My Little Husband

My Little Husband
Leleh



Zira tengah menulis saat Ghisa masuk dengan wajah ditekuk tanpa repot mengetuk pintu terlebih dahulu, lagi pula ini kamar Ghisa.


Zira menutup buku, duduk tegak menghadap Ghisa yang sudah siap bercerita. Tapi, anehnya anak itu hanya diam menatap Zira penuh.


"Ada apa hmm?"


Ghisa mulai menceritakan kekhawatirannya perihal kepergian Zira nanti, bagaimana jadinya pondok tanpa sosoknya, bagaimana sepinya mereka tanpa sosok yang sudah dianggap 'ibu'.


Zita mendengarkan semuanya, ia paham betul kalau Ghisa pasti sangat khawatir akan hal itu. Tapi, mau bagaimana lagi keputusan Aby mutlak sudah dijatuhkan meski Umy menolak, buktinya Aby sama sekali tidak menggubrisnya.


Setelah tenang, Ghisa menatap Zira sambil berkaca-kaca. Ia ingin lebih banyak bercerita, namun enggan membuat sahabatnya semakin rapuh dan hancur luar dalam.


"Maaf ya Mbuh, aku malah cengeng kaya gini." Masih sambil menekuk bibirnya dan sesekali mengelap air mata yang hendak meluncur.


"Gapapa, aku paham kok tapi, mau gimana lagi yah ini keputusan Aby," jelas Zira sambil mengelus pundak Ghisa. Mereka kemudian tertawa tak jelas sambil saling pandang penuh arti.


"Makasih ya, udah khawatir. Tapi, belum tentu bakal seburuk itu yang hilang cuma satu orang, bukan detak kehidupan kalian," tutur Zira dengan binar sendu yang menurut Ghisa sangat mengganggu.


"Aku belum liat Rikaz loh, Mbuh."


"Sama aku juga, kira-kira dia kenapa ya?"


Memang Rikaz belum pernah terlihat semenjak waktu itu, dan Zira sebenarnya agak khawatir apakah semuanya baik-baik saja? Sebab Rikaz tak pernah mau menceritakan masalahnya pada siapa pun.


"Eh Mbuh, sebentar lagi kentrong satu yah mau makan dulu nggak?" Tanya Ghisa setelah mengingat kalau Zira belum makan sedari pagi.


"Boleh, ayo ke dapur ajak anak dua itu juga."


Mereka pun beranjak menuju dapur, mengikut sertakan Nura dan Raida yang masih duduk depan tangga.


"Mbuh udah iyes?" Tanya Nura dengan wajah sungkan, pasalnya ia heran kenapa tiba-tiba mengajak mereka ke dapur.


"Udah dong, dapet saya," Ghisa berbangga diri sambil menepuk dada.


"Heleh apa ia tah?" Nura ragu pada pernyataan tadi.


"Udah ish, ribut mulu males deh," lerai Zira dengan sorot mata yang mulai mendingin. Nura segera diam begitu pula Ghisa, mereka tak ingin kali ini Zira kembali marah dan gagal makan. Jangan sampai terjadi.


Suara kentrongan dari Langgar memecah kesunyian menjelang sore, kentrong satu pertanda agar segera bersiap karena sebentar lagi waktu sholat ashar tiba.


Randi masih ditempat yang sama, isakkannya mungkin sudah reda sebab ia memilih merenung tanpa sepatah kata. Matanya menatap kosong pada kalung hati yang terpajang dengan indah, kalung itu adalah benda pertama yang Zira berikan padanya lengkap dengan surat yang selalu membuatnya bahagia.


Zira, semua hal yang dilakukan gadis itu selalu menyita perhatian orang banyak. Sikapnya yang crewet, bar-bar dan dibarengi ketegasan yang kadang malah membuatnya semakin terasa lembut sekaligus menakutkan.  Gadis itu menjadi nomer satu dihati para teman-temannya, meski kadang sering menimbulkan masalah ia selalu terdepan ketika menyelesaikan banyak pertikaian.


Ah, Randi kembali mengusap air mata yang luruh tanpa permisi; ia malu, ia sangat kecewa akan segalanya. Zira, nama itu takan lagi menghiasi harinya, menemani sunyi malamnya. Zira, gadis itu sebentar lagi akan menjelma menjadi makhluq langka dan asing ia benci akan hal ini.


Sebentar lagi ashar tiba, ia ingin mengumandangkan adzan dengan setumpuk perasaan ini. Randi akhirnya bangkit, menghapus jejak air mata yang mengering, mengambil sorban serta udeng, memakai jubah putih dan segera keluar dari kamar menuju langgar.


Sebelum masuk, ia melihat Zira bersama teman-temannya didepan kamar mandi, semuanya tertawa tapi gadisnya hanya tersenyum itu membuat hatinya semakin kalut.


Trong..trong..trong...


Kentrong dua terdengar memecah waktu serta suasana, semuanya terdiam khidmat menantikan kumandang adzan.


Allahu Akbar... Allahu Akbar....


Deg! Jantung Zira berdegup lebih cepat, matanya memanas mendengar lantunan merdu yang familiar ditelinga. Air matanya mendesak ingin keluar, tangannya bergetar serta berkeringat dingin. Semuanya sibuk berbisik kalau itu adalah Randi, tanpa sadar kalau Zira sudah pucat pasi. Dan hal Zira takutkan terjadi, tepat pada lafadz ini—air matanya tak terbendung lagi.


Hayya 'ala Sholah.....


Hayya 'ala Sholah....


Tanpa Zira tau, air mata Randi ikut mengalir indah bersama lantunan merdu adzan ini. Mereka berdua menangis, tersakiti sebab jalan ini.


"Ran...kenapa baru sekarang?''


Setelah rampung melantunkan adzan, Randi keluar untuk mengambil wudhu lagi. Hatinya begitu terganggu sebab tangis Zira masih bersemayam dengan angkuhnya.


"Ra, kenapa baru sekarang saya sadar? Kenapa setelah semuanya berakhir Ra, jangan siksa saya seperti ini..."lirih Randi ketika air itu menyapu wajahnya yang terlihat kacau dan lelah.


Disisi lain, Zira masih menghapus air matanya didalam kamar mandi. Hatinya tak karuan sejak adzan tadi, suara Randi begitu mengusik qalbunya.


"Ran, jangan siksa aku begini. Lepaskan rasa yang mustahil kau gapai kembali," lirihnya sembari mengguyurkan air pada wajah dinginnya yang meleleh.