
...“Jemari masa depan membingkai banyak harap indah di pelupuk cita mereka.”...
🤍🤍🤍
Sangat senang sekali. Tahu Nazira ngambil liburan lagi untuk memakai sebagai alasan legalisir ijazah yang tidak menganggu absen di kampus. Jadi, bisa ngambil ijazah sama-sama.
“Pagi, Rin.” Sapa Ryan.
Hoh. Salah satu teman sekelas jarang nongol tapi bisa lulus juga? Menggeleng kepala dengan pelan.
“Tumben sekali ko di sini?” Bukan balas sapaan itu justru keheranan.
Kali pertama lihat Ryan ada di sekolah. Waktu masih jadi siswa di sana, paling sebulan hanya beberapa kali datang.
“Haha, kalau bukan ambil ijazah, buat apa lagi datang ke sekolah?” Ryan membalas dengan sombong.
Menggeleng tak habis pikir.
“Ko nih, kebiasaan sekali. Kalau datang ke sekolah ada perlu saja.” Arinda berujar dengan ketus.
Sedangkan cowok itu memasang ekspresi songong, membuang napas dan menuju panggung sekolah.
Seperti merasa bosan sudah sedari tadi menunggu, “kam di mana sih?! Lama sekali datang, masih mady cure kah di kamar mandi?!” Akhirnya dia menelpon Nazira.
Membayangkan duduk di atas panggung sekolah sekitar satu setengah jam lebih, bikin apa saja mereka? Lama benar datangnya.
Suasana sekolah juga sudah pada sepi.
“Haha..tunggu sebentar lagi. Tong lagi singgah di supermarket nih.” Nazira cengengesan.
Mendelik di tempat. Kebiasaan, selalu mengantongi jajanan kalau mau ke sekolah atau sekedar nongki saja.
“Yasudah, potem. Tra pakai lama, kalau lewat dari lima menit, sa ambil ijazahny trus pulang kas tinggal kam dua!” Gadis itu memperingati.
“Bah, Rin. Sebentar kah, tunggu di situ sudah, tong sedikit lagi ke sana.” Dengan gerakan buru-buru ngambil beberapa snack dengan random lalu membayarnya ke kasir.
Beberapa menit, “doar! Cie..yang tunggu lama, cie..cie.” Mereka mengagetkan gadis itu, seperti biasa menggodainya cukup memutar bola mata jengah.
“Kam nih, kalau datang sapa kek, jan kasih kaget begini. Sa kalau punya riwayat jantungan nih, kam berdua tanggung jawab betul!” Gerutu Arinda dengan napas kasar di keluarkannya.
“Jih, bukan sa yang kasih kaget tapi Vlo.” Nazira menyemburkan protes yang baru saja naik ke atas panggung dengan bawa cemilan.
“Yang merasa saja. Siapa juga yang bilang ko.” Justru di balas angkuh, di tambah Vlo terus mengolok-ngolok dirinya.
“Sudah..sudah, ah. Lebih baik kita langsung ke kantor ambil ijazah.” Nazira meleraikan perdebatan kecil itu, untuk ke tujuan utama.
Mereka meninggalkan panggung sekolah dan duduk di sekitaran bekas kelas keperawatan yang pernah mereka tempati.
Ngobrol ringan campur tawa lalu .. “Rin, ko dulu deh ke dalam ambil ijazahmu.” Usul Nazira dengan wajah ragu.
“Ok-ok. Kalian berdua tunggu di sini dulu eh?” Dengan cepat gadis itu berdiri dan menuju ke kantor.
Melepaskan sepatu, “permisi, pak. Mau ambil ijazah.”
“Tunggu sebentar. Dan, kasih uang seratus ribu rupiah.” Kata Pak Kelvin.
Eh? Mendadak tidak terima, kok ngambil selembar itu harus menggunakan uang merah sih?!
“Kalau begitu, tunggu sebentar, pak. Saya keluar dulu.” Arinda berujar sopan lalu meninggalkan ruangan tersebut dan menghampiri dua sahabat sedang menunggu di depan kelas.
Kesal. Menghentak tak terima dulu semasa ngambil ijazah di SMP tidak perlu mengeluarkan uang sepersen pun hanya buat cap tiga jari.
“Sstt..sini.” Arinda memanggil dengan pelan.
“Apa?” Tanya perempuan hijabers dengan bingung.
Tidak bersuara selain menuntun mereka masuk dulu, “ada apa sih, Rin?” Yang masih terus mendengar keluhan itu.
“Sstt..diam dikit napa?! Itu, masa mau ambil selembar kertas saja harus bayar seratus ribu sih?!” Gerutu Arinda, langsung to the point menjelaskan.
Kompak bersamaan, “hah, apa?!” Terkejut.
