My Little Husband

My Little Husband
Problem



Setengah jam berlalu, namun masih belum ada kang santri yang melintas ke arah kami. Hawa dingin pun semakin mencekam ditambah saweran dari air hujan diluar.


Aku merapatkan tubuhku pada tembok dan sialnya malah semakin dingin, kilat bergemuruh dengan kerasnya hingga menciptakan siluet Rikaz yang masih mengotak atik pintu tersebut.


"Aku nyerah Mba"ucapnya dengan lesu, lalu duduk jauh dariku.


Baru aku ingin menghiburnya tapi suara kilat membuaku terlonjak kaget. Lalu mataku menangkap percikan api yang berasal dari MCB.


"Astaghfirullah... Kaz,Kebakar"pekikku.


"Ya allah ia Mba"dia masih menatap percikan itu.


Nahasnya percikan itu jatuh ke jerami sehingga mulai menjadi api. Aku panik sangat,tapi Rikaz mencoba tenang dia melepar jaketnya padaku, kemudian melepas kemejanya kemudian mencelupkannya pada genangan air. Ketika sudah basah lalu berkali-kali dia memukulkannya pada Api yang untungnya belum benjadi besar.


Setelah yakin api itu padam Rikaz kembali duduk sambil menatap nanar ke arahku, dia pasgi tau kalau aku sangat ketakutan saat ini.


"Pake aja jaketku"


"Tapi kamu"


"Aku nggak nerima penolakan yah Mba... "


Aku mengangguk pasrah, sambil memakai jaket yang ternyata ukurannya lebih besar dari punyaku. Kami terdiam lagi,diluar hujan juga semakin deras apalagi suara gemuruh kilat yang membuat aku semakin merasa...takut? entahlah.


Rikaz hanya diam, dia seperti sedang berfikir tapi aku juga tak tau pasti. Kemudian dia kembali mendekati pintu lagi, mencoba membuka pintu tua yang sudah meski kropos tapi masih sangat kuat.


"Arggghhh"geram Rikaz dengan frustrasi sambil menendang pintu.


"Stop Kaz! "teriakku karena melihat ulahnya yang mulai tak terkendali.


"Tapi harus gimana?! aku gamau kalo Mba sampe sakit gara-gara hal ini. Mba itu penting keberadaanya disini nggak kaya aku"


"Tenangin dulu diri kamu, khawatirkan dulu diri kamu! jangan selalu memikirkan orang yang belum tentu menghargai usah kamu! "teriakku, yang teredam oleh suara hujan.


"Tapi Mba itu penting buat aku"dia melunak, bisa aku lihat sorot matanya yang hangat.


Aku diam,


"Kaz, please... jangan bahas itu disituasi kaya gini"ucapku sambil menahan sakit yang mulai menyergap kepala, pasti ini karena hawa dingin dan juga perutku yang kosong.


"Kenapa? karena Mba nggak bisa jujurkan sama hati sendiri? kalo sebenernya aku mulai hadir diruang itu meski sempit dan bahkan Mba sendiri juga belum nerima itu? "


"Bukan gitu Rikaz"jawabku sekenanya.


"Lalu gimana Mba?"


"Kamu itu... " belum selesai aku berbicara, rasa sakit ini mendodongku untuk menutup mata.


"Mba kenapa?! jawab aku... Mba... sadar"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku melihat wajah yang kini berada dipundakku, aku tau jika wanita satu ini bangun bisa kena cubitannya yang super sakit. Ah, ia aku ingat betul dia pernah menceritakan soal jurus cubitannya.


Yang pertama adalah 'cubitan sayang sakit tak terbayang' ini posisi mencubitnya adalah pada lengan,kedua yaitu 'cubitan mesra sakitnya tak terkira'ini posisinya tepat pada bagian pinggang, terahir 'cubit kedaluarsa kesakitan yang tiada tara' dia akan mencubit korban hanya dengan ujung kukunya dan juga memutarnya, sehingga kadang sampai agak biru.


Kantuk tiba-tiba mengergapku, ditambah ini sudah pukul 23:48 para kang santri sudah sibuk dengan amalan masing-masing. Aku hanya bisa pasrah, jika yang menemukan kami seperti ini aparat.


......


Entah sekarang jam berapa,tapi sayup-sayup aku mendengar suara pintu yang dibuka. Kemudian cahaya menyinari wajah kami, aku menatap wajah yang masih bertengger dibahuku, aah ia bukankah dia semalam pingsan.


Yang masuk ternyata Mas Randi dan Kang Indro, terlihat jelas wajah Mas Randi yang merah entah marah atau apalah aku tak peduli. Lalu, ada beberapa orang juga yang tengah mengintip.


Mas Randi mendekati kami, dia mentap tajam kepadaku dan menatap penuh luka pada Mba Zira. Aku benci tatapannya seolah Mba Zira sudah melakukan hal keji.


"Percaya pada sampah?"tanyaku.


Mas Randi tak bergeming, aku sedikit menegakkan tubuhku tapi tanganku tak sengaja menyenggol tangan Mba Zira yang terasa sangat panas.


"Mas Bawa Mba sekarang ke UKSA,tolong sebelum terlambat"pintaku.


Mas Randi hanya bergeming, kemudian Kang Syaiban datang menyeruak kerumunan dia tanpa segan menyentuh kening Mba Zira.


"Panas banget, lu gila Ran cuma nonton?! nyesel gue biarin dia suka sama pengecut! "


Kang Syaiban pun mengangkat Mba Zira menuju UKSA,tak lama Walidin, Idan dan Bima mendekat padaku. Membantu aku berjalan menuju Kamar.


"Tamat riwayatmu"bisik Kang Indro saat kami berpapasan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tadi pagi seseorang mengetuk pintu kamarku agak keras, mengganggu waktu muthola'ahku.


"Saya melihat Rikaz dan Zira berpelukan"


Kalimat tersebut seperti palu godam yang menerjang tepat didadaku, sesak dan perih secara bersamaan. Orang didepanku tersenyum aneh, menurutku dan dia juga mengajakku untuk memergoki mereka.


Begitu sampai didepan pintu lumbung, lagi-lagi aku dibuat heran. Bagaimana bisa dia memegang kunci ruangan ini? sedangkan dia bukan juru dapur.


Namun semua pertanyaan itu lenyap, begitu aku melihat wajah Zira yang puncat bersandar pada bahu Rikaz. Dunia seakan terhenti, suara nyanyian kesedihan dan kecewa mulai menelusup kedalam hatiku. Bahkan aku tak sadar jika Rikaz tengah memohon padaku untuk membawa Zira ke UKSA.


Aku tersadar saat Syaiban datang, menatapku dengan marah dan kecewa. Aku teetunduk begitu dia melewatiku dan juga tangan Zira yang menyenggol telingaku, panas... sangat panas.


Aku meruntuki kebodohanku, sampai tak sadar kembali kalau ruangan ini sudah ramai oleh orang-orang.