
"Ketika nafsi terbujur sangat getir karena dapat play victim, semesta buka pintu sua, Vlo memeluk sangat tenang terasa jiwa."
🤍🤍🤍
Flashback ..
Gelar komputer sedikit lagi tercapai Arinda, setelah melewati banyak dramatis terbentang kedua bola mata.
Hanya bisa menarik napas panjang lalu membuang dengan kasar.
Bagaimana tidak?
"Rin, nanti sa datang ke ujian proposalmu." Kata Vlo.
Bahkan tutur kata tersebut bukan awal di dengarkan melainkan sudah terbiasa tidak menemukan sosok itu, saat nafsi butuh dukungan, agar masuk ke ruang ujian tidak nervous.
Hm. Hanya adiknya yang menemani, itu pun ibunda maksa buat ngantar ke kampus.
Tersenyum miris.
Jemari penuh ikhlas benar-benar tidak sepenuhnya ngebantu, hanya sekedar menginginkan timbal balik atas kebaikan di beri.
Dulu, waktu teman seangkatan masih ada, terlalu bersemangat sampai kecelakaan, tidak tidur hanya buat buket yang ternyata mereka punya ujian skripsi di tunda satu hari.
Benar kata potret surganya, terlalu mementingkan urusan orang lain, baik sekali bantu mereka sampai kesusahan sendiri sekali pun, tidak ada mereka yang sudah Avita tolong.
Sekarang, dia sudah paham, arti di balik Rin, yang namanya dunia perkuliahan tidak bisa kita jadikan sahabat kalimat yang sudah pernah Vlo sampaikan.
Voice of my heart, apakah masih pantas mengirimkan sinyal tersebut? Hilang bersama ego pribadi mereka.
Dua hari kemudian ..
Hah. Membuang napas gusar, bagaimana tidak? Kalau tahu sejak bermain dengan anak stimik, salah satu dari mereka atau Jordan tidak mengingatkannya untuk cek ulang, masih ada mata kuliah tersisa kah?
Nihil, hanya memanfaatkan uang dalam mengenyangkan perut cowok itu saja.
Tapi, ada satu hal mengusik, "dek, kamu sudah ujian skrpsi kah?" Kata dosen bagian baak.
Satu alis terangkat, bingung campur ragu .. "Sudah, bu, kenapa yah?" Tetap di sahutin.
Wait, ada yang kosong ketika kalimat itu di berikan.
Menepuk jidat, tersadar bahwa belum lulus dua mata kuliah praktikum.
Kembali lagi di bawah tangga fakultas buat merapikan krs yang berserakan juga menata ulang hati tahu faktwa bahwa tahun ini belum bisa jemput wisuda.
Terusik sekali, salah satu adikting mau memperlihatkan gerakan licik, nyaris mengambil foto hangus itu dalam HP-nya. Syukur dengan gesit Avita langsung memasukkan KRSM tersebut ke dalam map.
Apaan sih?! Tra jelas sekali, terlalu sibuk urus orang punya privasi! Kurang ajar, tra punya adab kah?! Emosi Avita dalam batin.
Setelah balik ke rumah, menanam asa untuk ..
Fiuh. Akhirnya sahabat telah lama hilang mau merespon telponnya kali ini.
Bisa mengistirahatkan luka.
"Vey, sa nilai ngulang lagi.." Rengek gadis itu.
"Kok bisa sih?" Bingung Vlo.
Hm. Kalau sudah mendengar intonasi itu, tidak bakal bisa menenangkan raga selain berperang lewat kata.
Beberapa detik terdiam, lalu senyum-senyum getir menghiasi ekspresi Avita saat ini, "sebenarnya sa belum bayar, karna dengar sa om tra percaya waktu sa minta uang program. Makanya, sa juga tra enakan minta uang praktikum lagi, soalnya sa su bilang itu pembayaran spp yang terakhir. Sa om tra tahu kalau ada pembayaran praktikum lagi." Urai gadis itu.
Sesak mencekat tenggerokan, saat sudah menceritakan detailnya.
"Rin!! Kenapa tra bilang sih, hah?! Berapa..berapa kah uang praktikum-mu?" Gemes Vlo.
Avita sudah kasih tahu satu mata kuliah praktikum berapa ke sahabatnya.
"Astaga! Ke mana uang jajanmu?! Bisa toh, ko tra jajan duan hari, buat bayar praktikum-mu?!"
Ok. Fine, gadis itu tidak mempermasalahkan asumsi sahabat sendiri tapi apakah paham arti mentalnya, saat berjuang pertahankan posisi cita sedang brantakan seorang diri, tanpa mereka berdua di sisi?
Ngomong begitu saja sangat mudah, tapi apakah tahu ..
"Waktu itu saja sa uang jajan di potong dan di kasih tiga puluh ribu, makanya sa terpaksa gadai gelangku buat bayar praktikum, itu pun su lewat buat bayar praktikum." Nyeri. Sangat, saat kasih tahu semuanya.
Avita hanya butuh tempat nyaman dalam bercerita bebas pun di dengarkan, bukan di hakimi seperti keluarga sendiri yang dari awal tidak pernah mengapresiasi nafsi buat kuliah.
Berjuang seorang diri tanpa dua sahabat pun berusaha kuat di tengah hoaks tersebar di pikiran mereka menjelma benci dari sosok Navya tak tahu diri.