“Ish, kam suara kasih pelan sedikit kah! Nanti guru lain dengar!” Ketus gadis itu, mempringati.
Well. Sudah menutup pintu kelas, kan, pekik itu bisa menggema keluar.
Jelas, terbentang ketakrelaan mengeluarkan selembar seratus ribu untuk kepentingan ijazah doang.
Tidak lama kemudian .. “Ya sudah kita ambil saja. Tra perlu ambil pusing.” Nazira langsung memutuskan.
Saat mau berdiri dari kursi, “tapi..sa tra punya uang.” Vlo berujar, sedikit gusar.
Bukan hal baru di dengar mereka, menjadi kebiasaan sahabat adalah saling bahu-membahu pun menarik jemari itu tidak berada dalam susah.
Arinda yang menyuarakan bakal membayarkan uang ngambil ijazah itu. Cukup buat senyum-senyum merekah di wajah sahabat.
“Eh-eh bagaimana kalau kita ke belakang sekolah SD YPKP? Duduk di sana sambil foto jari kita! Yah, sebagai kenang-kenangan.” Nazira berseru sambil nunjuk tempat itu.
“Haha..boleh-boleh, jari masa depan tuh.” Di balas kekehan dari Vlo.
Jari masa depan kah? Pikir Arinda, sedikit tidak mengerti.
Karena di dalam pikiran gadis itu setelah lulus langsung kerja, kan? Dan, tidak memikirkan banyak hal tentang jari masa depan terbilang layak buat nafsi, sangat aksa di gapai hanya dengan porsi otak di bawah rata-rata.
Ini adalah jari masa depan yang akan menggenggam kesuksesaan. #mybestieavn
Caption yang sudah di bagikan lewat akun instagram kepunyaan Nazira, cukup buat senyum berasal dari gadis keras kepala, sedikit terharu serta takut kehilangan perhatian mereka.
Tahu masih bisa merasakan sisa-sisa waktu dengan sahabat pun tak menyangkal ada ruang sepi bakal menyambut nafsi lagi. Lihat kepergian mereka berbarengan cita itu.
“Cukup lihat kam kuliah saja sudah buat senang. Sa tunggu baju wisudanya kam eh?!” Seru Arinda.
Sedikit ngilu, kalau membicarkan kembali persoalan formulir kuliah. Benar, ketertakutan terus membentang, bakal gagal kedua kalinya. Jadi, lebih baik menyodorkan sebuah cv kerja saja.
“Vlo mana lagi?!” Kesal Nazira.
“Tra tahu dia tuh. Katanya izin dulu mau kete sama pacar di gerbang sekolah, karena tadi sa dengar dia telponan dengan pacarnya.” Gadis itu ikut mencibir.
Miris. Ternyata tidak sepeduli itu lagi mengenai cita sahabat sendiri. Lelah mengajak kah?
“Sa sudah lapar baru!” Mendadak Arinda berujar, berkeluh.
Tadi dapat titipan ke bandara dari sang tante, ada bonus jadi dia membawanya ke sekolah. Sayang, selalu saja setiap kali lengkap begini, ada saja pengusik buat duduk bercengrama harmoni dengan sahabat.
Kecewa. Sedikit, karena Vlo jauh lebih mementingkan pacar dan tidak ada kejelasan selama dua jam keduanya menunggu di sana.
“Iyo nih. Masih utuh toh ko punya rotboy?” Kata Nazira, melirik ke arah kantong itu.
Mengangguk, “atau..tong dua sudah eh yang makan, biar Vey makan sendiri saja.” Arinda menyarankan tapi di tolak sangat halus dari sahabat.
Menunggu lima menit dulu dan makan bareng.
“Ah..lama kali odot pelong tuh! Ayok su, Rin, kita duduk di depan parkiran.” Nazira sudah mulai dongkol alu bangkit dari tempatnya.
Saat ini mereka memang duduk di samping lorong menuju kanjang, hanya beralas lantai semen yang tingginya tidak terlalu banyak, paling dua cm saja.
Mereka dubsmash sambil menunggu sahabatnya pacaran tidak tahu berapa jam, setidaknya bisa mengurangi rasa kejengkelan itu.
🌏🌏🌏
Ternyata misteri yang sudah di bungkus oleh waktu, susah menebak kapan AVN terhantam prahara. Tak menentu.
Arinda yakin ruas perulangan lukis diksi penuh pelik bakal memeluk dengan kasih, lewat prantara Nazira yang mengembalikan suasana bersimfoni lagi.
Sekarang gadis itu sedang menyusun sebuah potensi tersembunyi, katanya, menulis novel. Walau tahu masih ada beberapa kata terbilang absurt, tetap buat dia meneruskan hobi itu.
