Aby meminta Rikaz untuk segera menikahimu''
Aku mematung, entah harus menjawab apa. Hawa disekitarku terasa berat dan sunyi,aku bahkan mendengar degup jangtungku secara jelas. Keringat mulai mengucur, aku bingung setengah mati.
''Aby aneh, apa akan sekufu? bukankah Aby tau betul bagaiamana sikap Rikaz yang masih kekanakan? dari awal Umy tidak setuju,biarlah Zira keluar saja dia harus melanjutkan mondoknya. Lalu apa Aby fikir orang akan ssmakin suudzon jika Zira menikah dengan Rikaz? yang ada mereka akan semakin psrcaya kalau fitnah itu nyata'' Umy sepertinya sangat tidak suka pada keputusan Aby.
''Mii...kita sudah membicarakan ini tadi, apa Umy belum paham juga?''
''Bismillah aku bersedia,''ucapku tenang dan kuat sambil sedikit mengangkat kepala. Umy jelas sangat kaget, mungkin beliau tak menyangka.
''Ra... tidak perlu begitu... ''
''Yakin? ''tanya Aby cepat.
''Insyaallah yaqin, tapi apa bisa meminta sesuatu?''
''Apa Ra, katakan? Umy melunak.
''Bilang pada Mamah kalau ini murni perjodohan,karena Mamah punya asma''paparku.
''Masalah itu biar urusan kami, yasudah Aby masuk dulu''
Setelah Aby masuk,Umy mendekatiku duduk tepat disampingku mengelus pelan bahu ini.
''Umy sudah bilang kalau Umy akan Ridho atas keputusanmu, pasti kamu punya alasan 'kan? Umy hafal betul haliyah dan fi'liyah kamu... yasudah kembali lah ke kobong, istirahat soal Mamahmu biar Aby yang urus.''
''Nggih Mi... Zira pamit, ''aku mencium tangan itu dengan ta'dzim.
''Maaf tidak bisa berbuat apa-apa''
''Ndak papa mi... mungkin ini jalur langit''
Sore itu aku memutuskan hal besar, untuk menerima dia sebagai imamku, dia yang bahkan namanya belum pernah aku rapal dalam do'a.