Dan, sejak ngobrol persoalan dua praktikum belum di kontrak, Vlo hilang kabar.
End Flashback.
Vira adalah perempuan manipulatif paling menakutkan dan mematikan untuk kategori Avita, tidak bisa membaca sikap bermuka dua itu.
Bagaimana tidak? Perempuan lulusan pesantren itu terlalu sibuk dalam ikut campur masalah orang lain yang bahkan belum tentu menjadi kakak iparnya.
Lagian, kenapa harus membela orang yang benar-benar salah?!
Jordan juga, hanya perkara kasur sampai di ributkan lewat chatroom whatsapp sampai menindas harga diri gadis itu di status whatsapp.
Motif di balik semua itu apa coba?
Memang benar-benar cowok matre tak tertolong.
Logika, tidak pernah Avita menolak setiap kali Jordan minta makanan mewah, seperti salah satunya pizza hut, bahkan minta menu makanan double.
Parah sih.
"Kam kalau malu, tra bakal kenyang karna makan sifat malu." Pernah Jordan berkicau seperti itu di salah satu temannya.
Bahkan prilaku tak manusiawi cowok itu seringkali bikin makan hati, sudah di coba menutupi agar programnya selesai di dosennya.
Sayang, semakin ke sini sikap Jordan keterlaluan, kurang ajar.
Memanfaatkan uang gadis itu untuk mengenyangkan perut.
Selama ini di sahabatnya selalu membangga-banggakannya, tapi kali ini dia tidak bisa pendam dan sembunyikan sifat asli cowok brengsek tersebut.
Tunggu, ada aroma kepo tingkat akut dari Vira.
Menelpon sampai chat bertanya kenapa bisa membiayai cowok itu, sempat berpikir bahwa ada di pihaknya.
Ternyata salah besar.
Vira hanya mengumpulkan informasi setelah itu sampaikan ke mamanya Jordan, menambah bumbu.
Sudah jelas salah, tapi menutupi kesalahan diri.
Berkobar dalam dada, sangat marah lewat status whatsapp. Tetapi kenapa perempuan itu justru menempati Avita sebagai pelaku utama dari playing victim yang di buat sendiri, hah?!
Menjebak buat ngambil sepatu tapi nyolot bukan main dan menjadikan orang sekedar lewat sebagai saksi mata, supaya apa? Bermain kotor karena emosi itu tak terkontrol, Avita menendangnya, sangat brutal.
Kalau saja memiliki tenaga buat datang ke rumahnya, sampaikan langsung ke orangtuanya tentang perbuatan anaknya yang kurang ajar, tidak tahu apa yang akan di dapatkan Avita.
Yang jelas sangat tidak terima, di permainkan manusia manipulatif seperti Vira.
Hobinya saja tidak jelas seperti itu, wajar sih karena omongannya terlalu pintar dalam menutupi kesalahan sendiri, bahkan pacar sendiri pun selalu jadi korban dari playing victim di buatnya.
Kalut. Pulang ke rumah dengan serangan panik di tambah belum tidur sama sekali.
Sudah dapat chat dari tante dramatis, membela sosok calon anak mantu idaman kah? Apa karena cantik dari polesan make up, makanya jauh lebih di prioritaskan?
Anak sendiri salah, makan uang anak perempuan orang, masih saja di bela.
Avita heran, kenapa sebagai orangtua bukannya netral, negur anaknya yang benar salah bahkan sempat menampar Avita, justru bertolak belakang, sangat puas gadis itu menderita dari playing victim calon anak mantunya.
Esok hari ..
Sudah menceritakan kejadian itu kemarin ke adiknya, juga luka di lutut atas prilaku Vira menarik paling brutal ujung jilbab gadis itu, hingga adik Avita yang duduk di belakang motor, terlempar, jatuh.
Tantenya ngajak makan sushi yang bahkan Avita sendiri sudah menolak tidak mau pergi, karena tidak suka makanan itu, nihil, dia tetap ikut.
Tatapan penuh traumatis adiknya masih terasa, nyeri sampai di hati Avita, tidak nyangka bisa berakhir seperti ini dari sosok iblis itu.
Saat mau masuk ke dalam, tetiba saja ..
Pelukan paling tenang terasa jiwa, yang awalnya Avita bingung perempuan siapa memeluknya, ternyata ..
"Vit..sa rindu ko sekali." Suara familiar.
Bisa di tebak itu adalah Vlo.
Sahabat yang hilang sejak ngobrol persoalan dua mata praktikum belum terambil.
"Vey..besok sa ke kantor polisi." Getir gadis itu.
"Heh?! Kenapa bisa, Vit?!" Spontan Vlo terkejut.
"Nanti sudah sa ceritakan, gara-gara sih Jordan bodoh tuh!" Sambil melihatkan surat panggilan dari kantor polisi.
Berasa semesta sangat adil saat buka pintu sua ketika nafsi terbujur lirih oleh playing victim di buat oleh perempuan dramatis, gila perhatian juga pengakuan diri di orang lain.
Oh, benar .. Kemarin langsung mengabari April, "dasar..sampah masyarakat!" Kesalnya.
Mendengar hal itu saja, cukup buat Avita sedikit tenang di tambah hari ini semakin lega dan tidak ragu buat ke kantor polisi, tidak salah sama sekali. Vira saja terlalu licik dalam mempermainkan perannya sebagai korban. []