Ada tawa getir tercipta di sana, tidak memastikan bahwa nafsi bisa mendatangkan sebuah prestasi di balik hobi yang sama dengan sahabat. Yah, Nazira juga gemar menulis hanya membedakan tidak memiliki waktu luang. Hanya bisa buat cerpen saja, itu pun kadang tidak selesai.
“Kenapa ko tra lanjut saja jadi novel ceritamu?” Pernah kok Arinda menyinggung, penasaran.
“Ah..itu hanya iseng saja sa buat dan trada pemikiran lanjutkan jadi novel sih.” Dan, hanya di balas seperti ini.
Apakah ucapan waktu duduk menemani sahabat terima piala kejuaraan di sekolah, menitipkan sebuah asa jemput title novelis lewat nafsi kah?
Nazira tahu sendiri, perulangan menjemput insecure dalam batin, mana mungkin bisa menjadi novelis?
“Ko lebih baik cari kerja daripada ketik-ketik tra jelas di laptop!” Sempat di semprot oleh ibunda, menentang sangat kuat mengenai hobi ananda.
Nah, kan, pekerjaan sebagai penulis apa sih selain tidak menguntung sama sekali. Arinda pun membuang napas gusar.
Keras kepala, tetap mencoba untuk menyelesaikan satu novel perdana itu. Tentu mencipta sebuah karya sendiri penuh dengan emosional tanpa mengenakan dengan hati.
Jelas .. Menggambarkan banyak ketidakmanfaatan sama sekali di lukis dalam aksara milik Arinda.
Jika sudah bosan, mungkin bakal mengusik kedua sahabat batas lewat telpon saja. Biasa sering menculik salah satu dari mereka lalu berkeliling sekitar wilayah sentani atau duduk lama-lama dalam kamar Arinda pun bantu sahabatnya jaga warung.
Tanpa sengaja, iseng lihat beberapa postingan di sosial media, ada salah satu teman sekolah sudah mengenakan pakaian bebas, kuliah.
Berdesir lagi dalam hati.
Melihat HP bergetar, lompat jingkrak Nazira menghubungi seperti tahu isi hati sedang kesepian.
Ngobrol panjang di selingi tawa, “Rin, tahun ini ko ambil formulir itu, coba saja lagi. Sa yakin ko bisa tembus di kampus selain uncen. Tapi, ko tes juga di sana eh?” Tetiba sahabat padang berkata, sangat semangat.
Kalimat sudah lama di nantikan Arinda.
Masih belum waktu yang tepat dalam mengibarkan persoalan karya sudah di buat perdana ke sahabat. Bakal merusak suasana mood obrolan mereka tentang cita.
Beberapa hari kemudian ..
Kedatangan Vlo di rumah, sifat genit itu tidak pernah lepas dari pelupuk mata Arinda, batas tersenyum, sangat menghibur.
Mengingatkan lagi, “sa juga pengen kalau ko sudah di terima di kampus mana pun, kalau ada tugas yang susah, sa nanti coba bantu, Rin.” Ucapan Vlo, saat mereka menunggu dosen datang berikan tanda tangan di tugasnya.
Pernah, Arinda menemani ke kampus.
“Rin..” Panggil Vlo, membangunkannya dari lamunan, “yah?”
“Tahun ini ko jadi ambil kuliah toh?”
Hanya menelan slavina, kurang tahu pasti apa yang bakal dia kasih tahu selain masih samar-samar mengenai keputusan menjadi mahasiswi.
Tidak bisa belama-lama ada di rumah sahabat, karena ada beberapa urusan mengenai kuliah.
Lagi, menjemput sepi seorang diri. Mereka benar-benar sibuk dengan jemari masa depan.
“Ma..sa kuliah kah?” Arinda merengek, minta restu lagi.
Walau pun sudah mengembalikan formulir itu. Benar saja, kok bisa hampir lupa dengan selembar hampir dekat deadline penutupan sodorkan formulir masuk tes di salah satu perguruan tinggi jayapura.
Apa karena terlalu terpusat ke berkarya? Biar .. Nanti kita bercerita tentang kenapa bisa Arinda bisa mengambil kertas itu.
“Buat apa kah kuliah?! Bikin kasih habis uang saja. Mending kerja sana..biar mama lagi yang istirahat.” Nah, dapat penolakan lagi.
Frustasi sendiri, dua dorongan sangat menimbulkan efek kuat sampai sekarang mengenai bangku perkuliahan.
Vlo pernah menyampaikan kalau di kampus berbeda dengan sekolah, tidak ada yang susah tanpa harus merasa momok dapat peneguran ketat seperti di seragm putih abu-abu.
Juga sudah berjanji bakal bantu apa pun tugas yang menurut Arinda tidak bisa kerjakan. []